RSS

Arsip Bulanan: Juli 2009

Filosofi Pejati sebagai simbol diri…

Pejati adalah salah satu sarana dari bebantenan Hindu..dalam hal ini simbol yang tercipta di penelaahan Hindu di Bali secara mengkhusus..Pejati adalah simbol diri bahwa kita mengakui diri kita sebagai seorang bakti yang menyadarkan diri untuk membaktikan diri kita kepada yang disembah di tempat kita mengajukan pejati tersebut..

Seperti orang yang baru menapaki tempat Beliau, jadi kita menyerahkan diri kita dalam bentuk simbol serta niskala untuk diketahui oleh Beliau, bahwa kita mengadakan bakti kepada Beliau di tempat Beliau berstana..

Pejati pada dasarnya terdiri dari :

1.  Daksina Unsur-unsur yang membentuk daksina:
 § Alas bedogan/srembeng/wakul/katung; terbuat dari janur/slepan yang bentuknya bulat dan sedikit panjang serta ada batas pinggirnya . Alas Bedogan ini lambang pertiwi unsur yang dapat dilihat dengan jelas.
 
§  Bedogan/ srembeng/wakul/katung/ srobong daksina ;terbuat dari janur/slepan yang dibuta melinkar dan tinggi, seukuran dengan alas wakul. Bedogan bagian tengah ini adalah lambang Akasa yang tanpa tepi. Srembeng daksina juga merupakan lambang dari hukum Rta ( Hukum Abadi tuhan )
 
§  Tampak; dibuat dari dua potongan janur lalu dijahit sehinga membentuk tanda tambah. Tampat adalah lambang keseimbangan baik makrokosmos maupun mikrokosmos.
 
§ Beras; lambang dari hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan manusia di dunia ini.  Hyang Tri Murti (Brahma, Visnu, Siva)
 
§  Porosan; terbuat dari daun sirih, kapur dan pinang diikat sedemikian rupa sehingga menjadi satu, porosan adalah lambang pemujaan
 
§  Benang Tukelan; adalah simbol dari naga Anantabhoga dan naga Basuki dan naga Taksaka dalam proses pemutaran Mandara Giri di Kserarnava untuk mendapatkan Tirtha Amertha dan juga simbolis dari penghubung antara Jivatman yang tidak akan berakhir sampai terjadinya Pralina. Sebelum Pralina Atman yang berasal dari Paramatman akan terus menerus mengalami penjelmaan yang berulang-ulang sebelum mencapai Moksa. Dan semuanya akan kembali pada Hyang Widhi kalau sudah Pralina.
 
§  Uang Kepeng; adalah lambang dari Deva Brahma yang merupakan inti kekuatan untuk menciptakan hidup dan sumber kehidupan.
 
§ Telor Itik; dibungkus dengan ketupat telor, adalah lambang awal kehidupan/ getar-getar kehidupan , lambang Bhuana Alit yang menghuni bumi ini, karena pada telor terdiri dari tiga lapisan, yaitu Kuning Telor/Sari lambang Antah karana sarira, Putih Telor lambang Suksma Sarira, dan Kulit telor adalah lambang Sthula sarira.
 
§ Pisang, Tebu dan Kojong; adalah simbol manusia yang menghuni bumi sebagai bagian dari ala mini. Idialnya manusia penghuni bumi ini hidup dengan Tri kaya Parisudhanya.
 
§ Gegantusan; yang terbuat dari kacan-kacangan dan bumbu-bumbuan, adalah lambang sad rasa dan lambang kemakmuran.
 
§ Papeselan yang terbuat dari lima jenis dedaunan yang diikat menjadi satu adalah lambang Panca Devata; daun duku lambang Isvara, daun manggis lambang Brahma, daun durian lambang Mahadeva, daun salak lambang Visnu, daun nangka atau timbul lamban Siva. Papeselan juga merupakan lambang kerjasama (Tri Hita Karana).
 
§ Buah Kemiri; adalah sibol Purusa / Kejiwaan / Laki-laki. § Buah kluwek/Pangi; lambang pradhana / kebendaan / perempuan.
 
§  Kelapa; simbol Pawitra (air keabadian/amertha) atau lambang alam semesta yang terdiri dari tujuh lapisan (sapta loka dan sapta patala) karena ternyata kelapa memiliki tujuh lapisan ke dalam dan tujuh lapisan ke luar. Air sebagai lambang Mahatala, Isi lembutnya lambang Talatala, isinya lambang tala, lapisan pada isinya lambang Antala, lapisan isi yang keras lambang sutala, lapisan tipis paling dalam lambang Nitala, batoknya lambang Patala. Sedangkan lambang Sapta Loka pada kelapa yaitu: Bulu batok kelapa sebagai lambang Bhur loka, Serat saluran sebagailambang Bhuvah loka, Serat serabut basah lambang svah loka, Serabut basah lambanag Maha loka, serabut kering lambang Jnana loka, kulit serat kering lambang Tapa loka, Kulit kering sebagai lamanag Satya loka Kelapa dikupas dibersihkan hingga kelihatan batoknya dengan maksud karena Bhuana Agung sthana Hyang Widhi tentunya harus bersih dari unsur-unsur gejolak indria yang mengikat dan serabut kelapa adalah lambang pe ngikat indria.
 
§  Sesari; sebagai labang saripati dari karma atau pekerjaan (Dana Paramitha)
 
§ Sampyan Payasan; terbuat dari janur dibuat menyerupai segi tiga, lambang dari Tri Kona; Utpeti, Sthiti dan Pralina.
 
§  Sampyan pusung; terbuat dari janur dibentuk sehingga menyerupai pusungan rambut, sesunggunya tujuan akhir manusia adalah Brahman dan pusungan itu simbol pengerucutan dari indria-indria
 
 
2.  Banten Peras Yang menjadi unsur-unsur Peras, yaitu: 
 § Alasnya Tamas/ taledan/ Ceper; berisi aled/ kulit peras, kemudian disusun di atasnya beras, benang, base tampel/porosan, serta uang kepeng/recehan. Diisi buah-buahan, pisang, kue secukupnya, dua buah tumpeng, rerasmen/lauk pauk yang dialasi kojong rangkat, sampyan peras, canang sari. Pada prinsipnya Banten Peras memiliki fungsi sebagai permohonan agar semua kegiatan tersebut sukses (prasidha)
 
§  Aled/kulit peras, porosan/base tampel, beras, benang, dan uang kepeng; merupakan lambang bahwa untuk mendapatkan keberhasilan diperlukan persiapan yaitu: pikiran yang benar, ucapan yang benar, pandangan yang benar, pendengaran yang benar, dan tujuan yang benar.
 
