RSS

Arsip Tag: sad ripu

Sad Ripu dalam Bhagawadgita dan Hubungannya pada Maya..

Om saba ta a i na ma siwaya..

Om tryambakam ya jamahe.sugandhim pusti wardhanam.Uvarikmwa Bandanhat Mrtyormuksiyah mamrtat..

Semua ujian ini, Hanya padaMu Aku brsujud untuk diberi kekuatan menyingkapNYA…

trimurti4

Sad ripu, adalah enam golongan atau sifati dari diri yang menjadi musuh utama dan selalu menjadi bagian kehidupan sampai itu menuju kematian itu sendiri..Hal ini sangat sekali berhubungan dengan bagaimana Maya dari IA Sang Penguasa tiga Alam, sattwika rajasika tamasika, menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepaskan, kecuali menyadari Nya dan memilah mana yang akan menuju jalan kebijaksanaan dan kebahagiaan yang sejati.

Mengenali diri dan mengenal Sang Pencipta adalah jalan yang sungguh pun semakin menyadari bahwa musuh-musuh utama itu adalah sangat mengikat dan menjadi halangan dan rintangan untuk menapaki tahapan tangga untuk ke tujuan.Atma widya serta Brahma widya akan semakin mempurifikasi ahamkara menuju buddhi yang jnana dan menyatukan atman serta brahman..

Ketika atman sebagai ananda maya kosa yang suci atau antakarana sarira badan bahagia, maka terlingkupi IA sebagai suksma sarira badan halus yang terdiri dari Vijnana Maya Kosa badan kecerdasan (citta buddhi), Mano maya kosa badan mental sebagai buddhi manas ahamkar, Prana maya kosa badan etheris yang berhubungan dengan dunia luar tri guna serta ahamkara ego yg terjebak tri guna, yang terakhir adalah badan kasar stula sarira annamayakosa..

Sebagai bagian itu maka skemanya sbagai berikut- Panca Maya Kosa dan selubung Atman

(Brahman)Atman(Aikyam)–> Antakarana Sarira / Ananda maya kosa..

*Suksma Sarira*

Citta (Buddhi yg cerah), Intuisi,–> Vijnana Maya Kosa (badan intelek cerdas, memahami Wiweka secara benar baik.

Buddhi (awal) terpengaruhi tri guna + Ahamkara yg Sattwika-> Manomaya Kosa, Badan Mental,Akal pikiran mulai mengenal keterikatan diri atas Maya dunia… 

Ahamkara Ego (rajasik tamasik->pengaruh acetana (ketidaksadaran) –> Prana Maya Kosa, Badan etheris bruhubungan langsung dengan kegiatan kekuatan hidup,..berhubungan dengan indera pada dunia

*Stula Sarira –>Annamaya Kosa ..terdiri dari Panca Buddhindriya Panca Karmendrya 5 indera pengenal dunia, serta indera melakukan kerja karma di dunia..

Dan ketika pemahaman itu sudah menjadi lebih dimengerti, maka kesadaran akan musuh diri yang terliputi Maya dunia dan menjadi energi yang menjauhkan diri yg “Sadar”.maka Sad ripu adalah bagaimana manusia kalah oleh pengendalian Diri akan keterikatan duniawi..Hanya pengetahuan SuciNYA yang membebaskan dari keterikatan itu untuk menuju pada AnAnda Maya Kosa badan yang berbahagia..

Sad Ripu adalah enam yang perlu disadari dan dikontrol sehingga mampu menjadi energi yang lebih baik.. Kama, Mada, Moha, Lobha, Matsarya, Krodha adalah yang dipengaruhi oleh MAYA yang bersifat Rajasikam penuh nafsu dan tamasikam yang bodoh tidak mengenal pengetahuan yang suci..Ketika Satttikam hadir di rajasikam, maka itu menjadi keoptimisan dan ambisi yg terkontrol, namun ktika tanpa kebaikan kebijaksaan kebenaran (sattwika), maka itu hanya menuju tamasikam, maka rajasikam akan dipngruhi oleh kegelapan(tamasik bodoh)..

–Kama-- adalah hawa nafsu, itu juga termasuk dalam catur purusa artha, maka kama yang bisa diterapkan sebagai kebaikan adalah mereka yang mendasariNYa dengan Dharma. Kama sendiri hendaknya dikatakan sebagai suatu bahan bakar untuk menuju pada tujuan Manusia itu sendiri,Keterikatan akan objek-objek dari dunia (maya) hanya akan tidak menuju kepada kebahagiaan itu sendiri, ananda maya kosa..tubuh yang berbahagia karena telah kembali menuju kesejatian, ya brahman atman aikyam..

--Krodha– adalah kemarahan, maka ketika marah menjadi tidak terkotrol, hancur ia nanti pada penyesalan.. Karena kesabaran akan menuju pada mereka yang benar2 tidak terikat oleh dunia itu sendiri..

**Bhagawadgita sloka 2.62**

dhyayato visayan pumsah, sangas tesupajayate, 

sangat sanjayate kamah,kamat krodho bhijayate..

Artinya : Selama seseorang merenungkan objek2 indria indria, ikatan terhadap objek indria itu berkembang. Dari ikatan seperti itulah berkembangnya hawa nafsu, dari hawa nafsu timbullan amarah..

Dari sloka diatas dikatakan, mengetahui subjek panca buddhindrya dan karmendrya, maka dunia adalah sebuah objek-objek itu sendiri.. Secara berlebih ketika mereka tidak menggunakan indria sebagaimana mestinya,maka terikat dan ketika tidak mendapatkan sebuah kepuasan karmendriya atau buddhindrya maka Krodha menjadi itu, dan akan membawa hawa nafsu menjadi jawaban atas pesona objek tersebut..

-–Moha—.. adalah sebuah kebingungan, kebingungan terjadi karena pada tahap pengurangan ego ahamkar, terlalu banyak mengambil pengetahuan berdasarkan kebenaran atau pembenaran.. Hal ini  terjadi kembali pada badan mental atau Mano Maya Kasa yang berisikan jnana buddhi yang mulai mengenal wiweka namun belum mampu memisahkannya.. Dewa iya Bhuta Iya..Memang rwa bhineda akan selalu ada sebagai isi bumi, namun jalan dharma raksaka adalah seorang yang lengkap tunduk sebagai abdi dharma, dan telah memahami bibit-bibit adharma di dalam diri..Saat itu IA menjadi kan dirinya seorang bijak bajik dan tidak menyerah pada kuantitas dharma yg selalu lebih sediikit di jaman kali yuga ini..Tetapi sebuah evolusi mental yg menggenapi diri sebagai manusa yang tidak bingung karena kekuatan jnana atas panca sraddha, bgitu pula mantap dalam bhakti kepada panca yadnya itu sendiri..

**Bhagawadgita Sloka 2.63**

Krodah bhavati sammohah, sammohat smrti-vibhramah, smrti-bhramsad buddhi-naso, buddhi-nasat pranasyati..

Artinya : Dari Amarah timbullah khayalan yang lengkap, dari khayalan memnyebabkan ingatan bingung. Bila ingatan bingung, kecerdasan hilang, bila kecerdasan lenyap seeorang jatuh kembali ke dalam lautan material..

Maka awal utamanya adalah kemarahan atas kendali hawa nafsu, ketika marah merajalela maka moha atau kebingungan atas yang SEHarusnya terjadi, membuat khyalan-khayalan itu membuat kecerdasan akan menurun menyusut, Kecerdasan adalah bagian dari VIjanan maya Kosa atau ciitta yang mencakup buddhi yang telah menenal wiweka kebaikan dan ketidak baiikan..Kesadaran akan itu, maka buddhi memiliki dua pilihan.

