RSS

Arsip Tag: sarasamuscaya sloka

Warna yang terdapat pada Setiap Diri Umat..

Warna yang Terdapat dalam Setiap Umat

Warna yang terdapat pada Hindu, sangatlah dikenal dan memiliki peran yang krusial di masyarakat itu sendiri. Warna atau kewajiban yang ada dalam diri umat tersebut, tentulah dipahami secara serius dalam kehidupannya. Sebagai juga seorang Dharma Raksaka ( pembela dharma), pada dasarnya hindu telah kewalahan namun masih tetap ajeg sebagai agama yang terbijak dalam memahami dan menilai suatu kehidupan. Nilai “diri” yang selalu di mantapkan oleh gelombang-gelombang fitnah oleh mereka-mereka yang memiliki tujuan khalifah. Maka sebagai suatu kebijakan pula dan dengan pengharapan dari berbagai kekuatan agung (sebagaimana pula agama) bahwa jaman akan berubah seperti yang diceritakan pada berbagai mitos, isu, dan ramalan. Lalu apakah itu memiliki nilai kebenaran?Terlihat pada mata yang terbuka dan jelas dengan fakta, maka ramalan itu sesungguhnya telah terjadi.

Kembali lagi pada wacana warna, maka warna dengan kewajiban-kewajiban itu dibagi menjadi Brahmana, Ksatria, Weisya, dan Sudra. Kewajiban itu terdapat secara jelas di Sarasamuscaya 59 sampai saramuscaya 60. Keempatnya itu pula, sedangkan pada Sarasmuscaya 61 disebutkan bagaimana kewajiban itu tidak dilakukan yang berakibat malapetaka, sebagai berikut :

Sarasamuscaya 61.

raja bhirur brahmanah sarvahakso vaicyo’nihavan, hinahvarno’lasasco, vidvanacilo vrttahinah kulinah bhrasto brahmanah stri ca dusta

Hana pwa mangke kramanya, ratu wedi-wedi, brahmana sarwabhaksa, waica nirutsaha ring krayawikrayadi karma, sudra alemen sewaka ring sang triwarna, pandita dussila, sujanma anasar ring maryadanya, brahmana tan satya, stri dustra dussila

Artinya adalah Jika hal yang demikian keadaannya ; raja yang pengecut, brahmana yang doyan makanan, waisya yang tidak ada kegiatan dalam pekerjaan berniaga, berjual beli dan sebagainya, sudra enggan, tidak suka mengabdi pada tri warna, pandita yang bertabiat jahat, orang yang berkelahiran utama nyeleweng dari hidup sopan santun, brahmana yang curang dan wanita yang bertabiat nakal dan berlaku jahat.

Seperti pula pada

Sarasamuscaya 62

ragi muktah pascamanah svahetormukho vakta, nrapiham ca rastram, ete sarve  cocyatam yanti rajan, yascamuktah snehahinah prajasu.

Waneh, wanaprasthadi, sawakaning mataki-taki kamoksan tatan hilang raganya, masuruhan maphala ryawakya, swartha kewala wih, inahaken patirhana, panemwana warawarah, ndan murkha, tan pinolih sukhawasana, kadatwan tan paratu, grhastha tan masih ring anak, tan huninga ring rat kuneng, samangkana lwirning kawlas arep, niyata wi panemwaya hala.

Artinya :Lain lagi wanaprastha dan sejenisnya, yaitu orang-orang yang mempersiapkan dirinya untuk memperoleh kelepasan (moksa), akan tetapi orang itu tidak lenyap nafsu birahinya, malahan memasak makanan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri saja, mencemarkan tempat-tempat suci, yaitu tempat memperoleh ajaran-ajaran suci, angkara murka, tidak mengindahkan segala yang mengakibatkan kebahagiaan, kerajaan tanpa raja, seorang kepala rumah tangga yang tidak mengasihi anak-anaknya; pun tidak mempedulikan keadaan masyarakat; sedemikian banyaknya hal-hal yang menimbulkan prihatin; terang nyata mereka itu psti akan menemui malapetaka.

Jadi sesuai yang di atas, adalah bahwa mereka-mereka yang tidak melakukan kewajiban akan mengalami malapetaka sebagai akibat kesalahan mereka sendiri. Terdapat juga kepatutan yang selayaknya dijalani oleh catur warna tersebut. Yaitu dalam :

Sarasamucaya 63

arjvam cancramsyam ca damaccendriyanigrahah, esa sadharano dharmascaturpvarnye bravimanuh.

Nyangn Ulah pasadharanan sang caturwarna, arjawa, si duga-duga bener, anrsansya, nrcansya ngaraning atmasukhapara, tan arimbawa ri laraning len, yawat mamuhara sukha ryawakya, yatika nrcansya ngaranya, gatining tan mangkana, anrsansya ngaranika, dama, tumangguhana awaknya, indriyanigraha, humrta indriya, nahan tang prawrtti pat, pasadharanan sang caturwarna, ling bhatara Manu.