§ Dua buah tumpeng; lambang kristalisasi dari duniawi menuju rohani, mengapa dua tumpeng karena sesungguhnya untuk dapat menghasilkan sebuah ciptaan maka kekuatan Purusa dan Pradhana (kejiwaan/laki-laki dengan kebendaan/perempuan) harus disatuakan baru bisa berhasil (Prasidha), tumpeng adalah lambang keuletan orang dalam meniadakan unsur-unsur materialis, ego dalam hidupnya sehingga dapat sukses menuju kepada Tuhan.
 
§ Tamas; lambang Cakra atau perputaran hidup atau Vindu (simbol kekosongan yang murni/ananda). § Ceper/ Aledan; lambang Catur marga (Bhakti, Karma, Jnana, Raja Marga)
 
§ Kojong Ragkat, tempat lauk pauk; memiliki makna jika ingin mendapatkan keberhasilan harus dapat memadukan semua potensi dalam diri (pikiran, ucapan, tenaga dan hati nurani)
 
§ Sampyan peras; terbuat dari empat potong janur dibentuk menyerupai parabola di atasnya, merupakan lambang dari kesiapan diri kita dalam menerima intuisi, inisiasi, waranugraha dari Hyang Widhi yang nantinya akan kita pakai untuk melaksanakan Dharma.
 
 
3. Banten Ajuman/Soda Yang menjadi unsur-unsur banten Ajuman/Soda:
 §  Alasnya tamas/taledan/cepe; berisi buah, pisang dan kue secukupnya, nasi penek dua buah, rerasmen/lauk-pauk yang dialasi tri kona/ tangkih/celemik, sampyan plaus/petangas, canang sari. Sarana yang dipakai untuk memuliakan Hyang Widhi (ngajum, menghormat, sujud kepada Hyang Widhi)
 
§  Nasi penek adalah nasi yang dibentuk sedemikian rupa sehingga berbentuk bundar dan sedikit pipih, adalah lambang dari keteguhan atau kekokohan bhatin dalam mengagungkan Tuhan, dalam diri manusia adalah simbol Sumsuma dan Pinggala yang menyangga agar manusia tetap eksis.
 
§  Sampyan Plaus/Petangas; dibuat dari janur kemudian dirangkai dengan melipatnya sehingga berbentuk seperti kipas, memiliki makna simbol bahwa dalam memuja Hyang Widhi manusia harus menyerahkan diri secara totalitas di pangkuan Hyang Widhi, dan jangan banyak mengeluh, karunia Hyang Widhi akan turun ketika BhaktaNya telah siap. 
 
 
4. Ketupat Kelanan Unsur-unsur yang membentuk ketupat kelanan:
 §  Alasnya tamas/taledan atau ceper, kemudian diisi buah, pisang dan kue secukupnya, enam buah ketupat, rerasmen/lauk pauk + 1 butir telor mateng dialasi tri kona/ tangkih/celemik, sampyan palus/petangas, canang sari.
 
§  Ketupat Kelanan adalah lambang dari Sad Ripu yang telah dapat dikendalikan atau teruntai oleh rohani sehingga kebajikan senantiasa meliputi kehidupan manusia. Dengan terkendalinya Sad Ripu maka keseimbangan hidup akan meyelimuti manusia.
 
 
5. Penyeneng/Tehenan/Pabuat Yang membentuk Penyeneng:
 §  Jenis jejaitan yang di dalamnya beruang tiga masing-masing berisi beras, benang, uang, nasi aon (nasi dicampur abu gosok) dan porosan, adalah jejahitan yang berfungsi sebagai alat ntuk nuntun, menurunkan Prabhawa Hyang Widhi, agar Baliau berkenan hadir dalam upacara yang diselenggarakan. Panyeneng dibuat dengan tujuan untuk membangun hidup yang seimbang sejak dari baru lahir hingga meninggal.
 
§  Ruang 1, berisi Nasi aon adalah lambang dari dewa Brahma sebagai pencipta alam semesta ini dan merupakan sarana untuk menghilangkan semua kotoran (dasa mala)
 
§  Ruang 2 berisi beras benang dan uang, lambang dari dewa Visnu yang memelihara alam semesta ini, beras adalah sumber makanan manusia, uang adalah alat transaksi untuk melangsungkan kehidupan, benang sebagai penghubung antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Hyang Widhi.
 
§ Ruang 3 berisi bunga, daun kayu sakti (dapdap), yang ditumbuk dengan kunir dan beras, melambangkan dewa Siva dalam prabhawaNya sebaga Isvara dan Mahadeva yang senantiasa mengarahkan manusia dari yang tidak baik menuju benar, meniadakan (pralina) Adharma dan kembali ke jalan Dharma.
 
§  Bagian atas dari Penyeneng ini ada jejahitan yang menyerupai Ardhacandra = Bulan, Windu = Matahari, dan Titik = bintang dan teranggana (planet yang lain).
 
 
6. Pesucian Pesucian terdiri dari :
 §  Sebuah ceper /taledan yang berisi tujuh bua tangkih kecil yang masing-masing tangkih berisi: Bedak (dari tepung), Bedak warna kuning (dari tepung berwarna kuning), Ambuh (kelapa diparut/ daun kembang sepatu dirajang), Kakosok (rengginang yang dibakar hingga gosong), Pasta (asem/jeruk nipis), Minyak Wangi, Beras. Di atasnya disusun sebuah jejahitan yang disebut payasan (cermin, sisir dan petat) terbuat dari janur.
 
§  Pada intinya pesucian merupakan alat-alat yang dipakai untuk menyucikan Ida Bhatara dalam suatu upacara keagamaan
 
§  Secara instrinsik mengandung makana filosofis bahwa sebagai manusia harus senantiasa menjaga kebersihan phisik dan kesucian rohani (cipta , rasa dan karsa), karena Hyang Widhi itu maha suci maka hanya dengan kesucian manusia dapat mendekati dan menerima karunia Beliau.
 
