RSS

Pantheisme dalam Teologi Hindu

26 Jan

1. Latar Belakang

            Cara memahami bagaimana Tuhan itu, sangatlah memiliki kesubjektifan tersediri antara masing-masing penganut suatu agama. Seperti dalam analoginya bagaimana mengenal Tuhan yang diistilahkan sebagai seekor gajah yang diteliti oleh tiga orang buta. Setiap orang buta tersebut memeriksa bagian ekor, bagian telinga, serta pula bagian kakinya. Hal tersebut akan juga menimbulkan pemahaman yang berbeda pada akhirnya bagaimana mendeskripsikan Tuhan tersebut.

Seperti pula ketiga orang buta tersebut, yang menemukan persepsi Tuhan secara berbeda dengan hasil yang berbeda pula, maka konsep tentang ketuhanan memiliki beberapa hasil pemahaman yang berbeda. Di antaranya adalah paham monotheisme, politheisme, pantheisme, atau atheisme. Paham-paham itu ada yang bertahan atau mengalami perubahan serta mulai berkembang sebagai studi ilmu pengetahuan dan pemahaman spiritual yang sesuai dengan pemahaman jaman dewasa ini.

Ketika melihat bahwa perkembangan jaman di masa sekarang, maka telah sampailah manusia pada suatu masa yang perlu ditelaah lagi bagaimana penerapan konsep ketuhanan dalam agama masing-masing. Berdasarkan sejarah telah banyak terlihat bagaimana pemahaman yang ada (monotheisme), memiliki sejarah kelam dalam penerapan serta penyeberannya. Dapat dilihat bagaimana agama abrahamik (yahudi, islam, Kristen) yang menaruh atau meletakkan Tuhan di atas alam semesta dan memusatkan diri Tuhan sebagai Pencipta yang tunggal, yang berada di luar universum. Keterbatasan ini dapat menimbulkan alam menjadi suatu ajang penguasaan dan kehilangan kesuciannya.

Toynbee mengatakan, pemujaan terhadap Tuhan antropomorfik (monotheisme) menyebabkan konflik dan perang. Pemujaan terhadap Tuhan monotheistik membuat para pemeluknya masing-masing bermusuhan karena agama ini adalah ekpresi dari sifat mementingkan diri sendiri; dan karena ego kolektif lebih berbahaya sebagai objek pemujaan dari pada ego individual.

Pada salah satu sejarah antara peperangan agama abrahamik, disebutkan bahwa kepercayaan tunggal yang tiada terjamah dan suci di luar alam, yang tidak dapat disanggah kesuciannya dan keagungannya, mengakibatkan jaman menjadi penuh darah serta ketidakadilan. Dapat dilihat bagaimana Tuhan langit (sky god) yang sangat pencemburu tidak menginginkan umatnya untuk bisa menganggap adanya Tuhan lain yang menyamai Tuhannya. Bahkan tanpa mau peduli menghancurkan berhala-berhala yang dianggap suci dan menyatakan itu sebagai bukan hal yang saleh dan benar sesuai Tuhan mereka.

Pada dewasa ini, kejadian perang agama telah sampai pada tahap yang mengguncang dunia. Seperti pula yang terjadi pada peledakan gedung WTC di amerika. Hal tersebut telah menjadi satu peperangan terhadap apa-apa yang disebut terorisme itu sendiri. Seperti juga yang terjadi di Indonesia. Terjadi pengeboman malam natal pada tahun 2000 dan juga peristiwa bom Bali yang membuat pemerintah menyadari bahwa teroris sudah ada di tengah kita.

Jadi apa yang menjadi suatu kekurangan di sana adalah bahwa monotheisme menunjukkan satu ihwal Tuhan yang tidak bisa digugat atau dijamah kesucian serta apa-apa yang diturunkan oleh Tuhan tersebut. Memandang hal tersebut maka hendaknya sebagai umat yang bangsa yang menyondongkan diri atas sifat-sifat toleransi, alangkah baiknya jika paham-paham Ketuhanan lain bisa disebutkan sebagai suatu pelengkap atas apa yang telah ada. Seperti suatu paham yang disebut Pantheisme.

