RSS

Kembali Menuju “Aku”..sebuah perjalanan(kah)?

Buddhi

Sangkan Paraning Dumadi

Perjalanan menuju kata “Aku”. Terkadang bisa dianggap sebagai sesuatu yang abstrak,seabstrak jiwa yang melayang-layang mencari tempat akhirnya. Seperti sebuah pemahaman atau ilmu “Sangkan Paraning Dumadi”. Bagaimana mengenal diri,bagaimana mengenal “Aku” dan kembali menuju pulang. Ataukah menemukan jalan itu dulu, lalu berjalan menuju rumahNya.

Hanya sebuah filosofi saja, namun seperti melihat pemahaman psikologi barat dari Freud,bahwa manusia memiliki ID,memiliki Ego,memiliki SUper ego. Namun jika ditelaah maka itu adalah jalan keluar dari rumah itu sendiri. Mengapa?Apakah ID sebagai sesuatu “AKU”, sebagai kembali ke fitrahnya sebagai manusia?(islam), atau mungkin sebagai awal keluar dari sarang sendiri yang sebenarnya nyaman dan damai menuju dunia dan kemelekatannya.

ID adalah seperti freud itu dikatakan sebagai nafsu kebinatangan, nafsu atau insting yang membuat manusia memiliki sifat kebinatangan. Tidak semua buruk semisalnya seperti insting untuk membela diri, insting untuk tetap hidup, serta mungkin insting untuk membela yang ia miliki (anak, keluarga, rumah,dsb). Dan dengan itu lalu manusa memiliki EGO, ego yang menjadikan Ia itu memiliki kepribadian, keinginan, serta ambisi termasuk sifat-sifatnya bagaimana memandang dunia atau lingkungan yaitu terbentuk dari sekumpulan ego dan membentuk super ego. Manusia didesak dan menyediakan dirinya beradaptasi dengan super ego tersebut. Dapat dikatakan manusia menjadi bagian dunia dan bahkan dipaksakan untuk menerima dunia, lalu apakah itu hendaknya manusia memanusiakan dirinya?

Lalu memetik dari wraspatti tattwa yang telah terangkum di blog ini, maka bahwa manusia itu terciptakan dari panca maha butha dan dari dalam adalah memiliki citta (intuisi), memiliki manas, buddhi, ahamkara (ego), lalu panca tan matra, panca buddhindriya, serta kemudian panca karmendriya. dua yang terakhir adalah termasuk indrea manusia untuk merasakan dan mengecap dunia. Ke dalam lagi adalah ahamkara atau ego serta buddhi. dimana ahamkara adalah sifat ke “Aku”an manusia identitas manusia, yang mencerminkan dia bahwa ia manusia, buddhi sebagai akal untuk mengenal buruk dan baik. serta manas untuk berpikir lalu citta adalah cikal bakal atau mungkin alam bawah sadar manusia, alam yang terhubung dengan kekuatan semesta, bagian manusia yang memiliki memori-memori tersendiri akan fitrah akan bagaimana sejogjanya manusia sebagai mahluk tuhan.

Manusia dengan seringnya menyangkal kebenaran dari semesta, dari dunia dari apa itu keterjadian dunia. Sehingga menemukan sebuah jalan yang “benar” menjadi sangat bias dan apakah itu benar atau salah akan menjadi memori pada cittanya. Citta dapat pula dikatakan sebagai simbolisme atma yang terhubung dengan Para atma di semesta ini. Bahkan merupakan suatu ananda (sebuah kebahagiaan)sebuah jalan  sebuah ananda marga itu sendiri.Pertanyaannya mengapa bisa bahagia?Padahal dunia pun (bukan semesta) memberikan kebahagiaan tersendiri, memberikan kenikmatan, dan kepuasan. Namun apakah itu jalan pulang????iya memang, jika kemelekatan itu pada (maya) selalu mengada. Begitu susah terkadang dalam melepaskan kemelekatan, melepaskan keinginan, melepaskan ambisi, dan nafsu. Namun manusia dikatakan hidup karena ada itu semua. Kematian manusia telah menjadi ada jika kehampaan dan ketidakmelekatan itu terjadi. Apakah itu “ananda”?

Kemelekatan akan selalu ada dan menjadikan manusia itu menjejak di dunia. Namun ketidakmelekatan bisa membawa kepada sebuah ananda pada pemahaman baru akan penjejakan akan dunia itu sendiri.Maksudnya adalah menjadi manusia yang tidak melekat namun menjadi lepas akan itu sendiri. Kemelekatan akan citta bisa menjadi jawaban tersendiri akan penguasaan ahamkara, manas, dan meningkatkan buddhi indriya. Dan yang terakhir adalah melepas itu semua.

Yaps melepas itu semua pada bahwa ketidak “aku”an itu sendiri. Ketidaktahuan akan siapa “aku” itu. Menuju suatu kehampaan dan ketidakhampaan itu sendiri. Dimana buddhi berproses, buddhi berevolusi menjadi jenjang-jenjang yang tidak terbayangkan dan ananda itulah yang membuat segalanya sempurna. Kembali ke ciita, kembali ke asal, dan pada dasarnya “Aku” bukan siapa-siapa.

gwar mei 2013

sedikit bacaan:

wraspati tattwa

Sigmund freud

“Bukan siapa-siapa” A.Brahm

 
2 Komentar

Posted by pada 11 Mei 2013 in agama, doa, filosofi

 

Kaitkata: , , , , , , , , , ,

Edisi Terjajah Episode Kedua (-_-!! (m)..LAwann!!!

LAWAN!!!!!!!!!!

LAWAN………!!!!!!!!

LAWAN   !!!!!!

Setelah menapaki konteks edisi terjajah pertama, maka hendaknyalah bahwa kita memahami bagaimana ketidaktahuan kita akan keterjajahan bangsa itu sendiri. Seperti telah diketahui dalam dunia ide, ide yang ideal sebagai suatu karakteristik dan identitas dari Bangsa Indonesia (nusantara) itu sendiri, maka sampailah kita ke hadapan kontradiksi yang jelas terpampang pada suatu ideologi yang terpampang dalam Hati, suksma, nurani kita sendiri.

