RSS

Arsip Tag: pemahaman pancasila

Aktualitas Sila Pertama Pancasila..(membungkam intoleransi)..

Sahadja pancasila jaya negara samastha..amin

20131028-234625.jpg

Seperti diketahui bahwa Pancasila adalah bukan sekedar ideologi tanpa makna..Tapi merupakan kendaraan atau wahana untuk mencapai suatu kedaulatan tertinggi berdasarkan moralitas harkat dan martabat manusia sebagai mahluk Tuhan…

Tuhan menciptakan menusia dengan keniscayaan serta keadaan yang pelangi,yang berbeda yang bermacam – macam warna apa pun itu..Lalu bagaiman itu berjalan dengan seimbang damai dan berkelanjutan sebagai dasar pemahaman spiritualitas yang kuasa, maka itu perlu menjadi sugestifitas kelayakan hidup sebagai manusia yang bertuhan baik secara etika secara filsafati dan keluhuran berkehidupan.

Maka sebuah keberharusan namun menuju kebijaksanaan hati bahwa privasi hubungan antara tuhan dan umatnya adalah keniscayaan dan daulat dari tuhan serta semesta juga. Hal itu sudah terdapat secara sahih fakta dan diamanatkan oleh pancasila sendiri, melalui butir-butirnya. Ini adalah sebuah keharusan ketika malah penjajahan dari ideologi itu sprti sebuah garis kehidupan yang suram pula dan menutup mata hati batin para pemegang jabatan pemerintahan. DOsa-dosa itu masih diingat dan tak akan pernah lenyap. Karena ketika itu tidak menjadi suatu bahasan filsafati dan prilaku yg baik pancasilais, maka mereka adalah sebenarnya benalu penjajah kekuatan bangsa indonesia sendiri..

Untuk penjajah yang menjajah sila pertama adalah ini:

http://linggahindusblog.wordpress.com/2012/09/17/edisi-terjajah-episode-pertama-_-i-m/

 

1.KETUHANAN YANG MAHA ESA

  • Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kepercayaan atas Pancasila dan Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah mutlak. Namun taqwa artinya adalah disesuaikan dengan apa yang dipercayai. Taqwa atas etika atas ritualitas adalah berbeda. Karena Sakralitas dan profanitas dari setiap agama berbeda.DI satu sisi sajadah adalah sakral, di satu sisi dupa adalah baik dibutuhkan , namun ketika sakralitas itu direndahkan dengan mencemooh apa pun sesuai pemahaman dari kitab2, maka kitab adalah sebuah sakarilats di tempat agama A tetapi tidak di agama B. Maka jangan ketika itu berbeda membuat keyakinan menjadi berkurang dan malah lenyap atau menuju ketidak beradaban. Ketika seni dan budaya adalah soal rasa, maka tidak ada lebih bermakna bagi rasa dari seni budaya menuju kepada rasa yang cinta akan tuhan itu sendiri. Bukankah rasa itu lahir dari cinta atas sifat kedamaian akan Tuhan? itu aktualitas makna kebersamaandan memperbesar bangsa secara sekaligus.

  • Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Butir ini adalah yang terpenting, kepercayaan dan taqwa itu sudah seharusnya, namun didasari oleh kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kedua). Maka ketika ini adalah sebuah hambatan akan keberadaban, maka biadab adalah aktualitas manusia penjajah. Mereka tutup mata akan itu, ketika seni sebagai keberadaban dan adil akan kebebasan beritual, tanpa merendahkan sakralitas agama lainnya, maka DURkheim pun mengiyakan surga damai itu sendiri.

  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama anatra pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Maka setelah bisa menjalankan itu, dilanjutkan dengan sikap-sikap toleransi antar pemeluk dan penganut kepercayaan yang berbeda2 tersebut hingga terjalin suatu kerukunan yang menjadi modal untuk membangun sebuah negeri indah yang diimpikan. Pelangi di Indonesia lebih baik dari pada Merah saja atau kuning saja yang bisa bikin eneg serta mual berkepanjangan. Sangat mudah, ketika memberi selamat memberi kebebasan sebagai saudara sebangsa setanah air dengan ilmu filsafati, haqiqat, cinta kasih tuhan, ilmu syariat dan minggu kebaktian dengan waisak, atau tarekat serta japa, dan pula moksah mahrifat, maka ketika itu berkembang dengan sakralitas yg dijaga, apakah manusia indonesia nusantara akan terjadi kekerasan agama??

  • Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
    menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Dan pada suatu kepercayaan serta keyakinan, maka hubungan itu termasuk suatu kebebasan tersendiri dan dilindungi oleh negara. Maka aktualisasi itu adalah privasi, dan apakah itu menjadi kenyataan, maka kebijaksaaan dari yg melakukan ritualitas yg beretika berfilsafati tinggi serta menghormati adalah sebuah sikap mulia yg dibalikkan dengan rasa hormat yg lebih tinggi..

  • Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing masing

Yang ini no need to explain. Fakta yang ada, bahwa kebebasan menjalankan ibadah tidak digubris oleh beberapa pihak. Sekehendaknya diliat, ditelaah, dibijaksanai. Sebuah buku yang berbeda mungkin menambah pengetahuan bagi yang sudah baca buku yang berbeda. Atau buku dengan sampul sama, mungkin pula ada perbedaan. Tapi manusia itu berbeda kodratnya kan.

  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Sikap fundamentalis serta menghanguskan atau menganggap rendah yang lainnya adalah bagian yg dikembalikan dengan sikap yang sama pada akhrinya..Ketika aktualisasi itu sngatlah mudah, memberi selamat saat hari raya, maka mengurangi ego keagamisan yg bengis, menjadi sikap hormat menghormati serta meniadakan kebodohan yang membelenggu dari kualitas manusia yang bertuhan.. Tidak ada tuhan pada manusia yang mengmban misi penghancuran. Secara logis dan mudah adalah, manusia akan mendapat apa yang dia tanam, tidak ada menanam nanas tumbuh rambutan, tidak ada yang menanam benci tumbuh kedamaian kecintaan kesukaan, tidak ada yg menanam dukha lalu mendapatkan cita suka ria, itu tidak logis dalam agama apa pun..Ketika ada yg menghancurkan kedamaian, maka ada beberapa kesimpulan.

1. Apakah mereka menghabiskan WAKTU untuk mmpelajari kedalaman keramahan kedamaian kitab sendiri, atau cuma belajar menebar kebencian, dan prasangka, lalu berharap surga….itu parah dan gila yang telah medogmatis mereka, ajaran agama tidak cukup dipejari dengan satu kali kehidupan dan lalu dengan mudah mendapat surga serta meninggalkan jejak kehancuran di yang ditinggalkan…itu bukan agama…itu setan…

2. Lalu evolusi keagamaan, bukan saja dari ritualitas, tapi dari etika moralitas akhlak (islam) susila (hindu) buddhi(kjawen) manusia nusantara juga, dan ritualitas – syariat (islam), yadnya (hindu) kebaktian (nasrani), serta dari filsafati itu sndiri tattwa (hindu), haqiqat( islam), dan menuju kebersatuan illah dan manusia ..mahrifat(islam) moksartham (hindu) manunggal kawula gusti (kjawen)..Itu adalah evolusi yg saya rasa universal dan spirit..Itu tidak hanya menjadi senjata akan mentalitas moral yg tinggi dan melihat setiap manusia sebagai saudara sedarah seperjuangan..

3. Kemudian dari pihak pemerintah yang cenderung mnjadikan pembiaran karena apa??apa karena takut, atau karena kedangkalan dari pemahaman mereka tentang moral itu sendiri.. FIlsafat moral adalah harus diterapkan dimengerti dari para pemimin jabatan.. Ketika agama sebagai moralitas tertinggi, tentunya adalah kebobrokan mental dan evolusi yang rendah atas pemahaman spirituaitas mereka.. Dan sangat terbukti dari kasus2 korup dari para petinggi agama.. Itu memalukan bangsa, memalukan negara memalukan umat, dan memalukanrakyat dan Tuhan itu sendiri.. Maka Keadilan tuhan bisa jadi mnjadi keadilan rakyat dan bahkan bisa dipaksakan.. Bukankah revolusi sudah sering dan pernah terjadi??namun mental yang direvolusi dengan cermin serta kontemplasi akan membawa kesadaran serta keniscayaan.. TIADA ADA YANG BISA MELAWAN KETETAPAN DAN KEADILAN TUHAN ESA

 

DAn Itu adalah kemutlakan serta keniscayaan indah damai di masa depan, Aktualisasi yang paling hakiki adalah menerapkan hukum pancasila sebagai media kontemplasi dan bercermin UNTUK MENCARI KEBENARAN BERKEBANGSAAN. Lalu ketika itu telah dilaksanakan, maka KETETAPAN TUHAN LAINNYA adalah disesuaikan dengan agama dan keyakinan masing-masing..TUHAN TIDAK PERNAH TIDUR, DAN TUHAN PASTI ADALAH KEADILAN..

