RSS

Arsip Tag: mahrifat

Aktualitas Sila Pertama Pancasila..(membungkam intoleransi)..

Sahadja pancasila jaya negara samastha..amin

20131028-234625.jpg

Seperti diketahui bahwa Pancasila adalah bukan sekedar ideologi tanpa makna..Tapi merupakan kendaraan atau wahana untuk mencapai suatu kedaulatan tertinggi berdasarkan moralitas harkat dan martabat manusia sebagai mahluk Tuhan…

Tuhan menciptakan menusia dengan keniscayaan serta keadaan yang pelangi,yang berbeda yang bermacam – macam warna apa pun itu..Lalu bagaiman itu berjalan dengan seimbang damai dan berkelanjutan sebagai dasar pemahaman spiritualitas yang kuasa, maka itu perlu menjadi sugestifitas kelayakan hidup sebagai manusia yang bertuhan baik secara etika secara filsafati dan keluhuran berkehidupan.

Maka sebuah keberharusan namun menuju kebijaksanaan hati bahwa privasi hubungan antara tuhan dan umatnya adalah keniscayaan dan daulat dari tuhan serta semesta juga. Hal itu sudah terdapat secara sahih fakta dan diamanatkan oleh pancasila sendiri, melalui butir-butirnya. Ini adalah sebuah keharusan ketika malah penjajahan dari ideologi itu sprti sebuah garis kehidupan yang suram pula dan menutup mata hati batin para pemegang jabatan pemerintahan. DOsa-dosa itu masih diingat dan tak akan pernah lenyap. Karena ketika itu tidak menjadi suatu bahasan filsafati dan prilaku yg baik pancasilais, maka mereka adalah sebenarnya benalu penjajah kekuatan bangsa indonesia sendiri..

Untuk penjajah yang menjajah sila pertama adalah ini:

http://linggahindusblog.wordpress.com/2012/09/17/edisi-terjajah-episode-pertama-_-i-m/

 

1.KETUHANAN YANG MAHA ESA

  • Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kepercayaan atas Pancasila dan Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah mutlak. Namun taqwa artinya adalah disesuaikan dengan apa yang dipercayai. Taqwa atas etika atas ritualitas adalah berbeda. Karena Sakralitas dan profanitas dari setiap agama berbeda.DI satu sisi sajadah adalah sakral, di satu sisi dupa adalah baik dibutuhkan , namun ketika sakralitas itu direndahkan dengan mencemooh apa pun sesuai pemahaman dari kitab2, maka kitab adalah sebuah sakarilats di tempat agama A tetapi tidak di agama B. Maka jangan ketika itu berbeda membuat keyakinan menjadi berkurang dan malah lenyap atau menuju ketidak beradaban. Ketika seni dan budaya adalah soal rasa, maka tidak ada lebih bermakna bagi rasa dari seni budaya menuju kepada rasa yang cinta akan tuhan itu sendiri. Bukankah rasa itu lahir dari cinta atas sifat kedamaian akan Tuhan? itu aktualitas makna kebersamaandan memperbesar bangsa secara sekaligus.

  • Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Butir ini adalah yang terpenting, kepercayaan dan taqwa itu sudah seharusnya, namun didasari oleh kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kedua). Maka ketika ini adalah sebuah hambatan akan keberadaban, maka biadab adalah aktualitas manusia penjajah. Mereka tutup mata akan itu, ketika seni sebagai keberadaban dan adil akan kebebasan beritual, tanpa merendahkan sakralitas agama lainnya, maka DURkheim pun mengiyakan surga damai itu sendiri.

  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama anatra pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Maka setelah bisa menjalankan itu, dilanjutkan dengan sikap-sikap toleransi antar pemeluk dan penganut kepercayaan yang berbeda2 tersebut hingga terjalin suatu kerukunan yang menjadi modal untuk membangun sebuah negeri indah yang diimpikan. Pelangi di Indonesia lebih baik dari pada Merah saja atau kuning saja yang bisa bikin eneg serta mual berkepanjangan. Sangat mudah, ketika memberi selamat memberi kebebasan sebagai saudara sebangsa setanah air dengan ilmu filsafati, haqiqat, cinta kasih tuhan, ilmu syariat dan minggu kebaktian dengan waisak, atau tarekat serta japa, dan pula moksah mahrifat, maka ketika itu berkembang dengan sakralitas yg dijaga, apakah manusia indonesia nusantara akan terjadi kekerasan agama??

  • Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
    menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Dan pada suatu kepercayaan serta keyakinan, maka hubungan itu termasuk suatu kebebasan tersendiri dan dilindungi oleh negara. Maka aktualisasi itu adalah privasi, dan apakah itu menjadi kenyataan, maka kebijaksaaan dari yg melakukan ritualitas yg beretika berfilsafati tinggi serta menghormati adalah sebuah sikap mulia yg dibalikkan dengan rasa hormat yg lebih tinggi..

  • Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing masing

Yang ini no need to explain. Fakta yang ada, bahwa kebebasan menjalankan ibadah tidak digubris oleh beberapa pihak. Sekehendaknya diliat, ditelaah, dibijaksanai. Sebuah buku yang berbeda mungkin menambah pengetahuan bagi yang sudah baca buku yang berbeda. Atau buku dengan sampul sama, mungkin pula ada perbedaan. Tapi manusia itu berbeda kodratnya kan.

  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Sikap fundamentalis serta menghanguskan atau menganggap rendah yang lainnya adalah bagian yg dikembalikan dengan sikap yang sama pada akhrinya..Ketika aktualisasi itu sngatlah mudah, memberi selamat saat hari raya, maka mengurangi ego keagamisan yg bengis, menjadi sikap hormat menghormati serta meniadakan kebodohan yang membelenggu dari kualitas manusia yang bertuhan.. Tidak ada tuhan pada manusia yang mengmban misi penghancuran. Secara logis dan mudah adalah, manusia akan mendapat apa yang dia tanam, tidak ada menanam nanas tumbuh rambutan, tidak ada yang menanam benci tumbuh kedamaian kecintaan kesukaan, tidak ada yg menanam dukha lalu mendapatkan cita suka ria, itu tidak logis dalam agama apa pun..Ketika ada yg menghancurkan kedamaian, maka ada beberapa kesimpulan.

1. Apakah mereka menghabiskan WAKTU untuk mmpelajari kedalaman keramahan kedamaian kitab sendiri, atau cuma belajar menebar kebencian, dan prasangka, lalu berharap surga….itu parah dan gila yang telah medogmatis mereka, ajaran agama tidak cukup dipejari dengan satu kali kehidupan dan lalu dengan mudah mendapat surga serta meninggalkan jejak kehancuran di yang ditinggalkan…itu bukan agama…itu setan…

2. Lalu evolusi keagamaan, bukan saja dari ritualitas, tapi dari etika moralitas akhlak (islam) susila (hindu) buddhi(kjawen) manusia nusantara juga, dan ritualitas – syariat (islam), yadnya (hindu) kebaktian (nasrani), serta dari filsafati itu sndiri tattwa (hindu), haqiqat( islam), dan menuju kebersatuan illah dan manusia ..mahrifat(islam) moksartham (hindu) manunggal kawula gusti (kjawen)..Itu adalah evolusi yg saya rasa universal dan spirit..Itu tidak hanya menjadi senjata akan mentalitas moral yg tinggi dan melihat setiap manusia sebagai saudara sedarah seperjuangan..

3. Kemudian dari pihak pemerintah yang cenderung mnjadikan pembiaran karena apa??apa karena takut, atau karena kedangkalan dari pemahaman mereka tentang moral itu sendiri.. FIlsafat moral adalah harus diterapkan dimengerti dari para pemimin jabatan.. Ketika agama sebagai moralitas tertinggi, tentunya adalah kebobrokan mental dan evolusi yang rendah atas pemahaman spirituaitas mereka.. Dan sangat terbukti dari kasus2 korup dari para petinggi agama.. Itu memalukan bangsa, memalukan negara memalukan umat, dan memalukanrakyat dan Tuhan itu sendiri.. Maka Keadilan tuhan bisa jadi mnjadi keadilan rakyat dan bahkan bisa dipaksakan.. Bukankah revolusi sudah sering dan pernah terjadi??namun mental yang direvolusi dengan cermin serta kontemplasi akan membawa kesadaran serta keniscayaan.. TIADA ADA YANG BISA MELAWAN KETETAPAN DAN KEADILAN TUHAN ESA

 

DAn Itu adalah kemutlakan serta keniscayaan indah damai di masa depan, Aktualisasi yang paling hakiki adalah menerapkan hukum pancasila sebagai media kontemplasi dan bercermin UNTUK MENCARI KEBENARAN BERKEBANGSAAN. Lalu ketika itu telah dilaksanakan, maka KETETAPAN TUHAN LAINNYA adalah disesuaikan dengan agama dan keyakinan masing-masing..TUHAN TIDAK PERNAH TIDUR, DAN TUHAN PASTI ADALAH KEADILAN..

Maka selayaknya kedamaian itu hadri, dari “DIRI” yang laksana Illah, dan kemudian menuju KETERWUJUDAN Lingkungan ILLAH di keluarga, masyarakat, dan Bangsa bernegara..

 

SALAM

TAPI “AKU” TAK PERNAH MATI

TAK AKAN BERHENTI

 

“Kami tidak TAKUT”..

gwar juni 2014

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Juni 2014 in filosofi, pancasila

 

Tag: , , , , , , , ,

..Pandangan Universalitas Tuhan Transendensia..

kalki

Universalitas, adalah sebuah kata ghaib dan penuh makna yang sejatinya indah.Di mana bahwa dalam rangka waktu yang sekarang ini, dikatakan sebagai sebuah jalan moralitas yang melangkahi kebenaran agama itu sendiri. Namun kata-kata tersebut sangatlah memiliki suatu sifati humanisme yang agung tentu saja. Sebenarnya pun Tuhan adalah suatu misteri yang sangat misterius dan akhirnya menjadi keindahan tersendiri untuk memeluk “itu” kedamaian menuju sebuah kebahagiaan yang hakiki. Dan para raja adalah semuaNya yang merupai IA sebagai pencari pemakna penafsir misteri ILAHIAH.

Seperti kebercontohan pada ISLAM dan HINDU, dimana jelas sangat erat pada manunggaling kawula dan gusti Allah dengan persatuan dari moksartam jagadihta. Dan yang lainnya adalah bahwa Allah yang tiada boleh diwujudkan, tiada layak dirangkaikan dengan perwujudanNYA, sangat erat dengan filosofi Atma widya dan juga Nirguna Brahman (Parama Siwa) yang Tuhan Esa tidak bisa dipikirkan Acintya, tidak sanggup diwujudkan, tidak mampu diwacanakan dengan kata-kata. Pada saat ini adalah maka Tuhan berada pada kehampaan kekosongan dan sangat sulit diketahui, seperti “neti neti”,bukan ini bukan itu. Dan bgitulah seperti bhgwadgita mnyebutkan AKU menciptakan dunia dengan baik dan buruk, tetapi Aku tidak berada di “itu” dan “itu” tidak berada di aku..Selayaknya itu adalah KuasaNYA tuhan itu sendiri..

Lalu ketika telah sampai pada kebersatuan (bukan di sisiNYA) adalah saatnya Atma widya atau tentang nur atma ruh khudus diketahui dan dipahami kesifatanNYA. Artinya adalah bahwa NUR yang terlingkupi berbagai dzat ilahiah dan Maya dunia, terdiri dari ego ahamkar buddhi dan citta.. Maka kesungguhan Buddhi itu akan mencapai NurNYA dan mampu menjadikan wahyu itu ada dengan otomatis dan sedemikian indahnya..Hal ini dapat dilihat pada posisi transedental seorang Sufisme. Manusia santa bisa saja mengikuti tata titi ritual yang telah umum, namun sebagai kebijaksanaan yang indah adalah privasi itu kemudian disampaikan dengan sangat memegang kesantunan yang semakin disegani..

Ini adalah wilayah santa dari manusia yang transendesial dan mampu melacak imanensi hyang KUASA di pada suatu apa pun dengan makna yang menyentuh nurani nya sendiri..

http://linggahindusblog.wordpress.com/2014/04/03/manusia-santa-manusia-yang-trance-sebagai-wadah-wahyu/

Ini tentang kamoksan..dan mahrifat..

http://linggahindusblog.wordpress.com/2013/02/09/mahrifat-wahdatul-wujud-dan-kamoksan/

Kemudian dari kebijaksaan terhadap nama – nama Ilahiah, maka sangatlah beruntung bagi mereka yang melihat keindahan dari misteriusnya nama-nama Indah Tuhan itu sendiri.. Dalam weda dikatakan bahwa dewata juga bersama raksasa, namun itu bukan saja berarti wujud-wujud dari mereka itu, karena dari weda dikatakan pula bahwa:

“Mereka yang melaksanakan ritualitas yang berkualitas, adalah dengan merasuki yang mereka Sembah sujudkan untuk menjadi IA sendiri pada waktu dan keseharianNYA” ..maksudnya adalah bahwa dewata yang memiliki kekhususan laku dan fungsi akan merasuk pada jihwani mereka yg melaksakan ritual itu, dan energi mereka semua (dewata-sinar suci ilahi) sudah berada di MAYA (yang sattwikam sekaligus Rajasikam). Artinya adalah kualitas itu meng”ada” dengan cara niskala mistikal dari sesajian yang ada dan dengan bantuan Mantra mantra weda yang suci untuk mengundang Maya yang suci sekalgus positif tersebut. Sebagai bukti mereka yang waskita akan melihat aura yang benar2 Maha di daerah tempat dilaksakan ritualitas itu, termasuk dengan adanya yang trance dan mengucapkan kata-kata yg mereka sendiri tidak bisa dikontrol oleh IA, suatu kekuatan besar yang mereka rasakan pada frekwensi yang sama pula dan terkoneksi..

Lalu dilihat dari Wajah ALLAH islami, maka dapat dikatakan bijaksanaNya mereka terdahulu dengan mengumpulkan 99 nama indah Ilahiah.. Secara halus tanpa mengasari, ini adalah sebuah kombinasi yang mungkin akan menjadi pembahasan dan pemahaman bagi mereka yang mencari kerinduan akan kebahagiaan dan kedamaian yang abadi..Dengan jalan tauhid asma wa sifat.

-**Brahman Al Khalik..Artinya adalah Maha IA mencipta yang memiliki Krya Sakti maha karya…Dan bgitulah sifati IA menyangkut pada ini:

Al Baari — Maha melepaskan (membuat, membentuk , menyeimbangkan)

Al Mussawhir –Maha membentuk rupa MahlukNYA

Al Aliim – Maha memiliki Ilmu (sebagai Jnana sakti) artinya Bahwa semua ciptaNYa berasal dari ilmu pengetahuan itu sendiri

Ini salah satu contoh fungsi dari GOD (generate) mencipta.

***Waisnham Al Muaimin –artinya adalah Maha ia memelihara mahlukNYA..

Al Wahhaab         Yang Maha Pemberi Karunia

Ar Razzaaq              Yang Maha Pemberi Rejeki

Al Fattaah                  Yang Maha Pembuka Rahmat

Ar Rahman          Yang Maha Pengasih

Ar Rahiim           Yang Maha Penyayang

As Salaam            السلام   Yang Maha Memberi Kesejahteraan

Al Wahhab AL Rahzzaak-Maha pemberi karunia maha pemberi rezeki.. (bhataraning Shri Manik Mas maketel)..

Al adl dimana Maha adil kepada siapa pun jua. itu menjadi laksana Al hakiim (yangMaha bijak) menghukum tanpa pandang bulu..Menjadi teringat seperti Tribhuana Tungga dewi yang memotong tangan anaknya karena mencuri

Maka ini adalah bagian GOD ..Operate yan memberikan pemeliharaan bagi mereka yang sudjud iklas insaf pada KekuatanNYA yang mana pun jua..

*****Shaiwa Al Mudzil… Maka di jaman akhir ini, mereka yang selalu hadir di waktu-waktuNYA dalam agama apa pun itu, akan menyambut kebahagiaan di akhir jaman, Dan kebenaran semua terkuak dan maka misteri yang ada akhirnya bisa dijawab oleh mereka yang berjalan pada kebenaran itu sendiri..Kebenaran Pun tentunya sangatlah anti dengan ketidaksantunan kelupaan akan haqiqat manusia dan juga kebersatuan Manusia dengan ilahiah itu sendiri. Dimana mereka yang lupa akan itu, akan diperbudak nafsu dari pembenaran itu sendiri.. Tidak ada namanya kebenaran yang bajik dan bijak yang berkuasa pada himsa karma. Tentunya kematian dari seseorang yg tidak bersalah akan membawa pada suatu karma yang sangatlah buruk, alasannya yg utama adalah manusia  tidak akan pernah bisa untuk membuat nyawa dan wujud itu sendiri..

Al khafiidz Yang Maha merendahkan MahlukNYA..(maka mereka yang merendahkan manusia sebagai bukan manusia, hanyalah seorang yang mendapat azab direndahkan olehNYA Shaiwa Al mudzil).

Al Qhaahaar..adalah maha memaksa, artinya ketika mereka memaksakan himsa karma pada diri mahlukNYA siapa pun itu, akan mendapat azab yang setimpal..Bersujudlah sebelum kamu dipaksa bersujud..

Hal ini di GOD filosofia adalah Destruction dimana IA adalah penghancur dunia dan menghancurka kebatilan ketidak adilan di dunia ni.

Kemudian dibalik wajah reinkarnasi dan inkarnasi maka ASma UL husnaNYA terdiri dari :

Al Mu`iid     Yang Maha Mengembalikan Kehidupan

Al Muhyii      Yang Maha Menghidupkan

Tiada yang tidak mungkin dilakukan oleh Hyang Kuasa, yang ada adalah manusia mengimani NYA secara terbatas pada isi kepala otaknya yang terkadang tidak mampu memberikan jawaban atas misteri NYA. Dan itu pula yang menghambat mereka menuju kepada kesempurnaan jagaditha. Mereka sprti puas bermain di dalam lumpur, dan puas menyatakan diri sebagai manusia yang berakal. Padahal mereka seburuk-buruknya iman sebaik-baiknya abdi bagi bisikan syaitan…

Bgitu sedikit tntang keutamaan Ajaran Buddhi tentang universalitas spiritualitas KuasaNYA..

Lalu tentang maujud ilahiah pada kebersatuanNYA, adalah mereka-mereka para rasul rsi para nabi para hyang guru dan sebagaiNYA, yang mendapat wahyu atau pesan lewat dari NUR ATMAN dan Ruh KhudusNYA.Pada wilayah saguna brahman dimana Beliau dapat dterka dengan senang hati karena kebaikan IA kpada bhaktaNYA.. Maka sesungguhnya manusia telah terjebak pada hegemoni Tuhan yang tidak Maha KUASA.. Artinya adalah Manusia itu, sungguh pun tidak melihat dunia sebagai wajah ILAHIAH yang sengaja IA ciptakan untuk mengetahui DIRINYA sendiri..Telah berbagai banyak utusan yang datang, namun alih-alih memberikan pemahaman dalam akan arti kedatangan mereka, tetapi mereka bertengkar pada hal kecil seperti wujud patung berhala kekuatan ilahiah yang tidak mungkin diilhami manusia.. Mengapa mereka mencobai tuhan sendiri dengan mngatakan IA tidak Maha Kuasa MAHA Tahu, Maha mendengar, dan sebagainya…

Kuasa Tuhan melewati batas-bbatas aturan yang disangsikan sendiri oleh mereka ..Tuhan Maha Kuasa dan MAHA adil, maka itu akan sangat mudah menyusui IA pada sebongkah pasir, atau pun sebidang kotak kubus, atau di patung-patung..Mereka yang menilai itu tidak bisa hanya manusia yang membiasakan diri pada kebodohan akal mereka sendiri.. Lalu apa dosa mereka yang meniadakan Ketidak Maha Kuasaan TUHAN??

dan bgitulah bghawadgita bersabda IA kepribadian Hyang Maha KUasa…Aku ciptakan kebaikan keburukan, Namun Aku tidak ada padaNYA, dan ITU tidak ada padaKU…

its just a crazy funny and yet so powerful imagination…and gods who is so lunatic yet so wise, create this world to see Himself Playing around then let their soul of holiness  become home soon or later…

gwar..bringing The truth of Khalamanyit..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Mei 2014 in agama, doa

 

Tag: , , , , , ,

Manusia “Santa”, Manusia yang “trance” sebagai Wadah Wahyu..

image

Manusia adalah ciptaan Hyang Khalik yang paling sempurna. Dimana manusia diberikan sabdha,bayu serta idep. Yang terakhir itu adalah pikiran (wiweka) yg digunakan untuk mengenal baik dan buruk serta solusi atas segala kehidupan yang penuh kebermanfaatan dan keberadaban. Sehingga mahluk sempurna ya memang manusia…

Seperti disebutkan sarasamuscaya bahwa kebermanusiaan itu harus dsyukuri karena dengan itu bisa meningkatkan “diri”. Meningkatkan diri sebagai manusia yang memiliki kesetaraan dewa, manusia yang memiliki citta yang manunggal pada kepara-atman. Dan bgitu IA mencapai itu, maka suatu wahyu dari hyang kesempurnaan menyata pada kesemua keseharian kemasa mendatang yang sahaja..

Sebutan sebagai santa adalah kepada mereka yang benar2 telah melampaui batas keyakinan di jaman itu, dan mampu memberikan kerahasiaan ilahiah yang mumpuni dan diingat sepanjang masa bagi kaum nya…Seperti pula manusia yang memiliki sinar(nur) ilahiah dan menjadi keyakinan sepanjang masa. MUSA, Sulaiman, khidir, muhammad, yesus, abraham, dsb. Itu menjadi keyakinan kolektif dan membentuk epos, mitos penuh nilai spritualitas. Dan selalu tertanam dalam..tertanam sangat dalam di kalbu sanubari hati yang tuan agung, yang rahsya manikam khalam di wilayah citta dekat dngan kesemestaan. Seperti sesuatu yang khudus yang suci tiada terbandingkan. Arsy shiratu muhallam..

Disadari atau tidak, upanishad menyatakan bahwa dunia ini didirikan dan terdirikan atas maya dunia triguna..sattwam terang bijak rajasikam aktif tamasikam gelap pasif. Dan ketika tidak kenal akan belenggu itu, maka kebahagiaan sejati tidak akan diketahui. Dan buddha mnyatakan penderitaan manusia adalah krana tidak mengenal keterikatan karma. Kedua kemiripan itu mnyakan bahwa keberputaran manusia adalah sbuah kesengsaraan, jadi jika itu dicapai dengan sebuah pencerahan, bukan berarti sebuah kemustahilan untuk memanunggalkan diri dengan diri ilahiah..

Atma widya sangkan paraning dumadi kembali ke NUR para nabhi, pada kekhudusan hyang ESa. Adalah jalan yang paling indah jalan paling bajik jalan paling jnana, sekaligus paling sulit, sekaligus palinga cerdas dan bahkan licin. Jalan yang memberikan dasar untuk “natak baos”,untuk ,mewahyukan Diri pada keutamaan Buddhi indriyah dan kekangan ego ahamkara yang dipengaruhi sattwikam rajasikam yg mutlak berisikan jejak nafas dzat keilahian dan kebenaran abadi. Dan itu terletak pada wadah apaPUN akan tetap sebuah kebenaran..

Menyadari maya dunia dan laku purusha pada god generate operate destruction, pada ang ung mang, pada cipta khalik pada pemelihara muaiminaha dan maha hamcur mudzilah. Itu adalah kemutlakan keniscayaan samastha bhuana. Penceritaan sahajdah sahajah pada sangkan paraning, mahrifati diri, moskartham jagaditham bhur bwah swaha, adalah mendewakam sifati ilahiah pada asmaNYA pada asta bharatah, dzikir dan puja kali mhamrtyunjaya gan gana phataye hare kalkyah kalkyah hare hare..

Maka sangkan paraning akam membawa manusia pada ke Esa-an esa dimana IA sebagai monisme IA berada di embun dan sujudnKITa adalah sesuai kebersyukuran setiap beberapa waktuNYA. ESa yang membawa tuhan pada satu saja yang monotehism IKA ESA tunggal. Dan maujud BElIAu pada kekhalikan sahadja menjadi IA mereka MahlukanYa yanh kesampurnaan di akhir jaman sebagai imam semesta mahdi, kalki avaatar, ESA yanh bangkit membawa kerajaan surga di bhumi bhuana langgam…

Itu terjadi dan menyemestha ragha laku khalam…

Gwar..

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 3 April 2014 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , ,

Sebuah Benang Merah Nusa Antara…

Aum Tamasoma Jyoitr Gamaya, Mrtyorma AMremtam Gamaya, MahaKsampurna Ya na Namo Swaha Namasiwaya.OM..

shiva anataraja

Nusa ANtara adalah sebuah negeri yang penuh rasa yang rahasya. Rasa yang menjadikan nikmat2 kejagahtan Hyang Seperti Manik Manik Antarswaha buana. Sebuah bangsa yang kaya yang tiada kekurangan yang selalu akan jaya selamaNYA bagi kepada mereka yang Yakin dan Percaya…

Nusa-Antara sebenarnya adalah benua yang indah dan melenyap sirna, namun akan ditunggu-tunggu kedatanganNYA selalu. Bagaimana di Nusa-antara dahulu kala, adalah sebagai wilayah yang penuh kesemestaan dan keagungan dari ilahiah, baik sebagai bapa angkasa atau baik bagi ibu parthiwi..Seperti dahulu MAhenjo Darro Ibu pertiwi, lalu menuju sarkophagus,dan wilayah-wilayah angker namun bersahadja di situs2 purba-khala di seluruh nusa-antara..

Tidak dipungkiri jaman ini adalah jaman dimana hedonisme adalah hal biasa, dimana kaum carwaka meraja-lela dan merupakan yang biasa saja ketika melihat keterikatan dari maya dunia. Dan ketika itu tidak dicari dengan cara paling bijak dan paling bajik, hanya akan membebani keturunan sampai bahkan ketujuh turunan..Kenapa harus tujuh?, karena itu sekitar 500 tahun..(dipersilakan menghitung sendiri)…Tetapi 500 tahun hanyalah sekejap seperti 5 menit brahman…

Terlepas dari itu, maka jaman akhir telah dikatakan diramalkan dan disejogjanya diyakini, dipercayai..Dan terkadang hendaknya di paksakan kepada mereka yang berada di alam bawahan yang terkena kendali mahya dunia (sattwam rajasikam tamasikam)..namun itu adalah kesunyatan ketika utpeti sttiti pralina menjadi bermakna oleh karena pengaruh triguna tersebut..Dan hanya pedang kebajikan pedang kebangkitan pedang kebijaksanaan, mampu mengendalikan maya dan menghancurkan semua yang tidak sejalan dengan maya di dunia satya yuga dan kertha yuga.

Lihat dilink ini :

http://linggahindusblog.wordpress.com/2012/10/29/perwujudan-dan-sujud-pada-suatu-kekuatan-agung-akhir-jaman-kalvatar/

http://linggahindusblog.wordpress.com/2014/03/16/realitas-kebenaran-maujud-apa-itu/

http://linggahindusblog.wordpress.com/2009/07/11/bagaimana-beliau-bisa-banyak-nama/

Dan sebuah keniscayaan akan kebenaran, ketika melihat bagaimana dahulu seperti ramalan sabda palwan noyo genggong oleh brawijaya dan kisah mereka..Ketika itu brawijaya memiliki dua penasehat yaitu Dang Hyang Smaranatah (hyang semar) dan Sasuhunan Kalijaga…Mereka adalah sabdo palwan dan noyo genggong…Dan ketika kutukan pastu itu terjadi, maka lenyap sabdo palwan dan masuk ke dalam alam bhur bwah dan swah… Keitka itu muncul pula Sang Mahesa Jenar, yaitu yang langsung mampu mendalami keislaman sampai rahasia mahrifat.. Dan Beliau dijuluki Syeh Sthiti(waisnawa saktya) Jenar. Beliau tidak lain dan tidak bukan adalah Anak dari Sabdo Palwan itu. Banyak kisah waskita dan kesahajaan Beliau.. Dan akhirnya setelah usai di jawa, Beliau menuju Bali sebagai penyebar agama tirtha, lalu sampai ke lombok sebagai penangkulturasian sinkretis islam watu telu…Dan begitu pula akhirnya moksah IDa di wilayah uluwatu..

Sabdo Palwan sendiri identik dengan Kewaskitaan Nabi Nusantara yaitu Nabi Khidir. Yang memiliki kemampuan menghentikan Kala (waktu), memiliki kemampuan untuk menyerang dengan PanjakNya kasat mata (baca : dibali adalah Ida Ratu Niang – Sakti dari Dang Hyang Dwijendra, Di laut selatan Ratu Kidul)…Dan begitu lah ketika memang sudah saatNya pralaya,maka sesungguhnya yangterjadi adalah:

Bhwadgita ..

Bagaimana dikatakan ketika dunia pada cengkraman adharma (kebiadaban, kejahatan, kekerasan, kehilangan sifat manusia) telah bertambah, Maka Aku akan datang dari jaman-ke jaman menegakkan kebenaran (dharma,kebaikan, kebijaksanaan, kebajikan–universal) dari cengkraman Adharma…

(sambhwami yuge-sambhawi yuge)

Itu akhirnya bagaiman surga neraka ada di alam sana adalah benar adaNya.

Baca :

http://linggahindusblog.wordpress.com/2012/12/24/manusia-akan-kemanasetelah-kematian-wraspatti-tattwa/

Dan moksartam jagaditham satya ning LAku sabda manah, Maujud hring Ya ca Iti DHarma, mrityorma Amrtam Gamaya..Ksama sampurnah Ya namo nama swaha..

om Santi om

Om rahayu om

om Raharja om

Om awignamastu namosidham…

..Santi santi rahayu rahsya sahadja..

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

..Kafir, Nastika, Carwaka-Hedonism, Atheism, Agnotism-Kapitalsim,Sosialism,Nusantaraism..

budak budak jaman

budak budak jaman

Mengenal suatu tinjauan akan makna, pemahaman serta keberadaan dari berbagai kata-kata yang menuju pada keekslusfian, dan bahkan suatu kebebrokan atas yang bernama mentalitas, prilaku radikal serta filsafati liar dan  hanya memandang kedogmatisan, kegalauan rahysa, kedunguan, serta keberhalaan dunia. Maka dalam paham itu bisa diambil suatu benang merah tersendiri yang membuka sedikit suksmaning ati untuk mengubah dan mendekeontruksi atau pula merekontruksi, baik itu fikir, baik itu laku, baik itu paradigma yang lebih menuju sikap keuniversalitasan rahasia magis sebuah KEKUATAN AGUNG….

I. KAFIR NASTIKA CARWAKA.

Bahwa dari beberapa kata atau istilah di atas, maka akan terbuka sedikit kesamaan, atau bahkan meleburkan suatu motivasi spiritual (bukan ambisi) untuk lebih memahami (prtyaksa,anumana,agama pramana) secara filsafati, secara susila (etika), atau bahkan secara upacara(ritualisme).

Sebagai bahasan bagaimana sifat kekafiran yang berasal dari filsafat islam, yang sebenarnya adalah meniadakan atau membungkam mereka-mereka yang memberhalakan Tuhan (Allah), menyekutukan Allah, membuat Allah sebagai nomor dua. Jika itu dilihat dari Shallow Thinking (Pemikiran yang dangkal), maka jelas berarti bahwa dewa-dewa, patung, pohon, inkarnasi, atau dan sebagainya sebagai keberhalaan. Bahkan ada atau terdapat ayat yang memotong kepala kafir, darah kafir halal, atau kekerasan lainnya. Namun mereka lupa jika bahwa berkata Al Quran adalah keniscayaan yang abadi, maka jaman akan menuju suatu perubahan sendiri akan semiotika Ayat2 tersebut. Seperti sbagaimana ditafsirkan oleh Nurcholis Madjid (mendalamkan hakikat ayat fitna), atau Gusdur yang mengemukakan pandangan universalitas, serta Gusmus yang mengkritik dengan mehakikatkan universalitas dalam tubuh islam itu sendiri.

Sebagai contoh jika kepala dipotong akan menggambarkan penghilangan ego, darah kafir halal artinya kafir itu layak untuk disadarkan (dalam bentuk dirinya sendiri), yang menerbayangkan kesucian muslim berada pada mereka juga. Lalu apa kafir itu sendiri???bahwa kafir adalah mencakup semuanya, jika ingin menyemuakan kafir, artinya bahwa diri adalah kafir pula. Bahwa diri adalah yang tidak atau lupa bahwa mereka masih memberhalakan Allah dalam wilayah mengagungkan Uang mengagungkan Harta, mengagunggkan kekuasaan, bahkan menindas yang tidak sejalan dan melupakan hakikat mereka sebagai manusia itu sendiri.

Sama seperti nastika yang tidak atau melihat mereka yang tidak mempercayai sebagai orang yang MERUGI. Bahwa memang mereka tidak percaya akan weda, namun hanya sebatas itu, sebatas pada pembicaraan debat, pembicaraaan hakikat, pembicaraan argumentasi pemahaman,dan menceritakan serta mengsinkretis pemahaman menjadi yang bersolusi. Rugi dalam artian bahwa mereka telah meninggalkan kebenaran yang bijak. Tapi itu hanya pengingatan, dan tetap bahwa mereka tergantung diri mereka.

Untuk Carwaka dapat dilihat sebagai suatu filsafat bagi mereka yang menjadi budak2 dari jaman, dari nafsu, dari ketidak benaran dan memuaskan diri mereka selagi mereka masih hidup dan meninggalkan filsafati Tuhan itu sendiri.

2.Hedonism-Atheism- Agnotism

Tiga dari suatu istilah di atas, sangat mengarah dan dekat dengan Keagamaan, Religiusitas, dan bahkan sebuah spiritualitas. Artinya adalah bahwa mereka menjadi seperti itu adalah apakah karena kehendak jaman, apakah karena kekurang mengertian kritikal mereka, atau pula karena kebencian mereka terhadap jaman itu sendiri.

Untuk yang memahami hedonism, adalah mereka yang bergerak persis sama sebagai carwaka yang hanya hidup untuk memuaskan nafsu mereka keinginan mereka akan dunia ini sbagai produk dari kemajuan jaman. DImanja mereka sampai mereka tidak ingat akan kemanusiaan mereka, lupa bahwa mereka adalah manusia, mereka ada agen-agen kebenaran, mereka adalah pejalan yang hampa, serta tunduk pada kedunguan indera mereka. Sehingga pada akhirnya mereka jatuh ke lobang atheisme. Yaitu tidak percaya akan Tuhan dan kekuatan gaib angkasa atau bumi. Mereka yang menjadi budak jaman, sebagai budak di neraka, sebagai budak yang akan nanti mendapatkan penghukuman serta melupakan etika (susila) yang luhur dan jatuh terjerembab pada lubang kegilaan. Intinya adalah menganggap tuhan telah mati, namun mereka hanya tertawa tanpa tau maksudnya.

Menuju pemahaman Agnotis dan atheism, adalah haruslah melihat berbagai faktor2 yang mengenalkan mereka pada filsafati tersebut. Maksdunya adalah apakah kerena dogmatisme yang hanya mengumpulkan jenasah2 korban peperangan idelatis agamais atau bahkan peperangan ekonomis yang secara langsung tidak langsung mennyebabkan kesenjangan atau juga kematian yang tragis bagi mereka yang kurang akan produk primer, makanan (kelaparan),papan (homeless), serta kegilaan lainnya.

3. Kapitalism (zionism),Sosialism,Nusantaraism.

Kemajuan jaman tidak lepas pula dari paham keberekonomian itu sendiri dalam menuju suatu kesejahteraan secara kolektif yang dibatasi pemborderan wilayah negara atau NKRI. Maksudnya adalah karakterisitik, idealistik dari kenusantaraan adalah sangat berbeda dengan dunia itu sendiri. Nusantara yang plural, universal, serta ramah tamah akan menjadi hal yang akan “hilang” lenyap “sirna kertaning bumi”..lenyap dimakan jaman atau apa pun itu, bahkan domgmatisme keras kepala dari apa yang dikatakan produk2 lain.

Maksudnya islam nusantara berbeda dengan arab, hindu nusantara berbeda dengan india, kristen nusantara berbeda dengan eropa, dan sebagainya. Itu lah yang membentuk karakteristik bangsa dan kekhasan dari setiap suku ras di nusantara ini. Kekuasaan kapitalis adalah bisa, namun pada akhirnya yang membobrokan alam dan lainnya adalah fakta, seperti lumpur lapindo, atau pengucapan sumpah penggantungan diri yang jika dibiarkan atau pembiarannya mengakibatkan amarah serta kemeledakan sabar akan arti revolusianism. Bahwa sukarno pun berkata Revolusi belum selesai.

Ada yang ingat pancasila???????

Hanya sedikit yang tau bahwa sangat salah memaksakan agama pada butir2 sila pertama, sangat salah bertindak biadab pada butir2 sila kedua, sangat salah mengagungkan golongan dibanding negara seperti butir ketiga, atau kedunguan dan kebodohan wakil rakyat yang memperkaya diri seperit butir ke keempat, dan kesederhanaan serta un materialism sila kelima.

Kelupaan itu mengakibatkan jatuhnya mereka ke lobang yang disebut lobang tidak diterima bumi tidak dihargai langit (yg dekat dengan kafir), yang tidak mempercayai kebhinekaan tunggal ika (dkat dngan nastika), yang mengabdi dan membudaki diri pada nafsu dunia (kapitalism)..seperti carwaka…

SAMPAIIII KAPAAAN?????????

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Februari 2013 in agama, budaya, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Mahrifat, Wahdatul Wujud, dan Kamoksan

transendence

     Mendengar istilah Mahrifat,  mungkin dikatakan suatu yang asing, namun pada dasarnya adalah sesuatu yang menarik jika didekatkan pada sebuah agama monotheism (islam) sebagai pemilik kata tersebut. Sebuah konsep unik pula tentang arti Manunggaling Kawulo Gusti sebagai sebuah kalimat yang berasal dari istilah “kejawen”. Sebuah kemanunggalan dengan “Gusti”. Tentunya dalam arti unik dan secara privasi dalam hubungannya ke pada “Yang Penguasa” alam ini.

Dalam hubungannya dengan suatu tingkatan ilmu pemahaman dan pengabdian kepada Sang Ilah, sesungguhnya mencapai suatu kata mahrifat dikatakan sebagai suatu ketersulitan tersendiri. Dalam hal ini Ia setidaknya menapaki pada tingkatan-tingkatannya. Sebelum mencapai suatu kata Mahrifat, maka paling tidakumat islam harus menjalani syariat, mengenal tarikat,mendapatkan hakikat, kemudian menuju suatu kemahrifatan. Tingkat syariat adalah pada suatu laku lahir termasuk pula pada tarikat. Syariat adalah laku dalam ritualnya serta larangan dan suruhanNya, kemudian tarikat menuju suatu pemahaman tersendiri dan melakukan paham syariat dalam kehidupan,termasuk juga wirid, zikir, dsb.