 
7. Segehan 
 §  Secara etimologi Segehan artinya Suguh (menyuguhkan), dalam hal ini adalah kepada Bhuta Kala, yang tak lain adalah akumulasi dari limbah/kotoran yang dihasilkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan manusia dalam kurun waktu tertentu. Dengan segehan inilah diharapkan dapat menetralisir dan menghilangkan pengaruh negatik dari libah tersebut. Segehan adalah lambang harmonisnya hubungan manusia dengan semua ciptaan Tuhan
 
§  Jahe, secara imiah memiliki sifat panas. Semangat dibutuhkan oleh manusia tapi tidak boleh emosional.
 
§ Bawang, memiliki sifat dingin. Manusia harus menggunakan kepala yang dingin dalam berbuat tapi tidak boleh bersifat dingin terhadap masalah-masalah sosial (cuek)
 
§  Garam, memiliki PH-0 artinya bersifat netral, garam adalah sarana yang mujarab untuk menetralisir berbagai energi yang merugikan manusia (tasik pinaka panelah sahananing ngaletehin).
 
§  
 
 Tetabuhan Arak, Berem, Tuak, adalah sejenis alkhohol, dimana alkhohol secara ilmiah sangat efektif dapat dipakai untuk membunuh berbagai kuman/bakteri yang merugikan. Oleh kedokteran dipakai untuk mensteril alat-alat kedokteran. Metabuh pada saat masegeh adalah agar semua bakteri, Virus, kuman yang merugikan yang ada di sekitar tempat itu menjadi hilang/mati.
 
8. Sarana yang Lain
 §  Daun/Plawa; lambang kesejukan.
§  Bunga; lambang cetusan perasaan
§ Bija; lambang benih-benih kesucian.
§ Air; lambang pawitra, amertha
§  Api; lambang saksi dan pendetanya Yajna 
 

   
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 31 Juli 2009 in Tak Berkategori

 

Being Spiritual is Being Natural..

kata-kata yang sangat indah dalam menjalani suatunya dalam pemujaanNya…di bidang spiritual dalam menjalani berbagai ritual-ritual sebagai suatu yang dapat dilihat, adalah tercantum suatu sifat atau sikap toleransi terhadap segala berbagai perbedaan…

Hal ini terutama dilaksanakan pada suatu pemahaman-pemahaman natural dari berbagai ritual tersendiri di Hindu..Sebagai contoh ada perbedaan signifikan antara pemujaan dalam ruang lingkup Hindu di India dan di Bali..Di Bali banyak digunakan berbagai simbol-simbol penting yang menautkan tattwa (filsafat) atau kebenaran dalam mengupayakan suatu ritual-ritual tertentu…di India hal itu belum tentu ada dalam penerapannya..Itulah yang membuat Hindu kaya sebagai suatu sifat-sifat toleransi di dalam Hindu sendiri…

Timbulnya simbol-simbol yang ada berasal dari kedatangan para orang-orang suci Hindu pada masa lalu..Beliau memberikan suatu ajaran-ajaran yang menjadikan Hindu di Bali memiliki ciri-ciri sendiri yang ada..Beliau-beliau tersebut adalah sebagai berikut..:

1. DANGHYANG MARKANDEYA

Pada abad ke-8 beliau mendapat wahyu di Gunung Di Hyang (sekarang Dieng, Jawa Timur) bahwa bangunan palinggih di Tolangkir (sekarang Besakih) harus ditanami panca datu yang terdiri dari unsur-unsur emas, perak, tembaga, besi, dan permata mirah.

Setelah menetap di Taro, Tegal lalang – Gianyar, beliau memantapkan ajaran Siwa Sidhanta kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual: Surya sewana, Bebali (banten), dan Pecaruan. Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali maka ketika itu agama ini dinamakan Agama Bali.

Daerah tempat tinggal beliau dinamakan Bali. Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya daerah Taro saja, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh pulau melaksanakan ajaran Siwa Sidanta menurut petunjuk-petunjuk Danghyang Markandeya yang menggunakan bebali atau banten.

Selain Besakih, beliau juga membangun pura-pura Sad Kahyangan lainnya yaitu: Batur, Sukawana, Batukaru, Andakasa, dan Lempuyang.

Beliau juga mendapat wahyu ketika Hyang Widhi berwujud sebagai sinar terang gemerlap yang menyerupai sinar matahari dan bulan. Oleh karena itu beliau menetapkan bahwa warna merah sebagai simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan digunakan dalam hiasan di Pura antara lain berupa ider-ider, lelontek, dll.

Selain itu beliau mengenalkan hari Tumpek Kandang untuk mohon keselamatan pada Hyang Widhi, digelari Rare Angon yang menciptakan darah, dan hari Tumpek Pengatag untuk menghormati Hyang Widhi, digelari Sanghyang Tumuwuh yang menciptakan getah.

2. MPU SANGKULPUTIH

Setelah Danghyang Markandeya moksah, Mpu Sangkulputih meneruskan dan melengkapi ritual bebali antara lain dengan membuat variasi dan dekorasi yang menarik untuk berbagai jenis banten dengan menambahkan unsur-unsur tetumbuhan lainnya seperti daun sirih, daun pisang, daun janur, buah-buahan: pisang, kelapa, dan biji-bijian: beras, injin, kacang komak.

Bentuk banten yang diciptakan antara lain canang sari, canang tubugan, canang raka, daksina, peras, panyeneng, tehenan, segehan, lis, nasi panca warna, prayascita, durmenggala, pungu-pungu, beakala, ulap ngambe, dll. Banten dibuat menarik dan indah untuk menggugah rasa bhakti kepada Hyang Widhi agar timbul getaran-getaran spiritual.

Di samping itu beliau mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar Dukuh, Prawayah, dan Kabayan.

Beliau juga pelopor pembuatan arca/pralingga dan patung-patung Dewa yang dibuat dari bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat konsentrasi dalam pemujaan Hyang Widhi.

Tak kurang pentingnya, beliau mengenalkan tata cara pelaksanan peringatan hari Piodalan di Pura Besakih dan pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya : Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, dll.