Sattiwka ning buddhi Dharma Citta, akan membawa kecerdasan itu sebagai guru yg memiliki idep yang mantap yang mengetahui dharma, baik yang bijak atau bajik, baik yang siap sebagai maha guru atau pun murid dari semesta..Yang tahu bahwa nanti ketika pengetahuan tentang kebebasan diungkap, akan menyucikan lainnya..Dalam tapa semadi dan sadhana(diam)

Sattwika Rajasikam Citta Buddhi Dharma Rakhsaka..Adalah saat pilihan kedua bagi mereka yang mengetahui Kebaikan Kebenaran (Dharma), dan berjiwa sebagai pembela dharma, maka mereka adalah bagian-bagian dari pasukan penyebar dharma..Apakah sebagai seorang jnana dharma yang mampu menghilangkan adharma di diri serta membuat mereka (musuh) dharma takluk. Mereka adalah kalangan nastika, yang menyepelekan dan merendahkan weda serta keagungan dharma.. Mereka adalah diibaratkan sebagai padi tanpa isi.. Artinya mereka bodoh dan kurang cerdas akan pengetahuan agama baik agamanya mereka sendiri, atau kebenaran kebaikan universal itu..

–Matsarya-- Matsarya adalah rasa iri dengki kepada sesuatu yang dimiliki oleh orang lain..Secara kasar maka itu bisa terjadi karena iri akan harta yang telah dimiliki, iri kepada kebahagiaannya, atau iri pada pemahamannya.. Iri adalah ketidakmampuan diri menandingi siapa yang di dengkikan..Sebuah makna yang suci adalah, tamasika guna ini akan menghancurkan diri sendiri untuk menuju “pulang”. Apalagi jika iri ini menutup hati atau panca maya kosa yang menambah bahan bakar ahamkar sehingga buddhi citta akan terbungkus egoisme rajasikam tamasikam untuk mencapai Brahman Atman Aikyam.. Buddhi sebagai wiweka kecerdasan yg terhubung dengan Citta akan semakin jauh..Dan apalagi tidak melakukan yadnya panca yang telah diturunkan leluhur..Karena Maya yg massif dan menjadi belenggu setiap mahluk, akn tidak membawa kedamaian itu sendiri.. Lekat dengan duniawi seperti hedonisitas atau carwaka, adalah sangat lekat dengan nastika itu sendiri.. Membuat harta tahta dan berlindung di tamasika,hanya akan membuat akhir perjalanan hidup hanya kehancuran..Sesuai dngan wrspatti tattwa, satwik lekat dengan moksah, rajasik satwik lekat dengan surga, rajasik dan tamasik saja lekat dengan neraka dan reinkarnasi yang buruk..

–Lobha– Adalah kerakusan atau ketidakpernahpuasan atas apa yang dimilikinya. Menginginkan lebih lebih dan lebih.. Yang lekat pada keterikatan materi dunia. Mereka seperti dipermainkan oleh dunia, tetapi mereka sadar atau tak sadar.. Ketika sadar maka mereka tidak mampu lepas, karena pegangan mereka untuk itu tidak ada..Maka kebebasan itu adalah ada pada mereka yang baik bijak dan senang akan pengetahuan rohani yang suci serta kebebasan kebahagiaan yang suci.. Mereka yang tidak sadar, maka bagaimana mungkin mereka akan lepas dari kerja yang selalu mengharapkan hasil lebih, lebih, dan memompa amarah ketika hasil yang tidak sesuai..Ambisi dari ahamkar yang rajasikam, akan baik bila dipengaruhi sattwikam sebagai dasar dharma..Namun ketika mereka menggunakan cara kurang baik, adhaarma, dan melenyapkan pengetahuan suci itu sendiri, Mereka hanya akan hidup dan seperti gila oleh kemabukan harta tahta dan nafsu duniawi..Ketika mereka menyangkal mereka terikat dan tidak sadar akan keagungan Dharma yg membebaskan, maka mereka hanya akan masuk ke dalam jurang reinkarnasi, kepada kerja yang harus menghasilkan dan terikat akan hasil itu.. Maka yadnya apakah yang bisa menyadarkan? kecuali mereka giat berpunia, namun tetap kesadaran itu hanya ada pada mereka yang tahu akan MAYA(KU)

**Bhagawadgita 3-31**

Ye me matam idam nityam anustishanti manavah, sraddhavanto nasuyanto mucyante te pi karmabhih

Artinya: Orang orang yang melakukan tugas tugas kewajibannya menurut perintah-perintah KU(Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa) dan mengikuti ajaran ini dengan setia, bebas dari rasa iri, dibebaskan dari ikatan perbuatanyang dimaksudkan untuk membuahkan hasil..

***Bhagawadgita 3,52**

Ye tv etad abhyasuyanto nanutishante me matam, sarva-jnana-vimudhams tan viddhi nastan acesatah..

Artinya :Tetapi orang yang tidak mengikuti ajaran ini secara teratur karena rasa iri dianggap kehilangan pengetahuan, dijadikan bodoh dan dihancurkan usahanya mencari kesempurnaan..

Dari dua sloka di atas maka disebutkan bahwa, kebebasan dari rasa iri,akan membawa diri menjadi terlepas dari MAYA itu sendri, artinya adalah bahwa Maya yang merupakan kekuatan prkrti Brahman, akan memberikan balasan pahala atas iklas itu sebagai suatu hadiah pahala pada mereka yang mengabdi secara tulus dan iklas serta insaf.. Semakin terikat maya, terutama atas pencarian artha kesejahteraan dengan cara yang kurang baik, maka IA atau mereka hanyalah akan mendapatkan dosa, dan jauh dari pengetahuan suciNYA tuhan brahman dalam ketidakbrsyukuran, kelobhaan serta berasal dari rasa iri yang tidak pernah puas..Maka mereka akan selalu terikat dari hasil dan pahala, kecuali keiklasan akan membawa Tuhan turun ke ranah pahala di dunia..Ketika mereka melakukan yadnya, maka saat itu sebenarnya Diri yang berpribadikan Atman yg suci menuju pada sebuah kesempurnaan itu sendiri.. Bagi mereka yang paham akan mendapatkan hasil dari yadnya, yang mereka sadari sebagai keiklasan atas yadnya panca itu sendiri…

Sloka 3-27

Prkerteh kriyamanani gunaih karmani sarvasah, ahankara-vimudhatma kartaham iti manyati..

Sang Roh yang dibingunkan oleh pengaruh Keakuan Palsu menganggap dirinya pelaku kegiatan yang sebenarnya diakukan oleh tiga sifat (tri guna) alam material..

–MADA- Kemabukan, yang membuat manusia lupa diri, manusia yang terbelenggu oleh kenikmatan dari keterikatan materi dunia, yang juga tanpa sattwika,akan berasal dari loba kerakusan yang dimabukkan oleh belenggu rasa iri, tentu saja dari kroda yang membuat hayalan serta kebingungan tetapi tidak merasa bingung.. Artinya mereka mabuk akan keterpengaruhan alam tiga sifati itu.. Maya itu melupakan diri, memabukkan IA pada kebahagiaan semu, apalagi jika mereka menikmati kemenangan mereka dari kemarahan, iri, kerakusan yang menyenangkan yang membuat bingung itu sendiri..