Hindu sebagai sebuah agama memiliki suatu pemahaman monotheisme. Hal itu tercantum juga dalam istilah hindu yang melihat Tuhan sebagai Brahman yang tiada duanya. Istilah seperti “Ekam eva adityam brahman”, “Ekam sat wiprah bahuda wadanti”, serta “eko narayano na dwityo asti kascit”, adalah bentuk pemahaman Hindu yang menunjukkan bahwa Tuhan atau Brahman sebagai bentuk yang satu dan tertinggi. Tetapi tidak tertutup kemungkinan akan bahwa terdapat pemahaman Hindu tentang konsep keTuhanan dari sudut pandang lainnya. Seperti pula pemahaman ketuhanan berdasarkan konsep pantheisme.

Keberagaman pemahaman keTuhanan dalam Hindu bukanlah suatu permasalahan. Seperti yang disebutkan oleh R.C.Zaehner bahwa dalam agama Hindu tidak terdapat suatu pengekangan, dan oleh karenanya, Hinduisme seperti mengajar kita dalam tradisi tunggalnya, bahwa banyak ragam mistisisme yang dapat kita kumpulkan dari penampakan-penampakan yang harus diinterpretasikan melawan teologi dogmatis yang terberi. Pengalaman mistik yang beragam itu tentunya diinterpretasikan secara beragam, begitu juga tradisi Hindu itu sendiri.

Pantheisme adalah suatu paham yang menyebutkan semua adalah Tuhan dan Tuhan adalah semua. Jadi pantheisme menyebutkan bagaimana kita bisa sejajar dan sejalan dengan alam sekitar serta bagaimana mahluk-mahluk dari ciptaanNya. Karena di sana pun ada Tuhan. Di dalam Hindu hal ini berhubungan dengan filsafat Wyapi Wyapaka, Tat Twam Asi, atau pun Aham Brahman Asmi.

Pantheisme sebagai istilah sebenarnya diperkenalkan oleh penulis Inggris John Toland pada tahun 1705. Sedangkan istilah panenteisme pertama kali diperkenalkan pada tahun 1874, yang berasal dari kata-kata Yunani pan-en-theos, artinya “Semua dalam Tuhan”. Tuhan masih dipandang sebagai pencipta yang maha kuasa dan hakim personal, tetapi dia tidak lagi secara keseluruhan terpisah dari ciptaannya. Bagian dari dirinya mengatasi ruang dan waktu, jadi dia lebih besar dari Alam Semesta dan mendahuluinya. Tapi pada saat yang sama ia hadir dalam seluruh semesta, dalam setiap atom dan setiap mahluk hidup. (Putra Ngakan,2008,69)

Dari latar belakang di atas maka dapat disebutkan beberapa rumusan masalah, yaitu. Bagaimana konsep pemahaman pantheisme dalam hindu, bagaimana implementasi pemahaman pantheisme tersebut serta bagaimana manfaat dari pemahaman pantheisme tersebut.

2. Keberadaan Pantheisme dalam Teologi Hindu.

            Panteisme atau pantheisme (Yunani: πάν ( ‘pan’ ) = semua dan θεός ( ‘theos’ ) = Tuhan) secara harafiah artinya adalah “Tuhan adalah Semuanya” dan “Semua adalah Tuhan”. Ini merupakan sebuah pendapat bahwa segala barang merupakan Tuhan abstrak imanen yang mencakup semuanya; atau bahwa Alam Semesta, atau alam, dan Tuhan adalah sama. Definisi yang lebih mendetail cenderung menekankan gagasan bahwa hukum alam, Keadaan, dan Alam Semesta (jumlah total dari semuanya adalah dan akan selalu) diwakili atau dipersonifikasikan dalam prinsip teologis ‘Tuhan’ atau ‘Dewa’ yang abstrak.(wikipedia).

