RSS

Arsip Tag: sloka korupsi

Korupsi sebagai Budaya Kebodohan (Sarasamuscaya)

babi koruptor

babi koruptor saat penyembelihan

Sebagaimana melihat dari tahun ke tahun masa ke masa, sampai pada masa yang sekarang , yang saya yakini sebagai masa peralihan. Bahwa kebodohan manusia yang membudaya yang terangkum pada ketidak mampuan moralitas mereka dalam menghadapi kecaman,ancaman. bahkan diperbudak oleh kedunguan mereka terhadap “maya” atau belenggu dunia. Adalah sesuatu yang sangat tidak disadari dan dipahami oleh mereka sendiri sebagai mahluk yang rendah dan mengambingi diri mereka sebagai manusia yang berakal tumpul dan moralitas impoten.

Jika dihadapkan pada suatu paham tersendiri akan bagaimana alam itu terdiri dan menjadi bagian ekosentris dan antroposentris, yang sebenarnya tidak berhubungan dengan mereka. Namun berhubungan pada tingkat moralitas dan etika mereka pada kehidupan yang dekat dengan kematian psikis, sehingga menuju suatu kemerosotan mental yang pada akhrinya membuat mereka tidak bisa menggerakkan sendiri akal sampai pada kebersusahan mereka di dunia atau pun saat nanti dimana mereka tidak lagi dihargai sebagai manusia yang mereka rasa pintar untuk menuju suatu kecerdasan yang semu dan bagi diri mereka dan keluarga mereka sendiri untuk menapaki keberhayatan yang memang signifikan dengan peningkatan harta yang sesungguhnya tidak bergunanya pemahaman serta kepedulian dan semunya kebenaran dan sujud mereka terdahulunya.

Seperti orang punggung (bodoh) pada sarasmuscya 399

Tunggal keta paramarthaning satru ngaranya, nghing sing pungung juga tan hana ta pwa madana kasaktining punggung, apan iling liniput denika, niyata juga gumawenang asubha karma.

artinya adalah hanya satu2nyalah sesungunghnya yang bernama musuh,adalah kebodohan, tidak ada yang menyamanpenaruh kebodohan itu, sebab dengan dicengkram kebodohan itu niscaya akan melakukan perbuatan buruk.

Jadi seperti yang telah saya jelaskan pada inti sarasamuscya terdahulu bahwa sad ripu sebagai musuh adalah awal dari kritikan terhadap moralitas itu. dengan bodoh maka ia lupa dan hanya ingat pada kelobhaan, serta pada kama…Maka korup itu terjadi pada mreka yang tidak mampu lagi mendapatkan artha secara benar, hanya tidak benar saja yang mereka tahu secara cepat,sehingga walaupun pada dasarnya kesempatan itu selalu ada di dunia,maka mereka dengan ketidak “satya” an akan dharma, menunjukkan mereka pada gelombang kehancuran bagi diri mereka sendiri baik yang percaya,atau tidak percaya atau setengah percaya. atau setengah dari setengah menjadi seperempat percaya dan terbalik pada keyakinan serta intelektual dan EQ SQ mereka yang melemah sehingga rasa diri yang mereka percaya akan hangus dan lepas hlang yang melemahkan mentalitas mereka seperti pada yang saya ajukan di alinea pertama atau paragraf sebelum kedua secara acak.

Yang paling jelas bahwa koruptor atau tukang maling ayam dalam bentuk yang lain, pada dasarny tidak bisa disamakan. Karena ayam akan bernilai ekonomis lebih rendah dari pada korup itu sendiri sebagai makna yang ambigu jika dibalik menjadi bahwa korup malah pantas dibebaskan dari dunia dan langsung bisa diberikan sedikit siksa fisik atau pula langsung menuju penghilangan anggota badan tubuh, bahkan penggantungan sesuai denan falsafah revolusi dari karl marx serta kegilaan freud pada mereka, diteriakkan moralitas(Tuhan) yang mati dari Nietzche.