Jabatan resmi beliau adalah Sulinggih yang bertanggung jawab di Pura Besakih dan pura-pura lainnya yang telah didirikan oleh Danghyang Markandeya.

3. MPU KUTURAN

Pada abad ke-11 datanglah ke Bali seorang Brahmana dari Majapahit yang berperan sangat besar pada kemajuan Agama Hindu di Bali.

Atas wahyu Hyang Widhi beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang mengajak umat Hindu di Bali mengembangkan konsep Trimurti dalam wujud simbol palinggih Kemulan Rong Tiga di tiap perumahan, Pura Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat, dan Pembangunan Pura-pura Kiduling Kreteg (Brahma), Batumadeg (Wisnu), dan Gelap (Siwa), serta Padma Tiga, di Besakih.

Paham Trimurti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widhi dalam posisi horizontal (pangider-ider).

4. MPU MANIK ANGKERAN

Setelah Mpu Sangkulputih moksah, tugas-tugas beliau diganti oleh Mpu Manik Angkeran. Beliau adalah Brahmana dari Majapahit putra Danghyang Siddimantra.

Dengan maksud agar putranya ini tidak kembali ke Jawa dan untuk melindungi Bali dari pengaruh luar, maka tanah genting yang menghubungkan Jawa dan Bali diputus dengan memakai kekuatan bathin Danghyang Siddimantra. Tanah genting yang putus itu disebut segara rupek.

5. MPU JIWAYA

Beliau menyebarkan Agama Budha Mahayana aliran Tantri terutama kepada kaum bangsawan di zaman Dinasti Warmadewa (abad ke-9).

Sisa-sisa ajaran itu kini dijumpai dalam bentuk kepercayaan kekuatan mistik yang berkaitan dengan keangkeran (tenget) dan pemasupati untuk kesaktian senjata-senjata alat perang, topeng, barong, dll.

6. DANGHYANG DWIJENDRA

Datang di Bali pada abad ke-14 ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Bentuk bangunan pemujaannya adalah Padmasari atau Padmasana.

Jika konsep Trimurti dari Mpu Kuturan adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan horizontal, maka konsep Tripurusa adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan vertikal.

Danghyang Dwijendra mempunyai Bhiseka lain : Mpu / Danghyang Nirarta, dan dijuluki : Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai kemampuan supra natural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan).

Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan.

Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin. Karya sastra beliau yang terkenal antara lain : Sebun bangkung, Sara kusuma, Legarang, Mahisa langit, Dharma pitutur, Wilet Demung Sawit, Gagutuk menur, Brati Sesana, Siwa Sesana, Aji Pangukiran, dll.

Beliau juga aktif mengunjungi rakyat di berbagai pedesaan untuk memberikan Dharma wacana.

Saksi sejarah kegiatan ini adalah didirikannya Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat misalnya : Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Hulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dll.

Dan dari kemajuan teknologi serta media yang berlimpah, pada jaman ini semakin banyak cara-cara mengkhusus yang menjadi suatu kekayaan dari Hindu itu di Bali sendiri..seperti kalimat yang berjudul “Being Spiritual is Being Natural”..yang dapat diartikan sebagia cara-cara untuk memahami dan menjalankan Hindu tersebut secara tersendiri….

Seperti juga dijelaskan pada sloka manawa dharmasastra serta kutipan dari http://sanggrahanusantara.blogspot.com/2009/06/perbedaan-hindu-india-dan-hindu.html

Penerapan agama Hindu agar berhasil harus disesuaikan dengan tujuan (Iksha), kemampuan (Sakti), aturan setempat (Desa) dan waktu (Kala). Namun dalam pelaksanaannya tidak boleh bertentangan dengan Tattwa atau kebenaran Veda. Hal inilah yang menyebabkan Hindu di India dan Hindu di Bali atau di mana saja selalu berbeda-beda bentuk penampilan luarnya. Lima pertimbangan ini sebagaimana dutuliskan dalam Manawa Dharma Sastra:

Karyam so’veksya saktimca
Desakaala ca tattvatah
Kurute dharmasiddhiyartham
Visvaruupam punah punah.
(Manawa Dharmasastra VIII.10)

Maksudnya:
Setelah mempertimbangkan iksha (tujuan), sakti (kemampuan), desa (aturan setempat), kala (waktu) dan tattwa (kebenaran) untuk menyukseskan tujuan agama (Dharmasiddhiyartha) maka ia wujudkan dirinya dengan bermacam macam wujud.
Di Bali sinergi Agama Hindu dengan budaya Bali mampu meningkatkan dan mengembangkan kualitas budaya Bali. Dalam sinergi itu tampak Agama Hindu sebagai titik sentral (pusat) yang menjiwai semua aspek budaya Bali.

Yang pasti dalam melaksanakan berbagai ritual dan penjiwaan Hindu tersebut, hendaknya disadari bahwa betapa pentingnya unsur tattwa (kebenaran) dalam menjalani berbagainya tersebut..Hal itu sebagai tuntunan dasar untuk menyatakan bahwa segala ritual itu adalah mengandung kebenaran yang bersumber dari ajaran atau sloka sloka Hindu yang ada…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Juli 2009 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , ,

Ahimsa tanpa kekerasan…

Sebagaimana ditilik dari kata himsa, yaitu pembunuhan atau kekerasan…maka ahimsa adalah ajaran yang menyatakan bahwa tanpa kekerasan dalam menghadapi berbagai kehidupan..

jika dilihat dari unsur karma phala..maka suatu pembunuhan, terutama yang terjadi kepada umat manusia adalah akan mengalami karma yang besar pula dalam menjalani kehidupan nantinya…

punarbahwam yang membawamu menjadi kan dirimu akan menjadi cacing-cacing dalam penjelmaanmu selanjutnya…

haah seperti suatu karmaphala terhadap segala yang telah mereka perbuat terhadap negeri ini…

Ahimsa adalah menunjukkan bahwa dunia tidak memerlukan suatu kekerasan dalam menjalani berbagai segala tujuannya…apakah benar kekerasan itu sangat perlu…

bagaimana jika dunia adalah suatu tempat yang penuh dengan kebajikan dan rasa solidaritas yang tinggi..apakah bisa tercapaikan surga di dunia tanpa harus menuju ke surga di atas sana…

sebagaimana terdapat orang-orang yang mengajarkan kekerasan dalam mencapai surga…sebenar-benarnya telah memupuk karma bagi diri mereka sendiri…seperti yang diketahui juga Tuhan sebagai yang maha adil dalam segala ciptaannya..bisa terlihat pada sloka ini..:

samo ‘haṁ sarva-bhūteṣu na me dveṣyo ‘sti na priyah
ye bhajanti tu māṁ bhaktyā mayi te teṣu cāpy aham