Maka selayaknya kedamaian itu hadri, dari “DIRI” yang laksana Illah, dan kemudian menuju KETERWUJUDAN Lingkungan ILLAH di keluarga, masyarakat, dan Bangsa bernegara..

 

SALAM

TAPI “AKU” TAK PERNAH MATI

TAK AKAN BERHENTI

 

“Kami tidak TAKUT”..

gwar juni 2014

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Juni 2014 in filosofi, pancasila

 

Tag: , , , , , , , ,

Sebuah Kebersahajaan Hidup, Sekelumit Kemerdekaan sila ke-5..

images

Setelah dalam kurun waktu terjajah, kurun situasi yang tidak mengerti telah dijajah, dan apakah suatu “kesadaran” memerdekakan diri ada? atau bahkan memiliki kesiapan memerdekakan alam sekitarnya minimal, karena bukan pemerintah yang mengurusi kita sampai saat ini.  Pemerintah sibuk memberikan dirinya makan, yang padahal sudah kenyang, yang padahal sudah memiliki kendaraan mewah yang tak hanya satu. Seandainya itu diberikan ke perut yang memerlukan, toh tidak terjadi kesenjangan. Kesenjangan yang akibat pola hidup, pola pikir dan pola iman yang katanya sudah menyuci, tapi secara prilaku dan kata-kata sungguh sudah dekat. Dekat dengan rahwana, keraksasan, dan tanah mereka sudah sama2 banyak. Banyak di dunia, banyak di akhirat, tapi masak akhirat di surga. Iya betul kah(n)??(!!)

Soekarno, Harto, Habibie, Gusdur, Mega, SBY, dan yang selanjutnya, sebenarnya memiliki banyak kelebihan atau pula kelemahan. Soekarno sebagai penegak atau proklamator membebaskan dari penjajahan fisik, Soeharto memberikan kenyamanan stabilitas dan bertindak sebagai pemberi contoh :”Ini low namanya sejahtera”. Habibie yg menunjukkan “Ini low orang Indonesia bisa buat pesawat”. Gusdur yang pluralis, bahwa siapa pun layak dihargai. Mega yg penyabar (Hrusnya presiden tapi dimundurkan) yang membentuk KPK bahwa “Koruptor itu kayak babi”. Dan SBY sebagai pembuka “pintu” dengan kebebasannya, bahwa rakyat sekarang tau dan memiliki kesadaran “Begini lo baiknya pemerintah”. Terlepas dari para penya(u)mpah monas dan gorok leher, bahwa kita telah berada di tangga terakhir sebelum pintu taman firdaus utopia (sebagai tujuan akhir komunisme) menjadi nyata di dunia. Moralitas selain dari agama, logika, serta kebermanfaatan, pada dasarnya menjadi bagian penting akan keterciptaan atau kenyataan bahwa butir2 pancasila itu menjadi semakin mampu dilaksanakan…

Pemahaman atau perspektif apa yang tidak masuk di ideologi ini, liberalis masuk dengan batasan bahwa jangan apatis terhadao lingkungan sendiri. Agamis masuk dengan batasan bahwa pelangi itu indah dan di taman bunga firdaus tidak ada yang hanya bunga berwarna putih atau merah atau hanya biru saja. Komunis atau Sosialis yang memberikan persepsi perjuangan tanpa kelas, adalah bisa dilaksanakan dengan artian persepsi tanpa kelas tidak mungkin bisa diterapkan. Namun dengan agamis yang bermoral dengan tidak apatis akan sesamanya yang tidak mementingkan kelas (SARA) bahkan adalah sebagai tujuan akhir dari komunisme itu sendiri. Nasionalis humanis, adlah pejuang yang memberikan kontrol batasan tersendiri pada wadah ideologi, bahwa agamis agar bermanfaat tidak mementingkan kelas2 (lebih spiritualis), serta beradab untuk memajukan diri bahwa kita memang seorang manusia (humanis), dan tidak lupa pada pejuang ekologis yang berniat memberikan alam tempat bernafas dan mengurangi free will( penggunaan alam serampangan) dibatasi. Bahwa tanah air, pertiwi, laut udara tanah keamanan kenyamanan kebahagiaan kesejahteraan ada dan berhak kita mendapatkannya. Apakah kita mampu memberikan ruang untuk hak itu??