Seperti pada sarasamuscya 149

yapwan mangke kraman ikang wwang, angalap masning mamas makapanghada kasaktinya, kwehning hambanya, tatan mas nika juga inalap nika, apa pwa dharma, artha kama nika milu kalap denika

ArtinytaJika ada orang yang merampas kekayaan orang lain (korup,maling,rampok,jambret) dengan berpegang pada kekuatannya dan banyak pengikutnya, malahan bukan harga kekayaan hasil curian yan terampas darinya, tetapi juga dharma, artha, kamanya ikut terampas.

Secara tegas bahwa mereka yang melakukan perampasan, maling, korupsi bahwa ia akan kehilangan dharmanyta arthanya kamanya. Maksudnya bahwa bisa saja mereka seperti maling dan perampasan yang tertangkap dihakimi massa, atau mungkin seperti di atas kama lenyap (dipenjara),artha lenyap (didenda), dharma lenyap bahwa mereka mungkin tidak dhargai.

Namun bahwa dalam Sarasamuscaya 136 menegaskan bahwa:

Apan Ikang wwang kahat ri huripnya, apa nimittanikan panghilangken prana ning ika tantan harimbawa kta ya ikang, sanukhana ryawakya, ya ta angenanennya, ring len.

Artinyta bahwa bila orang itu sayang akan hidupntya, apa sebabnya ia itu ingin memusnahkan hidup mahluk lain; hal itu sekali-kali tidak memakai ukuran diri sendiri, segala sesuatu yang akan dapat menyenangkan kepada dirinya, meskipun itu seharusnya dicita-citakan terhadap mahluk lain.

Lalu selanjutnya Sarasamuscaya 139..

Sangskepanya, bhutahita ikang ulaha, apan ikang wwang lumaku, alungguh, atanghi, maturu kuneng, ndatan pakaphalang bhutahita, tan hana pahinin prawrttya lawan ulahin pasu.

artinya adalah singkatnya kesejahteraan mahluk hendaknya diusahakan, sebab orang yan sedang berjalan, duduk bangun dan tidur sekalipun,jika tidak dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat ,tiada bedanya perbuatannya dengan gerak laku hewan.

 

Yapss Inti terakhir adalah manusia adalah yang memiliki akal budi (idep), sabda (suara),dan Bayu(tenaga hiduo). Maka hewan adalah sama dengan mereka yang tidak mensejahterakan mahluk lain walaupun mereka sebenarnya mampu, bahkan mereka merampas kesejahteraan yang lainnya, apa yang kita sebut bagi mereka jika yang tidak memberi kesejahteraan karena ia mampu saja dikatakan hewan, Lalu mereka apa??Setan kah…

 

Gwar…feb 2013

dari segala sumber..

Om Krodhaning Kalkiantara Ya namo nama swaha..

Om Krodhaning Kalkiantara Ya namo nama swaha..

Om Kalkiantara Swaha..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Februari 2013 in agama, budaya, ekonomi

 

Tag: , , , , , , , , ,

Sekilas Risalah Makna Ekonomi (Artha) dalam Sarasamuscaya..

smith

Kata “Ekonomi” adalah sebuah kata yang mustahil dipisahkan dengan barisan kata Kesejahteraan, Kemakmuran, atau bahkan Kemahardikaan. Namun sebelum mencibir atau berprasangka buruk, akibat maraknya kewenang-wenangan yang berbuat seenak udel bodongnya, ya untuk mensejahterakan, memakmurkan kalangan sendiri, golongan sendiri, atau bahkan diri sendiri. Yang pasti sebuah kemahardikaan sepertinya tiada dirasakan bagi mereka tentunya.Sebuah kebebasan yang nyata dalam sekala serta niskala.

Apakah ekonomi itu, atau dalam sebutan Kitab Sarasamuscaya adalah Artha itu sendiri, yang tentunya telah diketahui menjadi bagian dalam catur purusa artha bersama Dharma sebagai dasar, Kama sebagai motivasi, dan Moksa sebagai tujuan Akhir. Sejak era Adam smith dalam menumbuhkan kata Kapitalisme sebagai keberlanjutan serta dekontruksi sosial atas Merkantilisme, maka hal terpenting dari PahamnNya (Adam Smith), yaitu Kapital itu dengan perlakuan yang sesuai adalah akan memberikan pemerataan yang sesuai dari lapisan atas sampai pula ke lapisan terbawah pada akhirnya. Jadi bahwa dengan pemerataan itu maka roda perekonomian dengan meningkatkan produksi di saat memiliki kapasitas pribadi akan berlanjut menuju kesejahteraan yang diusahakan secara merata baik diri sendiri, atau dengan berkelompok. Merata dalam artian itu adalah tingkat kesenjangan yang diusahakan diminalisir. Maksud Adam Smith adalah bahwa moralitas dalam bentuk “kasih” akan dilaksanakan diusahakan menuju suatu perbaikan sampai pada kesejahteraan itu sendiri. Itu inti yang diinginkan Adam SMith.