Keakuan palsu adalah mereka yang berada pada kendali tri guna, namun mereka mnyatakan ia adalah pelaku kegiatan, bukan dari tri guna. Namun kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda bahwa mereka mencari keuntungan karena diri mereka yang pintar, mereka mengungkapkan kebenaran karena diri mereka yang tahu segalanya, atau bahwa karena keakuan palsu itulah yang menyebabkan kebahagiaan (keakuan semu) yg mereka sadari.. Mereka mabuk bahwa hanya mereka yang mendapatkan semua berkat ini, namun sabda Tuhan, pun mereka ketahui dengan amarah, dan kerakusan akan pembenaran.. Pada hal Sabda Tuhan yang paling perlu diingat selain panca sraddha yang sattwika dan rajasika atau tentang filsafat etika upacara, adalah memahami mereka hanya sebagai abdi dari kekuatan Tri MayaGuna itu sendiri..

Maka kepribadian Tuhan menyatakan Aku mencipta kebaikan keburukan sattwika rajasika tamasikam, namun Aku tidak berada pada “itu” dan “itu” tidak berada pada AKU…

Hare kalkya Kalkya Hare Hare

Asatoma sad gamaya, tamasoma jyotir  gamaya, Mrtoyrma AMrtam gamaya

Om santi rahayu raharja Om

salam gwar

lihat juga..

http://linggahindusblog.wordpress.com/2012/01/29/mengendalikan-sad-ripu-dengan-sarasamuscaya/

sumber :bhgwadgita, wraspatti tattwa, meditasi sathya baba

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Mei 2014 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Orang Beragama adalah orang Gila (Freud)

Memang benarkah seperti itu? atau apakah berbeda dengan apa-apa yang terjadi di kenyataan?

Yaps benarlah bahwa memang orang beragama dikatakan sebagai orang yang neurosis seperti yang dikatakan oleh sigmund freud ahli psikologis penemu psikoanalais. Ada beberapa dasar mengapa orang beragama dikatakan sebagai seorang neurosis :

1. Bahwa orang beragama dikatakan memiliki sifat kekanakan yang berhubungan dengan hubungan ayah(bapa) dan anak. Dimaksudkan bahwa Tuhan sebagai suatu faktor yang berkuasa, dan memiliki pengetahuan Maha Tahu akan menjadi seseorang yang melindungi dan memberi kekuatan perlindungan atas ketakutan dan  ketidakberdayaan anak dengan kasih sayang dan menentramkan. Maka itulah yang menciptakan suasana nyaman (surga) dari anak(manusia) itu. Maka sikap tentram itu menjadikan halusinasi surga akan pemahaman tuhan sebagai anak.

2.Menurutnya satu-satunya cara untuk meninggalkan kekanak-kanakan bahwa dengan memahami dan mempelajari sains dan teknologi.

3. Agama adalah tempat untuk berlindung dari jaman, apakah ia manyatakan bahwa beragama seperti”katak dalam tempurung”?.

4.Dan ia juga menyatakan bahwa orang-orang kekanakan akan pergi mengadu kepada Bapa (Tuhan), jika terkena berbagai kesulitan-kesulitan yang ada di dunia. Seperti anak kecil yang mengadu kepada ayahnya sebagai mental defense.

 

 

 

 

 

Yaps seperti itulah, bahkan penelitian anehnya membuktikan bahwa nyatanya orang yang berpengetahuan lebih, tidak mementingkan keagamaan itu sendiri. Hal ini dapat disimpulkan bahwa hanya orang bodoh yang perlu agama…hmmmmm…

Jika dalam hindu sendiri, maka pengetahuan itu lahir dan diberikan sendiri yaitu,hari raya saraswati. Dan Ganesha sebagai suatu simbol pengetahuan, sangat jelas terpampang di banyak institusi pendidikan.

Sebenarnya dalam berbagai kehidupan yang diceritakan oleh kitab suci adalah semakin terbelenggu dengan keduniawian, maka semakin jauh pula dari kelepasan (Moksa). Atau bahkan mungkin persatuan dengan ilahi manunggaling kawulo gusti, aham brahman asmi. Hal itu terkadang seperti sebuah ekstasi yang benar-benar membuat lupa diri atau tidak menapak dunia dan terbang tinggi. Ini mungkin resiko yang perlu diwaspadai bagi mereka yang telah masuk dalam lingkaran semesta yang juga memabukkan. Namun untungnya dalam Hindu, ada berbagai pakem-pakem keseimbangan yang disarankan dijalankan. Yaitu Tri hita karana (palemahan, pawongan, parahyangan), dan pula catur asrama (brahmacari,grehasta,wanaprasta,sanyasin).Di mana dalam wilayah grehasta yg terpenting adalah melaksankan kewajiban keluarga, dan nantinya jika sudah pantas melepas duniawi,maka masuk ke tahap selanjutnya.

Untuk bahasan pengetahuan, maka ada Catur marga, dan kecocokan jalan itu dekat dengan jnana marga.Sbagai wilayah yg mmbahas jalan pengetahuan tentang dharma yang membebaskan.

Dari keyakinan serta pengetahuan akan jaman-jaman yang ada,maka jaman ini termasuk jaman Kaliyuga. Jaman dimana yang berpegang teguh pada dharma hanya tersisa 25 persen. Yang lainnya adalah wilayah adharma yang terbelenggu sad ripu, sad atatayi, atau tidak berpegang pada satya dan sbagainya.Jadi dapat dikatakan adalah ketidakwarasan manusia lebih banyak. Tapi saya belum dapat mengecek berapa jumlah pasien psikiater, atau malah mereka merasa waras.

Kegilaan itu sebenarnya tidak terlepas dari slogan tiga gila, yaitu gila kekuasaan, gila harta, dan gila wanita. Bahkan itu secara tidak sadar dimiliki oleh mereka. Ketidak sadaran pada belenggu-belenggu duniawi dan material serta kemoralitasan yang berlaku umum. Ini menciptakan ketidakberadaban, dan mungkin pula energi-energi negatif yang terkumpul,akan menghasilkan bola energi penghancuran dunia,seperti yang dipahami energi menuju semesta sesuai dengan pola energi kebanyakan manusia di dunia. Apakah itu menciptakan pralaya???Ah.berpikir terlalu abstrak,pepohonan saja semakin berkurang, dengan banyaknya perang-perang yang ada sudah cukup memberi bukti nyata. Dan anehnya adalah karena dendam-dendam masa lalu yang meng-ego dan mengeras menjadi batu, entah perebutan wilayah atau bahkan perang urat syaraf Agama,SUku dan Ras, benar membawa ke jaman yang kurang berkenan dan penuh biadab. Yah sejarah terkadang membekas sangat dalam, namun pula ayat-ayat ketetapan yang teryakini dari sumber suci agama, kiranya perlu dipertimbangkan tentang penafsirannya.

Dalam masa ini,ilmu diharapkan memberi suatu kemanfaatan tersendiri dan mengandung nilai norma serta moralitas, srehingga kegunaan ilmu memang betul-betul menyentuh dan memperbaiki dunia itu sendiri. Aksiologi dari pemahaman dalam  ilsafat ilmu itu tentunya memberi harapan akan sisi kemanusiaan ilmu itu sendiri.

Kembali pada kata gila, maka Sri Khrisna pernah bersabda,ketika ditanya mengapa kau seperti orang gila atas segala yang kau katakan? Maka Sri Khrisna berkata ” Kalian Aku Mereka semuanya adalah orang gila, Tapi bedanya kalian gila kekuasaan, dan Mereka gila Harta dan gila wanita,Dan aku juga Gila,tetapi gila kepada Tuhan.”

dari berbagai sumber..

gwar 18-11-2012..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 November 2012 in agama, budaya, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Sandingan Konsep “Seven Deadly Sins” Konsep Sad ripu serta Sad Atatayi

Dosa dan Pahala tidak akan pernah habisnya dibicarakan manusia sebagaimana ia menjadi suatu titik ketakutan dan sisi etika dan membentuk pula suatu moralitas tersendiri dari pemeluk suatu keyakinan. Setiap agama apa pun pada dasarnya memiliki suatu filsafat (tattwa), etika(susila), serta tentu saja ritual (upacara) yang menjadi simbol atau ciri khas dari suatu agama tersebut.