Sebuah bangsa yang beradab dan bukan suatu bangsa barbar yang mengagungkan sisi kemanusiaan itu sendiri yang seharusnya sebagai suatu super ego dari khalayak bangsa Nusantara ini. Di mana super ego itu seperti digulung atau disamarkan oleh dogmatisme yang putus asa, suatu bahasan untoleransi terhadap keagungan dari pelangi bhineka itu sendiri. Berbhineka namun hanya satu, berbhineka yang berwarna dan merupakan kekuatan bangsa, kekuatan negara kesatuan republik Indonesia (nusantara) ini. Yaps pancasila sila kedua yang perlu ditelaah dipahami serta diperjuangkan menuju suatu kelepaslandasan menjadi “Garuda Asia”.

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

  • Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  • Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

Dilihat di atas bahwa, manusia yang bernusantara, berpancasila hendaknya memperlakukan manusia memiliki harkat dan martabat sebagai mahluk BerTuhan. Artinya secara mudah adalah bahwa kita, kami, mereka, semua berhak untuk hidup di bumi nusantara ini. Lalu yang terjadi adalah bahwa dengan mudahnya manusia-manusia yang berperilaku anjing dan hanya pantas dikatakan sebagai bukan manusia (baca: asu) membunuh, menyiksa, menghancurkan hak asasi bagi kami, mereka, kita, semua, dan bahkan sampai menyingkirkan filsafat ahimsa atau menuju kekerasan itu sendiri dan bahkan sampai menghilangkan nyawa. Apa itu suatu sifat manusia yang memiliki akal, budi, dan sifat hati sebagai manusia. Itu adalah keterjajahan kita karena nyawa dianggap sebagai suatu barang yang biasa. Yang padahal mereka tiada mampu untuk mengembalikannya atau menjadikan nyawa itu menjadi manusia seperti tuhan yang kita sama2 sembah. Lalu bagaimana kematian itu terjadi pada bom bali, di Madura, Ahmadyah, gereja2 poso, dsb. Sangat berbeda mungkin pada tsunami, gempa, dan yang lainnya. Dalam artian di atas adalah “Mengakui” artinya menghormati segala keberbedaan sebagai suatu identitias, kekayaan, atau bahkan sebuah kejeniusan lokal dari Indonesia (Nusantara) itu sendiri. Dalam keterjadian kekerasan di atas berarti adalah sikap tidak mengakui keberagaman itu sendiri.

  • Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  • Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
  • Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain. 
  • Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. 
  • Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

Sikap-sikap di atas sangat dengan manusia itu sendiri, yang merupakan mahluk utama sebenarnya dari Tuhan. Namun kejatuhan manusia adalah mereka-mereka yang telah lupa dirinya sebagai manusia dan memangsa serta membunuh manusia lainnya. Seperti di atas dikatakan bahwa kekerasan adalah musuh kemanusiaan, maka saling cinta, saling tenggang rasa atau rasa empati terhadap penderitaan manusia lainnya, tepa selira, menjunjung nilai “diri’ sebagai manusia serta menjadi manusia yang berguna dan gemar melakukan kegiatan membantu yang lainnya dan jauh dari sikap ke”asu”an. Termasuk pula dalam sisi kesejahteraan dan sisi ekonomi, bahwa mereka2 yang jatuh pada keserakahan dan hanya menjadi budak investor, akan hanya menjadikan manusia lainnya sebagai korban. Terlihat sendiri bagaimana para pemimpin lebih memilih untuk mendukung freeport daripada masyarakat papua sendiri. Dan terlihat juga bahwa lumpur itu seakan2 menjadi cerita ketertenggelaman Jawa, khususnya Jawa timur (sidoarjo). Apakah itu sikap dan sifat manusia yang diangkat sebagai pemimpin yang memberhalakan uang dan harta serta kekuasaan lebih besar dari kepedulian terhadap masyarakatnya sendiri. Sungguh pun mereka lebih baik jika digantung ramai-ramai di monas dalam revolusi bangsa dan negara.

  • Berani membela kebenaran dan keadilan.

Dan ini yang terpenting. Kebenaran, kebenaran yang mana, serta keadilan kepada siapa yang pantasnya diupayakan. Apakah suatu kebenaran yang dipaksakan, atau suatu keadilan yang hanya dinikmati oleh kau-kaum yang kapital yang sebenarnya menjual negeri Nusantara (indonesia). Menjual tanah, menjual harga diri, dan sebagai kambing congek yang mengabdi kepada kaum asing yang manut-manut serta tidak bisa lepas dari  atau tidak memiliki hak diri untuk mengelola sumber daya alam, serta sumber daya manusia terbengkalai sampai harus menjadi TKI, TKW, yang pulang hanya tinggal nama di arab, yang hanya menjadi orang gelap di malaysia, serta kaum pemimpin serta pejabat tolol tiada bisa mampu untuk melindungi rakyat mereka sendiri. Apakah sudah habis tempat di Nusantara (indonesia) yang katanya jaya ini untuk menghidupi rakyatnya?Keterjajahan pada kebodohan, dan kedunguan mereka kaum pejabat dan pemimpin yang menjadi budak-budak kaum asing. Termasuk pula penjajahan dari internal nusantara (indonesia) sendiri yang hidup seperti cacing-cacing parasit yang mungkin hanya bisa diambilkan obat pembunuh cacing atau pencahar perut dan habis sampai telur-telurnya. Cacing yang ada menjadi parasit hanya terdapat pada kebusukan atau kekotoran sampah-sampah tanah yang hanya bisa menjadi parasit dan mati sebagai parasit.

  • Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain

Dan ini adalah penetralisir dari kedua bahasan di atas. Bahwa saling hormat dan bekerjasama patut ditelaah sebagai suatu keberhagaan diri (bangsa) yang memiliki keberadaban tinggi dan layak dihormati. Seperti pula bahwa Indonesia bagian dunia, yang artinya pula secara etis Indonesia adalah bangsa yang universal dan memiliki sifat menghargai humanisme di atas dari segalanya. Karena manusia adalah mahluk tuhan paling mulia dan memiliki kewajiban menjaga kemanusiaannya dan berhak hidup dan menjunjung hak asasi itu sendiri tanpa pandang bulu. Lalu bahwa manusia yang beradab dan membentuk suatu idealitas peradaban sendiri, dan memfilter baik itu politik dunia, sosialitas dunia, ekonomi dunia, Budaya dunia, Pertahanan dan Keamanan. Yang pada akhrinya sebuah ideologi melindungi suatu hak asasi manusia( suku , agama, ras) beribadat,dan menjadi berani untuk membela sebuah kata “Kebenaran”, Suatu kebenaran Nusantara.

pustaka

http://ideologipancasila.wordpress.com/butir-pancasila/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

Kaitkata: , , , , , , , , ,

..Kafir, Nastika, Carwaka-Hedonism, Atheism, Agnotism-Kapitalsim,Sosialism,Nusantaraism..

budak budak jaman

budak budak jaman

Mengenal suatu tinjauan akan makna, pemahaman serta keberadaan dari berbagai kata-kata yang menuju pada keekslusfian, dan bahkan suatu kebebrokan atas yang bernama mentalitas, prilaku radikal serta filsafati liar dan  hanya memandang kedogmatisan, kegalauan rahysa, kedunguan, serta keberhalaan dunia. Maka dalam paham itu bisa diambil suatu benang merah tersendiri yang membuka sedikit suksmaning ati untuk mengubah dan mendekeontruksi atau pula merekontruksi, baik itu fikir, baik itu laku, baik itu paradigma yang lebih menuju sikap keuniversalitasan rahasia magis sebuah KEKUATAN AGUNG….

I. KAFIR NASTIKA CARWAKA.

Bahwa dari beberapa kata atau istilah di atas, maka akan terbuka sedikit kesamaan, atau bahkan meleburkan suatu motivasi spiritual (bukan ambisi) untuk lebih memahami (prtyaksa,anumana,agama pramana) secara filsafati, secara susila (etika), atau bahkan secara upacara(ritualisme).

Sebagai bahasan bagaimana sifat kekafiran yang berasal dari filsafat islam, yang sebenarnya adalah meniadakan atau membungkam mereka-mereka yang memberhalakan Tuhan (Allah), menyekutukan Allah, membuat Allah sebagai nomor dua. Jika itu dilihat dari Shallow Thinking (Pemikiran yang dangkal), maka jelas berarti bahwa dewa-dewa, patung, pohon, inkarnasi, atau dan sebagainya sebagai keberhalaan. Bahkan ada atau terdapat ayat yang memotong kepala kafir, darah kafir halal, atau kekerasan lainnya. Namun mereka lupa jika bahwa berkata Al Quran adalah keniscayaan yang abadi, maka jaman akan menuju suatu perubahan sendiri akan semiotika Ayat2 tersebut. Seperti sbagaimana ditafsirkan oleh Nurcholis Madjid (mendalamkan hakikat ayat fitna), atau Gusdur yang mengemukakan pandangan universalitas, serta Gusmus yang mengkritik dengan mehakikatkan universalitas dalam tubuh islam itu sendiri.

Sebagai contoh jika kepala dipotong akan menggambarkan penghilangan ego, darah kafir halal artinya kafir itu layak untuk disadarkan (dalam bentuk dirinya sendiri), yang menerbayangkan kesucian muslim berada pada mereka juga. Lalu apa kafir itu sendiri???bahwa kafir adalah mencakup semuanya, jika ingin menyemuakan kafir, artinya bahwa diri adalah kafir pula. Bahwa diri adalah yang tidak atau lupa bahwa mereka masih memberhalakan Allah dalam wilayah mengagungkan Uang mengagungkan Harta, mengagunggkan kekuasaan, bahkan menindas yang tidak sejalan dan melupakan hakikat mereka sebagai manusia itu sendiri.

Sama seperti nastika yang tidak atau melihat mereka yang tidak mempercayai sebagai orang yang MERUGI. Bahwa memang mereka tidak percaya akan weda, namun hanya sebatas itu, sebatas pada pembicaraan debat, pembicaraaan hakikat, pembicaraan argumentasi pemahaman,dan menceritakan serta mengsinkretis pemahaman menjadi yang bersolusi. Rugi dalam artian bahwa mereka telah meninggalkan kebenaran yang bijak. Tapi itu hanya pengingatan, dan tetap bahwa mereka tergantung diri mereka.

Untuk Carwaka dapat dilihat sebagai suatu filsafat bagi mereka yang menjadi budak2 dari jaman, dari nafsu, dari ketidak benaran dan memuaskan diri mereka selagi mereka masih hidup dan meninggalkan filsafati Tuhan itu sendiri.

2.Hedonism-Atheism- Agnotism

Tiga dari suatu istilah di atas, sangat mengarah dan dekat dengan Keagamaan, Religiusitas, dan bahkan sebuah spiritualitas. Artinya adalah bahwa mereka menjadi seperti itu adalah apakah karena kehendak jaman, apakah karena kekurang mengertian kritikal mereka, atau pula karena kebencian mereka terhadap jaman itu sendiri.

Untuk yang memahami hedonism, adalah mereka yang bergerak persis sama sebagai carwaka yang hanya hidup untuk memuaskan nafsu mereka keinginan mereka akan dunia ini sbagai produk dari kemajuan jaman. DImanja mereka sampai mereka tidak ingat akan kemanusiaan mereka, lupa bahwa mereka adalah manusia, mereka ada agen-agen kebenaran, mereka adalah pejalan yang hampa, serta tunduk pada kedunguan indera mereka. Sehingga pada akhirnya mereka jatuh ke lobang atheisme. Yaitu tidak percaya akan Tuhan dan kekuatan gaib angkasa atau bumi. Mereka yang menjadi budak jaman, sebagai budak di neraka, sebagai budak yang akan nanti mendapatkan penghukuman serta melupakan etika (susila) yang luhur dan jatuh terjerembab pada lubang kegilaan. Intinya adalah menganggap tuhan telah mati, namun mereka hanya tertawa tanpa tau maksudnya.

Menuju pemahaman Agnotis dan atheism, adalah haruslah melihat berbagai faktor2 yang mengenalkan mereka pada filsafati tersebut. Maksdunya adalah apakah kerena dogmatisme yang hanya mengumpulkan jenasah2 korban peperangan idelatis agamais atau bahkan peperangan ekonomis yang secara langsung tidak langsung mennyebabkan kesenjangan atau juga kematian yang tragis bagi mereka yang kurang akan produk primer, makanan (kelaparan),papan (homeless), serta kegilaan lainnya.