Di dalam filsafat Ketuhanan, pandangan tentang Tuhan Yang Maha Esa dapat dijumpai beraneka ragam, sebagai berikut :

  1. Animisme : Keyakinan akan adanya roh bahwa segala sesuatu di alam semesta ini didiami dan dikuasai oleh roh yang berbeda-beda pula.
  2. Dinamisme : Keyakinan tterhadap adanya kekuatan-kekuatan alam
  3. Totemisme : Keyakinan akan adanya binatang keramat, yang sangat dihormati.
  4. Polytheisme : keyakinan terhadap adanya banyak Tuhan.
  5. Natural Polytheisme : keyakinan terhadap adanya banyak Tuhan sebagai penguasa berbagai aspek alam.
  6. Henotheisme : Keyakinan terhadap adanya dewa tertinggi pada suatu masa akan digantikan oleh dewa yang lain.
  7. Pantheisme : Keyakinan bahwa di mana-mana serba Tuhan atau setiap aspek alam digambarkan dikuasai oleh Tuhan.
  8. Monotheisme : Keyakinan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa (Tuhan yang satu).
  9. Monisme : Keyakinan terhadap Keesaan Tuhan yang Maha Esa merupakan hakekat alam semesta.(Titib, 2003, 31).

Jadi dijelaskan di atas bagaimana penjelasan atas paham ketuhanan pantheisme. Menurut Loeis Leahy, SJ, (Ngakan Putu, 2008, 69) menyebutkan ada lima sumber pantheisme, tetapi dikutip dua saja karena mewakili yaitu :

  1. Tiap keragaman (multiplisitas ) sejatinya nampak sebagai sama sekali tidak dipahami, oleh karena itu tidak bersifat nyata. Roh mencari kesatuan, dan tidak menemukan ketenangan sebelum ia berhasil menundukkan keragaman itu ke dalam kesatuan. Bukan saja filasafat menyatakannya; kegiatan ilmiah pun menyatakannya. Parmenides berpandapat : Agar dua mahluk (“ada”) bisa betul-betul secara memadai berbeda, mereka haruslah berbeda satu sama lain dari pihak “ada”nya sendiri. Tetapi itu mustahil, sebab “ada” (being) tidak dapat dibedakan, baik oleh dirinya sendiri, sebab yang sama tidak dapat membedakan diri dengan hal yang sama. “Ada” adalah kesatuan hal-hal; maupun oleh hal lain, sebab di luar “ada” tidak ada sesuatu pun. Jadi haruslah pada hakekatnya hanya “ada”yang sama dalam segala hal.
  2. Ketidak-terbatasan Tuhan. Bila Tuhan tidak terbatas ia mencakup semuanya di dalam dirinya, sehingga tidak ada satu aspek pun dan satu modus “ada” pun yang tidak terdapat di dalamNya. Bila demikian itulah halnya, bagaimana Ia bisa berbeda dari hal-hal lain secara radikal? Bila Tuhan adalah Ada yang Menyeluruh, tidak mungkin ada sesuatu di luar Dia. Bila sesuatu ada sesungguhnya di luar Dia, berarti Dia terbatas karenanya. Maka haruslah disimpulkan bahwa Tuhan tidak secara nyata dan radikal berbeda dari hal-hal yang lain.

Pantheisme; berasal dari kata “pan” yang berarti semuanya dan “theo” yang berarti “Tuhan”; adalah keyakinan agama atau teori filsafat bahwa Tuhan dan alam identik (secara implisit menolak monotheisme satu Tuhan berpribadi dan menjauhkan diri dari ciptaan); doktrin bahwa Tuhan adalah segalanya dan segalanya adalah Tuhan. Atau doktrin bahwa alam semesta dipandang secara satu keseluruhan adalah Tuhan dan, atau, sebaliknya, bahwa tidak ada Tuhan kecuali substansi, kekuatan-kekuatan dan hukum-hukum yang dikombinasikan yang dimanifestasikan di dalam semesta yang ada.(Ngakan putu, 2008, 65).

Pengertian ketuhanan dalam hindu adalah bagaimana cara hindu memandang wujud Tuhan itu sendiri. Maka keberadaan Tuhan atau Brahman dalam agama Hindu adalah yang berwujud dan yang tidak berwujud. Tuhan dalam agama Hindu terutama di Bali disebutkan sebagai Sang Hyang Widhi yang berarti Sang Pencipta atau penguasa hukum dan pengendali (Titib, 14, 2003). Timbul pertanyaan apakah brahma atau siva sama dengan sang hyang widhi? Pertanyaan tersebut dapat dijawab melalui sloka ini :

 

Indram mitram varunam agnim ahur

Atho divyah sa suparno garutman

Ekam sadvipra bahudavadhanty

Agnim yamam matarisvanam ahuh (Reg weda I.164.46)

“Mereka yang menyebut-Nya dengan Indra, mitra, varuna, dan agni, Ia yang bersayap keemasan Garuda, Ia adalah Esa, para maharsi (viprah) memberinya banyak nama, mereka menyebut Indra, Yama, Matarisvan.