Berdasarkan bahwa manusia memiliki sesuatu kewajiban yang sungguh-sungguh berat dari jaman ini. Dari suatu keyakinan Hindu bahwa memang sekarang adalah jaman kaliyuga itu sendiri. Jaman di mana kejahatan lebih banyak dari yang menjunjung kebenaran itu sendiri. Namun pada akhir jaman, jika sekehendaknya ada beberapa messiah yang ditunggu untuk memberikan suatu “pintu” surga dan kerajaan surga di bumi ini. Artinya adalah kebenaran dalam bentuk apa pun sesuai dengan keyakinan masing-masing, menjadi hal yang mutlak dan patut ditunggu dan subjek-subjek dari raja atau penyelamat yang bangkit dari surga menambah motivasi melaksanakan tiga kerangka yang berlaku universal dari setiap agama itu sendiri.

Mungkin bukanlah suatu mitos, jika satrio piningit, ratu adil, imam mahdi, satrio pinandita, kalki avatar, buddha maitreya, dsb merupakan mitos-mitos yang bisa menjadi nyata, dengan dasar hati diberikan terbuka akan mitos (baca: Kekuatan Agung) spiritual yang bangkit dan terbangun.

Kembali lagi dengan kata dosa, Maka dalam etika kristen (nasrani) menyebutkan ada tujuh kelompok dosa yang sekehendaknya tidak dilaksanakan . Dan seven sins itu memiliki berbagai tempat hukuman di neraka nantinya. Dan bahkan menurut apa yang dijelaskan bahwa tujuh dosa itu dikelola atau dikuasai oleh iblis (demon) yang memiliki nama tersendiri.

Jenis-jenis Dosa dalam kebudayaan Nasrani adalah sebagai berikut:

1.Lust . Yang berarti hasrat atau nafsu yang seksual yang tidak terbatas, termasuk juga hasrat terhadap kekayaan, kemahsyuran. Dalam hal ini LUST dikuasai oleh Amoedeus.Dan dosa yang mereka dapatkan adalah masuk ke wilayah neraka yang penuh dengan badai angin ribut pada saat nantinya.

2.Gluttony . Yaitu dosa yang berasal dari kerakusan akan makanan dan minuman serta yang hanya terpikirkan adalah bagaimana cara mendapatkan makanan dan tiada bisa dikendalikan. Dan pula keserakahan yang berhubungan dengan perut. Dikuasai oleh iblis Beelzebub dan akan menderita kelaparan yang sangat jika telah ada di neraka nantinya/

3.Greed. Keserakahan terhadap unsur duniawi atau materialitas. DOsa ini adalah yang paling dekat berhubungan dengan korupsi dan penipuan atau pula perampokan yang sedemikan rupa menyukai keduniawian secara membabi buta dan dengan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang ia mau. Dalam hal ini dikuasai oleh Iblis Mammon.

4.SLoth . adalah dosa yang terjadi karena kemalasan untuk melakukn sesuatu, dan bahkan sudah terjebak pada kenyamanan akan malas itu sendiri sehingga tidak berguna bagi suatu masyarakat dan hanya menjadi sampah-sampah yang tidak berguna. Iblis yang menguasai dosa ini adalah Belphegor. Pada saatnya nanti mereka akan dilepas pada suatu danau yang dalam dan harus berenang agar tidak tenggelam, Jadi Ia akan selalu bergerak dan bergerak sampai akhir jaman nanti.

5. Wrath artinya adalah suatu kemarahan yang tiada bisa dikendalikan. Kemarahan itu bahkan menutup kebenaran itu sendiri akan kebijaksanaan yang ilahiah. Kemarahan yang tiada bisa dikendalikan oleh “diri” dan berlangsung setiap saat. Iblis yang menguasai adalah Satan.

6.Envy adalah dosa akibat perasaan iri hati terhadap kemampuan, kepunyaan, keberhasilan orang lainnya. Iri hati itu ketika menjadi suatu kebiasaan, maka akan terlihat seperti tidak terpuaskan karena keinginan melihat rumput tetangga lebih hijau. Iblis yang menguasai adalah Leviathan.

7. Pride atau Narsistik. Adalah dosa yang paling mengerikan, maksudnya adalah bagaimana rasa terlalu percaya diri, merasa sempurna, dan bahkan melebihi junjungan-Nya, dan saking percaya dirinya, Ia bahkan mengatasnamakan yang dijunjung untuk menghancurkan lainnya. Narsisme ini adalah dosa yang dikuasai oleh Lucifer.

Dan setelah kita melihat dari definisi terhadap tujuh dosa manusia, maka dapat kita tarik suatu benang merah bahwa etika itu bisa saja berlaku secara universal. Hal itu dapat ditelaah pada ajaran sanatana dharma yang mnampilkan etika susila Sad ripu (enam musuh manusia) dan Sad atatayi enam kejahatan yang dihindari.

Sad ripu adalah sebagai berikut :

  1. Kama artinya sifat penuh nafsu indriya.
  2. Lobha artinya sifat loba dan serakah.
  3. Krodha artinya sifat kejam dan pemarah.
  4. Mada artinya sifat mabuk dan kegila-gilaan.
  5. Moha artinya sifat bingung dan angkuh.
  6. Matsarya adalah sifat dengki dan iri hati

Dan sad atatayi adalah

  1. Agnida: membakar rumah atau milik orang lain, meledakkan bom, termasuk membakar dalam arti kias yaitu memarahi orang sehingga orang itu merasa malu dan terhina.
  2. Wisada: meracuni orang atau mahluk lain.
  3. Atharwa: menggunakan ilmu hitam (black magic) untuk menyengsarakan orang lain.
  4. Sastraghna: mengamuk atau membunuh tanpa tujuan tertentu karena marah.
  5. Dratikrama: memperkosa, pelecehan sex.
  6. Rajapisuna: memfitnah

 

Maka benang merah dan kemiripan dari etika yang menuju suatu nilai super ego moralitas yang tercipta pada agama yang memiliki perbedaan sejarah adalah sebagai berikut:

1.Lust berhubungan erat dengan kama, dratikrama yang pada dasarnya mengandung nilai susila yang rendah.

2.Gluttony adalah dosa yang berhubungan dengan Mada seperti rakus akan makanan.

3.Greed sebagai keserakahan sangatlah mirip dengan Lobha.

4.Wrath sebagai kemarahan yang terlepaskan dan tiada perlu dapat disandingkan dengan krodha,Agnida,dan Sastraghna.

5.Envy sebagai keiri hatian menuju pada pemahaman terhadap Matsarya, Wisada, atau Rajapisuna

6.Sloth mungkin berhubungan erat dengan Moha.

7.Pride berhubungan dengan Moha,Agnida.

Dari beberapa kemiripan di atas, maka apakah ke depannya pada suatu kehidupan dunia ini bisakah tercipta bahwa Moralitas dan Etika yang berujung pada Kesusilaan , Budi pekerti menjadi Satu dalam bingkai Universalitas??

Mungkin saja jika diberikan ruang kemuliaan Nya di dada ini.

Sumber :

http://en.wikipedia.org/wiki/Seven_deadly_sins

http://www.hindubatam.com/susila/asubha-karma/sad-ripu-dan-sad-atatayi.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Oktober 2012 in agama, budaya, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Mengendalikan Sad Ripu dengan Sarasamuscaya

Mengendalikan Sad Ripu dengan Sarasamuscaya

Pada kalangan Hindu dari dulu sampai saat ini, maka pada kehidupannya kita dihadapkan pada musuh besar yang tak akan lekang oleh jaman. Musuh besar yang selalu mengintip dan menerjang di saat kita lengah akan menjalani kehidupan ini. Musuh yang selalu ada dalam setiap jejak kita melangkah dalam kehidupan ini.