3. Kapitalism (zionism),Sosialism,Nusantaraism.

Kemajuan jaman tidak lepas pula dari paham keberekonomian itu sendiri dalam menuju suatu kesejahteraan secara kolektif yang dibatasi pemborderan wilayah negara atau NKRI. Maksudnya adalah karakterisitik, idealistik dari kenusantaraan adalah sangat berbeda dengan dunia itu sendiri. Nusantara yang plural, universal, serta ramah tamah akan menjadi hal yang akan “hilang” lenyap “sirna kertaning bumi”..lenyap dimakan jaman atau apa pun itu, bahkan domgmatisme keras kepala dari apa yang dikatakan produk2 lain.

Maksudnya islam nusantara berbeda dengan arab, hindu nusantara berbeda dengan india, kristen nusantara berbeda dengan eropa, dan sebagainya. Itu lah yang membentuk karakteristik bangsa dan kekhasan dari setiap suku ras di nusantara ini. Kekuasaan kapitalis adalah bisa, namun pada akhirnya yang membobrokan alam dan lainnya adalah fakta, seperti lumpur lapindo, atau pengucapan sumpah penggantungan diri yang jika dibiarkan atau pembiarannya mengakibatkan amarah serta kemeledakan sabar akan arti revolusianism. Bahwa sukarno pun berkata Revolusi belum selesai.

Ada yang ingat pancasila???????

Hanya sedikit yang tau bahwa sangat salah memaksakan agama pada butir2 sila pertama, sangat salah bertindak biadab pada butir2 sila kedua, sangat salah mengagungkan golongan dibanding negara seperti butir ketiga, atau kedunguan dan kebodohan wakil rakyat yang memperkaya diri seperit butir ke keempat, dan kesederhanaan serta un materialism sila kelima.

Kelupaan itu mengakibatkan jatuhnya mereka ke lobang yang disebut lobang tidak diterima bumi tidak dihargai langit (yg dekat dengan kafir), yang tidak mempercayai kebhinekaan tunggal ika (dkat dngan nastika), yang mengabdi dan membudaki diri pada nafsu dunia (kapitalism)..seperti carwaka…

SAMPAIIII KAPAAAN?????????

 

 

 
Tinggalkan Komentar

Posted by pada 20 Februari 2013 in agama, budaya, filosofi

 

Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Korupsi sebagai Budaya Kebodohan (Sarasamuscaya)

babi koruptor

babi koruptor saat penyembelihan

Sebagaimana melihat dari tahun ke tahun masa ke masa, sampai pada masa yang sekarang , yang saya yakini sebagai masa peralihan. Bahwa kebodohan manusia yang membudaya yang terangkum pada ketidak mampuan moralitas mereka dalam menghadapi kecaman,ancaman. bahkan diperbudak oleh kedunguan mereka terhadap “maya” atau belenggu dunia. Adalah sesuatu yang sangat tidak disadari dan dipahami oleh mereka sendiri sebagai mahluk yang rendah dan mengambingi diri mereka sebagai manusia yang berakal tumpul dan moralitas impoten.

Jika dihadapkan pada suatu paham tersendiri akan bagaimana alam itu terdiri dan menjadi bagian ekosentris dan antroposentris, yang sebenarnya tidak berhubungan dengan mereka. Namun berhubungan pada tingkat moralitas dan etika mereka pada kehidupan yang dekat dengan kematian psikis, sehingga menuju suatu kemerosotan mental yang pada akhrinya membuat mereka tidak bisa menggerakkan sendiri akal sampai pada kebersusahan mereka di dunia atau pun saat nanti dimana mereka tidak lagi dihargai sebagai manusia yang mereka rasa pintar untuk menuju suatu kecerdasan yang semu dan bagi diri mereka dan keluarga mereka sendiri untuk menapaki keberhayatan yang memang signifikan dengan peningkatan harta yang sesungguhnya tidak bergunanya pemahaman serta kepedulian dan semunya kebenaran dan sujud mereka terdahulunya.

Seperti orang punggung (bodoh) pada sarasmuscya 399

Tunggal keta paramarthaning satru ngaranya, nghing sing pungung juga tan hana ta pwa madana kasaktining punggung, apan iling liniput denika, niyata juga gumawenang asubha karma.

artinya adalah hanya satu2nyalah sesungunghnya yang bernama musuh,adalah kebodohan, tidak ada yang menyamanpenaruh kebodohan itu, sebab dengan dicengkram kebodohan itu niscaya akan melakukan perbuatan buruk.

Jadi seperti yang telah saya jelaskan pada inti sarasamuscya terdahulu bahwa sad ripu sebagai musuh adalah awal dari kritikan terhadap moralitas itu. dengan bodoh maka ia lupa dan hanya ingat pada kelobhaan, serta pada kama…Maka korup itu terjadi pada mreka yang tidak mampu lagi mendapatkan artha secara benar, hanya tidak benar saja yang mereka tahu secara cepat,sehingga walaupun pada dasarnya kesempatan itu selalu ada di dunia,maka mereka dengan ketidak “satya” an akan dharma, menunjukkan mereka pada gelombang kehancuran bagi diri mereka sendiri baik yang percaya,atau tidak percaya atau setengah percaya. atau setengah dari setengah menjadi seperempat percaya dan terbalik pada keyakinan serta intelektual dan EQ SQ mereka yang melemah sehingga rasa diri yang mereka percaya akan hangus dan lepas hlang yang melemahkan mentalitas mereka seperti pada yang saya ajukan di alinea pertama atau paragraf sebelum kedua secara acak.

Yang paling jelas bahwa koruptor atau tukang maling ayam dalam bentuk yang lain, pada dasarny tidak bisa disamakan. Karena ayam akan bernilai ekonomis lebih rendah dari pada korup itu sendiri sebagai makna yang ambigu jika dibalik menjadi bahwa korup malah pantas dibebaskan dari dunia dan langsung bisa diberikan sedikit siksa fisik atau pula langsung menuju penghilangan anggota badan tubuh, bahkan penggantungan sesuai denan falsafah revolusi dari karl marx serta kegilaan freud pada mereka, diteriakkan moralitas(Tuhan) yang mati dari Nietzche.

Seperti pada sarasamuscya 149

yapwan mangke kraman ikang wwang, angalap masning mamas makapanghada kasaktinya, kwehning hambanya, tatan mas nika juga inalap nika, apa pwa dharma, artha kama nika milu kalap denika

ArtinytaJika ada orang yang merampas kekayaan orang lain (korup,maling,rampok,jambret) dengan berpegang pada kekuatannya dan banyak pengikutnya, malahan bukan harga kekayaan hasil curian yan terampas darinya, tetapi juga dharma, artha, kamanya ikut terampas.