Ini secarik tujuan nusantara

5.    SILA KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA

Keadilan sosial, sebuah keadilan yang mampu memberikan pembebasan bagi yang tidak bebas, memberikan kebebasan bagi privasi, memberikan kontrol bagi yang menginjak2, secara massif dan keseluruhan holistik megamankan, menyamankan, hak2 pribadi yang menjadi kenikmatan kedamaian kesejahteraan seluruhnya. Dasar dari itu adalah menelisik penjajahan yang ada di sila2 sebelumnya dan berjuang untuk memperlihatkan jati diri, harga diri, kecintaan diri sebagai identitas bangsa indonesia, bangsa nusantara…..

Butir2 yang ada

 1.    Mengembangkan perbuatan luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotong royongan

 2.    Mengembangkan sikap adil terhadap sesama

Gotong royong, kekeluargaan sebagai rasa bahwa kepedulian sosial itu ada. Tidak mungkin tidak dikatakan busuk, jika rumah sendiri paling besar dengan mobil mewah berderet sembilan, lalu jelas sudah tidak mau turun untuk sekedar gotong royong membersihan sampah di hari minggu dengan membawa sapu. Apa kah karena malu atau memang tahu diri, kalau diri hanya mengambil hak orang lain (baca : babi korup)..Itu saja sudah berarti bukan sikap adil, apalagi notabene para lawyer2 tangguh yang dengan mudahnya membenarkan membalikkan yang salah jadi benar. Sampai kapan ini terjadi, ini terjadi tergantung dari seberapa hati rakyat memiliki ruang kosong untuk sabar. Ruang kosong itu apakah sudah penuh atau malah sudah tidak cukup. Dan pada saat ini, jangan salahkan bila kembali kudeta atau revolusi dari RAKYAT bukan dari lainnya menjadi kenyataan cepat atau lambat. Itu sosialis dan revolusi.

 3.    Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban

 4.    Menghormati hak orang lain

Keseimbangan hak dan kewajiban, kemalasan bukan kewajiban menuntut hak saja. Kewajiban adalahpada saat lupa akan hal yang wajib itu telah dilakukan. Artinya karmany eva dikharaste ma phlasu kadacana..yaitu kerja keras tanpa mengharap hasil, krana hasil datang dari Tuhan.

Itu bersambung ke hak orang lain, ketika orang pemalas mengungkapkan haknya secara memaksa, pada saat itu hak orang lain terambil.Dan keberhakan yang telah melakukan  kewajiban terkadang menjadi suatu kepasrhan,  tiada keinginan untuk membela diri. Contoh 10 mobil mewah yg bisa dijual itu mampu memberikan makan setahun orang2 yg berhak atau memerlukan.

5.    Suka mem berikan pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri

Ini yang saya pribadi suka, dengan bantuan langsung yang bertaruh nyawa, dasarnya akan tidak memberi pelajaran berarti. Permasalahan lain adalah pajak dan pilihan dari kita untuk mereka (baca; babi korup) Jelas kita berhak untuk lebih, bukan hanya bantuan langsung, kecuali terjadi bencana alam yang kita bagi yng mampu pun tanpa disuruh pemerintah, mau melakukannya.

6.    Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain

7.    Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah

8.    Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum

Hak milik, sebagai misal backing, kedudukan, kekuasaan bisa jadi adalah dasar untuk memeras. Kita sebagai pemilih mereka, sebagai yang memberikan pajak tanpa target yang pas hanya menambah kebabian mereka.

Ketika hedonisme dan aptisme berlangsung dan terjadi, bukan saja berarti manusia atau rakyat hidup akan mendapat contoh yang baik. Tetapi contoh yang sangat menjerumuskan, rakyat akan berpikir ia mencari kekayaan dengan kerja keras hanya untuk menandingi gaya hidup perlente yang membusukkan, harga diri yang dilihat dari apa di punyai hanya akan membawa ke keduniawian semu. Boros untuk diri akan mengurangi kesejahteraan, bahkan boros tapi uang kita, akan cocok disediakan tali, parang, di wilayah monas.