Musuh itu adalah Sad Ripu, yaitu enam musuh yang dapat menelanjangi kita untuk jatuh ke lembah kekotoran dan neraka. Terbagi menjadi enam bagian yaitu antara lain Kama, Lobha, Krodha, Mada, Moha, Matsarya. Keenam penggoda yang senantiasa jadi bagian sisi hitam kegelapan manusia dari dulu hingga sekarang.

Mengendalikan sifat-sifat dari Sad Ripu adalah hal mutlak yang patut kita lakukan. Banyaklah kita diberikan pencerahan baik dari orang tua, guru, penglingsir, lingkungan yang baik, serta pula dari guru kerohanian agar terhindar dari sad ripu ini. Dan secara simbolis bahwa ada upacara metatah atau potong gigi yang dapat pula sebagai upacara yang berkaitan dengan pengurangan sad ripu tersebut.

Namun di samping itu pula, jangan pernah lupakan weda sebagai kitab suci yang sungguh-sungguh nyata mengandung bahasan-bahasan suci yang banyak pula berisikan suruhan atau himbauan dalam hal pengendalian sad ripu di atas. Salah satunya adalah kitab Sarasamuscaya.

Sarasamuscaya adalah Sari pati dari Asta Dasa Parwa yang disarikan oleh Bhagawan Wararuci. Asta Dasa Parwa tersebut adalah delapan belas Parwa yang membangun kitab Mahabaratha karya Bhagawan Byasa. Sarasamuscaya adalah weda smreti, dan berisikan tuntunan-tuntunan bagi umat Hindu agar berperilaku dan bersikap baik berdasarkan dharma serta menghindari adharma sebagai musuh mereka.

Pengendalian Sad Ripu sebagai musuh utama umat, maka alangkah baiknya jika kita bisa menelaah bagaimana sad ripu bisa dikendalikan dengan membaca, menelaah serta mempraktekkan apa-apa yang terdapat pada Sarasamuscaya di dalam kehidupan sehari-hari umat Hindu sekalian.

Di sini akan dibicarakan bagaimana sloka-sloka Sarasmuscaya sangat pas digunakan sebagai pedoman dalam menghindari enam musuh umat tersebut.

  1. A.    Kama

Kama disebut juga hawa nafsu. Hawa nafsu yang dapat menjerumuskan manusia ke arah yang buruk jika dilakukan secara berlebihan. Sekehendaknyalah bila umat bisa mengekang hawa nafsu mereka menuju kebaikan dari dharma itu sendiri. Seperti disebutkan dalam :

Sarasamuscaya 46

Mritye janmanor’thaya jayante maranaya ca, na dharmatam na karmatham trnaniva prthagjanah.

 

Apan purih nikang prthagjana, tan dharma, tan kama, kasiddha denya, nghing matya donyan ahurip, doning patiya, nghing hanma muwah, ika tang prthagjana mangkana kramanya, tan hana patinya ide nika, taha pih, tan hana pahinya lawan dukut, ring kapwa pati doning janmanya, janma doning patinya.

 

Sebab peri keadaan orang kebanyakan (orang yang belum mencapai tingkat filsafat) ia tidak mengerti akan hakikat dharma, dan juga tidak tahu bagaimana cara mengendalikan nafsu; yang dapat dicapainya hanyalah untuk mati tujuan mereka hidup, maksud matinya adalah hanya untuk lahir lagi; orang kebanyakan demikian keadaannyaitu, bukan mati yang dipikirkannya, cobalah pikirkan, kehidupan serupa itu tiada bedanya dengan rumput yang mati untuk tumbuh kembali, dan tumbuhnya hanya untuk menunggu matinya.

 

Jadi orang-orang yang belum bisa mengendalikan nafsunya, hidupnya menjadi tidak berguna, hanyalah untuk menunggu mati saja. Seperti rumput yang tumbuh hanya hidup untuk menuju kematiannya sendiri. Agar paling tidak menjadi manusia yang memiliki kegunaan, salah satu cara adalah dengan mengendalikan nafsu tersebut. Bukan sebagai manusia yang hanya menunggu mati saja.

 

Menahan nafsu itu pula disebutkan sebagai pengekangan pikiran. Karena nafsu berasal dari pikiran itu sendiri. Seperti disebutkan dalam :

Sarasamuscaya 80

Mano hi mulam sarvesamindrayanam pravartate, subhasubhasvavashtasu karyam tat suvyavasthitam.

Apan ikang manah ngaranya, ya ika witning indriya, maprawrtti ta ya ring subhasubhakarma, matangnyan ikang manah juga prihen kahrtanya sakareng.

 

Sebab yang disebut pikiran itu, adalah sumbernya nafsu, ialah yang menggerakkan perbuatan yang baik atau pun buruk; oleh karena itu, pikirkanlah yang segera patut diusahakan pengekangannya/ pengendaliannya.

 

Jadi pikiran itu digerakkan oleh nafsu, maka jika dalam berpikiran disediakanlah ruang untuk bagaimana mengekangnya. Itulah hakikat pengekangan nafsu tersebut yang menggerakkan pikiran itu sendiri.

Lain hal dengan kesabaran, bahwa kesabaran adalah bagaimana orang bisa mengendalikan hawa nafsunya. Yang menjadi kekayaan utama menuju kemuliaan. Seperti disebutkan dalam :

Sarasamuscaya 93

Natah srimattara kincidanyat pathyatara tatha prabhavisnorytha tata ksama sarvatra sarpvada.

Sangksepanya, ksama ikang paramarthaning pinakadrbya, pinaka mas manic nika sang wenang lumage saktining indriya, noralumewihana halepnya; anghing ya wekasning pathya, pathya ngaraning pathadnapetah, tan panasar sangke marga yukti, manggeh sadhana asing parana, tan apilih ring kala.

 

Kesimpulannya kesabaran hati itulah yang merupakan kekayaan yang utama; itu adalah sebagai emas dan permata orang yang mampu memerangi kekuatan hawa nafsunya, yang tidak ada melebihi kemuliannya. Akan tetapi ia juga pada puncaknya pathya; pathya disebut patadanapeta, yang tidak sasar, sesat dari jalan yang benar, melainkan tetap selalu merupakan pedoman untuk mencapai setiao apa yang akan ditempuh sepanjang waktu.

 

Jadi mereka adalah orang yang tidak akan tersesat pada suatu jalan kebenaran, bagi mereka-mereka yang mampu mengendalikan nafsunya. Mereka adalah manusia mulia yang memiliki harta berharga yaitu kesabaran hati.

 

  1. B.    Lobha

Lobha artinya kerakusan. Artinya suatu sifat yang selalu menginginkan lebih melebihi kapasitas yang dimilikinya. Untuk mendapatkan kenikmatan dunia dengan merasa selalu kekurangan, walaupun ia sudah mendapatnya secara cukup. Seperti misal lobha dalam mendapatkan harta seperti disebutkan dalam :

Sarasamuscaya 267.

Jatasya hi kule mukhye paravittesu grhdyatah lobhasca prajnamahanti prajna hanta hasa sriyam.

Yadyapin kulaja ikang wwang, yan engine ring pradryabaharana, hilang kaprajnan ika dening kalobhanya, hilangning kaprajnanya, ya ta humilangken srinya, halep nya salwirning wibhawanya

 

Biar pun orang berketurunan mulia, jika berkeinginan merampas kepunyaan orang lain; maka hilanglah kearifannya karena kelobhaanya; apabila telah hilang kearifannya itu itulah yang menghilangkan kemuliaannya dan seluruh kemegahannya.