Jadi dengan itu bisa dikatakan bahwa Tuhan itu esa dan orang bijak menyebutNya dengan banyak nama yang indah. Tuhan yang mencipta alam semesta itu tidak berwujud (impersonal god). Namun pada saat Sang Hyang Widhi menerima persembahan, maka Ia berwujud sebagai personifikasiNya. Brahma, Wisnu, Siwa sebagai suatu kesatuan Tri Murti yang diwujudkan dalam alam pikiran.

Dalam agama lainnya ada arah perkembangan antara bahwa proses agama itu adalah dari politheisme, monotheisme, dan menuju pantheisme. Lalu kembali lagi menjadi politheisme seperti sejarah-sejarah dari agamab dapat dilihat sebagai berikut:

Tuhan agama Yahudi disebut Yahweh. Pada mulanya Yahweh adalah ajudan dewa perang yang sangat buas. Yahweh bukanlah dewa asli orang Yahudi. Ia berasal dari suku bangsa Midian dan oleh Moses dimasukkan dalam jajaran dewa-dewa orang Yahudi. Hampir lima abad lamanya Yahweh hanya mendapat kedudukan yang tidak penting. Selama lima abad itu Yahweh pernah digabung atau dikawinkan dengan dewa atau dewi Yahudi yang lain. Setelah bergulat selama lima ratus tahun, akhirnya Yahweh dapat mengalahkan dewa-dewa lain dan menjadi Dewa Tertinggi atau Tuhan satu-satunya.

Dari hanya ajudan dewa perang menjadi Tuhan satu-satunya, Yahweh telah melakukan perjuangan keras. Artinya para pengikut Yahweh telah melakukan pengucilan, pengusiran dan pembunuhan terhadap pengikut-pengikut dewa-dewa Yahudi lainnya. Dan pembakaran terhadap kuil-kuil dewa-dewa lainnya. Monotheisme Yahudi memang ditegakkan melalui jalan berdarah. Sekalipun agama Yahudi telah menetapkan Yahweh sebagai satu-satunya Tuhan, tapi Torah, kitab suci mereka masih mempercayai banyak dewa.

Agama Kristen pada mulanya hanyalah satu sekte kecil dari agama Yahudi. Yesus Kristus, pendiri agama Kristen pada mulanya adalah seorang guru agama yang mengajar secara berkeliling sambil memberikan pengobatan kepada orang-orang Yahudi. Karena Yesus banyak mengeritik praktek-praktek agama Yahudi pada jamannya, maka para pemuka Yahudi bekerjasama dengan penguasa Romawi yang menjajah negeri Israel, bersekongkol untuk menghukum mati Yesus dikayu salib. Ajaran-ajaran Yesus dianggap bida’ah, atau sesat.

Berkat kegigihan para murid Yesus, sekte kecil yang bergerak secara tersembunyi ini kemudian berkembang menjasi agama tersendiri, yaitu agama Kristen. Para pemeluk agama baru ini enggan mengakui Yahweh sebagai Tuhan mereka. Mereka menetapkan konsep ketuhanannya sendiri, yang disebut Trinitas, yaitu Roh Kudus, Tuhan Bapa dan Tuhan Anak yaitu Yesus. Penetapan konsep Trinitas ini dilakukan dalam beberapa kali musyawarah antara para pemuka gereja yang berbeda pendapat. Setelah melalui proses panjang, hampir 450 tahun, konsep Trinitas ini disepakati

Setelah berabad-abad lamanya orang Yahudi menganut monotheisme (mengakui Yahweh sebagai satu-satunya Tuhan), dan hampir 200 tahun setelah agama Kristen mantap dengan konsep Trinitasnya, bangsa Arab masih menyembah banyak dewa. Di antara dewa-dewa Arab itu yang banyak dipuja adalah Al-Lah, dewa kemakmuran, disebut juga dewa air karena dipercaya memberi hujan dan air bagi bagi orang-orang Arab. Dewa-dewa Arab yang lain adalah Al-Rahman (pengasih), Al-Rahim (selamanya pengasih), Al Malik (raja), Dewi-dewi Arab adalah Anat, Maniat dan Ujja. Mereka bertiga adalah putri Al-Lah. ***)