(Bhagavad Gītā, IX. 29)

Arti:

Aku tidak pernah iri dan selalu bersikap adil terhadap semua makhluk.
Bagi-Ku tidak ada yang paling Ku-benci dan tidak ada yang paling Aku kasihi.
Tetapi yang berbakti kepada-Ku, dia berada pada-Ku dan Aku bersamanya pula

ia maha adil…dan seadil-adilnya ia akan membawa dirimu yang telah terbengkalai oleh kekerasanmu menuju karmamu tersendiri..

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 20 Juli 2009 in agama

 

Tag: , ,

Tao dan Pengetahuan Jiwa Hindu..

Tao adalah suatu ajaran yang berkembang di china dimana disebarkan oleh Lao tse…berasal dari kata Dao yang berarti tidak berbentuk, tidak terlihat tetapi merupakan asas atau jalan atau cara kejadian kesemua benda hidup dan benda-benda alam semesta dunia..di setiap fisik dari segala mahluk berisikan Tao..atau unsur yang paling inti dari semua….hal ini dapat dihubungkan dengan sifat-sifat Pantheisme dalam Hindu…

Pantheisme dalam Hindu dapat dilihat atau diceritakan melalui bahasan-bahasan Upanishad..dimana Beliau digambarkan sebagai sesuatu yang ada pada api, air, tanah, dan mahluk hidup itu sendiri..Tercermin dalam setiap aspek-aspek baik yang besar maupun sampai pada suatu yang terkecil sekalipun…Beliau ada pada garam yang telah tercampur dengan air dan kau merasakan apa yang rasa asin tersebut, namun tiada terlihat pada suatu indra…

dalam Bhagawadgita sloka 10.3 disebutkan bahwa..:

yo mam ajam anadim ca, vetti loka-mahesvaram, asammudah sa martyesu sarva papaih pramucyate..(Gita 10.3)..

yang berarti Orang yang mengenal Aku sebagai yang tidak terlahirkan, sebagai yang tidak berawal, sebagai Tuhan Yang Maha Esa yang berkuasa atas semua dunia di kalangan manusia dia yang tidak berkhayal, dan hanya dialah yang dibebaskan dari segala dosa…

di sana dijelaskan bahwa Ia tiada terlahirkan , berawal ..yang berkuasa di seluruh dunia…maka Beliau dapat dijelaskan berada di mana-mana di suatu yang terkecil sekali pun..

Jiwa dari filsafat Hindu adalah sesuatu yang tiada dapat terbakar oleh api dan terbasahkan oleh air dan kembali ke hadapan Tuhan yang Maha Esa nantinya..

di dalam Tao terdapat juga unsur-unsur bahwa segala di dunia digerakkan oleh unsur yang bersebrangan satu dengan lain..ada sebab akibat dari setiap keterjadian, ada gelap dan terang, ada baik dan buruk, ada putih dan hitam..dan semuanya bersatu padu pada segala sifat dunia yang menyerentak hadir sebagai penggerak dunia..Hal ini disebut sebagai unsur Yin dan Yang dalam penerapan ajaran Tao itu sendiri…

Jika ditilik dari sifat-sifat ajaran Hindu maka dapat ditelaah dari arti Rwa Bhineda..Lingga Yoni, baik buruk, terang gelap..semua ada di dunia dan berperan sebagai sifat-sifat yang selalu ada dalam hidup dan menggerakkan hidup itu sendiri..bisa ditelaah kembali pada serangkaian cerita calon arang dimana segala kebaikan kan menjadi lawan kegelapan secara abadi…

gwar..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Juli 2009 in agama

 

Tag: , , , , , ,

Bagaimana Beliau bisa Banyak Nama..

bahasan ini dapat dinyatakan sebagai tuntunan bagaimana Beliau bisa disebut sebagai banyak nama..

Terutama dalam bahwasannya Beliau disebutkan sebagai unsur Tri Murti dunia..yang berartikan sebagai Brahma, Wisnu, Siwa…

seperti diketahui bahwa Brahma adalah sebagai pencipta, dimana manusia pun dalam penerapan kehidupannya merupakan suatu pencinpta dalam hidupnya, yaitu pencipta kedamaian…

disamping itu terdapat Sang Hyang Wisnu yang merupakan manifestasi Beliau sebagai pemelihara dunia…Adapun berbagai cerita atau suatu waktu Beliau turun ke dunia untuk menyelamatkan berbagai umat manusia dalam bentuk avatara. Avatara adalah suatu bentuk Tuhan yang berkepribadian dan menujukan diri pada suatu penyelamatan pada dunia sebagai pengajar atau penuntun manusia menuju kebebasan. Ada sepuluh avatar yang bahwasannya sebagai penyelamat dunia dalam suatu bentuk- bentuk tertentu. Avatar-avatar tersebut adalah sebagai berikut:

1. Matsya Awatara yaitu Hyang Widhi turun kedunia sebagai Ikan yang besar yang menyelamatkan manusia pertama dari tenggelam saat dunia dilanda banjir yang maha besar.

2. Kurma Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai kura-kura besar yang menumpu dunia agar selamat dari bahaya terbenam saat pemutaran Gunung Mandara di Lautan Susu (Kesire Arnawa) oleh para Dewa untuk mencari Tirta Amertha (Air suci kehidupan)

3. Waraha Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai Badak Agung yang mengait dunia kembali agar selamat dari bahaya tenggelam

4. Nara Simbha Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai manusia berkepala singa (Simbha/Sima) yang membasmi kekejaman Raja Hyrania Kasipu yang sangat lalim dan menindas Adharma

5. Wamana Awatara yaitu Hyang Widhi turun kedunia sebagai orang kerdil berpengetahuan tinggi dan mulia dalam mengalahkan Maha Raja Bali yang sombong dan ingin menguasai dunia serta menginjak-injak Dharma.