 

Ini disebutkan orang yang terlalu rakus dan loba akan kepemilikan orang lain, maka ia akan kehilangan kemuliannya dimulai dari kehilangan kearifannya, karena ia sudah berlaku buruk. Jadi rugi akan segala yang telah ia punya akibat kelobaannya itu.

Apalagi jika rakus sampai menyerobot kekayaan orang lain. Kemiskinan dan hasil buruk di kehidupan yang akan datang akan jadi balasannya. Seperti tercantum dalam:

Sarasamuscaya 360

Musnam daridratyabhihanyate ghnan pujyunamasampujya bhavatyapujyah, yat karmavijam vapate manusyah tasyanurupani phalani bhumkte.

Ikang akelit ring paradrwya nguni ring purwajanma, daridra janma nika ring dlaha, ikang amati nguni pinatyan ika dlaha, sangksepanya, salwining karma wija inipuk nguni, ya ika kabhukti phalanya dlaha.

 

Yang menyerobot kepunyaan orang lain waktu hidupnya dulu, dilahirkan menjadi orang miskin di kemudian hari ; yang membunuh pada waktu hidupnya dulu akan dibunuh dalam hidupnya kemudian; singkatnya, semua benih perbuatan yang ditabur dan dibiakkan dulu, buahnya itulah yang dinikmati kemudian.

 

Hal tersebut adalah hukum kamarphala. Maka dihindarilah sebaiknya loba atau rakus akan hak milik orang lain yang mengakibatkan buah hasil perbuatan menjadi buruk di kemudian hari.

Loba dalam sarasamuscaya disebutkan juga sebagai penyebab dari kebodohan. Kebodohan yang juga akan membawa manusia ke jurang kesengsaraan tanpa batas dan tiada bisa mengartikan dan membedakan antara baik dan buruk itu sendiri. Slokanya adalah :

Sarasamuscaya 400

Ajnaphrabhavarin hidam yadduhkhamupalabhyate lobhadeva tadajnanamajnanallobha eva ca

Apan ikang sukhadukha kabhukti, punggung sankanika, ikang punggung, kalobhan sangkanika, ikang kalobhan, punggung sangkanika, matangyan punggung sangkaning sangsara

 

Sebab suka duka yang dialami, pangkalnya adalah kebodohan; kebodohan yang ditimbulkan oleh loba, sedang loka (keinginan hati) itu kebodohan asalnya; oleh karena itu kebodohanlah asal mula kesengsaraan itu.

 

Jadi kesengsaraan adalah berasal dari kebodohan yang pangkalnya ditimbulkan dari sifat loba itu sendiri. Sehingga kesengsaraan akan muncul dengan sendirinya bagi manusia yang tanpa bisa mengurangi sifat loba itu sendiri.

 

 

  1. C.    Krodha

Krodha berarti sifat kemarahan. Jika berlebihan akan membawa manusia ke jurang kehancuran. Pengendalian sifat-sifat marah tentu saja akan lebih menyejukkan hati manusia dalam menjalani berbagai jalan kehidupan. Musuh akan bisa dikurangi dengan tidak melanjutkan amarah secara membabi buta, seperti terlihat pada sloka berikut :

 

Sarasamuscaya 96

Na catravah ksayam yanti yavajjivamapi ghnatah, krodham niyantum yo veda tasya dvesta na vidyate

Katuhwan, apan yadyapi wenanga ikang wwang ri musuhnya, ta kawadhan patyana satrunya, asing kakrodhanya, sadawani huripnya tah yang tutakena gelengnya tuwi, yaya juga tan hentya ni musuh nika, kuneng prasiddha ning tan pamusuh, sang wenang humrt krodhnira juga.

 

Sebenarnya, meskipun orang itu selalu jaya terhadap seterunya, serta tak terbilang jumlah musuh yang dibunuhnya, asal yang dibencinya musnah, maka selama hidupnya pun, jika ia hanya menuruti kemarahan hatinya belaka, tentu saja tidak akan habis-habisnya musuhnya itu. Akan tetapi yang benar-benar tidak mempunyai musuh, adalah orang yang berhasil mengekang kemarahan hatinya.

 

Begitulah bagaimana jika manusia tidak mampu mengekang amarahnya, maka musuh-musuhnya tidak akan pernah habis. Tidak akan pernah ada kedamaian dalam dirinya. Maka kedamaian akan hadir pada mereka yang mampu mengekang nafsu amarahnya.

Seperti pula hal tersebut tercantum dalam sloka berikut :

 

Sarasamuscaya 98

Atmopamastu bhutesu yo bhavediha purusah. Tyaktadando jitakrodhah sa pretya sukhamdhate.

Apayapan ikang wwang upasama, tan pahi lawanawaknya ta pwa ikang sarwabhawa lingya, arah harimbawa, tatan pangdanda, tan katanam krodha, ya ika wyaktining sarwasukha, apan mangken temung sukha, ring paraloka sukha tah tinemunya.

Karena orang yang berhati sabar, berpendapat sekalian mahluk hidup itu tiada beda dengan dirinya sendiri; “ah, janganlah mementingkan diri sendiri, jangan memukul jangan marah ‘ orang yang dapat melaksanakan itu, itulah merupakan sumber atau asal mula kesenangan dan kepuasan hati, sebab sekarang ia mendapatkan kebahagiaan pun di dunia lain diperolehnya pula.

 

Seperti itulah manusia jika dengan sabar mampu menahan amarahnya. Ia bahagia baik di mana pun juga, apakah itu di dunia ini atau pun nanti di dunia yang lain. Yaitu pada saat setelah ia mati nantinya.

Manusia itu dikatakan utama, jika ia mampu melaksanakan pengekangan terhadap amarahnya. Manusia utama yang melebihi manusia lainnya walaupun ia tidak lebih kaya dari manusia itu. Seperti juga terlihat pada :

 

Sarasamuscaya 101

Akrodhanah krodhanebhyo visistastatha titiksuratitiksorvistatah, amanusebhyo manusasca pradhana vidvamstathaivavidusah pradhanah

Sangksepanya, lwih ikang wwang mangawasakena krodha; sangke kinawasakening krodha, monpakalwih juga anugrahana wiryadi tuwi, mangkana ikang kelan, lwih ika sangkeng tan kelan, yadyapin mangkana kalwihnya, mangkana manusajanma, lwih jugeka sangkeng tan manusa, mon lwih ring bhogopabhogadi, mangkana sang pandita, lwih sira sangkeng tapandita, yadyapin samrddhya ring dhanadhanyadi

 

Kesimpulannya, sangat lebih utama orang yang berhasil menguasai kemarahan daripada orang yang dikuasai kemarahan, meskipun orang kedua itu lebih kaya, lebih berkuasa dan lain-lain orang yang tahan sabar adalah ia jauh lebih baik dari pada yang tidak tahan sabar, walaupun bagaimana besar kekuasaannya, demikian pula penjelmaan menjadi manusia adalah juga lebih utama dari pada penjelmaan sebagai mahluk lain dari manusia, kendati berkelebihan pada bidang pelbagai kenikmatan dan lain-lainnya; demikian pula sang pandita, lebih utama dari orang yang bukan pandita, biarpun berlimpah-limpah harta kekayaannya, dan lain-lainnya.

 

Jadi diibaratkan bahwa mereka yang mampu menahan amarahnya adalah seperti manusia jika dibandingkan mereka yang tidak, yang diibaratkan seperti bukan manusia. Dan yang mengekang amarahnya diibarakan seperti pandita jika dibandingkan bagi mereka yang bukan, walaupun harta berlimpah. Karena pandita adalah mulia sebenarnya.