 9.    Suka bekerja keras

 10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama

 11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan keadilan sosial

Ini adalah tipe2 keberhasilan manusia nusantara (baca : bangsa) yang berbudaya, bersahaja dan berciri bijaksana. Mampu bekerja keras, menghargai karya yng bermanfaat (teringat : jarak yg mampu dimanfaatkan sbagai bahan bakar, pesawat yg bisa dibangun, mobil listrik, dll). Dan manusia indonesia yang paling berharga adlaha manusia yang peduli akan sesamanya.

 

Edisi terjajah lain…

http://linggahindusblog.wordpress.com/2014/01/05/edisi-terjajah-episode-keempat-_-mlawan/

http://linggahindusblog.wordpress.com/2013/10/28/edisi-terjajah-episode-ketiga-_-i-m-lawan/

http://linggahindusblog.wordpress.com/2013/02/23/edisi-terjajah-episode-kedua-_-m-lawann/

http://linggahindusblog.wordpress.com/2012/09/17/edisi-terjajah-episode-pertama-_-i-m/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Februari 2014 in budaya, ekonomi, pancasila

 

Tag: , , , , , , , , ,

Edisi Terjajah Episode Kedua (-_-!! (m)..LAwann!!!

LAWAN!!!!!!!!!!

LAWAN………!!!!!!!!

LAWAN   !!!!!!

Setelah menapaki konteks edisi terjajah pertama, maka hendaknyalah bahwa kita memahami bagaimana ketidaktahuan kita akan keterjajahan bangsa itu sendiri. Seperti telah diketahui dalam dunia ide, ide yang ideal sebagai suatu karakteristik dan identitas dari Bangsa Indonesia (nusantara) itu sendiri, maka sampailah kita ke hadapan kontradiksi yang jelas terpampang pada suatu ideologi yang terpampang dalam Hati, suksma, nurani kita sendiri.

Sebuah bangsa yang beradab dan bukan suatu bangsa barbar yang mengagungkan sisi kemanusiaan itu sendiri yang seharusnya sebagai suatu super ego dari khalayak bangsa Nusantara ini. Di mana super ego itu seperti digulung atau disamarkan oleh dogmatisme yang putus asa, suatu bahasan untoleransi terhadap keagungan dari pelangi bhineka itu sendiri. Berbhineka namun hanya satu, berbhineka yang berwarna dan merupakan kekuatan bangsa, kekuatan negara kesatuan republik Indonesia (nusantara) ini. Yaps pancasila sila kedua yang perlu ditelaah dipahami serta diperjuangkan menuju suatu kelepaslandasan menjadi “Garuda Asia”.

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

  • Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  • Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

Dilihat di atas bahwa, manusia yang bernusantara, berpancasila hendaknya memperlakukan manusia memiliki harkat dan martabat sebagai mahluk BerTuhan. Artinya secara mudah adalah bahwa kita, kami, mereka, semua berhak untuk hidup di bumi nusantara ini. Lalu yang terjadi adalah bahwa dengan mudahnya manusia-manusia yang berperilaku anjing dan hanya pantas dikatakan sebagai bukan manusia (baca: asu) membunuh, menyiksa, menghancurkan hak asasi bagi kami, mereka, kita, semua, dan bahkan sampai menyingkirkan filsafat ahimsa atau menuju kekerasan itu sendiri dan bahkan sampai menghilangkan nyawa. Apa itu suatu sifat manusia yang memiliki akal, budi, dan sifat hati sebagai manusia. Itu adalah keterjajahan kita karena nyawa dianggap sebagai suatu barang yang biasa. Yang padahal mereka tiada mampu untuk mengembalikannya atau menjadikan nyawa itu menjadi manusia seperti tuhan yang kita sama2 sembah. Lalu bagaimana kematian itu terjadi pada bom bali, di Madura, Ahmadyah, gereja2 poso, dsb. Sangat berbeda mungkin pada tsunami, gempa, dan yang lainnya. Dalam artian di atas adalah “Mengakui” artinya menghormati segala keberbedaan sebagai suatu identitias, kekayaan, atau bahkan sebuah kejeniusan lokal dari Indonesia (Nusantara) itu sendiri. Dalam keterjadian kekerasan di atas berarti adalah sikap tidak mengakui keberagaman itu sendiri.

  • Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  • Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
  • Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain. 
  • Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. 
  • Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

Sikap-sikap di atas sangat dengan manusia itu sendiri, yang merupakan mahluk utama sebenarnya dari Tuhan. Namun kejatuhan manusia adalah mereka-mereka yang telah lupa dirinya sebagai manusia dan memangsa serta membunuh manusia lainnya. Seperti di atas dikatakan bahwa kekerasan adalah musuh kemanusiaan, maka saling cinta, saling tenggang rasa atau rasa empati terhadap penderitaan manusia lainnya, tepa selira, menjunjung nilai “diri’ sebagai manusia serta menjadi manusia yang berguna dan gemar melakukan kegiatan membantu yang lainnya dan jauh dari sikap ke”asu”an. Termasuk pula dalam sisi kesejahteraan dan sisi ekonomi, bahwa mereka2 yang jatuh pada keserakahan dan hanya menjadi budak investor, akan hanya menjadikan manusia lainnya sebagai korban. Terlihat sendiri bagaimana para pemimpin lebih memilih untuk mendukung freeport daripada masyarakat papua sendiri. Dan terlihat juga bahwa lumpur itu seakan2 menjadi cerita ketertenggelaman Jawa, khususnya Jawa timur (sidoarjo). Apakah itu sikap dan sifat manusia yang diangkat sebagai pemimpin yang memberhalakan uang dan harta serta kekuasaan lebih besar dari kepedulian terhadap masyarakatnya sendiri. Sungguh pun mereka lebih baik jika digantung ramai-ramai di monas dalam revolusi bangsa dan negara.

  • Berani membela kebenaran dan keadilan.

Dan ini yang terpenting. Kebenaran, kebenaran yang mana, serta keadilan kepada siapa yang pantasnya diupayakan. Apakah suatu kebenaran yang dipaksakan, atau suatu keadilan yang hanya dinikmati oleh kau-kaum yang kapital yang sebenarnya menjual negeri Nusantara (indonesia). Menjual tanah, menjual harga diri, dan sebagai kambing congek yang mengabdi kepada kaum asing yang manut-manut serta tidak bisa lepas dari  atau tidak memiliki hak diri untuk mengelola sumber daya alam, serta sumber daya manusia terbengkalai sampai harus menjadi TKI, TKW, yang pulang hanya tinggal nama di arab, yang hanya menjadi orang gelap di malaysia, serta kaum pemimpin serta pejabat tolol tiada bisa mampu untuk melindungi rakyat mereka sendiri. Apakah sudah habis tempat di Nusantara (indonesia) yang katanya jaya ini untuk menghidupi rakyatnya?Keterjajahan pada kebodohan, dan kedunguan mereka kaum pejabat dan pemimpin yang menjadi budak-budak kaum asing. Termasuk pula penjajahan dari internal nusantara (indonesia) sendiri yang hidup seperti cacing-cacing parasit yang mungkin hanya bisa diambilkan obat pembunuh cacing atau pencahar perut dan habis sampai telur-telurnya. Cacing yang ada menjadi parasit hanya terdapat pada kebusukan atau kekotoran sampah-sampah tanah yang hanya bisa menjadi parasit dan mati sebagai parasit.

  • Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain

Dan ini adalah penetralisir dari kedua bahasan di atas. Bahwa saling hormat dan bekerjasama patut ditelaah sebagai suatu keberhagaan diri (bangsa) yang memiliki keberadaban tinggi dan layak dihormati. Seperti pula bahwa Indonesia bagian dunia, yang artinya pula secara etis Indonesia adalah bangsa yang universal dan memiliki sifat menghargai humanisme di atas dari segalanya. Karena manusia adalah mahluk tuhan paling mulia dan memiliki kewajiban menjaga kemanusiaannya dan berhak hidup dan menjunjung hak asasi itu sendiri tanpa pandang bulu. Lalu bahwa manusia yang beradab dan membentuk suatu idealitas peradaban sendiri, dan memfilter baik itu politik dunia, sosialitas dunia, ekonomi dunia, Budaya dunia, Pertahanan dan Keamanan. Yang pada akhrinya sebuah ideologi melindungi suatu hak asasi manusia( suku , agama, ras) beribadat,dan menjadi berani untuk membela sebuah kata “Kebenaran”, Suatu kebenaran Nusantara.

pustaka

http://ideologipancasila.wordpress.com/butir-pancasila/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 23 Februari 2013 in ekonomi, filosofi, pancasila

 

Tag: , , , , , , , , ,

Pasang Badan untuk Kebenaran..