Pada abad 6 M, Mohammad – menurut keyakinan Islam, karena perintah Allah – mengajak orang-orang Arab hanya menyembah Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Tapi ajakan ini tidak diterima oleh mayoritas orang Arab, terutama suku Quraish. Setelah melalui perjuangan keras, antara lain dengan konflik- konflik bersenjata antara pengikut dan penentang Mohammad, akhirnya pengikut Mohammad menang. Dan Allah diakui sebagai satu-satunya Tuhan oleh seluruh bangsa Arab. Demikianlah dari jasirah Arab ini agama Islam berkembang. Dan Islam menganut monotheisme yang sangat ketat. Tiada Tuhan selain Allah, demikian keyakinan Islam.

Namun Allah memiliki 99 (sembilan puluh sembilan) nama (Asma’ul Husna). Nama-nama itu, disamping Allah antara lain Al-Rahman, Al-Rahim, Al-Malik, yang artinya sama dengan nama dewa-dewa di atas. Allah juga bernama Al-Haqq (Kebenaran), Al Qahtar (yang mendominasi dan mematahkan punggung musuh-musuhNya), Al-Muntaqinu (yang memberi siksaan), Assaburru (yang maha penyabar). Prinsip Ketuhanan dalam agama Islam disebut Tawhid yang secara harfiah berarti “menyatukan” atau “Mengesakan” atau “mempersatukan”.

Jika memang itu adalah suatu proses, maka dalam peradaban sekarang ini terdapat suatu pemahaman yang mulai berkembang. Yaitu paham pantheisme dalam beragama. Paham pantheisme yang terdapat dalam hindu dimana alam(semua) adalah Tuhan atau Tuhan adalah semua dapat dilihat dari pemahaman filsafat Tat Twam Asi, Wyapi Wyapaka, Aham Bramman Asmi.

Paham ketuhanan pantheisme dapat dijelaskan atau dilihat pada sloka-sloka berikut:

 

Bhagawadgita XI.40.

Namah puras tas artha prstha taste

Mamostu te sarvata eva sarva

Ananta vi rya mitavikramastvam

Sarvam samapnosi sarvah.

Artinya : Hormat pada-Mu pada semua sisi, O Tuhan. Engkau adalah semua yang ada, tak terbatas dalam kekuatan, tak terbatas dalam keperkasaan. Karena itu engkau adalah semua itu.

 

Svestasvara Upanishad II.17

Yo devo’gnayu yo’psu, yo visvam bhuvanama visesa,

Yo asadishu yp vanaspatisu, tasmai devaya namo namah.

Artinya : Sujud pada Tuhan yang berada dalam api, yang ada dalam air yang meresapi seluruh alam semesta yang ada dalam tumbuh-tumbuhan yang ada dalam pohon-pohon kayu.

 

  1. 3.     Implementasi dan Manfaat Pantheisme dalam kehidupan masyarakat.

Implementasi dalam paham pantheisme sebenarnya adalah menanggulangi berbagai ekslusifitas agama serta paham yang buta terhadap Tuhan yang satu dan dibela mati-matian. Ini sangat berpengaruh pada kehidupan dan sosialitas di masyarakat, serta pula bagaimana kehidupan bernegara dan berbangsa.

Dalam rangka mengeleminasi segala permasalahan yang mengarah kepada disharmonisasi dan disintegrasi, kiranya diperlukan revitalisasi terhadap tafsir ajaran Agama agar tetap eksis dan bermakna di tengah – tengah kehidupan global dewasa ini, selanjutnya diaktualisasikan dalam kehidupan nyata sehari – hari secara proporsional, paling tidak menyangkut dua hal yaitu :

1. Keimanan kepada yang Absolut dengan segala sifat keabsolutan-Nya ( terkait dengan nilai – nilai spiritual yang harus dan wajib diamalkan ).
2. Pengamalan nilai – nilai yang bersifat ” munden “, keduniawian untuk mengatur kehidupan bersama, menyangkut masalah moral dan etik.