 

  1. D.    Moha

Moha berarti pula bingung. Bingung yang tiada mampu membedakan mana arti benar dan salah. Seperti orang bodoh yang tidak tahu mana jalan yang mengandung kebenaran. Tujuan utama agama akan menghantar pada yang baik yaitu surga. Orang bingung akan mengira kebenaran itu sebagai kebenaran yang lain. Seperti pada sloka berikut:

 

Sarasamuscaya 35

Ekam yadi bhavecchastram sreyo nissamcayam bhavet’ bahutvadiha sastranam guham creyah pravesitam.

Yan tunggala keta Sang Hyang Agama, tan sangcaya ngwang irikang sinanggah hayu, swargapawargaphala, akweh mara sira, kapwa dudu paksanira sowing-sowang-hetuning wulangun, tan anggah ring anggehakena, hana ring guhagahwara, sira sang hyang hayu.

 

Sesungguhnya hanya satu tujuan agama, mestinya tidak sangsi orang yang disebut kebenaran, yang dapat membawa ke surga atau moksa, semua menuju kepadanya, akan tetapi masing-masing berbeda caranya, disebabkan oleh kebingungan, sehingga yang tidak benar dibenarkan; ada yang menyangka,bahwa di dalam gua yang besarolah tempatnya kebenaran itu.

 

Jadi orang yang kebingungan akan menyangka bahwa kebenaran itu dianggap bukan kebenaran. Seperti juga ada yang menganggap kebenaran terdapat di dalam gua. Dengan mengetahui tujuan agama, maka kebingungan seperti itu tidak terjadi lagi.

Pikiran yang sangsi serta bingung, akan membawa kemeralatan di dunia. Hal itu hendaknya dikendalikan. Pengendalian pikiran sebagai hal yang utama agar tidak sangsi untuk mencapai kebahagiaan. Hal tersebut dapat dilihat pada:

 

Sarasamuscaya 81

Duragam bahudhagami prathanasamssayatmakam manah suniyatama yasya sa sukhi pretya veha ca.

Nihan ta kramaningkang manah, bhranta lungha swabhawanya, akweh inangenangenya, dadi prathana, dadi sangsaya, pinakawaknya, hana pwa wwang’ikang wenang humrt manah, sira tika manggeh amanggih sukha, mangke ring paraloka waneh.

 

Keadaan pikiran itu demikianlah; tidak berketentuan jalannya, banyak yang dicita-citakan, terkadang berkeinginan, terkadang penuh kesangsian; demikianlah kenyataannya; jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu beroleh kebahagiaan, baik sekarang maupun di dunia yang lain.

 

Jadi kebingungan dan keinginan berlebih akan hilang. Yaitu dengan mengendalikan pikiran sedemikian rupa sehingga nantinya akan tercapai kebahagiaan di dunia mana pun. Seperti juga dijelaskan bahwa manusia yang tidak goyah hatinya akan memperoleh amerta sebagai kemuliaan. Hal tersebut tercantum dalam sloka berikut :

Sarasamuscaya 128

Amrtam caiva mrtyucca dvayam dehe prastititam, mrtyurapadyate mohat satyenapaddyate’mrtam

Tan madoh marikang wisa, mwang amrta, ngke ring carira kahananya, kramanya, yan apunggung ikang wwang jenek ring adharma, wisa katemu denya, yapwan ateguh ring kastyan, mapageh ring dharma, katemung amrta.

 

Tak berjauhan bisa (racun) itu dengan amrta; di sinilah, di badan sendirilah tempatnya; keterangannya jika orang itu bodoh atau senang kepada adharma, bisa atau racun didapat olehnya; sebaliknya kokoh berpegang pada kebenaran, tidak goyah hatinya bersandar pada dharma, maka amrtalah diperolehnya.

 

Jadi dengan tidak bingung dan selalu berpegang kepada ajaran dharma, maka manusia akan mendapatkan amerta yaitu kebahagaiaan dan kemuliaan di kehidupan ini.

 

  1. E.    Mada

Mada berarti suatu kemabukan. Kemabukan yang membawa manusia pada kebingungan. Dan akhirnya dihadapkan pada perbuatan buruk yang akan mengarahkan ia pada neraka serta kemelaratan hidup. Hal ini terkadang dapat ditimbulkan oleh salah pergaulan, bergaul dengan orang-orang yang melakukan perbuatan papa. Seperti disebutkan dalam sloka ini:

Sarasamuscaya 322

Brahmaghna ca sarape ca core bhagnavrate sate, niskrtivihita sabdih jrtahgne nasty niskrtih.

Brahmagnha ngaraning mamati brahmana, humilangaken sang hyang brahma mantra kunang, tan yatna ri sira, surapa ngaraning manginum madya, an pakabrata tan panginum madya, cora kunang, bhgnabrata ngaraning manglebur brata, atyanta gongning ngaraning manglebur brata, atyanta gongning papanika kabeh, tathapin mangkana hana pamrayascitta irika, kunang papaning krtaghna, tan patambanika, tan kawenang pinrayacitta.

 

Brhmaghna artinya membunuh brahmana dan menghilangkan brahma mantra, tidakmengindahkan Beliau, surapa artinya meminum minuman keras; orang yang menjalankan brata tidak dibenarkan meminum minuman keras; tidak boleh mencuri; bhgnabrata namanya jika melebur (membatalkan)brata; keliwat besar dosanya; namun dmikian masih ada penebusnya; akan tetapi dosa krtaghna (tak tahu berterima kasih ) tak ada obatnya, tak ditebus.

 

Jadi dosa besar jika manusia membatalkan bratanya dan meneguk minuman keras. Brata itu menghantarkan manusia sebenarnya kepada surga yang akan diraihnya nanti. Seperti juga yang terdapat pada sloka ini :

Sarasamuscaya 325

Samklistakarmanamatipramadam bhuyo nrtam cadr dabhaktikam ca, vicitaragam bahumayinam na ca naitan niseveta naradhaman sat.

Nihan lwirning tan sangsargan, wwang mangulahaken pisakit, parapida duracara, wwang gong pramada, wwang mithyawada, wwang tan apangeh kabhatinya, wwang gong raga, wwang sakta ring madya, nahan tang nem kanistanin wwang, tan yogya siwin.

 

Inilah misalnya orang yang tidak patut dijadikan kawan bergaul, orang yang mengusahakan penyakit dan kesedihan kepada orang lain, serta buruk laku, orang yang sangat alpa, orang yang kata-katanya bohong dusta, orang yang terikat hatinya kepada minuman keras, keenam orang yang sangat keji itulah, yang patut dihindarkan.

 

Selain mabuk minum-minuman keras, disebutkan juga tidak baik menjadi orang yang mabuk kebangsawanan, mabuk kerupawanan, dan mabuk kepintaran. Sesungguhnya itu menimbulkan ketidaktenangan hati di dunia. Seperti pada sloka berikut:

Sarasamuscaya 337

Vidyamado dhanamadasttrtiyo’ bhijanairmadah, mada hyete valiptanameta eva satam damah.

Nihan sangskepaning mangdadyaken mada ring durjana widya, dhana, abhijana, widya ngaran sang hyang aji, widyamada ngaraning wero kapuhara denira, dhana ngaraning masmanik, salwirning wibhawa, dhanamada ngaranikang mada kawangun denya, abhijana ngaraning kawwangan abhijanamada ngaraningkang wero kapuhara denya, nahan tawakning mangddyaken mada ring durjana, kunang ri sangn sajjana, mangddyaken kopasaman ika.