Berteriak lantang, bahwa…

Aku membawa kebenaran…

Berteriak sorak-sorai membekap jemari..

Menerawang tinggi akan bejatnya sang lawan..

———————————————-

Berteriak suara-suara berang…

Akulah yang mengebiri mereka…

Mereka yang tersesat pada pikiran mereka…

Mereka yang tidak tahu akan apa…

Tidak tahu “apa”..camkan itu…

————————————————

Dan tetap berteriak lantang akan kebenaran…

Pasang Badan Ia pun melawan pada kebenaran lainnya…

Badan lain pun apakah memaksakan??…

Lalu tertumpahkah??..

Darah,dan cucuran air mata??..

Lalu api kah menjadi jalan menuju laut diiringi tanah dengan “ruang” menuju itu?….

Dan sembari kembali menerawang…

Apakah benar itu??.

————————————————–

Dan salahkah jika berkesimpulan…

“Kebenaran” pasti Beradab..

hhhmmmm…

 

salam gwar 5 nop 2012..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 November 2012 in doa, filosofi

 

Tag: , , , , ,

Edisi Terjajah Episode Pertama…(-_-!I ~[m]..

L.A.W.A.N...!!!

L.A.W.A.N…!!!

 

LAWAN…!!!

Kita sudah merdeka. Iya itu adalah benar, namun terkadang bisa dikatakan benar yang abu-abu. Semua pasti sepakat bahwa memang belum bisa suatu negeri Indonesia dikatakan sebagai suatu negeri yang merdeka. Namun apakah tujuan utama dari suatu negara Indonesia itu sendiri? Ataukah bagaimana sesuatu yang dikatakan ideal dalam suatu individu, suatu lingkungan keluarga, sampai pada suatu lingkungan masyarakat, dan terakhir adalah keidealan dari suatu wilayah kenegaraan. Sampai pula bagaimana Indonesia mampu menjadi negara yang ikut memberikan sepak terjangnya di dunia itu sendiri.

Di saat ini yang penuh dengan carut marut negeri, sebenarnya sudah sangat jauh dari idealnya mimpi-mimpi dari pendiri negara yang katanya indah ini. Peristiwa kekerasan, peristiwa SARA, atau pun kebobrokan dari aparatur negara sampai pula dengan birokrat-birokrat yang membudaya hingga ke terkecilnya. Mungkin jika dibandingkan dengan penjajahan pada saat Belanda serta Jepang dan penjajahan lainnya, sebenarnya Indonesia telah diberikan keluwesan atau kebebasan untuk membangun dirinya menuju suatu tujuan indah itu sendiri. Apa tujuannya? Apa pembatasnya? Bagaimana penerapan(etika)nya? Yang terpikirkan mungkin hanya satu bagi saya (kami)(kita), yaitu Pancasila.

Dengan satu kata sebagai ideologi Bangsa itu, sebenarnya kita sudah bisa melacak apa-apa yang tidak pas dalam kenegaraan dan berbangsa ini. Mari kita lihat dan selidiki dari Pancasila sila pertama dari detail-detail butirnya.

1.Ketuhanan Yang Maha Esa

  • Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dari sini disebutkan bahwa Bangsa Indonesia percaya dan yakin kepada TYME beserta taqwa, artinya adalah tidak ada ruangan dari paham “ketidak percayaan dan keyakinan” thdap TUhan di bumi ini. Dalam arti tegas “NO Atheism” Titik. Tapi diberikan ruang lain bagi seorang atheis yang mengarah pada agnotis dan menuju suatu keyakinan tersendiri tentang yang Kuasa.(bisa dibaca dibagian bawah)

  • Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Butir ini adalah yang terpenting, kepercayaan dan taqwa itu sudah seharusnya, namun didasari oleh kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kedua). Yang berarti bahwa, jika bertemu seorang yang tidak percaya atau yakin, maka berkewajiban untuk memberikan pemahaman dengan BIJAKSANA kepadanya. Jangan menggunakan cara-cara bunuh, siksa, perkosa, ancam, intimidasi (BSPAI) yang tidak sesuai dengan kemanusiaan yang adil dan beradab tersebut. Kata-kata capslock artinya anda harus seperti itu, jika belum maka anda masuk dalam ruang BSPAI. Hal ini termasuk pada jajaran Fundamentalis Agama serta kaum Misionaris brutal.