Berkaitan dengan keimanan , Agama Hindu mengajarkan ” Panca Sraddha ” ( Puniatmaja : 1971 ) yaitu lima dasar keyakinan yang meliputi keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa ( Brahman ), keyakinan pada Jiwa Sejati ( Atman ), keyakinan pada hukum karma ( Karmaphala ), keyakinan pada penjelmaan kembali ( Punarbhava ), dan keyakinan pada pembebasan dari penjelmaan ( Moksa ).

Konsep Hindu tentang Tuhan, lebih jauh dijelaskan oleh Visvanathan (2000 : 28 ) yang didasarkan pada Veda adalah bahwa :

  1. Semua datang dari ” Satu Itu ” yang tidak dapat didefinisikan disebut Brahman yang kekal abadi ( monisme ).
  2. Segala sesuatu datang dari ” Itu “, maka semua eksistensi adalah baik dan suci ( pantheisme ).

3. Hanya ada satu Tuhan, ” Ekam Sat ” ( monotheisme ).

4. Semua dari kita adalah Dewa – Dewa, Jivi sebagai pancaran sinar suci immanen ( dvaita ).

5. Mencari Tuhan adalah seperti sesendok garam mencari dasar samudera. Pada saat garam itu menyentuh permukaan samudera maka ia menjadi bagian yang tak terpisahkan ( Visistadvaita ).

Konsep tentang Atman sampai dengan Moksa dapat dijelaskan sebagai berikut :
Atman adalah penyebab segala sesuatu itu hidup. Ia adalah sinar Brahman Yang Esa. Ia berada didalam setiap makhluk dan juga berada di luar ” Tat Tvam Asi ” ( Itu adalah Engkau, Dia adalah Kamu ). Ketika berada didalam tubuh dia disebut Jivi atau Jiwa. Ketika tubuh ini ditinggalkan maka tubuh ini mati dan menjadi hancur, namun Atman tetap kekal ( Katha Upanisad I.2.18 dan II.2.4 ). Sang Jiwa yang terbungkus dalam Roh pergi membawa kesan karma / perbuatan selama ia berada dalam tubuh yang tidak kekal. Segala bentuk perbuatan atau karmanya selama menghuni tubuh, akan memperoleh pahala yang setimpal dan sang Jiwa/Roh yang masih terikat oleh dunia maya akan mencari badan yang baru atau lahir kembali yang disebut Punarbhava. Tetapi apabila Sang Jiwa selama menghuni badan terbebas dari belenggu dunia maya, ia melihat semua makhluk ada pada dirinya dan dirinya berada pada semua makhluk serta tiada lagi rahasia yang tersembunyi ( Isa Upanisad 6 ), maka Sang Jiwa mencapai identitas Atman yang suci, menemukan kesadaran yang tak terbatas dan menyatu dengan Brahman. Bagaikan lampu yang memperlihatkan sinar yang dapat pergi jauh diluar batas materialnya dan memproklamirkan hubungan persaudaraannya dengan matahari. Itulah cita – cita akhir dari kehidupan, mencapai ” ananda rupam “, wujud kebahagiaan kekal, terbebas dari suka – duka yang disebut Moksa.
Demikian ajaran Panca Sraddha merupakan nilai, norma, bahkan sebagai hukum yang absolut karena berasal dari Brahman Yang Esa dan Abadi.

Untuk menetapi Sraddha tersebut umat Hindu mengamalkannya berdasarkan petunjuk Atharva Veda XII.1.1 yaitu dengan memantapkan keyakinan pada kebenaran Tuhan ( Satyam ), mentaati hukum suci-Nya ( Rtam ), melakukan penyucian diri ( Diksa ), pengendalian diri terhadap nafsu duniawi ( Tapa ), selalu berdoa memohon pencerahan ( Brahma ) dan melakukan korban suci untuk keselamatan dan kebahagiaan makhluk ( Yajna ). Aktualisasi pengamalannya bersifat relatif, sesuai desa – kala – patra ( tempat – waktu – kondisi ) sehingga tidak mengakibatkan terjadinya benturan / disharmoni, baik dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat yang heterogen ( bhineka ) ini.
Agar pengamalannya tidak menyimpang ( sesat ) dari ajaran Veda maka perlu dipedomani ajaran ” Dharma Siddhyartha ” sebagai mana tercantum di dalam Veda Smrti VII.10 yang memuat lima aspek yang dijadikan dasar pertimbangan dalam menuangkan konsep ataupun bentuk amalan yang akan dilakukan, yaitu:

1.    Iksa adalah hakikat tujuan dari suatu kegiatan yang akan dilaksanakan.

2.  Sakti adalah kesadaran kemampuan fikir dan fisik materiil untuk mendukung suatu kegiatan.

3.  Desa adalah tempat kegiatan atau lingkungan kondusif yang dapat memperlancar suatu kegiatan.

4. Kala adalah waktu atau masa di dalam melaksanakan suatu kegiatan.

5. Tattva adalah dasar keyakinan atau falsafah yang bersumber dari nilai suci Veda.

Keseluruhan ide pengamalan ajaran Agama Hindu baik absolutisme maupun relativisme, dapat dirumuskan dalam satu konsep yang disebut ” Tri Hita Karana “, yang mencakup hubungan manusia dengan Sang Pencipta dalam wujud bhakti yang murni; hubungan manusia dengan Negara, dengan umat beragama, maupun dengan sesama manusia; hubungan manusia dengan lingkungan secara harmoni.

1. Hubungan manusia dengan Tuhan hendaknya dilandasi oleh kesadaran bahwa ” Tuhan adalah kebenaran pengetahuan yang tak terbatas ( Sat Citta Ananda Brahman ) dan Ia adalah dari mana semua ini berasal ( Janmadhyasya yatah ) “, sebagaimana diungkapkan didalam kitab Maha Nirvana Tantra dan Brahma Sutra I.1.2. Sehubungan dengan itu kitab suci Bhagawad Gita adhyaya XI sloka 55 dan XVIII.65 menyatakan :

“Yang bekerja bagi-Ku, menjadikan Aku sebagai tujuan tertinggi,
berbakti kepada-Ku tanpa kepentingan pribadi,tiada bermusuhan terhadap segala insani,
dialah yang datang kepada-Ku, oh Pandawa “

” Pusatkan pikiranmu pada-Ku, berbakti pada-Ku,

bersujud pada-Ku, sembahlah Aku

engkau akan tiba pada-Ku, Aku berjanji

setulusnya padamu sebab engkau Ku-kasihi “

  1. Hubungan manusia / warganegara dengan Negara, dan sesama umat beragama, maupun dengan sesama manusia hendaknya mengarah pada kerukunan, motivasi juang, persatuan dan kesatuan, baik dalam cita – cita, pikiran maupun sikap, guna menghadapi masalah bangsa dan negara menuju kebahagiaan serta perdamaian yang kekal.

a. Tentang hubungan warganegara terhadap Negara dijelaskan dalam kitab suci Yajur Veda IX.22 dan 23, Atharva Veda XII.1.2 serta Veda Smrti VII.13, 14 dan 18 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut :
” Kami menghormati Ibu Pertiwi. ( Yaj.V. IX.22 )

Semoga kami waspada menjaga dan melindungi bangsa dan negara kami. ( Yaj.V. IX.23 )

Semoga kami dapat berkorban untuk kemuliaan bangsa dan negara kami ” ( Ath.V. XII.1.2 )

” Karena itu hendaknya jangan seorangpun melanggar undang – undang yang dikeluarkan oleh pimpinan negara, baik karena menguntungkan seseorang maupun yang merugikan pihak yang tidak menghendakinya “

( V.Smrti. VII.13 )
” Demi untuk itu, Tuhan telah menciptakan Dharma, pelindung semua makhluk, penjelmaannya dalam wujud undang – undang merupakan bentuk kejayaan Brahman Yang Esa” ( V.Smrti VII.14 ).