Secara tegas bahwa mereka yang melakukan perampasan, maling, korupsi bahwa ia akan kehilangan dharmanyta arthanya kamanya. Maksudnya bahwa bisa saja mereka seperti maling dan perampasan yang tertangkap dihakimi massa, atau mungkin seperti di atas kama lenyap (dipenjara),artha lenyap (didenda), dharma lenyap bahwa mereka mungkin tidak dhargai.

Namun bahwa dalam Sarasamuscaya 136 menegaskan bahwa:

Apan Ikang wwang kahat ri huripnya, apa nimittanikan panghilangken prana ning ika tantan harimbawa kta ya ikang, sanukhana ryawakya, ya ta angenanennya, ring len.

Artinyta bahwa bila orang itu sayang akan hidupntya, apa sebabnya ia itu ingin memusnahkan hidup mahluk lain; hal itu sekali-kali tidak memakai ukuran diri sendiri, segala sesuatu yang akan dapat menyenangkan kepada dirinya, meskipun itu seharusnya dicita-citakan terhadap mahluk lain.

Lalu selanjutnya Sarasamuscaya 139..

Sangskepanya, bhutahita ikang ulaha, apan ikang wwang lumaku, alungguh, atanghi, maturu kuneng, ndatan pakaphalang bhutahita, tan hana pahinin prawrttya lawan ulahin pasu.

artinya adalah singkatnya kesejahteraan mahluk hendaknya diusahakan, sebab orang yan sedang berjalan, duduk bangun dan tidur sekalipun,jika tidak dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat ,tiada bedanya perbuatannya dengan gerak laku hewan.

 

Yapss Inti terakhir adalah manusia adalah yang memiliki akal budi (idep), sabda (suara),dan Bayu(tenaga hiduo). Maka hewan adalah sama dengan mereka yang tidak mensejahterakan mahluk lain walaupun mereka sebenarnya mampu, bahkan mereka merampas kesejahteraan yang lainnya, apa yang kita sebut bagi mereka jika yang tidak memberi kesejahteraan karena ia mampu saja dikatakan hewan, Lalu mereka apa??Setan kah…

 

Gwar…feb 2013

dari segala sumber..

Om Krodhaning Kalkiantara Ya namo nama swaha..

Om Krodhaning Kalkiantara Ya namo nama swaha..

Om Kalkiantara Swaha..

 
Tinggalkan Komentar

Posted by pada 15 Februari 2013 in agama, budaya, ekonomi

 

Kaitkata: , , , , , , , , ,

Sekilas Risalah Makna Ekonomi (Artha) dalam Sarasamuscaya..

smith

Kata “Ekonomi” adalah sebuah kata yang mustahil dipisahkan dengan barisan kata Kesejahteraan, Kemakmuran, atau bahkan Kemahardikaan. Namun sebelum mencibir atau berprasangka buruk, akibat maraknya kewenang-wenangan yang berbuat seenak udel bodongnya, ya untuk mensejahterakan, memakmurkan kalangan sendiri, golongan sendiri, atau bahkan diri sendiri. Yang pasti sebuah kemahardikaan sepertinya tiada dirasakan bagi mereka tentunya.Sebuah kebebasan yang nyata dalam sekala serta niskala.

Apakah ekonomi itu, atau dalam sebutan Kitab Sarasamuscaya adalah Artha itu sendiri, yang tentunya telah diketahui menjadi bagian dalam catur purusa artha bersama Dharma sebagai dasar, Kama sebagai motivasi, dan Moksa sebagai tujuan Akhir. Sejak era Adam smith dalam menumbuhkan kata Kapitalisme sebagai keberlanjutan serta dekontruksi sosial atas Merkantilisme, maka hal terpenting dari PahamnNya (Adam Smith), yaitu Kapital itu dengan perlakuan yang sesuai adalah akan memberikan pemerataan yang sesuai dari lapisan atas sampai pula ke lapisan terbawah pada akhirnya. Jadi bahwa dengan pemerataan itu maka roda perekonomian dengan meningkatkan produksi di saat memiliki kapasitas pribadi akan berlanjut menuju kesejahteraan yang diusahakan secara merata baik diri sendiri, atau dengan berkelompok. Merata dalam artian itu adalah tingkat kesenjangan yang diusahakan diminalisir. Maksud Adam Smith adalah bahwa moralitas dalam bentuk “kasih” akan dilaksanakan diusahakan menuju suatu perbaikan sampai pada kesejahteraan itu sendiri. Itu inti yang diinginkan Adam SMith.

Kembali pada kata ekonomi sendiri, Maka teringat prinsip bahwa dengan pengeluaran sekecil2nya mendapatkan penghasilan sebesar2nya..atau kebutuhan(keinginan) manusia itu tidak terbatas dan alat pemuas kebutuhan terbatas.Sepertinya sedikit kontradiksi jika dihadapkan pada dunia adalah sebuah persinggahan dan “kemelekatan” akan dunia menghambat “santi”atau menuju ke arah “sunya” dalam kemoksaan atau mahardika itu sendiri. Lalu jika tanpa moralitas, maka apa yang terjadi adalah kelicikan, dan lobha(greed) keserakahan adalah keinginan yang tidak terbatas.

Lobha (Greed) Keserakahan sendiri adalah bagian dari Sad Ripu

Lobha artinya kerakusan. Artinya suatu sifat yang selalu menginginkan lebih melebihi kapasitas yang dimilikinya. Untuk mendapatkan kenikmatan dunia dengan merasa selalu kekurangan, walaupun ia sudah mendapatnya secara cukup. Seperti misal lobha dalam mendapatkan harta seperti disebutkan dalam :

Sarasamuscaya 267.

Jatasya hi kule mukhye paravittesu grhdyatah lobhasca prajnamahanti prajna hanta hasa sriyam.

