RSS

Arsip Tag: panca maha butha

Kembali Menuju “Aku”..sebuah perjalanan(kah)?

Buddhi

Sangkan Paraning Dumadi

Perjalanan menuju kata “Aku”. Terkadang bisa dianggap sebagai sesuatu yang abstrak,seabstrak jiwa yang melayang-layang mencari tempat akhirnya. Seperti sebuah pemahaman atau ilmu “Sangkan Paraning Dumadi”. Bagaimana mengenal diri,bagaimana mengenal “Aku” dan kembali menuju pulang. Ataukah menemukan jalan itu dulu, lalu berjalan menuju rumahNya.

Hanya sebuah filosofi saja, namun seperti melihat pemahaman psikologi barat dari Freud,bahwa manusia memiliki ID,memiliki Ego,memiliki SUper ego. Namun jika ditelaah maka itu adalah jalan keluar dari rumah itu sendiri. Mengapa?Apakah ID sebagai sesuatu “AKU”, sebagai kembali ke fitrahnya sebagai manusia?(islam), atau mungkin sebagai awal keluar dari sarang sendiri yang sebenarnya nyaman dan damai menuju dunia dan kemelekatannya.

ID adalah seperti freud itu dikatakan sebagai nafsu kebinatangan, nafsu atau insting yang membuat manusia memiliki sifat kebinatangan. Tidak semua buruk semisalnya seperti insting untuk membela diri, insting untuk tetap hidup, serta mungkin insting untuk membela yang ia miliki (anak, keluarga, rumah,dsb). Dan dengan itu lalu manusa memiliki EGO, ego yang menjadikan Ia itu memiliki kepribadian, keinginan, serta ambisi termasuk sifat-sifatnya bagaimana memandang dunia atau lingkungan yaitu terbentuk dari sekumpulan ego dan membentuk super ego. Manusia didesak dan menyediakan dirinya beradaptasi dengan super ego tersebut. Dapat dikatakan manusia menjadi bagian dunia dan bahkan dipaksakan untuk menerima dunia, lalu apakah itu hendaknya manusia memanusiakan dirinya?

Lalu memetik dari wraspatti tattwa yang telah terangkum di blog ini, maka bahwa manusia itu terciptakan dari panca maha butha dan dari dalam adalah memiliki citta (intuisi), memiliki manas, buddhi, ahamkara (ego), lalu panca tan matra, panca buddhindriya, serta kemudian panca karmendriya. dua yang terakhir adalah termasuk indrea manusia untuk merasakan dan mengecap dunia. Ke dalam lagi adalah ahamkara atau ego serta buddhi. dimana ahamkara adalah sifat ke “Aku”an manusia identitas manusia, yang mencerminkan dia bahwa ia manusia, buddhi sebagai akal untuk mengenal buruk dan baik. serta manas untuk berpikir lalu citta adalah cikal bakal atau mungkin alam bawah sadar manusia, alam yang terhubung dengan kekuatan semesta, bagian manusia yang memiliki memori-memori tersendiri akan fitrah akan bagaimana sejogjanya manusia sebagai mahluk tuhan.

Manusia dengan seringnya menyangkal kebenaran dari semesta, dari dunia dari apa itu keterjadian dunia. Sehingga menemukan sebuah jalan yang “benar” menjadi sangat bias dan apakah itu benar atau salah akan menjadi memori pada cittanya. Citta dapat pula dikatakan sebagai simbolisme atma yang terhubung dengan Para atma di semesta ini. Bahkan merupakan suatu ananda (sebuah kebahagiaan)sebuah jalan  sebuah ananda marga itu sendiri.Pertanyaannya mengapa bisa bahagia?Padahal dunia pun (bukan semesta) memberikan kebahagiaan tersendiri, memberikan kenikmatan, dan kepuasan. Namun apakah itu jalan pulang????iya memang, jika kemelekatan itu pada (maya) selalu mengada. Begitu susah terkadang dalam melepaskan kemelekatan, melepaskan keinginan, melepaskan ambisi, dan nafsu. Namun manusia dikatakan hidup karena ada itu semua. Kematian manusia telah menjadi ada jika kehampaan dan ketidakmelekatan itu terjadi. Apakah itu “ananda”?

Kemelekatan akan selalu ada dan menjadikan manusia itu menjejak di dunia. Namun ketidakmelekatan bisa membawa kepada sebuah ananda pada pemahaman baru akan penjejakan akan dunia itu sendiri.Maksudnya adalah menjadi manusia yang tidak melekat namun menjadi lepas akan itu sendiri. Kemelekatan akan citta bisa menjadi jawaban tersendiri akan penguasaan ahamkara, manas, dan meningkatkan buddhi indriya. Dan yang terakhir adalah melepas itu semua.

Yaps melepas itu semua pada bahwa ketidak “aku”an itu sendiri. Ketidaktahuan akan siapa “aku” itu. Menuju suatu kehampaan dan ketidakhampaan itu sendiri. Dimana buddhi berproses, buddhi berevolusi menjadi jenjang-jenjang yang tidak terbayangkan dan ananda itulah yang membuat segalanya sempurna. Kembali ke ciita, kembali ke asal, dan pada dasarnya “Aku” bukan siapa-siapa.

gwar mei 2013

sedikit bacaan:

wraspati tattwa

Sigmund freud

“Bukan siapa-siapa” A.Brahm

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2013 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.