  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama anatra pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Maka setelah bisa menjalankan itu, dilanjutkan dengan sikap-sikap toleransi antar pemeluk dan penganut kepercayaan yang berbeda2 tersebut hingga terjalin suatu kerukunan yang menjadi modal untuk membangun sebuah negeri indah yang diimpikan. Pelangi di Indonesia lebih baik dari pada Merah saja atau kuning saja yang bisa bikin eneg serta mual berkepanjangan.

  • Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
    menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Dan pada suatu kepercayaan serta keyakinan, maka hubungan itu termasuk suatu kebebasan tersendiri dan dilindungi oleh negara. Jika dilihat fakta yang mengenegkan, kebebasan ini masih dirongrong oleh suatu pemaksaan serta pembenaran diri sendiri, dengan tidak melihat masalah pribadi kepada yang Kuasa. Artinya mem (BSPAI) dilarang serta merupakan musuh negara. Kembali ke penjelasan di atas, maka wajib untuk yakin dan percaya, namun pembelajaran bagi yang belum percaya atau belum yakin, dilakukan dengan cara-cara yang bermartabat serta berkemanusiaan sesuai dengan Adil serta beradab. Bunuh dan kekerasan bukan alasan, negara berkewajiban melakukan penangkapan serta memberikan rasa aman. Jika tidak (baca:biasanya tidak) maka negara telah lalai dalam melindungi rakyatnya untuk memiliki keyakinan yang pribadi terhadap TYME.

  • Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing masing

Yang ini no need to explain. Fakta yang ada, bahwa kebebasan menjalankan ibadah tidak digubris oleh beberapa pihak. Sekehendaknya diliat, ditelaah, dibijaksanai. Sebuah buku yang berbeda mungkin menambah pengetahuan bagi yang sudah baca buku yang berbeda. Atau buku dengan sampul sama, mungkin pula ada perbedaan. Tapi manusia itu berbeda kodratnya kan.

  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Yaps untuk yang terakhir ini, adalah suatu pembahasan atau wilayah missionaris. Jadi tidak ada istilahnya pemaksaan kepada manusia lain untuk memeluk atau meyakini agama atau kepercayaan tertentu. Kata yang menjadi kunci adalah PAKSA. Intinya boleh memberikan suatu pemahaman terhadap agama, bebas berpindah ke lain hati, namun tanpa todongan pistol, celurit, atau gorok leher dan lemparan batu serta pembakaran rumah.

Jadi Dapat disimpulkan adalah penjajah dari negeri yang diimpikan indah dan damai ini adalah kaum FUNDAMENTALIS anarkhis, serta kaum MISSIONARIS yang menghalalkan segala cara.

Yang lebih baiknya adalah bagi negara beserta aparatur dan bangsa lainnya yang menjunjung kemerdekaan itu sendiri,  menjaga serta mengamankan kebebasan, serta toleransi, begitu pula ketaqwaan TYME yang ada.

sumber data:

http://ideologipancasila.wordpress.com/butir-pancasila/

http://id.wikipedia.org/wiki/Fundamentalisme

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 17 September 2012 in budaya, pancasila, persatuan negara

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

Pancasila yang sejati adalah…??pemahaman…

Selasa, 11 Desember 2007

Pancasila yang sejati..

sila satu adalah dasar pertama…jangan bertengkar… ga pantes..

sebenarnya sebagai sebuah dasar..diharapkan menjadi penasehat yang baik bagi suatu negara..
bagaimana kita bisa mencapai rasa kemanusiaan yang adil dan mempunyai adab…

jika moral selalu dipertentangkan…

setelah beradab persatuan Indonesia akan bisa dikumandangkan dengan rasa iklas, dan menghargai, serta berani menghadapi semua tantangan terhadap negeri..

kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat, kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan keadilan..adalah suatu bentuk pemilihan pemimpin yang bijaksana dari rakyatnya yang penuh persatuan…

keadilan sosial adalah tujuan akhir bangsa Indonesia, bahwa sesungguhnya hal itu sudah ada, yakin ada dalam seluruh sanubari rakyat, bangsa, Indonesia..

aminn

(copas dari blog saya yang lain)…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Mei 2011 in filosofi

 

Tag: ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.