” Sangsi hukum itu memerintah semua makhluk, hukum itu yang melindungi mereka, hukum yang berjaga selagi orang tidur, orang – orang bijaksana menyamakannya dengan Dharma ” ( V.Smrti VII.18 ).

b. Hubungan dengan sesama umat beragama, umat Hindu hendaknya percaya bahwa setiap agama mengandung nilai suci dan jalan menuju Kebenaran Tuhan ,sebagaimana disuratkan dalam Kitab suci Pancamo Veda IV.11 dan VII.21, 22 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut :
” Jalan manapun ditempuh manusia kearah-Ku semuanya Ku-terima, dari mana – mana semua mereka menuju jalan-Ku, oh Parta “

“Apapun bentuk kepercayaan yang ingin dipeluk oleh penganut agama, Aku perlakukan kepercayaan mereka sama, supaya tetap teguh dan sejahtera “

” Berpegang teguh pada kepercayaan itu, mereka berbakti pada kepercayaan itu pula dan dari baktinya itu mereka memperoleh pahala keuntungan yang sebenarnya dikabulkan oleh-Ku “

c. Hubungan manusia dengan sesama warga bangsa bahkan seluruh manusia dijelaskan dalam Kitab suci Rg Veda X.191.2,3 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut :
” Wahai manusia, berjalanlah kamu seiring, berbicara bersama dan berfikirlah kearah yang sama, seperti para Deva dahulu membagi tugas mereka, begitulah mestinya engkau menggunakan hakmu.”

” Berkumpullah bersama, berfikir kearah satu tujuan yang sama, seperti yang telah Aku gariskan. Samakan hatimu dan satukan pikiranmu, agar engkau dapat mencapai tujuan hidup bersama dan bahagia. “

  1. Selanjutnya mengenai hubungan manusia dengan alam lingkungan hidupnya ( alam semesta ini ) hendaknya dilandasi oleh kesadaran bahwa seluruh alam ini berasal dari Tuhan dan diberi makan oleh Tuhan Yang Maha Sempurna sebagaimana dinyatakan dalam Atharwa Veda X.8.29 dengan kalimat : ” Purnat purnam udacati purnanena vasisyate “. Demikianlah manusia harus menyadari bahwa dirinya merupakan suatu kesatuan dengan alam semesta ini didalam Tuhan. Kitab suci Isa Upanisad sloka 6 menyatakan :
    ” Yas tu sarvani bhutani atmanyevanupa?yati

sarva bhutesu catmanam tato na vijugupsate.”

Artinya:
” Dia yang melihat semua mahluk pada dirinya (Atman) dan dirinya (Atman) sendiri pada semua mahluk, Dia tidak lagi melihat adanya sesuatu perbedaaan dengan yang lain.”

Kebenaran Tuhan akan dimunculkan kepadanya bila dia mengerti kebenaran pada mahluk lain sesuai entitasnya, sehingga dengan kesadaran itu dia siap mengorbankan dirinya sendiri melalui cinta kasih yang tulus. Bila manusia telah diliputi sinar cinta kasih maka aspek negatif dari keterpisahan dirinya dengan orang ataupun mahluk lain, bukan lagi merupakan persaingan dan konflik tetapi mengarah kepada simpati dan kerjasama yang harmonis. Simpati dan kerjasama yang harmonis akan mewujudkan kerukunan sejati dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di tengah alam semesta yang maha luas ini.

 

Daftar pustaka

Amstrong, Karen. 1993. History of God. penerbit William Heinemaan, London.

Dana, I Nengah. 2001. Aktualisasi Ajaran Agama. Artikel di http://www.parisada.org/.

Keramas, Dewa Made. 2008. Filsafat Ilmu. Penerbit Paramita Surabaya.

Majid, Nurcholis. 1992. Islam, Doktrin dan Peradaban. Penerbit Paramadina, Jakarta

Mascaro Juan, Swami Harshananda, 2010. Upanisad Himalaya Jiwa. Putu Renny, Sang Ayu. Penerjemah. Putra, Putu Ngakan. Editor. Penerbit Media Hindu.

Pudja, I Gede, 1999. Isa Upanisad.Cetakan Pertama. Paramita Surabaya.

Putra, Putu Ngakan, 2008. Tuhan Upanisad Menyelamatkan Masa Depan Manusia. Cetakan Pertama. Penerbit Media Hindu.

Radhakrisnan, S, 1953. The Principal Upanisads. Yayasan Parijata.

Titib, I Made.2003. Teologi dan Simbol-Simbol dalam Agama Hindu. Edisi Pertama. Paramita Surabaya.

Zaehner, R.C. 1994. Hindu and Muslim Mysticism. Suhadi, Penerjemah. Mustafid, Fuad, editor. LkiS Yogyakarta

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Januari 2012 in agama, filosofi

 

Tag: , , , ,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: