RSS

Arsip Tag: manunggaling kawulo gusti

Sebuah Benang Merah Nusa Antara…

Aum Tamasoma Jyoitr Gamaya, Mrtyorma AMremtam Gamaya, MahaKsampurna Ya na Namo Swaha Namasiwaya.OM..

shiva anataraja

Nusa ANtara adalah sebuah negeri yang penuh rasa yang rahasya. Rasa yang menjadikan nikmat2 kejagahtan Hyang Seperti Manik Manik Antarswaha buana. Sebuah bangsa yang kaya yang tiada kekurangan yang selalu akan jaya selamaNYA bagi kepada mereka yang Yakin dan Percaya…

Nusa-Antara sebenarnya adalah benua yang indah dan melenyap sirna, namun akan ditunggu-tunggu kedatanganNYA selalu. Bagaimana di Nusa-antara dahulu kala, adalah sebagai wilayah yang penuh kesemestaan dan keagungan dari ilahiah, baik sebagai bapa angkasa atau baik bagi ibu parthiwi..Seperti dahulu MAhenjo Darro Ibu pertiwi, lalu menuju sarkophagus,dan wilayah-wilayah angker namun bersahadja di situs2 purba-khala di seluruh nusa-antara..

Tidak dipungkiri jaman ini adalah jaman dimana hedonisme adalah hal biasa, dimana kaum carwaka meraja-lela dan merupakan yang biasa saja ketika melihat keterikatan dari maya dunia. Dan ketika itu tidak dicari dengan cara paling bijak dan paling bajik, hanya akan membebani keturunan sampai bahkan ketujuh turunan..Kenapa harus tujuh?, karena itu sekitar 500 tahun..(dipersilakan menghitung sendiri)…Tetapi 500 tahun hanyalah sekejap seperti 5 menit brahman…

Terlepas dari itu, maka jaman akhir telah dikatakan diramalkan dan disejogjanya diyakini, dipercayai..Dan terkadang hendaknya di paksakan kepada mereka yang berada di alam bawahan yang terkena kendali mahya dunia (sattwam rajasikam tamasikam)..namun itu adalah kesunyatan ketika utpeti sttiti pralina menjadi bermakna oleh karena pengaruh triguna tersebut..Dan hanya pedang kebajikan pedang kebangkitan pedang kebijaksanaan, mampu mengendalikan maya dan menghancurkan semua yang tidak sejalan dengan maya di dunia satya yuga dan kertha yuga.

Lihat dilink ini :

http://linggahindusblog.wordpress.com/2012/10/29/perwujudan-dan-sujud-pada-suatu-kekuatan-agung-akhir-jaman-kalvatar/

http://linggahindusblog.wordpress.com/2014/03/16/realitas-kebenaran-maujud-apa-itu/

http://linggahindusblog.wordpress.com/2009/07/11/bagaimana-beliau-bisa-banyak-nama/

Dan sebuah keniscayaan akan kebenaran, ketika melihat bagaimana dahulu seperti ramalan sabda palwan noyo genggong oleh brawijaya dan kisah mereka..Ketika itu brawijaya memiliki dua penasehat yaitu Dang Hyang Smaranatah (hyang semar) dan Sasuhunan Kalijaga…Mereka adalah sabdo palwan dan noyo genggong…Dan ketika kutukan pastu itu terjadi, maka lenyap sabdo palwan dan masuk ke dalam alam bhur bwah dan swah… Keitka itu muncul pula Sang Mahesa Jenar, yaitu yang langsung mampu mendalami keislaman sampai rahasia mahrifat.. Dan Beliau dijuluki Syeh Sthiti(waisnawa saktya) Jenar. Beliau tidak lain dan tidak bukan adalah Anak dari Sabdo Palwan itu. Banyak kisah waskita dan kesahajaan Beliau.. Dan akhirnya setelah usai di jawa, Beliau menuju Bali sebagai penyebar agama tirtha, lalu sampai ke lombok sebagai penangkulturasian sinkretis islam watu telu…Dan begitu pula akhirnya moksah IDa di wilayah uluwatu..

Sabdo Palwan sendiri identik dengan Kewaskitaan Nabi Nusantara yaitu Nabi Khidir. Yang memiliki kemampuan menghentikan Kala (waktu), memiliki kemampuan untuk menyerang dengan PanjakNya kasat mata (baca : dibali adalah Ida Ratu Niang – Sakti dari Dang Hyang Dwijendra, Di laut selatan Ratu Kidul)…Dan begitu lah ketika memang sudah saatNya pralaya,maka sesungguhnya yangterjadi adalah:

Bhwadgita ..

Bagaimana dikatakan ketika dunia pada cengkraman adharma (kebiadaban, kejahatan, kekerasan, kehilangan sifat manusia) telah bertambah, Maka Aku akan datang dari jaman-ke jaman menegakkan kebenaran (dharma,kebaikan, kebijaksanaan, kebajikan–universal) dari cengkraman Adharma…

(sambhwami yuge-sambhawi yuge)

Itu akhirnya bagaiman surga neraka ada di alam sana adalah benar adaNya.

Baca :

http://linggahindusblog.wordpress.com/2012/12/24/manusia-akan-kemanasetelah-kematian-wraspatti-tattwa/

Dan moksartam jagaditham satya ning LAku sabda manah, Maujud hring Ya ca Iti DHarma, mrityorma Amrtam Gamaya..Ksama sampurnah Ya namo nama swaha..

om Santi om

Om rahayu om

om Raharja om

Om awignamastu namosidham…

..Santi santi rahayu rahsya sahadja..

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

Realitas Kebenaran…Maujud Apa Itu?

Om hare kalkyantara hare kalkyantra ya namo nama swaha

hare kalkya hare kalkya
kalkya hare kalkya hare
hare hare

Salam Kebangkitan..

..Om Paramasiwa,Sadasiwa,SiwaNarayana, Om Namasiwaya..

Maaf kelancangan hamba, ku-persembahkan ini hanya pada-Mu..

Sering mendengar sebuah frase yang Maha, itu seperti mendengar balutan kata “Realitas Kebenaran”. Apa itu sebuah Realitas Kebenaran? Apakah Sebuah fakta tentang idealnya “diri’ sekaligus “dunia”? Atau bagaimana kenyataan di “sini” di dunia dalam bentuk sebagai unit “diri” dan tentunya semesta yang sedianya terjadi di sini..Awalnya yang mendasari semua adalah kekosongan, sebuah kehampaan, ketiadaan, kediaman. Yang menjadi awal dari segala-galaNya, dan menjadi suatu permulaan yang mengaktif sehingga berisi…

Lalu, beranjak jauh kepada realitas dari kenyataan di dunia ini. Apa yang kita telah lihat melalui indera kita (anumana pramana), dan kita rasakan dengan alam pikiran kita(prtyaksa pramana), dan pula dari berbagai pengetahuan hyang lalu (agama pramana), apakah kita merasakan akan suatu kenyataan realita yang “Benar”?Jika sudah “Benar” maka itu berarti kita memberikan berkat bahwa realitas yang ada itu adalah Kenyataan yang diharapkan, atau memasrahkan diri pada Nyata(Maya) ini….Jika akan “Benar” maka bahwa kita mengharapkan ini bukanlah suatu yang ideal dan seharusnya, tetapi ada keharusan dari kita untuk selalu mem”Benar”kannya dan kita yakin nanti pasti “Benar”.

Di balik penceritaan dan pemahaman realitas-kebenaran yang ada, perlu dilihat dari apakah itu merupakan suatu idealnya dunia ini, atau idealnya diri sebagai pemilik dunia yang mampu berpikir (idep). Di dasari awalnya adalah ketika dunia ini adalah suatu maya (acetana) ketidak sadaran akan realitas-kebenaran itu sendiri. Maka sehendaknya dengan kesadaran akan maya,membawa manusia menuju pengetahuan akan maya dunia.

Kembali pada kehampaan, kediaman, kekosongan sebelum adanya dunia dan kenyataan ini, maka sebuah Realitas-Diam yang disebut sebagai Kekuatan energi yang penuh, memulai sebuah aksi dan aktivitas. KeMauanNya(Brahman) itu merupakan kekuasaanNya sendiri. Dari sebuah keadaan tanpa sifat (Nirguna Brahman-Parama Siwa), yang tidak terlacak, tidak bisa dibingkai, diam, tidak terpikirkan, mengaktifkan diriNya dengan sifat (guna). Guna sattwam (terang,bijak), guna Rajas(aktif bergerak), guna Tamas (gelap,diam). Dengan guna itu maka Brahman sebagai realitas tertinggi merealisasikan diriNya menjadi Berpribadi (Saguna Brahman-SadaSiwa). Beliau memiliki empat Kemahaan Utama (Cadu Sakti) ..Prabhu Sakti (Maha Kuasa), Wibhu Sakti (Maha ada), Jnana Sakti (Maha Tahu), Krya Sakti (Maha Membuat)..

Dengan Krya Sakti Ia Membuat Dunia beserta segala isinya, dengan Jnana Sakti Ia berikan pengetahuan kepada semestaNya untuk bisa hidup dan menikmati diriNya, dengan Wibhu Sakti Ia memberikan diriNya sebagai tempat perlidungan di mana pun dan menyaksikan semuaNya, dan Prabhu Sakti sekaligus menjadi raja IA di dunia ini, memberikan waktu yang tepat untuk hadiah dan hukuman.

Dengan itu IA membuat dunia dari persatuanNya (purusa) dan Guna (prakerti).i Lahir panca maha butha dari kekosongan yng menjadi bagian ruang panca maha butha. Air, Api, Tanah, Udara, dan Ether menyusun bumi. Kemudian mencipta Ia kehidupan yang mengambil bagian seperti eka pramana (tumbuhan me-Bayu) dwi pramana (hewan Ber-Sabda,berBayu), Manusia terakhir dengan IdepNya untuk berpikir. Kekuatan pikir manusia adalah wadah atman ditambah dengan persatuan panca maha butha. Atman yang diselubungi pikiran adalah terdiri dari citta, budhi ahamkara. Ketika kesatuan unit(atman) mampu memberikan ruang jawab bagi indera (panca budhhindriya) dan laku (panca karmendrya) akan menjadikan dunia ini seperti “REALITAS YANG DAPAT MAUJUDKAN KEBENARAN”..

Secara bahasa filsafati, bahwa realitas adalah apa yang ada di sini,di dunia..atau apa yang dipikirkan dan menjadikan kita ada. Realitas adalah saat ini yang berasal dari masa lalu dan menjadi masa depan. Realitas yang terjadi berdasarkan AKSI di masa lalu, dan BEREAKSI menjadi kenyataan realita saat ini. Hasil reaksi itu akan memberi bahan bakar AKSI selanjutnya dan begitu seterusnya (KArmaPhala). Dan itu melintas menuju generasi selanjutnya dan sampai berketurunan dan keturunan selanjutnya (Samsara). Tiada terputus itu sebagai suatu Realitas yang Berkebenaran, sebagai suatu jalan yang abadi (Sanatana Dharma).Di saat terakhir IA akan menuju suatu Kesatuan UNIT tertinggi Hyang Paramatman, dan Mengalami Nikmat Hari Brahman, setersnya sampai sloka bhgwdgita Praritranaya Sadhunam ,Vinashaya Cha Dushkritam, 
Dharamasansthapnaya, Sambhavami Yuge-Yuge.”
Untuk melindungi Dharma (kebaikan), untuk meleburkan adharma (keburukan), AKU (Realitas KEBEnaran) lahir dari jaman ke jaman…………………………..Terlaksana…………………………..

Bukan suatu mistis atau suatu spiritualitas tanpa logika, pada dasarnya etika, sebagai “bagaimana sebagai suatu spontanitas diri yang etis”, menjadi ditegakkan dengan susila yang bersumber dari teologis atau filosofis. Pada dasarnya spontanitas etis itu adalah bagaimana buddhi (kemampuan membedakan baik dan salah) menjadi sebuah wiweka yang terlaksana pada manas(cara berpikir), wacika (kata), dan kayika (sebuah perbuatan).Ini yang mencipta sebuah sisi damai di dunia. Artinya Dharma yang dalam wadah apa pun, adalah Unit Kolektif yang menjadi sebuah kekuatan REALITAS KEBENARAN. Yang benar-benar terpendam di dalam “diri” masing-masing unit, yang bisa terbuka, melaksana, demi keutuhan keabadian dharma itu sendiri. Refleksi dari kemampuan mengenali diri sendiri sebagai bagian buana agung, REALITAS KEBENARAN sebagai tempat tinggal, adalah membawa pedang yang mampu membunuh ketidaksempurnaaNya dengan cara yang lembut, halus, sekaligus menyayat, mengikis kematian kemelekatan akan MAYA dan adharma.

Sangat logis juga ketika dikatakan bahwa filsafat sebagai pengametahuan berpikir akan diriNya atau Wujud ciptaanNya, mampu mengikis ahamkara ego, buddhi yang terpancar,sampai rmenuju sebuah pegetahuan suci tentangNya..Menjadi semua guru kepada murid, dan refleksi dari murid terhadap guru (mirip sikhism). Sebuah kontemplatif yang selalu menuju perubahan dari alam pikir, menjadi energi tanpa batas akan ide sebuah idealnya ini (maya) dan dekat memahami (Maha Pencipta Maya). Apakah itu akan menuju jurang akhir (Maha Pralaya) sebuah kehampaan kembali (akhri malam brahma)..

Dan menyambung pada kata2 BG di atas, sebagai sambhawami yuge yuge..dari jaman ke jaman…Maka sesunguhNya adalah pedang itu akan terasah pada “diri” sendiri..Sebagai sebuah kemanunggalan, sebagai sebuah satria pinandita yg telah dipingit, ratu yg sejatinya adil bijak,sbagai imam yg memiliku nurNya…sebagai seorang “diri” sejati, dimana pun yang menjalankan dharma (kebenaran) masing2..Untuk mendapat tugas besar lahirnya TUHAN pada diri mereka(aku)kalian(dia)mereka(kita) masing-masing, YANG pada akhrinya Maujudkan REALITAS KEBENARAN itu secara otomatis spontan suci dan indah….

 

gwar…

mar 2014..

santi rahayu..

.

….Hyang Sabdo Palon…

 

 
1 Komentar

Posted by pada 16 Maret 2014 in doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

Mahrifat, Wahdatul Wujud, dan Kamoksan

transendence

     Mendengar istilah Mahrifat,  mungkin dikatakan suatu yang asing, namun pada dasarnya adalah sesuatu yang menarik jika didekatkan pada sebuah agama monotheism (islam) sebagai pemilik kata tersebut. Sebuah konsep unik pula tentang arti Manunggaling Kawulo Gusti sebagai sebuah kalimat yang berasal dari istilah “kejawen”. Sebuah kemanunggalan dengan “Gusti”. Tentunya dalam arti unik dan secara privasi dalam hubungannya ke pada “Yang Penguasa” alam ini.

Dalam hubungannya dengan suatu tingkatan ilmu pemahaman dan pengabdian kepada Sang Ilah, sesungguhnya mencapai suatu kata mahrifat dikatakan sebagai suatu ketersulitan tersendiri. Dalam hal ini Ia setidaknya menapaki pada tingkatan-tingkatannya. Sebelum mencapai suatu kata Mahrifat, maka paling tidakumat islam harus menjalani syariat, mengenal tarikat,mendapatkan hakikat, kemudian menuju suatu kemahrifatan. Tingkat syariat adalah pada suatu laku lahir termasuk pula pada tarikat. Syariat adalah laku dalam ritualnya serta larangan dan suruhanNya, kemudian tarikat menuju suatu pemahaman tersendiri dan melakukan paham syariat dalam kehidupan,termasuk juga wirid, zikir, dsb.

Suatu pemahaman yang terkadang kontradiktif jika mempertemukan seorang yang syariat, yang kemudian bertemu seorang penekun mahrifat. Dan seringnya malah hal itu memberikan sebuah konflik tersendiri. Seperti pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir yang memberikan pemahaman tersendiri dimana syariat bertemu Mahrifat. Dan pula bagaimana Syeh jenar dalam pemahamannya sendiri tidak dipahami oleh awam termasuk pula para wali songo yang notabene sudah paham sekali tentang ajaran Islam. Tergambar pula bagaimana Al Hallaj menyebutkan Anna Al-Haqq, yang berarti “Akulah Kebenaran” yang menuju pada suatu yang tidak diberikan oleh pemahaman awam. Dalam artian bahwa paham Mahrifat atau yang dekat dengan sufistik serta yang dikatakan Manunggal menjadi sesuatu yang tidak diberikan secara gamblang kepada khalayak ramai.

Bagaimana mungkin Allah menjadi diri manusia, bagaimana mungkin Allah mau turun kepada diri manusia,atau bahkan mampukah kau mencipta seperti layaknya Allah,itu yang mungkin diberikan sangkaan yang tiada boleh Allah diganggu gugat sedemikian rupa. Islam dalam hal ini tidak memberikan celah untuk menjadikan Allah sekutuNya kepada siapa pun. Jadi memang dalam kenyataan, bahwa paham itu dirahasiakan bagi pemiliknya sendiri.Aliran-aliran yang dekat dengan ini, adalah paham sufisme, yang bahkan beberapa berkata Sufi adalah islam yang berbaju weda.

Dalam hal ini,Hindu sendiri adalah sebagai agama yang kaya akan pemahaman “Hyang Agung”. Dalam sabdanya di Bhagawadgita menyebutkan,jalan manapun yang kau jalani untuk menyembahKu, maka Aku akan terima. Di hindu tersendiri menetapkan ada empat jalan yang memiliki konsep tersendiri. Bhakta, Karmin, Jnanin, Raja Marga. Terlepas dari cara-cara itu, maka disadari atau tidak perjalanan memujaNya sebagai sebuat “way of life”.  Kata-kata “Aham Brahman Asmi”, atau “Tat twam Asi”, adalah kata-kata yang terbiasa di telinga serta di “rasa” seorang Hindu. Karena memang dalam prinsip Monisme atau Pantheism bahwa Brahman ada dimana-mana, serta dimana-mana adalah brahman, menjadi suatu paham yang memberikan rasa takjub dan termasuk mencintai kehidupan(alam semesta) itu sendiri. Dan tidak ada ketidakberbolehan untuk mewujudkan Brahman itu sendiri, sebagai manifestasi Sang Acintya. Dapat dikatakan sebuah kebebasan mewujudkan adalah tanda akan kedekatanNya kepada pemelukNya itu sendiri. Tidak akan Ia marah atau merasa direndahkan karena mewujudkanNya. Malah itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri jika bisa mewujudkanNya dan sekaligus memujaNya.Satu hal yang pasti adalah, tidak ada WujudNya yang tidak dikenal atau bukan manifestasinya, maksudnya adalah tidak ada dewa kerbau, jika pada perjalanan suatu evolusi agama tidak ada namanya dewa berwujud kerbau. Shiva atau Ganesha menjadi suatu manifest/bentukNya yang telah ada di sejarah itu sendiri

Hal ini tergambar pula pada kebijaksanaan pada penyebutanNya, yang tergambar pada “Ekam sat wiprah Bahuda Wadanti”.Seorang bijak akan menyebutNya dengan berbagai nama, karena keluasan dan kemahakuasaanNya itu. Seperti jika diterjemahkan secara fungsi, Dewa Siwa dikatakan sebagai pelebur, penghukum, atau DewaYama sebagai Yang Maha Adil, atau Wisnu sebagai pemelihara semesta. Kalau di Islam yang tidak diperkenankan mewujudkanNya, sebenarnya telah memiliki 99 nama Allah (asma ul Husna) yang terdapat Al-Adl sebagai Allah yang Maha Adil, Al Muaimin sebagai pemelihara, atau pula Al-Khalik yang merupakan nama Allah sebagai Pencipta semesta. Memang tidak ada wujud dalam bentuk rupa, namun dalam simbol-simbol huruf atau lukisan kaligrafi dapat diperlihatkan sebagai bentuk estetika akan keagungan namaNya.

Dalam wilayah seni,maka seorang sufistik menemukan jalan yang dekat dengan berolah puisi sebagai tunjuk atas kedekatanNya kepada Ilahiah. Sebagai contoh puisi berikut

Sabda Rasul Allah Nabi kamu

Lima’a Allahi sekali waktu

Hamba dan Tuhan menjadi Satu

Inilah ‘arif bernama tahu

Kata Bayazid terlalu ‘ali

Subhani ma a’zama sya’ni

Inilah ilmu sempurna fani

Jadi senama dengan Hayyu al-Baqi

Kata Mansur penghulu ‘Asyiq

Ia itu juga empunya natiq

Kata siapa ia la’iq

Mengatakan diri akulah khaliq

Dengarkan olehmu hai orang yang kamil

Jangan menunut ilmu yang batil

Tiada bermanfaat kata yang jahil

Ana al-Haq Manshur itulah washil

Hamzah Fansuri terlalu karam

Ke dalam laut yang maha dalam

Berhenti angin ombaknya padam

Menjadi sultan pada kedua alam:

(http://syairsyiar.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-sufi-syeikh-hamzah-al.html)

Dalam hal ini pun dalam islam masih terjadi suatu perdebatan tersendiri akan kesesatan dari jalan sufism, tassawuf. Namun sebuah puisi dengan keindahan serta estetikanya itu sendiri, memiliki nilai mistik jika menghayatinya secara mendalam. Mungkin pula dalam “way of life-nya” bahwa seorang sufi menunjukkan takjub serta sujudnya kepada kekuatan Agung yang “benar” adalah dengan puisi itu sendiri. Agar itu sebagai keindahanNya dapat diterima oleh awam.

Jika dilihat pada Wadahtul wujud, maka mempunyai pengertian secara awam yaitu; bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci. Pengertian sebenarnya adalah merupakan penggambaran bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Allah adalah sang Khalik, Dia-lah yang telah menciptakan manusia, Dia-lah Tuhan dan kita adalah bayangannya. Hal ini dikatakan jugasebagai Wahdatul Syuhud yang berarti kita dan semua bagian dari dzat Tuhan /Allah. Hal ini sangat riskan jika didekatkan pada suatu pemahaman awam tentang Tuhan itu sendiri. Pada suatu paham Ke”Hindu”an itu bisa dikatakan sejalan dengan Atma tattwa, bahwa memang dalam setiap mahluk, manusia, bahkan semesta merupakan Ia semata. Sang Brahman. Dan kita hanyalah dan sebagai percikan dari Hyang Kuasa itu sendiri. Riskan dalam hal ini, pada manusia yang menganggap awam, hanya akan menimbulkan suatu emosi dan dikatakan akan merendahkan kekuatan Agung itu sendiri. Padahal untuk mengenal IA maka diperlukan sedikit ruang yang hanya Ia yang “mampu” dalam mengalahkan musuh diri. Musuh dalam diri sendiri yang terlalu berprasangka dan bahkan memenjarakan IA.

Memang dunia adalah sebuah dunia rwa bhineda, sebuah yin dan yang. Dan bagaimana seorang bijak dapat memberikan dirinya sendiri suatu kemoksaan sebagai tujuan akhir di dunia atau di alam nanti, adalah terlepasnya ia dari nafsu, lobha, keserakahan, dan tunduk pada sifatNya yang sempurna untuk tidak mengidolakan keduniawian yang “maya”. Sebuah kebahagiaan dan kesejahteraan batin yang akan muncul dan menjadikan keesokan hari sebuah karma baik untuk dengan nyaman dijalani sebagai suatu kemenangan akan hidup itu sendiri.

 

 

 

Daftar pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Wahdatul_Wujud

http://syairsyiar.blogspot.com/2008/05/puisi-puisi-sufi-syeikh-hamzah-al.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Sufism

 
2 Komentar

Posted by pada 9 Februari 2013 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Neti-neti..bahwa Definisi-Nya tidak dapat dibingkai

Tuhan…Tuhan yang memiliki semesta serta merupakan poros perputaran Sthiti, Utpetti, dan Pralina adalah yang segalanya.Artinya adalah Ia saking besar serta maha luasnya, tidak dapat terbingkai oleh satu definisi mutlak akan diriNya. Dan bahwa Ia yang penguasa, tidak dapat dibingkai oleh sederet kata-kata yang pas.

Neti-Neti, bahwa Brahman, Sang Hyang Widhi wasa dikatakan bukan ini bukan itu, artinya adalah saat suatu penggambaran atau definisi melibatkan IA,maka Ia adalah bukan yang didefinisikan,dan Ia juga bukan yang tidak didefinisikan. Seperti seorang    yang mencari “pikiran” secara material dan berbentuk. Jelaslah mustahil memperlihatkan atau memandang pikiran sebagai benda. Merupakan sebuah metafisis atau abstrak. Saat kita berpikir, dan mungkin materi pikiran akan dapat diduga dan diberi “nilai” saat dilisankan atau dituliskan atau didiskusikan. Namun bentuk yang ada masih abstrak yang tidak bisa dinilai secara sangat tepat.

Seperti itu pikiran, seperti itu lebihNya yang kuasa, dimana tidak bisa dilingkupi suatu yang disebut penyebutan. Sehingga Acintya (tak terpikirkan) menjadi suatu yang pasti dan dibatasi oleh Neti-neti. Tuhan apakah berada di sebuah batu?Lalu dengan itu kita definiskan keberhalaan??maka “nilai” sebuah batu menjadi lenyap. Karena kembali bukan batu. Namun apakah Ia berada di atas di langit ke tujuh? Maka bisa saja, namun neti neti, IA kembali dikatakan dekat sedekat urat lehermu.

Sebagai sebuah kekuatan Nirguna, tidak memiliki suatu sifat tertentu, maka saat kesifatan dileburkan ke Ia, menjadi Ia Saguna Brahman, yang sesuai dengan keinginan PenyembahNya yang memang merindukan dan mencintaiNya sebagai pengabdi. Sifat Sarwagatah ada dimana-mana. Jika terungkapkan Ia, maka “penilaian” akan Ia kembali lenyap, dan transenden ke Kuasa diriNya. Ia Paraatman, tempat kembalinya atman-atman. Ia tidak berhak diberikan “nilai”, karena kemutlakannya itu lebur bersama Ia yang Ia mau, namun tetap Ia adalah Ia brahman yang Agung yang tetap suci dan tetap (sanatana) dan Nitya(abadi).

Dan bagaimana dengan falsafah Aham Braman Asmi, atau pula moksartham jagadihta,serta mungkin manunggaling Kawulo Gusti? Dimana menyatakan aku adalah tuhan (brahman), serta persatuan antara Kawula(abdi) dengan Gusti (para atman). Ekstasi itu yang terjadi, seperti pada saat melakukan semadhi atau tapa brata, adalah pengalaman paling pribadi,pengalaman yang memiliki makna tersendiri dan subjektif, yang tidak bisa disamaratakan kepada setiap subjek atau kepala. Jadi kenikmatan yang tiada terkatakan, dan membuat kebahagiaan (ananda) tertinggi tercapai. Kegilaan pada suatu kekuatan agung, namun kesubjektifannya atau pengalaman (prtyaksa pramana) itu menjadikan itu tidak berlaku secara universal, mengingat bahwa Ia pun tidak dapat digambarkan sama oleh hati seseorang. Tetapi tetap Ialah Ia, yang menaungi jagat raya Sang Paraatman.

Lalu maka Ia yang agung memberikan dasar-dasar tertentu untuk dipahami lewat jalan Dharma, jalan kebenaran hakiki dan jalan yang Agung. Dengan pengetahuan akan dharma, maka jalan yang terbuka dan bahagia akan terbentang dalam menapaki kebenaranNya yang hakiki. Etika dan susila adalah jalan yang patut dilalui dan seiringnya memberi pemahaman dunia akan keagungan dharma.Seperti pada : Sarasamuscaya 18 dharmah sada hitah pumsam dharmascaicasrayah satam, dharmallokastrayastata pravttah sacaracarah,  Dan keutamaan dharma itu sesungguhnya merupakan sumber datangnya kebahagiaan bagi yang melaksanakannya, lagi pula dharma itu merupakan perlindungan orang yang berilmu; tegasnya hanya dharma yang dapat melebur dosa triloka atau jagad tiga itu.

 

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 21 November 2012 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , ,

Orang Beragama adalah orang Gila (Freud)

Memang benarkah seperti itu? atau apakah berbeda dengan apa-apa yang terjadi di kenyataan?

Yaps benarlah bahwa memang orang beragama dikatakan sebagai orang yang neurosis seperti yang dikatakan oleh sigmund freud ahli psikologis penemu psikoanalais. Ada beberapa dasar mengapa orang beragama dikatakan sebagai seorang neurosis :

1. Bahwa orang beragama dikatakan memiliki sifat kekanakan yang berhubungan dengan hubungan ayah(bapa) dan anak. Dimaksudkan bahwa Tuhan sebagai suatu faktor yang berkuasa, dan memiliki pengetahuan Maha Tahu akan menjadi seseorang yang melindungi dan memberi kekuatan perlindungan atas ketakutan dan  ketidakberdayaan anak dengan kasih sayang dan menentramkan. Maka itulah yang menciptakan suasana nyaman (surga) dari anak(manusia) itu. Maka sikap tentram itu menjadikan halusinasi surga akan pemahaman tuhan sebagai anak.

2.Menurutnya satu-satunya cara untuk meninggalkan kekanak-kanakan bahwa dengan memahami dan mempelajari sains dan teknologi.

3. Agama adalah tempat untuk berlindung dari jaman, apakah ia manyatakan bahwa beragama seperti”katak dalam tempurung”?.

4.Dan ia juga menyatakan bahwa orang-orang kekanakan akan pergi mengadu kepada Bapa (Tuhan), jika terkena berbagai kesulitan-kesulitan yang ada di dunia. Seperti anak kecil yang mengadu kepada ayahnya sebagai mental defense.

 

 

 

 

 

Yaps seperti itulah, bahkan penelitian anehnya membuktikan bahwa nyatanya orang yang berpengetahuan lebih, tidak mementingkan keagamaan itu sendiri. Hal ini dapat disimpulkan bahwa hanya orang bodoh yang perlu agama…hmmmmm…

Jika dalam hindu sendiri, maka pengetahuan itu lahir dan diberikan sendiri yaitu,hari raya saraswati. Dan Ganesha sebagai suatu simbol pengetahuan, sangat jelas terpampang di banyak institusi pendidikan.

Sebenarnya dalam berbagai kehidupan yang diceritakan oleh kitab suci adalah semakin terbelenggu dengan keduniawian, maka semakin jauh pula dari kelepasan (Moksa). Atau bahkan mungkin persatuan dengan ilahi manunggaling kawulo gusti, aham brahman asmi. Hal itu terkadang seperti sebuah ekstasi yang benar-benar membuat lupa diri atau tidak menapak dunia dan terbang tinggi. Ini mungkin resiko yang perlu diwaspadai bagi mereka yang telah masuk dalam lingkaran semesta yang juga memabukkan. Namun untungnya dalam Hindu, ada berbagai pakem-pakem keseimbangan yang disarankan dijalankan. Yaitu Tri hita karana (palemahan, pawongan, parahyangan), dan pula catur asrama (brahmacari,grehasta,wanaprasta,sanyasin).Di mana dalam wilayah grehasta yg terpenting adalah melaksankan kewajiban keluarga, dan nantinya jika sudah pantas melepas duniawi,maka masuk ke tahap selanjutnya.

Untuk bahasan pengetahuan, maka ada Catur marga, dan kecocokan jalan itu dekat dengan jnana marga.Sbagai wilayah yg mmbahas jalan pengetahuan tentang dharma yang membebaskan.

Dari keyakinan serta pengetahuan akan jaman-jaman yang ada,maka jaman ini termasuk jaman Kaliyuga. Jaman dimana yang berpegang teguh pada dharma hanya tersisa 25 persen. Yang lainnya adalah wilayah adharma yang terbelenggu sad ripu, sad atatayi, atau tidak berpegang pada satya dan sbagainya.Jadi dapat dikatakan adalah ketidakwarasan manusia lebih banyak. Tapi saya belum dapat mengecek berapa jumlah pasien psikiater, atau malah mereka merasa waras.

Kegilaan itu sebenarnya tidak terlepas dari slogan tiga gila, yaitu gila kekuasaan, gila harta, dan gila wanita. Bahkan itu secara tidak sadar dimiliki oleh mereka. Ketidak sadaran pada belenggu-belenggu duniawi dan material serta kemoralitasan yang berlaku umum. Ini menciptakan ketidakberadaban, dan mungkin pula energi-energi negatif yang terkumpul,akan menghasilkan bola energi penghancuran dunia,seperti yang dipahami energi menuju semesta sesuai dengan pola energi kebanyakan manusia di dunia. Apakah itu menciptakan pralaya???Ah.berpikir terlalu abstrak,pepohonan saja semakin berkurang, dengan banyaknya perang-perang yang ada sudah cukup memberi bukti nyata. Dan anehnya adalah karena dendam-dendam masa lalu yang meng-ego dan mengeras menjadi batu, entah perebutan wilayah atau bahkan perang urat syaraf Agama,SUku dan Ras, benar membawa ke jaman yang kurang berkenan dan penuh biadab. Yah sejarah terkadang membekas sangat dalam, namun pula ayat-ayat ketetapan yang teryakini dari sumber suci agama, kiranya perlu dipertimbangkan tentang penafsirannya.

Dalam masa ini,ilmu diharapkan memberi suatu kemanfaatan tersendiri dan mengandung nilai norma serta moralitas, srehingga kegunaan ilmu memang betul-betul menyentuh dan memperbaiki dunia itu sendiri. Aksiologi dari pemahaman dalam  ilsafat ilmu itu tentunya memberi harapan akan sisi kemanusiaan ilmu itu sendiri.

Kembali pada kata gila, maka Sri Khrisna pernah bersabda,ketika ditanya mengapa kau seperti orang gila atas segala yang kau katakan? Maka Sri Khrisna berkata ” Kalian Aku Mereka semuanya adalah orang gila, Tapi bedanya kalian gila kekuasaan, dan Mereka gila Harta dan gila wanita,Dan aku juga Gila,tetapi gila kepada Tuhan.”

dari berbagai sumber..

gwar 18-11-2012..

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 18 November 2012 in agama, budaya, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Berjapa Shiwa pada jaman Akhir(kaliyuga)!!!…

shiva anataraja

Untuk pertama,disebutkanlah bagaimana bumi terbentuk dan berlanjut dengan berbagai perubahan jaman, menjadi jaman yang sekarang ini.

Diyakini pula bagi semua, bahwa jaman ini adalah jaman kaliyuga ..yaitu jaman dengan 75% negatif dan 25% positif.. Hal ini sungguh pun berbeda dengan jaman2 yang lainnya…Jika dilihat satu persatu ada jaman kertha yuga yaitu 100 persen baik..dan jaman dwapara yuga, 75 persen baik dan 25% tidak baik. Dan yang terakhir adalah jaman traita yuga keseimbangan..

Nah berdasarkn riwayat tahun yang ada di  purana memang bervariasi…tapi jika sudah berbivcara keyakinan bahwa kiamat telah dekat maka ..penghancuran adalah bukan hal yang mustahil bagi siapa pun saja dan golongan apa pun itu…Universalitas itu memang menjadi suatu kenyataan hidup sesungguhnya baik sekarang atau di kemudian harinya..Mengapa sekarang adalah suatu jaman penghabisan?Karena dalam keyakinan spirit bahwa dapat dikatakan rumor-rumor serta ramalan2 tentang akhri jaman baik dari suku maya ataupun dari ramalan seperti mama lauren, dpat disadari atau tidak memang semesta menuju ke arah tertentu. Barangkali sikap optimistis dari suatu jaman keemasan dapat dikatakan bukan suatu hal yang mustahil..

Namun sebagai seorang pengabdi saiwa atau pula sebagai seorang Hindu, maka dapat dijelaskan bagaimanakah cara yang indah untuk selalu menetapkan dan mempertahankan optimisme tersebut?..Dalam bukunya Bapak Jendra menyebutkn bgaimana cara mengurangi atau mempercepat karma baik pada jaman kaliyuga ini..Bisa dijelaskan pula pada jaman kaliyuga dikatakan walaupun banyak kejahatan (75%) namun karena berlebihnya kekirian menyebabkan perbuatan, perkataan, pemikiran (wak kay mana) sedikit dalam koridor subhakarma akan menjadi berlipat ganda.Jadi sedikit berbuat subha karma maka akan ditulis secara berkali-kali lipat.berpahalanya.

Japa sebenarnya adalah suatu cara untuk melakukan doa seterusnya baik diucapkan dan dihatikan.. Japa menjadi sedemikian bermakna, karena sesungguhnya japa bisa dilaksanakn oleh siapa pun juga dan sampai kapab pun juga. Banyak berbagai mantra yang bisa diambil atau dirapalkan yang sesuai dengan keyakinan ia sendiri..Sebagai misal japa Ganesha (om gan ganapataye), japa Gayatri mantram , dan ada juga japa yang mengagungkan Dewa Saiwa, yang lain juga japa Hare Khrisna atau hare rama…

Sesuai dengan judul yang ada, maka bertepatan denga kedatangan hari kiamat yang sudah di gerbang pintu kebenarn, maka sbagai pemuja Saiwa, bisa diisyratkan untuk bagaimana menjadi penyejuk dengan sujud kepada Saiwa dalam bentuk “Lingga” atau sebagai Pelebiur atas segalanya. Terdapat Japa yang diyakini akan menjadi suatu pembebasan di stiap harinya dari segala permasalahan hidup dan sekaligus mempercepat karma agar terealisasi.

Jadi japa yang bsa saya siarkan adalah dua mantra dari Saiwa.yaitu Mahamrytunjaya Mantram…

http://www.youtube.com/watch?v=ClxgIS-_X_g

Mantra ini adalah mantra yang jika dirapalkan berfungsi untu membebaskan diri dari permasalahan dann godaan-godaan serta mencari soluisi atas permasalahan itu sendiri….

Japa kedua adalah mantram Thiruuu neelaam kantam…Yaitu mantram saiwa yang berarti Leher hitam Saiwa, yang didapatkan karena mereguk racun di sebuah danau untuk menjernihkan danau itu sendiri dari kotoran yang dikotori kaum raksasa..

http://www.youtube.com/watch?v=8E0JwSl9f3k&feature=related

Dengan melakukan japa di setiap kesempatan, maka manfaat yang diperoleh adalah sesuai dengan apa2 yang teryakini..Mantram Thiruu neelam kantam memiliki fungsi sebagai peleburan karma..Bukan sebagai suatu yang menghilangkan karma, namun sebagai mempercepat datangnya hasil perbuatan itu sendiri..

Ada dua keputusan yang terjadi, Jika dahulu banyak berbuat buruk maka dengan mantram ini adalah dengan seterusnya akan memberikn pahala buruk itu sendiri (mempercepat), dan bisa membuat karma seebagai kekosongan dan iklas serta insyaf mengambl hasil buruk .

Keputusan yang kedua adalah jika banyak berbuat kebajikan dan kebaikan yang sesuai, maka mantram yang dijapakan ini bisa mempercepat datangnya muzijast dan rejeki yang sesuai dengan dharma atau kebaikan yang ada..

Yaps itu saja, semoga bermanfaat kedepannya sebagai pemuja Saiwa serta abdi Saiwa yang sempurna..

Om Siwa Narayana, Om sada Siwa, Om Ksama Sampurna ya Namo namah Swaha…

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 24 Oktober 2012 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , ,

MAKNA PERINGATAN GEMPA JOGYA “SIJUMLUNGA” JAYA, RAHAYU WIDADA MULYA.

Para kadang sutresna, sebagaimana panjenengan makfum bahwa dalam bulan Mei sebagai momentum “peringatan hari kebangkitan nasional” justru telah terjadi “kebangkrutan nasional semakin massif”, seiring diizinkannya mantan bendahara PD, M. Nazaruddin hengkang ke Singapura oleh para elit PD yang berkantor di Gedung Raky…at pada 23 Mei sehari sebelum pencekalan oleh KPK. Anehnya mereka  mengaku tak ada yang tahu  dimana rimbanya sosok powerful tsb. saat para petinggi PD ngabiantara di Istana Cikeyas. Sungguh sempurna “kebohongan” itu.

 

Nah manakala kita jeli dan berkenan mengais – kais suara alam, semiobuwana loka sejatinya 5 tahun silam sudah diperingatkan seiring adanya “Gempa Dahsyat Jogya” pada 27 Mei 2006 yang bertepatan dengan 1(siji) Jumadilawal (jum) tahun (19)39 (lunga) disingkat “SIJUMLUNGA” yang secara filosofis dapat berarti : “Sijumbuhing kawula Gusti wis lunga (menyatunya antara kawula dengan Gustinya telah pergi); antara lahir dengan batin tidak sama ; warangka manjing curiga – curiga manjing warangka tak ada; keselarasan antara makrokosmos dengan mikrokosmos raiblah sudah; in sensi abstracto – in sensu strict pun hilang. Pendek kata kejujuran adalah merupakan barang langka karena bangsa ini telah menjadi bangsa yang munafik, sebagai bangsa pembohong!  Oleh karnanya suara alampun semakin lengkap dengan muncratnya pasir panas LAPINDO pada 29 Mei 2006 yang memiliki makna filosofis : “Laku lampah bangsa & Negara Proklamasi Kesatuan Republik Indonesia ini telah penuh dengan lumpur dosa”.

 

Peristiwa waktu itu sugguh bag kiamat tiba, masyarakat bagai gabah den interi, lari salang tunjang, suara rintihan pating gluruh, yang dari utara ari keselatan takut gunung Merapi bledos sebaliknya yang di selatan lari ke utara takut disapu tsunami. Harta benda tak lagi dipedulikannya karena nyawa lebih penting.

 

Prahara alam gempa bumi Saptu Wage jam 0555 tsb. telah memakan korban jiwa di DIJ : 5.048 meninggal dunia dan 27.838 luka – luka dan di Jawa Tengah : 1.175 meninggal dunia dan 18.210 luka – luka. Sumber : Balitbang Kompas

 

Penyaji khusus menyajikan buku dengan judul ‘MISTERI SIJUMLUNGA” yang copynya kami sampaikan ke  salah seorang anggota DPRD DIJ namun apakah masuk tong sampah sudah bukan domain penyaji lagi.

 

A. ALAM SAJA MEMPERINGATI KEJADIAN TSB.

 

Misteri ini bisa jadi belum pula disadari bahwa nampaknya alam pun memiliki kemauan yang sama dengan manusia. Hal ini dapat direnungkan dengan adanya fenomena aneh seperti antara lain

  • Saat Setahun peringatan gempa Jogya dalam tarikh Saka Jawa yakni 1 Jumadilawal 1940 yang bertepatan dengan 18 Mei 2007, hari Jumat Pon terjadilah stunami/gelombang besar yang terjadi di sepanjang pantai Selatan dari NAD hingga NTB. Anehnya tanpa ada suatu penyebab & peralatan pemberitahuan dini yang telah terpasang sama sekali tidak berbunyi. Konon ketinggian gelombang di Parang Tristis mecapai 15 meter.
  • Saat peringatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara nasional, 27 Mei 2007, gempa kembali terjadi & anehnya terjadi saat Ketua Umum PP Muhammadiyah,  sedang membacakan pidatonya.
  • Pada 27 Mei 2007, seiring peringatan tragedi gempa Jogya, Gunung Merapi kembali mengeluarkan suara gemuruh, anehnya tidak diikuti letusan dan aliran lava dari puncak Merapi. Dan sehari sebelumnya, “pada 26 Mei 2007 pagi di ruang tunggu Bandara Halim Perdana Kusuma terjadilah peristiwa anti klimak dimana SBY dengan Amin Rais mengakhiri konfliknya dengan saling maaf – memaafkan, sebelum SBY mengadakan lawatannya ke Malaysia. Dalam pertemuan selama 12 menit tersebut, SBY juga menjelaskan bahwa kasus dana non budgeter DKP dan isu dana asing dalam Pemilihan Presiden, merupakan ranah hukum”. (Posmo, Edisi 422, 6 Juni 2007. hal.12). Yang hingga kini tak ada justrungannya!

B. KEMBALILAH PADA TRADISI – ADAT ISTIADAT KUHUR BANGSA

 

Adanya hajat alam memperingati gempa tsb. dengan tsunaminya maka berbagai teori merebak dari pemanasan global, swell (gelombang besar yang melemah), gelombang Kevin, penumpukan angin, satu garis lurus antara bumi – bulan dan matahari serta gravitasi bulan bahkan ada yang menyimpulkan adanya gabungan dari berbagai teori. Dalam analisis Inter Governmental Pannel on Climate (IPCC) meramalkan pada tahun 2030, akan terjadi kenaikan permukaan air laut setinggi 28CM dibandingkan permukaan saat ini dan pada 2066 air laut akan naik 3 M. Bisa dibayangkan bila dengan adanya peristiwa tsunami di NAD telah menenggelamkan 3 pulau yakni Pulau Gosong Sinjai, Pulau Karang Lenon Kecil dan Karang Lenon Besar di kawasan kabupaten Singkil. Dan sejak tahun 2005 jumlah pulau yang hilang seluruhnya telah mencapai 24 pulau disamping akibat tsunami juga karena penambangan liar dan abrasi. Belum lagi hilang karena alasan politis & keteledoran seperti Timor – Timur, Sipadan dan Ligitan. Pemanasan global terjadi akibat efek gas – gas rumah kaca utamanya karbon dioksida di atmosfir bumi. Hal ini menyebabkan naiknya suhu bumi dan mengakibatkan perubahan iklim. Apa yang akan terjadi nanti ? Tenggelamkah Nusantara ini ? Tentu tergantung pada sikap mental bangsa ini, masa bodohkah ? atau ada upaya bersama memakmurkan bumi dan seisinya ? Atau justru aji mumpung ?Hanya Tuhan Seru Sekalianlah Yang Tahu.

 

Keadaan carut marut di Nusantara ini secara mitologi sebenarnya  telah termuat dalam berbagai jangka baik Jangka Jayabaya, Jangka Sabdo Palon Noyo Genggong maupun dalam kitab Weda Nata Piningit serta Weda Tama Piningit dan lain sebagainya. Adanya mitos “Natanagara” (leadership Nusantara) ternyata banyak pula dikaitkan dengan  Satria Nusantara diantaranya disebutkan bahwa sosok :

  • Presiden I, Ir. Dr. Soekarno, disebut sebagai “Satria Kinunjara Murwa Kuncara”.
  • Presiden II, HM. Soeharto, disebut sebagai “Satria Mukti Wibawa Kesampar – Kesandung”.
  • Presiden III, Prof. Dr. Ir. BJ. Habibie, disebut sebagai “Satria Jinumput Sumela Atur” (yang merupakan Pemimpin sinela, seselan, antara).
  • Presiden IV, KH. Dr. Abdulrrahman Wahid (Gus Dur), disebut sebagai Satria  Wuta   Tapa Ngrame Ngideri Jagad (masih seselan).
  • Presiden V, Ibu Megawati Soekarnoputri, disebut sebagai ‘Satria  Piningit Hamung Tuwuh” sebagai putri Proklamator, Presiden I, Ega hanyalah tumbuh menggantikannya. (masih seselan).
  • Presiden VI, Susilo Bambang Yudhoyono, disebut sebagi “Satria  Boyong Pambukaning Gapura”.
  • Presiden y.a.d. “Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu”. ?

Memang dalam masyarakat terdapat mitos tentang “NOTONOGOTO” (Soekarno, Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono)  sementara Jangka jayabaya menyatakan bahwa  Presiden III, IV dan V, tersebut hanyalah seselan (pengantara) saja. Dan banyak pihak setelah Presiden VI, jatuh “GARA” dimaknai dengan “Gara – Gara. Dalam literatur Hindu memang saat ini sedang dalam zaman Kali Yuga yakni zaman kegelapan atau zaman besi., atau Kala Bendu. Bahkan dalam Al – Qor’an surat 44 “Ad – Dhukaan” artinya kabut, yang menyiratkan jumlah parpol dalam Pemilu 2009 yang terdiri dari 44 parpolnas dan parlok NAD.

Dengan memuncaknya kebohongan publik maka akan menimbulkan destrust dan apatisme masyarakat yang akan memuncak menjadi anarkisme – gara – gara sindhung riwut yang naga – naganya hanya menunggu waktu saja bila Pemerintah kalah berpacu untuk menegakkan keadilan – hukum serta menghilangkan kemiskinan dan kebodohan bangsa.

 

Tentang fenomena alam., kita seyogyanya tidaklah harus merasa takut, bukankah dalam awal tulisan ini TUHAN Berkehendak “agar kita kembali kepada – NYA” ? Yang terpenting bagaimana kita harus menyikapi semua ini ?. Salah satu watak dan ciri bangsa ini antara lain memiliki pedoman : “Memayu hayuning (barjaning) bawana” . Inilah mestinya yang harus dihidup – hidupkan kembali. Bagaimana kita harus menempatkan bumi – ibu pertiwi yang menyusui seluruh mahkluk hidup sehingga masyarakat Jawa   memberikan penghormatan dengan menyebutnya “Ibu Bumi(Ibu Pertiwi) dan Langit atau Angkasa sebagai “Bapa Kuasa” (Bapa Angkasa) atau keduanya menjadi simbol “tanah air”  yang dilambangkan pula dengan bendera “Merah Putih” yang juga merupakan simbul persatuan embrio antara benih dari Sang Bapak dengan  Sang Ibu (darah putih dengan darah merah). Juga di dalam diri setiap manusia dikarunia darah merah dan darah putih. Dan Merah Putihpun kini telah diketemukan berbentuk padi yang sedang dikembang biakkan di  Prambanan, Yogyakarta.

 

Bumi dan Langit adalah sama – sama mahkluk Tuhan Seru Sekalian Alam, maka sepantasnyalah kita hormati tidak diperlakukan semena – mena tanpa adab. Bumi adalah begitu tawaduk – rendah hati, yang mencukupi seluruh kebutuhan hidup kita dari pangan, sandang dan papan. Bumi yang kita kencingi – kita kotori dan kita jadikan peristirahatan terakhir, akan tetapi sadar atau tidak kita melupakan jasanya. Sedangkan Angkasa yang memberi kita hidup karena merupakan sumber O2, Oksigen yang kita hirup tiap detik. Maka tidak ada seorangpun yang bisa hidup dengan tanpa bernafas/menghirup udara selama satu jam saja. Maka tidaklah berlebihan leluhur menamakannya “Bapa Kuasa” (bukan Bapa Maha Kuasa). Itulah cerminan budi pekerti luhur dari kearifan budaya lokal sedangkan bangsa Barat hanya mengenal adanya “Father land” saja.

Jadi Lambang warna Bendera Merah Putih yang sejak Kerajaan Majapahit dengan “GULA KLAPANYA”  merupakan lambang kehidupan itu sendiri.  Dari sumber hidup dan yang menghidupi (tanah dan air), Unsur terciptanya/terjadinya umat manusia (sel darah merah dan darah putih dari  biyung (ibu) dan bapa (ayah), padi yang dimakanpun ada yang merah ada yang putih bahkan kini dalam satu butiran padi dengan kedua warna tersebut, juga dalam diri manusia sendiri terdapat darah merah  dan darah putih (Laukosit) serta dalam akhir hayatpun ada yang dikafani (kain putih) dan ada yang dikremasi – dibakar (merah).

Sedang unsur terjadinya manusia secara keseluruhan – integralistik disamping warna merah dan putih juga adanya unsur kuning dan hitam yang akhirnya menjadi hijau atau pancawarna. Yang kemudian dikenal adanya keblat empat lima pancer itu.  Bila dijabarkan menjadi demikian khomplek karena disamping arah mata angin,  penuh dengan lambang – lambang.

 

Maka barang siapa menafikannya tentulah secara spiritual termasuk orang yang tak beradab – mengingkari  asal – usul  dirinya. Maka ajaran kearifan budaya lokal tentang “Sangkan Paraning Dumadi” yang diimplementasikan ke dalam dua kunci yakni “ELING”  dan “Waspada”, adalah suatu  jalan untuk  selalu merasa  terhadiri oleh Kemaha Kuasaan Tuhan Seru Sekalian Alam. Dan doa orang – orang Jawa tempo dulu cukup singkat dengan kata “Permohonannya semua BERES” (every thing ‘ done properly).

 

C. HIKMAH SI – JUM – LUNGA & LAPINDO SERTA BERBAGAI BENCANA ALAM MAUPUN NON ALAM UNTUK TEGAKNYA NEGARA PROKLAMASI.

 

Bangsa ini hendaknya bersyukur atas karunia Tuhan Seru Sekalian dengan di anugerahi – NYA : Semangat dan jiwa pergerakan bangsa sejak Budi Utomo, Sumpah Pemuda, PANCASILA , Negara Proklamasi dan UUD 1945 serta Dekkrit Presiden 5 Juli 1959”. Karena hanya Indonesialah satu – satunya Negara yang merupakan “The right Self of determination” dan satu – satunya Negara di dunia yang mendasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa dengan PANCASILANYA.

Karena sehebat – hebatnya Jawaharlal Nehru, dia menjadi PM India berkat pemerintahan Inggris, betapa hebatnya Lee Kwan Yew, yang menjadikannya PM Singapura, adalah Inggris. Sungguhpun betapa jeleknya kita, bangsa Indonesia sendiri yang memilih Bung Karno – Bung Hatta sebagai Presiden R. I. Bukan diangkat oleh Ratu Wilhelmina atau oleh siapapun.

 

Tidakkah kita sadar bahwa Negara Proklamasi itu telah menjadi ketetapan Tuhan Yang Maha Esa ? Marilah kita renungkan bersama dengan hati jernih, niat suci dan menerima dengan ihklas semua karunia – NYA itu. Dimana untuk mrncari hikmahnya dan meningkatkan rasa syukur terhadap anugerah – NYA, maka telisik dengan cara nomerologis nampaknya dapat membantunya. Sungguhpun demikian sah – sah saja bagi yang berpendapat itu hasil orang kurang pekerjaan dan digothak – gathukake mathuk (dihubung – hubungkan nyambung) dan hanyalah secara kebetulan belaka. Namun inilah faktanya :

  • Secara geografis NKRI terletak pada 60 LU – 110 LS dan 960 BT – 1410 BT. Secara numorologis itu menyiratkan angka Proklamasi! 6 + 11 = 17. 141 – 96 = 45 dan 45 adalah 1/8 keliling bumi. Maka telah menyiratkan angka : 17. 8. 45.
  • Lebih jauh angka – angka tersebut, bila diolah secara numerologis akan mengandung pesan adanya berbagai kunci yakni : 17.8.1945 = 1 dan 1945 = juga 1. maka :
  1. 1.      Sebagai Kunci “Penghambaan kepada Sang Khaliq” : {[17 X 8 X 1} + [ 17 + 8 + 1]}  =  162 ref. QS : Al – An aam ayat 162 yang menyatakan : “Sesungguhnya shalatku, amal ibadahku, hidup dan matiku untuk Tuhan Seru Sekalian Alam”.
  2. 2.      Sebagai Kunci “Kerukunan Antar Umat Berketuhanan” : {17 X 8 X 1}  =  136 ref. QS : Al – Baqarah ayat 136 : “Kami hanya beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Iskhak, Yakub dan anak cucunya. Begitu pula kepada apa yang diturunkan kepada Musa, Isa dan kepada apa yang diturunkan kepada seluruh para nabi dari TUHANnya. Tidak kami beda – bedakan yang satu dengan yang lain antara mereka. Dan kami hanya berserah diri kepada – NYA”.

Maka amatlah tepat amanat Bung Karno saat mendeklarasikan Pancasila, 1 Juni 1945 : “Hendaknya Negara Indonesia ialah Negara yang tiap – tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya  dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber – Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada ‘egoisme – agama’. Dan hendaknya Negara Indonesia satu negara yang ber – Tuhan”.!

Memang dalam QS : Al – Imraan ayat 185 dinyatakan : “Barang siapa mencari agama lain selain Islam tidak akan diterima padanya dan di akherat nanti termasuk kaum yang merugi”. Seyogyanya diingat bahwa pengertian “Islam” berasal dari kata “asalama” (menyerah) dan kata “salima” (selamat). Islam berarti tunduk kepada Allah SWT dan berserah diri serta menyerahkan segala urusan kepada – NYA, yakni menegakkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya atas dasar prinsip “taat dan patuh”. Maka dilambangkan pada gerakan ta’biratul ikhram dalam gerakan shalat.

(Angkat tangan!).

  1. Sebagai Kunci “Memperoleh Kebahagiaan Hidup Yang Hakiki”, : Bulu sayap Burung garuda yang 17 itu dibuat bujur sangkar dan ditengahnya ditempatkan simbul Bintang maka = {[17 X 4] + 1}  =  69 ref QS : Al – Ankabuut ayat 69 : “Orang yang berjihat di pihak Kami maka akan Kami tunjukkan jalan – jalan Kami, jalan – jalan kebahagiaan. Sesungguhnya Allah beserta orang – orang yang berbuat baik”.

 

  1. Sebagai Pencarian hikmah atas ibadah Haji dengan Puasa Ramadhan :  “{17 X 17}  = 289 ternyata merupakan  rentang waktu antara peristiwa Arofah (Idul Adha) sampai dengan peristiwa Madinah (Idul Fitri). Apa makna berhaji dan berpuasa Ramadhan ? Inilah yang harus dikaji dan dihayatinya, agar mendapatkan esensi Haji yang ma’brur, bagai terlahirkan kembali setelah saum Ramadhan sehingga dapat mencapai kefitrian – yang suci! Semestinya mampu membentuk suatu kesalehan sosial, pahlawan – pahlawan kemanusiaan dan kesatuan – persatuan di Negeri yang Berpancasila, negeri yang Ber Ketuhanan Yang Maha Esa!.

Kemudiaan apa kaitannya dengan gempa dahsyat di DIJ dan Jateng.

  • Kejadian gempa hebat DIJ dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006   yang berkekuatan 5.9 SR yang terjadi pada jam 0557 koordinat  episentrum pada 8,007 0  lS dan 110,286 0BT ! (Kompas, 28 Mei 2007) Apa pula maknanya ? Ini hanya dapat dikaji dengan salah satunya dengan numerologis pula yakni sebagai berikut :
  1. 1.      Tanggal : 27052006 = 27 + 5 + 2 + 0 + 0 + 6  = 40 yang menyiratkan Sifat – Sifat Tuhan Yang Maha Esa dimana 20 merupakan sifat yang Wajib sedangkan 20 lainnya merupakan sifat yang Mustahil. Juga melambangkan jumlah huruf Jawa Hanacaraka dan Hanacaraka balik !
  2. 2.      Jam : 0557 = 5 + 5 + 7          =  17 (tanggal Proklamasi)
  3. 3.      Berkekuatan 5.9 SR = 5 X 9 =  45  (tahun Proklamasi).
  4. 8.007 dan 11.286 :
  • 8                        =    8  (bulan Proklamasi)

Juga lambang :  ‘8 (tahun Kebangkitan    Bangsa Indonesia/Nasional.)

  • 8 X 7 – 11          =  45  (tahun Proklamasi  lagi)
  • 286                     =  28   (tanggal dan tahun  Sumpah Pemuda). 28 = 10 Bulannya.

=    6   (Bulan lahirnya PANCASILA).

  • 45 – 28               =   27  (jumlah Propinsi saat   rezim Orba).
  • 28                       = 10 = 1
  • 28 + 6 – 1                        =   33  (jumlah Propinsi saat  Reformasi. 

Sebagai tambahan setelah alat pembertiahuan dini tentang adanya tsunami di NAD pada 4 Juni 2007, menggema yang membuat masyarakat kalang kabut menyelamatkan diri yang ternyata hingga kini tidak diketahui penyebabnya. Kepanikan juga melanda warga Manado, Sulawesi Utara, menyusul isu gempa dan tsunami hari Kamis 7 Juni 2007. Sejumlah orang tua melarang anak – anak mereka bersekolah, sementara pegawai negeri sipil enggan masuk kerja. Kepanikan juga melanda warga pesisir di Nusa Tenggara Timur dan Jawa Barat. Kabar soal gempa dan tsunami tersebut di dapat dari pemberitahuan televisi asing yang kemudian dilansir oleh koran – koran lokal. (Kompas, 7 Juni 2007, hal.23). Kompas menambahkan bahwa : kemarin gempa berkekuatan 3.2 SR terjadi di Jayapura, ibu kota Provinsi Papua, Rabo pukul 20.27WIT. Pusat gempa terletak di koordinat 2057’ Lintang Utara dan 140069’ Bujur Timur.

Apa makna dari angka tersebut bila ditinjau dari numerologis ? lagi – lagi pesan SIJUMLUNGA terulang kembali. Mari kita simak  dan renungkan bersama :

  • Jam                     :  20.27  = 20 Sifat Tuhan. Juga jumlah huruf Jawa. Sementara angka 27 dapat diolah : 2 X 7 = 14 = 5 dapat menyiratkan adanya lambang dari rukum Islam dan kearifan budaya lokal tentang  makna  keblat papat Lima Pancer, juga PANCASILA.
  • Koordinat           :   2 5 7    =  {(2  X 5) + 7}   =  17 (tanggal Proklamasi). Jumlah roka’at dalam sholat wajib. Panjang garis Lintang Utara – Selatan.

14069                 =  {14 – 6}  =  8 (bulan Proklamasi).

=  {(6 X 9) – 9} = 54 – 9 = 45 (tahun proklamasi).

{(6 X 9) + (9 – 4)} = 59 (Tahun Dekrit Presiden sedangkan tangggal dan bulan udah tersirat di atas  5 & 7?

{(1 + 4) X 6 + 9 – 9 + ( 4 -1)}  =  33 (jumlah Propinsi).

                            =    6 (bulan lahirnya    PANCASILA)

                            =    9 (merupakan jumlah     lubang manusia)

 257=  { 2 X 57 } =  114 (jumlah    Surat pada  kitab Al –    Qor’an).

                                    =  {(72) – ( 2 + 5 + 7) – (5)}  = 30 (jumlah Juz    Al –

                                   Qor’an).

       { ( 5 X 7) – 7 }    =   28 (tanggal dan tahun Sumpah Pemuda).

       Sedangkan 28 = 10 bulan Sumpah Pemuda.

                               

Masihkah kita menafikan anugerah yang luar biasa tersebut dan layakkah kita tidak mensyukurinya ? Rasa syukur bukanlah hanya cukup diucapkan melainkan harus tercermin dalam sikap dan perbuatan untuk tidak melupakan sejarah bahwa bangsa ini tidak tiba – tiba ada melainkan dengan perjuangan ektra keras yang terus menerus ribuan tahun lamanya hanya secara nasional dimulai sejak berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 maka wajib hukumnya bagi anak bangsa guna mempertahankan dan menegakkan Negara Proklamasi dengan menjunjung tinggi “Sumpah Pemuda”, dimana ROH KEBANGSAAN itu lahir senantiasa berlaku hidup dengan bernuranikan PANCASILA dengan melaksanakan amanat UUD 1945 sebagaimana Dekrit Presiden Soekarno. Sikap “hubbul waton minal iman” (cinta negara adalah sebagian dari iman), harus dijiwai oleh seluruh warga bangsa, bukannya sebaliknya.

 

Kaum spiritualis berharap akan bijak manakala kita mau beremphati andai saja kita adalah para pejuang dan pahlawan yang telah gugur, bahagiakah kita melihat anak cucu tidak memelihara warisan dan melaksanakan amanatnya ?  Tenang dan relakah ruh kita di alam kuburnya ? Itulah ibaratnya saat ini bagi anak bangsa yang tidak pernah berjuang namun ingin merubah bangunan Negara Proklamasi sesuai dengan keinginan mereka dengan menjadikan Amerika Serikat sebagai kiblat dan atau menjadikan negara dan bangsa ini Arab sentris. Namun bila itu yang terjadi di tengah masyarakat yang hetorogen, yang pluralistik, yang berbhinneka, yang multi kultural  ini.  Maka hepotesis  Ibnu Khaldum (1332 – 1406M) yang menyatakan : “Bahwa bangsa Pecundang gemar meniru bangsa yang lebih kuat, baik dalam slogan, cara berpakaian, cara beragama, gaya hidup serta adat istiadat” mendekati kebenarannya !.

 

Hikmah berbagai peristiwa alam dan non alam seiring dengan berbagai peringatan hari besar Kristiani yang memiliki pesan moral atas cinta kasih – keselamatan – lahir – mati dan kebangkitan. Disamping itu kita diingatkan adanya nubuat pada:

  • Yesaya 5 : 25  “Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap Umat – NYA, diacungkannya Tangan – NYA terhadap mereka dan dipukulnya mereka; gunung – gunung akan gemetar dan mayat – mayat mereka akan seperti kotoran di tengah jalan. Sekalipun semuanya ini terjadi murka – NYA belum surut, dan Tangan – NYA masih teracung”.
  • Yesaya 29 : 14 “Sebab itu, sesungguhnya, AKU akan melakukan pula hal – hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang – orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang – orangnya yang arif akan bersembunyi”.
  • Yesaya 29 : 20 “Sebab orang yang gagah sombong akan berakhir dan orang mencemooh akan habis, dan semua orang yang berniat jahat akan dilenyapkan”.
  • Mazmur 53 : 4 “Mereka semua telah menyimpang, sekaliannya telah bejat, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak”.
  • Mazmur 53 : 5 “Tidak sadarkah orang – orang yang melakukan kejahatan, (mahkluk – mahkluk NYA, SDA ? dll.) seperti memakan roti, dan yang memakan habis umat – KU yang tidak berseru kepada Allah”.

 

Nah apakah berbagai semiobuwana loka itu kita biarkan saja ? atau kita anggap bagai angin lalu? Dan  kita teta bangga dengan dosa – dosa kita ?

 

Akhirnya nyumanggaaken para kadang sutresna saha para maos, maafkan manakala ada kata – kata yang tak berkenan dan salah di mata panjengan sami. Dharma eva hota hanta!

 

27 Mei 2011

Kawula

Youth Empowering Institution/Yayasan Lembaga Budaya Nusantara/Keluarga Besar Perasudaraan Blokosuto

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 28 Mei 2011 in filosofi

 

Tag: , , , ,

Manunggaling Kawulo Gusti…

Ilmu kaweruh kawisesan ….dan serta ilmu tentang kesadaran..bahwa yang Mulia gusti Allah adalah yang sebenar-benarnya menyatu dalam diri dan bagaimana kita mensifatinya bersama arti dunia…Benarlah dalam diri kita ada asma Allah…dan bagaimana sifat-sifat Allah itu menyatu bersama kita dengan cara bagaimana kita menjadi suatu yang bajik dan bijak menyamai Allah atau hyang Widhi itu sendiri…

Kita tiada bisa mengikuti sifat Tuhan gusti Allah tidak terbakar api, atau sangat maha besar…namun sebenar-benarnya kita bisa menciptakan diri kita menjadi manusia yang maha sabar,maha baik,maha adil,maha kasih, dan maha tahu mungkin…karena didalam sana kita bisa bersifat maha bijak dan maha bajik yang merupakan arti dari ketahuan itu sendiri akan berbagai hal tentang hidup itu sendiri kan…

Hal itu yang diharapkan menjadi suatu tahapan dalam Kawulo Manunggaling Gusti…dimana segala sifat baik Tuhan menyatu dan meresap yang pada akhirnya hati menjadi tahu dan menyadarkan diri sebagai Insan yang berKeTuhanan itu sendiri…seperti arti kata Mahrifat dan Moksa itu sendiri….

mengenal sifat Tuhan….

adalah hal pertama yang perlu dijaga dan diketahui oleh kita bagi yang ingin merasakan bagaimana manunggal dengan Gusti ALlah itu sendiri…

Mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari..

Ini yang berat..karena pada dasarnya sekarang adalah jaman dimana sangat banyak ketidakadilan, dan banyak kebohongan dalam hidup itu sendiri….sangat berat tentunya untuk bisa sejalan apa yang dimaui oleh Gusti untuk hidup di masa sekarang…dan memang ini adalah perjalanan yang sangat perlu perjuangan lebih dalam menjalaninya…

Sajak dan Prosa mengAku adalah awal…

Membuat sajak dan prosa tentang AKu dan mengAku setelah melaksanakan kegiatan sehari-hari penuh perjuangan adalah satu tahapan bagaiamna adalah cara untuk MemujaNya…MemujaNYa dalam setiap tulisan dan mengungkapkannya ke Khalayak adalah suatu siraman rohani dan dapat menjadi takdir tersendiri yang sangat nikmat untuk dijalani oleh kita nantinya…

selamatlah jalanmu…

DImana keseharian dalam memujaMu…

Hanya tersiarkan hakikat-hakikat kesempurnaan…

sempurna tanpa cela…

Menuju ketersiaran dalam jiwa-jiwa yang menoleh kesadaran menuju puncakNya…

sang Jihwani yang mengatakan bahwa kalian dan AKU adalah sempurna pada akhirnya….

maka bergembiralah, bersyiarlah, menyatulah…pada sang Jagat Antah Karana…

namun ingatlah tetap bahwa KAU adalah HAMBA-NYA….

salam…gwar

 
 

Tag: ,

antara aliran syeh siti jenar, komunis, dan agnotisme..tinjauan terhadap konsep..

dalam pertautannya..maka dapat dijelaskan bagaimana posisi aku adalah Tuhan dari sisi syeh siti jenar…

dapat dijelaskan bahwa syeh siti jenar memiliki jiwa murni dan penuh kebijaksanaan dalam diri pribadinya…jika suatu rasa itu ada, maka sangguplah jika ia dapat mengatakan Sang Aku dalam dirinya…itu berarti bahwa Tuhan sudah menyatu dalam setiap raga dirinya…

Sang Aku itu adalah dimana setiap rasa dalam dirinya bersifat KeTuhanan..dan bagaimana Tuhan itu memiliki makna yang ranum untuk ditelaah kembali…

Sang Aku dan Aku aku yang lainnya..adalah suatu kata dimana diri adalah Tuhan individu yang nyatakan bahwa wess onok Tuhan dalam hatiku…yang nyatakan bahwa terdapat setiap kebenaran dalam diriku untuk berbuat berdasarkan kebenaran Hati yang murni, yang berisikan ajaran-ajaran tentang KeTuhanan…dan menerapkannya dengan selalu mencari arti dari keberadaan Beliau tersebut, di luar..sebagai Sang Aku yang sujati…

di manapun ada Beliau yang terpancar dari sikap individu perseorangan, yang memiliki sifat sifat KeTuhanan dalam dirinya…jadi Sang Aku dalam diri setiap manusia…

jika dihubungkan dengan akhir ajaran komunisme, maka utopia adalah suatu keadaan dimana kesejahteraan sosial telah tercapai serta keadilan sosial…hal itu jika ditelaah maka setiap orang harus paling tidaklah memiliki sifat atau sikap KeTuhanan dalam dirinya…karena dengan hal itu maka tiada orang miskin dan keadilan sosial tercapai baik rohani dan jasmani….

dan agnotisme…adalah sikap atau sifat mencari pembenaran bahwa ia adalah pencari jalan KeTuhanan…

http://www.religioustolerance.org/agnostic.htm

bahwa ia adalah pencari kenapa Ia tu exist ataupun tidak dan mengapakah kita masih sengsara…

dan ini jawaban dari semua jawaban bahwa kita sengsara karena tiadaNya Sang Aku dalam diri kita…

benarkah??

diambil dari blogs
 
3 Komentar

Posted by pada 8 Juli 2009 in filosofi

 

Tag: , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.