Suatu pemahaman yang terkadang kontradiktif jika mempertemukan seorang yang syariat, yang kemudian bertemu seorang penekun mahrifat. Dan seringnya malah hal itu memberikan sebuah konflik tersendiri. Seperti pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir yang memberikan pemahaman tersendiri dimana syariat bertemu Mahrifat. Dan pula bagaimana Syeh jenar dalam pemahamannya sendiri tidak dipahami oleh awam termasuk pula para wali songo yang notabene sudah paham sekali tentang ajaran Islam. Tergambar pula bagaimana Al Hallaj menyebutkan Anna Al-Haqq, yang berarti “Akulah Kebenaran” yang menuju pada suatu yang tidak diberikan oleh pemahaman awam. Dalam artian bahwa paham Mahrifat atau yang dekat dengan sufistik serta yang dikatakan Manunggal menjadi sesuatu yang tidak diberikan secara gamblang kepada khalayak ramai.

Bagaimana mungkin Allah menjadi diri manusia, bagaimana mungkin Allah mau turun kepada diri manusia,atau bahkan mampukah kau mencipta seperti layaknya Allah,itu yang mungkin diberikan sangkaan yang tiada boleh Allah diganggu gugat sedemikian rupa. Islam dalam hal ini tidak memberikan celah untuk menjadikan Allah sekutuNya kepada siapa pun. Jadi memang dalam kenyataan, bahwa paham itu dirahasiakan bagi pemiliknya sendiri.Aliran-aliran yang dekat dengan ini, adalah paham sufisme, yang bahkan beberapa berkata Sufi adalah islam yang berbaju weda.

Dalam hal ini,Hindu sendiri adalah sebagai agama yang kaya akan pemahaman “Hyang Agung”. Dalam sabdanya di Bhagawadgita menyebutkan,jalan manapun yang kau jalani untuk menyembahKu, maka Aku akan terima. Di hindu tersendiri menetapkan ada empat jalan yang memiliki konsep tersendiri. Bhakta, Karmin, Jnanin, Raja Marga. Terlepas dari cara-cara itu, maka disadari atau tidak perjalanan memujaNya sebagai sebuat “way of life”.  Kata-kata “Aham Brahman Asmi”, atau “Tat twam Asi”, adalah kata-kata yang terbiasa di telinga serta di “rasa” seorang Hindu. Karena memang dalam prinsip Monisme atau Pantheism bahwa Brahman ada dimana-mana, serta dimana-mana adalah brahman, menjadi suatu paham yang memberikan rasa takjub dan termasuk mencintai kehidupan(alam semesta) itu sendiri. Dan tidak ada ketidakberbolehan untuk mewujudkan Brahman itu sendiri, sebagai manifestasi Sang Acintya. Dapat dikatakan sebuah kebebasan mewujudkan adalah tanda akan kedekatanNya kepada pemelukNya itu sendiri. Tidak akan Ia marah atau merasa direndahkan karena mewujudkanNya. Malah itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri jika bisa mewujudkanNya dan sekaligus memujaNya.Satu hal yang pasti adalah, tidak ada WujudNya yang tidak dikenal atau bukan manifestasinya, maksudnya adalah tidak ada dewa kerbau, jika pada perjalanan suatu evolusi agama tidak ada namanya dewa berwujud kerbau. Shiva atau Ganesha menjadi suatu manifest/bentukNya yang telah ada di sejarah itu sendiri

Hal ini tergambar pula pada kebijaksanaan pada penyebutanNya, yang tergambar pada “Ekam sat wiprah Bahuda Wadanti”.Seorang bijak akan menyebutNya dengan berbagai nama, karena keluasan dan kemahakuasaanNya itu. Seperti jika diterjemahkan secara fungsi, Dewa Siwa dikatakan sebagai pelebur, penghukum, atau DewaYama sebagai Yang Maha Adil, atau Wisnu sebagai pemelihara semesta. Kalau di Islam yang tidak diperkenankan mewujudkanNya, sebenarnya telah memiliki 99 nama Allah (asma ul Husna) yang terdapat Al-Adl sebagai Allah yang Maha Adil, Al Muaimin sebagai pemelihara, atau pula Al-Khalik yang merupakan nama Allah sebagai Pencipta semesta. Memang tidak ada wujud dalam bentuk rupa, namun dalam simbol-simbol huruf atau lukisan kaligrafi dapat diperlihatkan sebagai bentuk estetika akan keagungan namaNya.

Dalam wilayah seni,maka seorang sufistik menemukan jalan yang dekat dengan berolah puisi sebagai tunjuk atas kedekatanNya kepada Ilahiah. Sebagai contoh puisi berikut

Sabda Rasul Allah Nabi kamu

Lima’a Allahi sekali waktu

Hamba dan Tuhan menjadi Satu

Inilah ‘arif bernama tahu

Kata Bayazid terlalu ‘ali

Subhani ma a’zama sya’ni

Inilah ilmu sempurna fani

Jadi senama dengan Hayyu al-Baqi

Kata Mansur penghulu ‘Asyiq

Ia itu juga empunya natiq

Kata siapa ia la’iq

Mengatakan diri akulah khaliq

Dengarkan olehmu hai orang yang kamil

Jangan menunut ilmu yang batil

Tiada bermanfaat kata yang jahil

Ana al-Haq Manshur itulah washil

Hamzah Fansuri terlalu karam

Ke dalam laut yang maha dalam

Berhenti angin ombaknya padam

Menjadi sultan pada kedua alam:

(http://syairsyiar.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-sufi-syeikh-hamzah-al.html)

Dalam hal ini pun dalam islam masih terjadi suatu perdebatan tersendiri akan kesesatan dari jalan sufism, tassawuf. Namun sebuah puisi dengan keindahan serta estetikanya itu sendiri, memiliki nilai mistik jika menghayatinya secara mendalam. Mungkin pula dalam “way of life-nya” bahwa seorang sufi menunjukkan takjub serta sujudnya kepada kekuatan Agung yang “benar” adalah dengan puisi itu sendiri. Agar itu sebagai keindahanNya dapat diterima oleh awam.

Jika dilihat pada Wadahtul wujud, maka mempunyai pengertian secara awam yaitu; bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci. Pengertian sebenarnya adalah merupakan penggambaran bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Allah adalah sang Khalik, Dia-lah yang telah menciptakan manusia, Dia-lah Tuhan dan kita adalah bayangannya. Hal ini dikatakan jugasebagai Wahdatul Syuhud yang berarti kita dan semua bagian dari dzat Tuhan /Allah. Hal ini sangat riskan jika didekatkan pada suatu pemahaman awam tentang Tuhan itu sendiri. Pada suatu paham Ke”Hindu”an itu bisa dikatakan sejalan dengan Atma tattwa, bahwa memang dalam setiap mahluk, manusia, bahkan semesta merupakan Ia semata. Sang Brahman. Dan kita hanyalah dan sebagai percikan dari Hyang Kuasa itu sendiri. Riskan dalam hal ini, pada manusia yang menganggap awam, hanya akan menimbulkan suatu emosi dan dikatakan akan merendahkan kekuatan Agung itu sendiri. Padahal untuk mengenal IA maka diperlukan sedikit ruang yang hanya Ia yang “mampu” dalam mengalahkan musuh diri. Musuh dalam diri sendiri yang terlalu berprasangka dan bahkan memenjarakan IA.

Memang dunia adalah sebuah dunia rwa bhineda, sebuah yin dan yang. Dan bagaimana seorang bijak dapat memberikan dirinya sendiri suatu kemoksaan sebagai tujuan akhir di dunia atau di alam nanti, adalah terlepasnya ia dari nafsu, lobha, keserakahan, dan tunduk pada sifatNya yang sempurna untuk tidak mengidolakan keduniawian yang “maya”. Sebuah kebahagiaan dan kesejahteraan batin yang akan muncul dan menjadikan keesokan hari sebuah karma baik untuk dengan nyaman dijalani sebagai suatu kemenangan akan hidup itu sendiri.

 

 

 

Daftar pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Wahdatul_Wujud

http://syairsyiar.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-sufi-syeikh-hamzah-al.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Sufism

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 9 Februari 2013 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Berjapa Shiwa pada jaman Akhir(kaliyuga)!!!…

shiva anataraja

Untuk pertama,disebutkanlah bagaimana bumi terbentuk dan berlanjut dengan berbagai perubahan jaman, menjadi jaman yang sekarang ini.

Diyakini pula bagi semua, bahwa jaman ini adalah jaman kaliyuga ..yaitu jaman dengan 75% negatif dan 25% positif.. Hal ini sungguh pun berbeda dengan jaman2 yang lainnya…Jika dilihat satu persatu ada jaman kertha yuga yaitu 100 persen baik..dan jaman dwapara yuga, 75 persen baik dan 25% tidak baik. Dan yang terakhir adalah jaman traita yuga keseimbangan..

Nah berdasarkn riwayat tahun yang ada di  purana memang bervariasi…tapi jika sudah berbivcara keyakinan bahwa kiamat telah dekat maka ..penghancuran adalah bukan hal yang mustahil bagi siapa pun saja dan golongan apa pun itu…Universalitas itu memang menjadi suatu kenyataan hidup sesungguhnya baik sekarang atau di kemudian harinya..Mengapa sekarang adalah suatu jaman penghabisan?Karena dalam keyakinan spirit bahwa dapat dikatakan rumor-rumor serta ramalan2 tentang akhri jaman baik dari suku maya ataupun dari ramalan seperti mama lauren, dpat disadari atau tidak memang semesta menuju ke arah tertentu. Barangkali sikap optimistis dari suatu jaman keemasan dapat dikatakan bukan suatu hal yang mustahil..

Namun sebagai seorang pengabdi saiwa atau pula sebagai seorang Hindu, maka dapat dijelaskan bagaimanakah cara yang indah untuk selalu menetapkan dan mempertahankan optimisme tersebut?..Dalam bukunya Bapak Jendra menyebutkn bgaimana cara mengurangi atau mempercepat karma baik pada jaman kaliyuga ini..Bisa dijelaskan pula pada jaman kaliyuga dikatakan walaupun banyak kejahatan (75%) namun karena berlebihnya kekirian menyebabkan perbuatan, perkataan, pemikiran (wak kay mana) sedikit dalam koridor subhakarma akan menjadi berlipat ganda.Jadi sedikit berbuat subha karma maka akan ditulis secara berkali-kali lipat.berpahalanya.

Japa sebenarnya adalah suatu cara untuk melakukan doa seterusnya baik diucapkan dan dihatikan.. Japa menjadi sedemikian bermakna, karena sesungguhnya japa bisa dilaksanakn oleh siapa pun juga dan sampai kapab pun juga. Banyak berbagai mantra yang bisa diambil atau dirapalkan yang sesuai dengan keyakinan ia sendiri..Sebagai misal japa Ganesha (om gan ganapataye), japa Gayatri mantram , dan ada juga japa yang mengagungkan Dewa Saiwa, yang lain juga japa Hare Khrisna atau hare rama…

Sesuai dengan judul yang ada, maka bertepatan denga kedatangan hari kiamat yang sudah di gerbang pintu kebenarn, maka sbagai pemuja Saiwa, bisa diisyratkan untuk bagaimana menjadi penyejuk dengan sujud kepada Saiwa dalam bentuk “Lingga” atau sebagai Pelebiur atas segalanya. Terdapat Japa yang diyakini akan menjadi suatu pembebasan di stiap harinya dari segala permasalahan hidup dan sekaligus mempercepat karma agar terealisasi.

Jadi japa yang bsa saya siarkan adalah dua mantra dari Saiwa.yaitu Mahamrytunjaya Mantram…

http://www.youtube.com/watch?v=ClxgIS-_X_g

Mantra ini adalah mantra yang jika dirapalkan berfungsi untu membebaskan diri dari permasalahan dann godaan-godaan serta mencari soluisi atas permasalahan itu sendiri….

Japa kedua adalah mantram Thiruuu neelaam kantam…Yaitu mantram saiwa yang berarti Leher hitam Saiwa, yang didapatkan karena mereguk racun di sebuah danau untuk menjernihkan danau itu sendiri dari kotoran yang dikotori kaum raksasa..

http://www.youtube.com/watch?v=8E0JwSl9f3k&feature=related

Dengan melakukan japa di setiap kesempatan, maka manfaat yang diperoleh adalah sesuai dengan apa2 yang teryakini..Mantram Thiruu neelam kantam memiliki fungsi sebagai peleburan karma..Bukan sebagai suatu yang menghilangkan karma, namun sebagai mempercepat datangnya hasil perbuatan itu sendiri..

Ada dua keputusan yang terjadi, Jika dahulu banyak berbuat buruk maka dengan mantram ini adalah dengan seterusnya akan memberikn pahala buruk itu sendiri (mempercepat), dan bisa membuat karma seebagai kekosongan dan iklas serta insyaf mengambl hasil buruk .

Keputusan yang kedua adalah jika banyak berbuat kebajikan dan kebaikan yang sesuai, maka mantram yang dijapakan ini bisa mempercepat datangnya muzijast dan rejeki yang sesuai dengan dharma atau kebaikan yang ada..

Yaps itu saja, semoga bermanfaat kedepannya sebagai pemuja Saiwa serta abdi Saiwa yang sempurna..

Om Siwa Narayana, Om sada Siwa, Om Ksama Sampurna ya Namo namah Swaha…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Oktober 2012 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.