6. Paracu Rama Awatara yaitu Hyang Widhi turun kedunia sebagai Rama Parasu yaitu Rama bersenjatakan Kapak yang membasmi para ksatrya yang menyeleweng dari ajaran Dharma.

7. Rama Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai Sang Rama putra raja Dasa Rata dari Ayodya untuk menghanncurkan kejahatan dan kelaliman yang ditimbulkan oleh Raksasa Rahwana dari negara Alengka.

8. Krisna Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai Sri Krisna raja Dwarawati untuk membasmi raja Kangsa, Jarasanda dan membantu Pandawa untuk menegakkan keadilan dengan membasmi Kurawa yang menginjak-injak Dharma.

9. Budha Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai putra raja Sododana di Kapilawastu India dengan nama Sidharta Gautama yang berarti telah mencapai kesadaran yang sempurna. Budha Gautama menyebarkan ajaran Budha dengan tujuan untuk menuntun umat manusia mencapai kesadaran, penerangan yang sempurna atau Nirwana.

10. Kalki Awatara yaitu penjelmaan Hyang Widhi yang terakhir yang akan turun untuk membasmi penghinaan-penghinaan, pertentangan-pertentangan agama akibat penyelewengan umat manusia dari ajaran Hyang Widhi (Dharma). Menurut keyakinan umat Hindu, awatara terakhir akan turun apabila memuncaknya pertentangan-pertentangan agama di dunia ini.

Yang ketiga adalah Siva..sebagai pelebur, pengembalian dunia kepada Tuhan atau Sang Hyang Widhi…Titisan Siva pun ada yang mengikuti titisan Wisnu sebagai pendamping, sebagai contoh adalah Hanuman yang bersifat sebagai titisan Siva di Jaman Ramayana…

dari amalan itu terdapat tiga horisontalitas makna manifestasi Beliau..sebagai pencipta, pemelihara, pelebur..bisa dibandingkan dengan GOD yaitu Generator, Operating, Destruction..

Selain itu terdapat pula Ganesha sebagai anak Dewa Siva, Narayana, Shri, Gayatri dan sebagainya yang menyebutkan bahwa Ia adalah termanifestasi sesuai dengan keinginan umatnya..

yang salah satunya disebutkan pula kiasan yang berartikan :”Ekam Sat Viprah Bahuda Wadanti” yang berarti bahwa Hanya ada satu Beliau namun orang Bijaksana menyebutNya dengan banyak Nama..karena berbagai fungsi-fungsi tersendiri dari Beliau itu sendiri..

seseorang dalam menjalani berbagai ritual menyelami kehidupan ini, sangatlah memiliki berbagai sudut pandang yang berbeda pula…ada yang memuja Ganesha sebagai citraan Tuhan, ada pencinta Siva, ada pencinta Wisnu…pada dasarnya adalah sama memuja suatu Beliau sahaja…namun mereka dalam menyelami Beliau terdiri dari berbagai citra-citra tersendiri…hal itu menyebutkan bahwa HIndu memiliki suatu universalitas dalam menjalani berbagai sudut pandang tersebut…mana yang lebih cocok maka citra itu yang terpilih…

Sebagai awal pembentukan spiritual, disajikan bahwa citra Beliau bisa disimbolkan sebagai suatu wajah yang menyenangkan, penuh cinta kasih dan terlaksa sebagai pelindung..hal itu disiarkan dalam hati dan dipujam serta dijapam sedemikian rupa untuk mengikrarkan Beliau dalam hati masing-masing sampai seumur hidup….

ada juga yang disimbolkan sebagai suatu huruf atau ayat- ayat yang menyimbolkan Beliau..seperti Ongkara…hal itu kembali tergantung pemahaman masing-masing dalam penerapan citra Beliau…

tiada yang salah, bahkan dalam penerapan lain, Beliau bisa dipaparkan sebagai sesuatu yang tiada terjangkau namun memiliki cahaya pada setiap mahluk yang menyebabkan tiada yang tanpa berisikan Beliau baik mahluk hidup ataupun tidak…Ini pencitraan Beliau ada dimana-mana pada berbagai mahluk…

dalam bhagawadgita disebutkan sebagai berikut :

    Ye yathā mām prapadyante tāms tathaiva bhajāmy aham,
    mama vartmānuvartante manusyāh pārtha sarvaśah

(Bhagavad Gītā, 4.11)

Arti:

    Jalan mana pun yang ditempuh seseorang kepada-Ku,
    Aku memberinya anugerah setimpal. Semua orang mencari-Ku
    dengan berbagai jalan, wahai putera Partha (Arjuna)

    Yo yo yām yām tanum bhaktah śraddhayārcitum icchati,
    tasya tasyācalām śraddhām tām eva vidadhāmy aham

(Bhagavad Gītā, 7.21)

Arti:

    Kepercayaan apapun yang ingin dipeluk seseorang,
    Aku perlakukan mereka sama dan
    Ku-berikan berkah yang setimpal supaya ia lebih mantap

maka Beliau dalam banyak nama dan bentuk adalah jalan saja bagi diri nya masing-masing untuk mengenal Beliau Sang Maha Kuasa…

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 11 Juli 2009 in agama

 

Tag: , , , , , ,

Sajak Monotheism dan Pantheism..

marilah katakan Ia adalah satu sahaja…
maka marilah katakan Ia milik sesuatu sahaja…
dan rebahkan diri pada suatu keseimbangan makna…
dan sikap-sikap cinta melebihkanNya…
terasa bagai suatu kebanggan akan Ia yang hanya sendiri sahaja…

langitan…ayahanda…Ia di atas sana…
bagai para pemberani yang menghendaki kedaulatan atas Ia…
hanyalah satu sahaja di muka dunia…
junjung segalaNya pada suatu laksa…
hancurkan yang lecehkan sang WIRA CHARIta…

penghancuran segala penghancuran…
hmmm harumkan (kah)…IA…
namun sampai kapan pemusnahan bergantung pada suatu pengikut…
dan dogma-dogma pembenaran…

dan di satu sisi…
panthenugraha wacana…
hendaki Ia menghilang bagai suatu rahasia menggenap asa…
dan suatu waktu pembebasan akan merahga jiwa…
bumi…dogma bumi…

di setiap garam2 laut adaNya..
di setiap butir dan bulir air adaNya..
di setiap renyah rampaian pasir adaNya…
di setiap lelaku dan kiasan cerita dunia ada Nya…

maka siapa di atas sana..??
mengapa kau bela..dan kami berbela sungkawa…
aaah..biarkan suatu karma berjalan pada suatu rahga dunia kita….
toh biarkan sahaja…

kita ada dunia yang harus diberikan segelas air merahga….
semua punya segala peran-peran tertakdirkan…
biarkan-biarkan…resapkan
cahaya kesunyatan..kesujatian…

semua adalah kenyataan..