Yadyapin kulaja ikang wwang, yan engine ring pradryabaharana, hilang kaprajnan ika dening kalobhanya, hilangning kaprajnanya, ya ta humilangken srinya, halep nya salwirning wibhawanya

Biar pun orang berketurunan mulia, jika berkeinginan merampas kepunyaan orang lain; maka hilanglah kearifannya karena kelobhaanya; apabila telah hilang kearifannya itu itulah yang menghilangkan kemuliaannya dan seluruh kemegahannya.

http://linggahindusblog.wordpress.com/2012/01/29/mengendalikan-sad-ripu-dengan-sarasamuscaya/

Jadi hanya dengan berkeinginan saja sudah menyebabkan Ia mendapatkan hasil karma yang buruk.

Dan selanjutnya dapat dijelaskan:

Sarasamuscaya 266

Hana yartha ulihlning parikleca, ulihning anyanya kuneng,

Athawa kasembahaning catru kuneng, hetunya ikang artha mangkana kramanya, tan kenginakena ika

Artinya : Adalah uang yang diperoleh dengan jalan jahat, uang yang diperoleh dengan jalan melanggar hukum atau pun uang persembahan musuh, uang yang demikian halnya jangan hendaknya diinginkan.

Jadi Adharma adalah suatu hal yang hanya mendapatkan hasil karma yang tidak mungkin baik, atau seperti yang diketahui secara universal, neraka itu hasilnya. Reinkarnasi buruk hasilnya, atau yang benar-benar tidak diharapkan adalah karma wasana yaitu dosa yang diterima oleh keluarga, dosa diwarisi, turun temurun.

Satu lagi akan suatu pencurian artha. Yaitu :

Sarasamuscaya 149

Yapwan mangke kraman ikang wwang, angalap masning mamas, makapanghada kasaktinya, kwehning hambanya, tatan mas nika juga inalap nika, apa pwa dharma, artha , kama, nika milu kalap denika..

Artinya : Jika orang yang merampas kekayaan orang lain dengan berpegang teguh kepada kekuatannya dan banyak pengikutnya, malahan bukan haga kekayaan hasil curiannya saja yang terampas darinya, tetapi juga dharma, artha kamanya itu terampas oleh karena perbuatannya.

Dalam hal ini karmapala adalah sebagai dasar yang nyata, yang berarti bahwa ia akan Nantinya cepat atau lambat dan pasti bahwa kebaikan (dharma),harta, dan mimpinya (kama) akan lenyap.

Maka dengan berbagai saran serta peringatan atau pula sebuah hukum karma yang tercantum pada Sarasamuscya, maka dapat diselaraskan pada semangat moralitas dari Adam SMith tersebut yang tercantum pada awal tulisan ini.

Lalu dalam Sarasamuscaya juga terdapat bagaimana hendaknya Artha itu digunakan dalam menjalani sebuah lakon kehidupan.

Sarasamuscaya 262

Nuhan kramanyan pinatelu, ikang sabhaga, sadhana rikasiddhaning dharma, ikang kaping rwaning bhaga sadhanari kasiddhaning artha ika, wrddhyakena muwah, mangkanakramanya pinatiga, denika sang mahyun, manggihakenang hayu.

Demikian duduknya makan dibagi tiga (hasil usaha itu), satu bagian guna mencapai dharma, bagian yang kedua adalah untuk memenuhi kama, dan yang ketiga diuntukkan bagi melakukan kegiatan usaha di dalam bidang arhtha, ekonomi,agar berkembang kembali, demikian duduknya, maka dibagi tiga, oleh karena yang ingin beroleh kebahagiaan.

Seindah artinya bahwa melakukan dharma, keberhakan mendapatkan kama, serta melakukan kegiatan ekonomi adalah tiga hal yang disarankan dari sarasamucaya.

 

Daftar pustaka

Kadjeng I Nyoman, 1997, Sarasamuscaya dengan teks bahsa Sansekerta dan Jawa Kuno, Paramita.

Mark SKousen,2009, Sang Maestro “Teori-teori ekonomi modern”;Sejarah pemikiran sosial.

http://linggahindusblog.wordpress.com/2012/01/29/mengendalikan-sad-ripu-dengan-sarasamuscaya/

 
Tinggalkan Komentar

Posted by pada 11 Februari 2013 in agama, budaya, ekonomi

 

Kaitkata: , , , , , , , , , ,

Mahrifat, Wahdatul Wujud, dan Kamoksan

transendence

     Mendengar istilah Mahrifat,  mungkin dikatakan suatu yang asing, namun pada dasarnya adalah sesuatu yang menarik jika didekatkan pada sebuah agama monotheism (islam) sebagai pemilik kata tersebut. Sebuah konsep unik pula tentang arti Manunggaling Kawulo Gusti sebagai sebuah kalimat yang berasal dari istilah “kejawen”. Sebuah kemanunggalan dengan “Gusti”. Tentunya dalam arti unik dan secara privasi dalam hubungannya ke pada “Yang Penguasa” alam ini.

Dalam hubungannya dengan suatu tingkatan ilmu pemahaman dan pengabdian kepada Sang Ilah, sesungguhnya mencapai suatu kata mahrifat dikatakan sebagai suatu ketersulitan tersendiri. Dalam hal ini Ia setidaknya menapaki pada tingkatan-tingkatannya. Sebelum mencapai suatu kata Mahrifat, maka paling tidakumat islam harus menjalani syariat, mengenal tarikat,mendapatkan hakikat, kemudian menuju suatu kemahrifatan. Tingkat syariat adalah pada suatu laku lahir termasuk pula pada tarikat. Syariat adalah laku dalam ritualnya serta larangan dan suruhanNya, kemudian tarikat menuju suatu pemahaman tersendiri dan melakukan paham syariat dalam kehidupan,termasuk juga wirid, zikir, dsb.

Suatu pemahaman yang terkadang kontradiktif jika mempertemukan seorang yang syariat, yang kemudian bertemu seorang penekun mahrifat. Dan seringnya malah hal itu memberikan sebuah konflik tersendiri. Seperti pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir yang memberikan pemahaman tersendiri dimana syariat bertemu Mahrifat. Dan pula bagaimana Syeh jenar dalam pemahamannya sendiri tidak dipahami oleh awam termasuk pula para wali songo yang notabene sudah paham sekali tentang ajaran Islam. Tergambar pula bagaimana Al Hallaj menyebutkan Anna Al-Haqq, yang berarti “Akulah Kebenaran” yang menuju pada suatu yang tidak diberikan oleh pemahaman awam. Dalam artian bahwa paham Mahrifat atau yang dekat dengan sufistik serta yang dikatakan Manunggal menjadi sesuatu yang tidak diberikan secara gamblang kepada khalayak ramai.