Artinya : Inilah prilaku keempat golongan yang patut dilaksanakan : arjawa, jujur, dan terus terang; anrcangsya, artinya tdak nrcangsya maksudnya mementingkan diri snediri, tidak menghiraukan kesusahan orang lain, hanya mementingkan segala yang menimbulkan kesenangan baginya; itulah disebut nrcangsya; tingkah laku yang tidak demikian, anrcangsya namanya; dama artinya dapat menasehati diri sendiri; indriyanigraha, mengekang hawa nafsu; keempat perilaku itulah yang harus dibiasakan oleh sang caturwarna; demikian sabda Bhatara Manu.

Jadi maka seperti yang disabdakan Rsi Manu, bahwa keempat catur warna diharapkan memiliki sikap-sikap seperti di atas, yaitu jujur dan terus terang (arjawa),tidak mementingkan diri sendiri(anrcangsya), mengekang hawa nafsu (indriyanigraha), dan yang terakhir adalah menasehati diri sendiri (dama).

Dari itu lah tidak bisa dipungkiri bahwa sesungguhnya kewajiban luhur itu bersama-sama dijalani dengan sedemikian rupa. Sebagai catatan bahwa dalam diri mengandung pula unsur-unsur bagaimana catur warna itu menerobos dalam jenjang-jenjang jiwa rohani ini serta menjadi suatu kelakuan di dalam kehidupan itu sendiri.

Sebagai suatu marga atau warna yang terdapat pada “soroh” atau klan masing-masing, Maka terkumpullah suatu kewajiban dan suatu hutang budi dari setiap warna tersebut. Maksudnya adalah Tri rna atau tiga hutang yang wajib dilunasi sedemikan rupa. Yaitu sebagai berikut :

  1. Dewa Rna : Hutang kepada dewa.
  2. Pitra Rna : Hutang kepada Pitara (leluhur)
  3. Rsi Rna : Hutang kepada Guru.

Jadi bila dihubungkan sedemikan rupa, maka marga atau warna atau klan tersebut berkewajiban melunasinya atau pula paling tidak bersyukur atas jasa-jasa yang diterima oleh keturunan-keturunanNya (Beliau).

Pada Akhirnya adalah bahwa ia yang berwarna/bermarga, akan mengetahui dan wajib menjalankan suatu sujud bakti dan mengerti akan bagaimana Ia berada di  ke-warna-annya di marganya dengan mengetahui asal muasal Ia seperti “Kawitan” atau pula “Pedharman” mereka sendiri. Itu adalah sebagai awal pengetahuan akan “diri” dan telah tentunya  Sebagai atma tattwa yang terbungkus Panca Maya Kosa sebagai standar penilaian akan Sancita Karmapala (karma yang terdahulu) dan juga Pradabda serta Kryamana karmapala.

Sebagai misal bahwa dalam pengertian “sudra” maka pada dasarnya kita siapa pun itu pasti pula mengabdi pada berbagai tatanan atau struktur kehidupan. Contoh di keluarga kita mengabdi, melayani istri, orang tua, masyarakat, atau mungkin bagaimana kita melayani perusahaan saat bekerja. Ataukah memberi pelayanan sesuai tugas atasan dan sebagainya. Dalam bahwasan sebagai “Weisya”, pada dasarnya semua orang siapa pun itu tidak lepas dari yang namanya kerja untuk mencari artha, apakah itu di swasta, pemerintahan, atau pula dari sisi bisnis dan ekonomi. Intinya adalah artha sebagai suatu jalan dalam catur purusa artha menjadi komponen untuk mencapai moksartham jagadhita. Dan hal ini juga menyusup pada buana agung dan buana alit sebagai sebuah “diri” atau atman yang suci.

Lain itu kewajiban sebagai “ksatria” bahwa setiap manusia pun memiliki kewajiban untuk melindungi, baik itu dirinya, keluarga, bahkan bangsa dan negara. Melindungi istri, anak, suami, atau juga orang tua serta keluarga besar adalah suatu kewajiban pula oleh setiap lapisan umat. Semua orang punya nurani untuk melindungi semua yang dicintainya. Dan terakhir adalah sikap “Brahmana”, bahwa sesungguhnya manusia yang mempelajari agama adalah kewajiban, serta menjalankannya sehari-hari. Seperti pula semua menjalankan yadnya menghaturkan sembah, serta sebagainya. Dan akan sangat baik jika semua umat memiliki pengetahuan tentang keagamaam, dan mengajarkannya pada anak-anak atau dengan laku agar ditiru menjadi panutan. Jadi itulah maka manusia atau umat memiliki semua warna di dalam dirinya, selain pula warna yang terdapat di masyarakat.

Satyam eva Jayate.

om Santi rahayu jaya om

gwar….3/6/2012

 
 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.