salam..
gwar…
(upanishad pembebasan)…

diambil dari sajak facebook karya penulis…

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 11 Juli 2009 in filosofi

 

Tag: , , ,

Manunggaling Kawulo Gusti serta Kaitan dalam Moksa..

ajaran sebagai moksa sebagai tujuan akhir manusia HIndu..sangatlah merupakan pedoman dalam melaksanakan berbagai tautan-tautan hidup…sebagai ciri bahwa moksa telah tercapai adalah bersatunya Atman dengan Brahman yang ditandai dari meresapi segala sifatNya dan tidak memikirkan segala sifat yang memiliki unsur keduniawian ….

seperti pada sifat kawulo manuggaling gusti dimana terjadi suatu persatuan antara Tuhan dan Jiwa manusia itu sendiri…

tiada yang mustahil di dunia…moksa bukanlah suatu hal yang tidak bisa tercapai pada jaman kaliyuga ini..seperti yang telah disebutkan bahwa hanya dengan japa maka moksa bisa tercapai secara mungkin…

lepas dari kehidupan dunia, lepas dari segala yang menjadi suatu cipta di dunia, dan lepas dari segala perbedaan atau tautan rasa…seperti biasa terhadap rasa senang atau duka, biasa terhadap rasa marah, dan selalu menghargai kehidupan…

dalam penahapannya, hidup bagai terasa di alam kematian yang menelaah diri..sebagai pikiran bahwa kita lakukan kewajiban yang mesti dilakukan tanpa mengharapkan hasil-hasil apapun yang terjadi…pasrah namun masih terpikirkan bahwa segala sesuatu diserahkan kepada Yang Terhaturkan dan menjalani dharma secara setia…

untuk lebih jelas dalam memahami manunggaling kawulo gusti dapar ditelaah pada link berikut..:

http://gantharwa.wordpress.com/2007/02/02/manunggaling-kawula-lan-gusti/

untuk menelaah arti moksa dan segala apa yang menjadi ikatan-ikatan dunia dapat dilihat pada link ini..:

http://www.hindubatam.com/moksa.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Juli 2009 in agama

 

Tag: , , , ,

Surga dan Neraka dalam Karma serta Reinkarnasi..

jika ditilik dari surga dan neraka, tiada lah filosofi-filosofi dari Hindu atau pun ayat-ayat yang menyatakan hukuman surga dan neraka..dalam hal ini paling tidak dari berbagai kumpulan kitab-kitab Hindu dari suatu catatan seorang ahli Hindu-disebutkan bahwa hanya terdapat tiga saja bahwasan neraka atau janji surga dan neraka di HIndu…

kitab yang menyatakan hal tersebut pun tidak terlalu dipusingkan oleh apa yang terjadi disana..hanya kegelapan dan tempat kelam saja…

hal ini sangat berhubungan dengan karma atau perbuatan yang dilakukan…Hindu menjelaskan bahwa segala yang terjadi adalah sebab akibat..jika berbuat maka terjadi akibat nantinya…jadi karma berjalan selalu sempurna, tiada yang bisa menghentikannya..dan manusia bertanggung jawab berdasarkan apa yang telah ia lakukan..manusia bertanggung jawab terhadap ia sendiri…

reinkarnasi seperti yang telah diketahui adalah kelahiran kembali…

dan jika dihubungkan dengan karmaphala, maka dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :

1. Prarabda Karma yaitu suatu perbuatan yang dilakukan pada waktu hidup sekarang dan diterima dalam kehidupan sekarang juga.

2. Kriyamana Karma yaitu perbuatan yang dilakukan sekarang dan hasil perbuatan itu akan diterima pada kehidupan di alam baka  yang akan datang atau reinkarnasi yang akan datang..

3. Sancita Karma yaitu kejadian sekarang adalah hasil dari perbuatan yang terdahulu atau reinkarnasi terdahulu..

jadi bagaimanapun kau berlari akan dikejar juga oleh karmaphala itu sendiri…

karmaphala juga termasuk sebagai inti dari lima keyakinan HIndu…selain Brahman, Atman, Punarbhawa, dan Moksa..

maka tiada bisa dipungkiri ada orang yang cacat, sakit-sakitan, dan sengsara atau bergelimang harta, selalu bahagia, dicintai banyak orang, selalu bahagia…adalah pahala dari karma yang terdahulu pada saat reinkarnasi yang lalu…

namun kembali jika tiada bisa ia menasibkan diri pasrah tanpa terbuat sesuatu hal…maka akan tercapai juga karma yang sekarang atau kehidupan yang sekarang dan jika sudah bahagia lupa akan dirinya sebagai manusia pemuja, maka ia akan jatuh lagi pada karmapahalanya sendiri…

sampai batas nanti yang diyakini pula maka moksa adalah tujuan akhir manusia dimana tiada kelahiran itu sendiri dan bersatu dengan Tuhan Sang Kuasa…tanpa terpikirkan keduniawian…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Juli 2009 in agama

 

Tag: , , , , ,

Arca dan segala citra Tuhan..

om swastyastu…

di dalam menjalani segala apa-apa yang disuarakan kepada Beliau sang Khalik…

maka manusia khususnya dalam tuntunan pemahaman Hindu, paling tidak memiliki berbagai variasi dalam memujaNya…

tiada terbantahkan di suatu sisi, dogma mengajarkan agar Beliau tidak direndahkan sebagaimana diceritakan dalam arca dan citra Tuhan yang lain…

tapi apa dapat dikatakan, jika manusia memiliki segala kekurangan dalam dirinya sebagai mahluk Tuhan..

daya imajinasi, daya pikir, daya terhadap kekosongan akan citra diri Tuhan..hal itu dapat dikatakan sebagai penghalang atau tembok besar untuk menelaah bagaimana mendekati Beliau yang sangat kompleks..

seperti yang disebutkan dalam mahabrata..tersingkaplah bahwa Ekalawya sebagai rival Arjuna pada waktu itu, tidak diberikan kesempatan untuk menjadi murid Bhagawan Drona..karena ia adalah bukan keluarga dan tidak mempunyai pertalian darah..