Bagaimana mungkin Allah menjadi diri manusia, bagaimana mungkin Allah mau turun kepada diri manusia,atau bahkan mampukah kau mencipta seperti layaknya Allah,itu yang mungkin diberikan sangkaan yang tiada boleh Allah diganggu gugat sedemikian rupa. Islam dalam hal ini tidak memberikan celah untuk menjadikan Allah sekutuNya kepada siapa pun. Jadi memang dalam kenyataan, bahwa paham itu dirahasiakan bagi pemiliknya sendiri.Aliran-aliran yang dekat dengan ini, adalah paham sufisme, yang bahkan beberapa berkata Sufi adalah islam yang berbaju weda.

Dalam hal ini,Hindu sendiri adalah sebagai agama yang kaya akan pemahaman “Hyang Agung”. Dalam sabdanya di Bhagawadgita menyebutkan,jalan manapun yang kau jalani untuk menyembahKu, maka Aku akan terima. Di hindu tersendiri menetapkan ada empat jalan yang memiliki konsep tersendiri. Bhakta, Karmin, Jnanin, Raja Marga. Terlepas dari cara-cara itu, maka disadari atau tidak perjalanan memujaNya sebagai sebuat “way of life”.  Kata-kata “Aham Brahman Asmi”, atau “Tat twam Asi”, adalah kata-kata yang terbiasa di telinga serta di “rasa” seorang Hindu. Karena memang dalam prinsip Monisme atau Pantheism bahwa Brahman ada dimana-mana, serta dimana-mana adalah brahman, menjadi suatu paham yang memberikan rasa takjub dan termasuk mencintai kehidupan(alam semesta) itu sendiri. Dan tidak ada ketidakberbolehan untuk mewujudkan Brahman itu sendiri, sebagai manifestasi Sang Acintya. Dapat dikatakan sebuah kebebasan mewujudkan adalah tanda akan kedekatanNya kepada pemelukNya itu sendiri. Tidak akan Ia marah atau merasa direndahkan karena mewujudkanNya. Malah itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri jika bisa mewujudkanNya dan sekaligus memujaNya.Satu hal yang pasti adalah, tidak ada WujudNya yang tidak dikenal atau bukan manifestasinya, maksudnya adalah tidak ada dewa kerbau, jika pada perjalanan suatu evolusi agama tidak ada namanya dewa berwujud kerbau. Shiva atau Ganesha menjadi suatu manifest/bentukNya yang telah ada di sejarah itu sendiri

Hal ini tergambar pula pada kebijaksanaan pada penyebutanNya, yang tergambar pada “Ekam sat wiprah Bahuda Wadanti”.Seorang bijak akan menyebutNya dengan berbagai nama, karena keluasan dan kemahakuasaanNya itu. Seperti jika diterjemahkan secara fungsi, Dewa Siwa dikatakan sebagai pelebur, penghukum, atau DewaYama sebagai Yang Maha Adil, atau Wisnu sebagai pemelihara semesta. Kalau di Islam yang tidak diperkenankan mewujudkanNya, sebenarnya telah memiliki 99 nama Allah (asma ul Husna) yang terdapat Al-Adl sebagai Allah yang Maha Adil, Al Muaimin sebagai pemelihara, atau pula Al-Khalik yang merupakan nama Allah sebagai Pencipta semesta. Memang tidak ada wujud dalam bentuk rupa, namun dalam simbol-simbol huruf atau lukisan kaligrafi dapat diperlihatkan sebagai bentuk estetika akan keagungan namaNya.

Dalam wilayah seni,maka seorang sufistik menemukan jalan yang dekat dengan berolah puisi sebagai tunjuk atas kedekatanNya kepada Ilahiah. Sebagai contoh puisi berikut

Sabda Rasul Allah Nabi kamu

Lima’a Allahi sekali waktu

Hamba dan Tuhan menjadi Satu

Inilah ‘arif bernama tahu

Kata Bayazid terlalu ‘ali

Subhani ma a’zama sya’ni

Inilah ilmu sempurna fani

Jadi senama dengan Hayyu al-Baqi

Kata Mansur penghulu ‘Asyiq

Ia itu juga empunya natiq

Kata siapa ia la’iq

Mengatakan diri akulah khaliq

Dengarkan olehmu hai orang yang kamil

Jangan menunut ilmu yang batil

Tiada bermanfaat kata yang jahil

Ana al-Haq Manshur itulah washil

Hamzah Fansuri terlalu karam

Ke dalam laut yang maha dalam

Berhenti angin ombaknya padam

Menjadi sultan pada kedua alam:

(http://syairsyiar.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-sufi-syeikh-hamzah-al.html)

Dalam hal ini pun dalam islam masih terjadi suatu perdebatan tersendiri akan kesesatan dari jalan sufism, tassawuf. Namun sebuah puisi dengan keindahan serta estetikanya itu sendiri, memiliki nilai mistik jika menghayatinya secara mendalam. Mungkin pula dalam “way of life-nya” bahwa seorang sufi menunjukkan takjub serta sujudnya kepada kekuatan Agung yang “benar” adalah dengan puisi itu sendiri. Agar itu sebagai keindahanNya dapat diterima oleh awam.

Jika dilihat pada Wadahtul wujud, maka mempunyai pengertian secara awam yaitu; bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci. Pengertian sebenarnya adalah merupakan penggambaran bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Allah adalah sang Khalik, Dia-lah yang telah menciptakan manusia, Dia-lah Tuhan dan kita adalah bayangannya. Hal ini dikatakan jugasebagai Wahdatul Syuhud yang berarti kita dan semua bagian dari dzat Tuhan /Allah. Hal ini sangat riskan jika didekatkan pada suatu pemahaman awam tentang Tuhan itu sendiri. Pada suatu paham Ke”Hindu”an itu bisa dikatakan sejalan dengan Atma tattwa, bahwa memang dalam setiap mahluk, manusia, bahkan semesta merupakan Ia semata. Sang Brahman. Dan kita hanyalah dan sebagai percikan dari Hyang Kuasa itu sendiri. Riskan dalam hal ini, pada manusia yang menganggap awam, hanya akan menimbulkan suatu emosi dan dikatakan akan merendahkan kekuatan Agung itu sendiri. Padahal untuk mengenal IA maka diperlukan sedikit ruang yang hanya Ia yang “mampu” dalam mengalahkan musuh diri. Musuh dalam diri sendiri yang terlalu berprasangka dan bahkan memenjarakan IA.