 

Inilah secara singkat hal-hal yang menimbulkan kesombongan pada si durjana; widya, dhana, abhijana, widya artinya ilmu pengetahuan, widyamada artinya rasa bangga yang diakibatka ilmu pengetahuan; dhana adalah kekayaan emas dan permata, segala rupa kekayaan; dhanamada disebut kesombongan yang ditimbulan oleh kekayaan itu; abhijana artinya keturunan yang mulia; abhijanama artinya mabuk akan bangsawan; itulah bentuk-bentuk yang menimbulkan rasa angkuh pada si durjana; sebaliknya sang sajan bentuk-bentuk itu menyebabkan timbulnya ketenangan hati.

 

 

 

  1. F.     Matsarya

Matsarya disebut juga iri hati. Manusia yang memiliki sifat seperti ini, dalam Sarasamuscaya adalah manusia yang tidak mengalami kebahagiaan abadi dan menimbulkan hanya kesengsaraan dalam kehidupannya. Seperti disebutkan dalam :

Sarasamuscaya 88

Abhidhyaluh parasvesu neha namutra nandati, tasmadabhidhya santyajya sarvadabipsata sukham.

Hana ta mangke kramanya, engin ring drbyaning len, madengki ing suhkanya, ikang wwang mangkana, yatika pisaningun, temwang sukha mangke, ring paraloka tuwi, matangnyan aryakena ika, sang mahyun langgeng anemwang sukha.

 

Adalah orang yang tabiatnya menginginkan atau menghendaki milik orang lain, menaruh dengki iri hati akan kebahagiannya; orang yang demikian tabiatnya, sekali-kali tidak akan mendapat kebahagiaan di dunia ini, ataupun di dunia yang lain; oleh karena itu patut ditinggalkan tabiat itu oleh orang yang ingin mengalami kebahagiaan abadi.

 

Jadi iri hati hanya menghasilkan ketidaktenangan dalam hidup. Yang harus manusia lakukan agar terhindar dari iri hati dapat dilihat pada sloka berikut.

Sarasamuscaya 89

Sada samahitam citta naro bhutesu dharayet, nabhidhyayenne sphrayennabaddham cintayedasat

Nyanyeki kadeyakenaning wwang ikag buddhi masih ring sawaprani, yatika pagehankena, haywa ta humayamakam ikang wastu tan hana, wastu tan yukti kuneng, haywa ika inangenangen.

 

Nah inilah yang hendaknya orang perbuat, perasaan hati cinta kasih kepada segala mahluk hendaklah tetap dikuatkan, janganlah menaruh dengki iri hati, janganlah menginginkan dan jangan merindukan sesuatu yang tidak ada, ataupun sesuatu yang tidak halal; janganlah hal itu dipikir-pikirkan.

 

Kesengsaraan juga menjadi akibat yang ditimbulkan iri hati kepada sesama. Hal tersebut ada pada sloka berikut :

Sarasamuscaya 91

Yasyerya paravittesu rupe virye kulavaye, sukhasaubhagyasatkare tasya vyadhiranatagah

Ikang wwang irsya ri padanya janma tumon masnya, rupanya, wiryanya, kasujanmanya, sukhanya kasubhaganya, kalemanya, ya ta amuhara irsya iriya, ikang wwang mangkana kramanya, yatika prasiddhaning sanngsara ngaranya, karaket laranya tan patamban.

 

Orang yang irihati kepada sesanya manusia, jika melihat emasnya, wajahnya, kelahirannya yang utama, kesenangannya, keberuntungannya dan keadaannya yang terpuji; jika hal itu menyebabkan timbulnya iri hati pada dirinya; maka orang demikian keadaannya itulah sungguh-sungguh sengsara namanya, terlekati kedukaan hatinya yang tak terobati

 

Jadi jika ingin di dunia berbahagia, maka manusia hendaknyalah menghindari sifat iri hati ini. Karena iri hati hanya akan menimbulkan kesengsaraan semata bagi siapa-siapa yang terjangkiti olehnya.

 

Daftar pustaka

http://www.hukumhindu.com/2011/06/sadripu

http://www.babadbali.com/canangsari/pa-sad-ripu.html

Kadjeng, I Nyoman dkk. 1997. Sarasamuscaya dengan teks Bahasa Sansekerta dan Jawa Kuna. Paramita Surabaya.

 

 

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada 29 Januari 2012 in agama, filosofi

 

Tag: , ,

filsafat karmaphala sebagai suatu pembatasan diri

sebagai suatu bagian dari lima kepercayaan HIndu (panca sradha), maka karmaphala adalah hal penting yang sangatlah bermakna…kita tidak bisa mengelakkan apa itu pahala atau suatu hasil perbuatan…jadi dengan itu maka suatu perbuatan harus dipikirkan dengan sedemikian rupa agar pahala yang diterima itu adalah hasil yang baik….

dari pernyataan itu dapat terlihat bahwa pembatasan diri terjadi…dan sebagai suatu pedoman akan laksana yang ada bagi manusia atau umat itu sendiri…Pembatasan diri dari apa2 yang dianggap buruk dan dianggap baik…karmapala adalah bagaimana hal itu bisa menjadi suatu pembatasan terhadap diri untuk lebih menjadi suatu perbuatan yang baik akan menghasilkan yang baik pula nantinya…

sama seperti Islam dimana ada surga dan neraka sebagai bagian dari hasil apa-apa yang mereka terima di akherat nanti, maka dalam hindu cukup satu saja sebagai pembatasan diri, dimana perbuatan baik akan menghasilkan suatu yang baik dan bisa dikatakan surga dan apa apa yang disebut buruk, maka menghasilkan suatu buruk raga di hasil nantinya..

Dalam Sarasamuscaya 74 ada dinyatakan: mamituhwa ri hana ning karmaphala. Artinya. Percaya akan kebenaran ajaran Karmaphala. Dalam sloka Sarasamuscaya ini dinyatakan ada tiga pengendalian prilaku pikiran.

Namun jika ditilik lagi, apakah yang dihindari dari sisi karmaphala agar mendapatkan yang baik, maka timbullah bagaimana manusia memiliki 6 musuh dan 6 kemurkaan yang pantas dihindari….Hal tersebut terdapat pada bilangan ini yaitu sad ripu dan sad atatayi…

Sad Ripu adalah enam jenis musuh yang timbul dari sifat-sifat manusia itu sendiri, yaitu:

  1. Kama artinya sifat penuh nafsu indriya.
  2. Lobha artinya sifat loba dan serakah.
  3. Krodha artinya sifat kejam dan pemarah.
  4. Mada artinya sifat mabuk dan kegila-gilaan.
  5. Moha artinya sifat bingung dan angkuh.
  6. Matsarya adalah sifat dengki dan iri hati.

Sad Atatayi berasal dari bahasa Jawa kuno (Kawi), terdiri dari dua kata yaitu : “Sad” artinya enam, dan “Atatayi” artinya kejahatan. Jadi sad atatayi artinya enam kejahatan yang dilarang Agama Hindu yaitu :

  1. Agnida: membakar rumah atau milik orang lain, meledakkan bom, termasuk membakar dalam arti kias yaitu memarahi orang sehingga orang itu merasa malu dan terhina.
  2. Wisada: meracuni orang atau mahluk lain.
  3. Atharwa: menggunakan ilmu hitam (black magic) untuk menyengsarakan orang lain.
  4. Sastraghna: mengamuk atau membunuh tanpa tujuan tertentu karena marah.
  5. Dratikrama: memperkosa, pelecehan sex.
  6. Rajapisuna: memfitnah

Oleh karena hal itu yang menyebabkan karma buruk, maka sekehendaknyalah dihindari dan dijalani apa-apa yang menjadi kebalikannya..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Juni 2011 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.