Ekalawya karena merasa bahwa hanya Drona yang pantas menjadi gurunya, maka ia membuat patung beliau dan mempersembahkan apa yang dia miliki sebelum berlatih setiap hari…Singkatnya Ekalawya pun menjadi seperti Arjuna, karena energi atau rasa tulus ikhlas yang telah diberikan, menjadi aura-aura positif yang mengantarkannya menjadi pemanah unggul…

 

itu salah satu dari peran arca dan citra …mendekatkan diri dengan yang disembah..

arca-arca yang tersucikan juga bila ditelaah dengan menggunakan energi prana yang berkembang di jaman modern ini, juga diibaratkan memiliki energi atau aura-aura positif…sebagai gambaran, apakah rasamu ternegatifkan jika membawa arca-arca Beliau ke kamar mandi??pastilah rasa tidak mengizinkan…

secara filosofi hindu..mengarcakan Beliau dan memberikan citra Beliau, tidaklah suatu yang terdefinisikan salah..karena hubungan Beliau dengan umatnya adalah suatu privasi yang tinggi dan mengandung sikap toleransi bagi yang terbicarakan…

namun dari buku yang ditulis oleh Dr.Wayan Jendra,SU (Cara Mencapai Moksa di Jaman Khali:23:1998)..disebutkan sebagai berikut bahwa terdapat motivasi bakti dan cara-caranya..yaitu:

1.Mukhya Bakti : cara bakti dengan melayani Tuhan atau mediumnya dalam berbagai replika mini seperti pretima, patung, gambar, dan lain-lainnya.Hal tersebut dikatakan sebagai pujari. Yang juga mencuci pratima, patung dan sarana lainnya dalam ruang puja.

2.Para Bakti : Para artinya “tinggi” yang digabungkan menjadi bakti bhakta yang tinggi. Yaitu tanpa motivasi yang bersifat duniawi. Sloka Bhagawadgita disebutkan sebagai berikut:

Sama satrau cha mictre cha

tatha manapamanayoh

sithosna sukhaduhkhesu

samah sangavivarjitah

(Gita,XII,18) yang berarti..

Berlaku sama terhadapa lawan dan kawan, sama dalam pujian dan celaan, sama dalam panas dan dingin, suka dan duka, bebas dari belenggu keinginan..Jadi mengandung sifat satwik yang penuh keharmonisan..Bakti ini adalah bakti tertinggi dari bakti yang telah disebutkan..

Jadi manusia sebagai perkembangan jaman juga semakin tinggi suatu pembelajaran terhadap bagaimana cara mendekatkan diri kepada Sang Khalik…dan kembali juga bakti pada jaman kali yang termudah serta yang disarankan adalah melakukan japa-japa terhadap keberadaan Beliau seperti yang sudah diceritakan sebelumnya…

manusia pun memilki tahapan kehidupan dalam menghadapi jamannya masing2..tanpa disadari atau disadari sepenuhnya, manusia memiliki sikap-sikap berkompetisi untuk menjadi yang terbaik, tertinggi, tersempurna di mata Beliau…jadi semakin tinggi semakin baik..bukan begitu…

namun jangan disangkal pula terdapat tahapan-tahapan yang menuju ke arah tertinggi…dan jalan itu bergelombang, terjal..jangan sampai terjatuh pada suatu sifat mayavadi…

om santi santi santi om…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Juli 2009 in agama

 

Tag: , , , , , ,

antara aliran syeh siti jenar, komunis, dan agnotisme..tinjauan terhadap konsep..

dalam pertautannya..maka dapat dijelaskan bagaimana posisi aku adalah Tuhan dari sisi syeh siti jenar…

dapat dijelaskan bahwa syeh siti jenar memiliki jiwa murni dan penuh kebijaksanaan dalam diri pribadinya…jika suatu rasa itu ada, maka sangguplah jika ia dapat mengatakan Sang Aku dalam dirinya…itu berarti bahwa Tuhan sudah menyatu dalam setiap raga dirinya…

Sang Aku itu adalah dimana setiap rasa dalam dirinya bersifat KeTuhanan..dan bagaimana Tuhan itu memiliki makna yang ranum untuk ditelaah kembali…

Sang Aku dan Aku aku yang lainnya..adalah suatu kata dimana diri adalah Tuhan individu yang nyatakan bahwa wess onok Tuhan dalam hatiku…yang nyatakan bahwa terdapat setiap kebenaran dalam diriku untuk berbuat berdasarkan kebenaran Hati yang murni, yang berisikan ajaran-ajaran tentang KeTuhanan…dan menerapkannya dengan selalu mencari arti dari keberadaan Beliau tersebut, di luar..sebagai Sang Aku yang sujati…

di manapun ada Beliau yang terpancar dari sikap individu perseorangan, yang memiliki sifat sifat KeTuhanan dalam dirinya…jadi Sang Aku dalam diri setiap manusia…

jika dihubungkan dengan akhir ajaran komunisme, maka utopia adalah suatu keadaan dimana kesejahteraan sosial telah tercapai serta keadilan sosial…hal itu jika ditelaah maka setiap orang harus paling tidaklah memiliki sifat atau sikap KeTuhanan dalam dirinya…karena dengan hal itu maka tiada orang miskin dan keadilan sosial tercapai baik rohani dan jasmani….

dan agnotisme…adalah sikap atau sifat mencari pembenaran bahwa ia adalah pencari jalan KeTuhanan…

http://www.religioustolerance.org/agnostic.htm

bahwa ia adalah pencari kenapa Ia tu exist ataupun tidak dan mengapakah kita masih sengsara…

dan ini jawaban dari semua jawaban bahwa kita sengsara karena tiadaNya Sang Aku dalam diri kita…

benarkah??

diambil dari blogs
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 8 Juli 2009 in filosofi

 

Tag: , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.