Memang dunia adalah sebuah dunia rwa bhineda, sebuah yin dan yang. Dan bagaimana seorang bijak dapat memberikan dirinya sendiri suatu kemoksaan sebagai tujuan akhir di dunia atau di alam nanti, adalah terlepasnya ia dari nafsu, lobha, keserakahan, dan tunduk pada sifatNya yang sempurna untuk tidak mengidolakan keduniawian yang “maya”. Sebuah kebahagiaan dan kesejahteraan batin yang akan muncul dan menjadikan keesokan hari sebuah karma baik untuk dengan nyaman dijalani sebagai suatu kemenangan akan hidup itu sendiri.

 

 

 

Daftar pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Wahdatul_Wujud

http://syairsyiar.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-sufi-syeikh-hamzah-al.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Sufism

 
2 Komentar

Posted by pada 9 Februari 2013 in agama, filosofi, doa

 

Kaitkata: , , , , , , , , , , , ,

Manusia akan kemana?setelah “Kematian”..(wraspatti tattwa)..

ArmyCorpsOfHell_Hero

Dunia adalah sementara, semua tau itu. Dan sebagai seseorang yang memiliki suatu kata “yakin” dalam hati, maka Ia akan memberikan kehidupan itu sesuatu warna tersendiri dalam apa-apa yang Ia kerjakan dan laksanakan. Keyakinan itu menjadi sesuatu yang patut dilaksanakan atau diajarkan dalam hidup ini. Lalu tentu saja dalam berbagai yang Ia jalani memiliki kadar tersendiri bagaimana Ia menjalani kehidupan setelah “hidup” yang sementara ini selesai.

Lalu sebagai seseorang yang menjalankan pengetahuan akan “dharma”, maka dalam suatu kehidupan akan  ternilaikan oleh Ia dalam bentuknya sebagai Hyang Acintya, Hyang bhatara Siwa, dalam manifestNya sebagai Bhatara Yama untuk menilai mereka-mereka atau kita yang hidup di dunia serta kelakuan kita di dunia. Dan Ia Sang Acintya, menelorkan atau memberikan tiga sifat atau guna yang diberikan Sang Siwa dan dinilai oleh Yama itu sendiri. Tiga Guna itu adalah :

1.Sattwam : yaitu sifat terang, sifat bijaksana, sifat kebaikan, serta sifat menerangi, menyebabkan juga sifat kejujuran, kelembutan, kehalusan, keindahan, keagungan.

2. Rajas : Yaitu sifat dinamis, sifat aktif, sifat kemarahan, sifat panas, sifat bergerak, termasuk juga jika tanpa ada kontrol akan bersifat bengis, angkuh, amarah.

3. Tamas : Yaitu sifat malas, sifat gelap, sifat diam, sifat pengecut, sifat murung, sifat cenderung berbohong, tidak suci, ingin membunuh.

Dan bagaimana manusia hidup adalah dikualifikasi dan didasarkan oleh sifat-sifat itu yang “tercantum” dan tersiarkan pada hati, pikiran, kata, serta perbuatan itu sendiri. Dalam hal ini Sattwam, Rajas, Tamas dari manusia adalah sesuatu yang menyebabkan bagaimana nanti manusia itu setelah ia menuju yang dinamakan “Kematian”,,,Suatu pintu yang tidak bisa dijadikan jalan untuk kembali oleh manusia itu sendiri.

Jadi manusia diberikan penilaian, maka manusia itu pula mendapatkan suatu hasil tersendiri dari dirinya. Namun sebelum melangkah, bahwa sudah diingatkan bagi manusia tentang keagungan dharma yang layak, pantas, dan wajib untuk dilaksanakan oleh Ia sebagai pejuang “dharma” yaitu :

Sarasamuscaya 2…

Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang juga wenang gumayaken ikang subhasubhakarma, kuneng panentasakena ring subhakarma juga ikangsubhakarma phalaning dadi wwang.

Di antara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk; leburlah ke dalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah gunanya (pahalanya) menjadi manusia.

Sarasasmuscaya 4.

Apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, makasadhanang subhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang ika.

Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama; sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik; demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.

link : http://linggahindusblog.wordpress.com/2012/03/04/bersyukur-bagaimana-menjadi-manusia/

Nah dengan sedikit ingatan di atas maka akhrinya manusia akan memilih jalannya sendiri untuk bisa hidup di dunia. Maka pilihan-pilihannya akan terpancar pada apa-apa yang ia jalani di kehidupan sampai juga kepada pikiran-pikirannya, yang terlampir pada setiap kata dan lakunya. Dari tiga guna itu maka dapatlah disadurkan pada akhir dari perjalanan itu sendiri. Hasil-hasil itu adalah sebagai berikut :

1.Moksa : Jika manusia dengan tekun melaksanakan Sattwam maka Ia akan mencapai moksa.

2 Sorga : Jika manusia dengan laksana Rajas namun dibarengi dengan pikiran Sattwam maka ia akan mencapai ke wilayah sorga.

3. Neraka : Jika manusia hanya dikaitkan dengan sifat rajas, tanpa sattwam maka ia cenderung bengis, pemarah, dan lepas dari perbuatan “dharma”. Maka ia akan mencapai neraka.

4.Reinkarnasi menjadi Manusia : Jadi ia reinkarnasi menjadi manusia adalah jika ketiga guna itu berimbang.

5. Menjadi Hewan dan Tumbuhan : Jika tamas mejadi sesuatu yang dominan dari kehidupannya.

Itulah sebagai suatu penilaian dari Hyang Kuasa dalam manifestnya Sang Hyang Yamadipati dalam menilai kelakuan, perkataan, serta pikiran manusia. Dan itu semua terekam di hati. Hati yang tidak akan berbohong dan memberikan suatu bahwasanya karma dan pahala dari tentu saja pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik.

(sumber wraspatti tattwa).

 

 

 
Tinggalkan Komentar

Posted by pada 24 Desember 2012 in filosofi

 

Kaitkata: , , , , , , , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.