Kembali pada kata ekonomi sendiri, Maka teringat prinsip bahwa dengan pengeluaran sekecil2nya mendapatkan penghasilan sebesar2nya..atau kebutuhan(keinginan) manusia itu tidak terbatas dan alat pemuas kebutuhan terbatas.Sepertinya sedikit kontradiksi jika dihadapkan pada dunia adalah sebuah persinggahan dan “kemelekatan” akan dunia menghambat “santi”atau menuju ke arah “sunya” dalam kemoksaan atau mahardika itu sendiri. Lalu jika tanpa moralitas, maka apa yang terjadi adalah kelicikan, dan lobha(greed) keserakahan adalah keinginan yang tidak terbatas.

Lobha (Greed) Keserakahan sendiri adalah bagian dari Sad Ripu

Lobha artinya kerakusan. Artinya suatu sifat yang selalu menginginkan lebih melebihi kapasitas yang dimilikinya. Untuk mendapatkan kenikmatan dunia dengan merasa selalu kekurangan, walaupun ia sudah mendapatnya secara cukup. Seperti misal lobha dalam mendapatkan harta seperti disebutkan dalam :

Sarasamuscaya 267.

Jatasya hi kule mukhye paravittesu grhdyatah lobhasca prajnamahanti prajna hanta hasa sriyam.

Yadyapin kulaja ikang wwang, yan engine ring pradryabaharana, hilang kaprajnan ika dening kalobhanya, hilangning kaprajnanya, ya ta humilangken srinya, halep nya salwirning wibhawanya

Biar pun orang berketurunan mulia, jika berkeinginan merampas kepunyaan orang lain; maka hilanglah kearifannya karena kelobhaanya; apabila telah hilang kearifannya itu itulah yang menghilangkan kemuliaannya dan seluruh kemegahannya.

http://linggahindusblog.wordpress.com/2012/01/29/mengendalikan-sad-ripu-dengan-sarasamuscaya/

Jadi hanya dengan berkeinginan saja sudah menyebabkan Ia mendapatkan hasil karma yang buruk.

Dan selanjutnya dapat dijelaskan:

Sarasamuscaya 266

Hana yartha ulihlning parikleca, ulihning anyanya kuneng,

Athawa kasembahaning catru kuneng, hetunya ikang artha mangkana kramanya, tan kenginakena ika

Artinya : Adalah uang yang diperoleh dengan jalan jahat, uang yang diperoleh dengan jalan melanggar hukum atau pun uang persembahan musuh, uang yang demikian halnya jangan hendaknya diinginkan.

Jadi Adharma adalah suatu hal yang hanya mendapatkan hasil karma yang tidak mungkin baik, atau seperti yang diketahui secara universal, neraka itu hasilnya. Reinkarnasi buruk hasilnya, atau yang benar-benar tidak diharapkan adalah karma wasana yaitu dosa yang diterima oleh keluarga, dosa diwarisi, turun temurun.

Satu lagi akan suatu pencurian artha. Yaitu :

Sarasamuscaya 149

Yapwan mangke kraman ikang wwang, angalap masning mamas, makapanghada kasaktinya, kwehning hambanya, tatan mas nika juga inalap nika, apa pwa dharma, artha , kama, nika milu kalap denika..

Artinya : Jika orang yang merampas kekayaan orang lain dengan berpegang teguh kepada kekuatannya dan banyak pengikutnya, malahan bukan haga kekayaan hasil curiannya saja yang terampas darinya, tetapi juga dharma, artha kamanya itu terampas oleh karena perbuatannya.

Dalam hal ini karmapala adalah sebagai dasar yang nyata, yang berarti bahwa ia akanĀ Nantinya cepat atau lambat dan pasti bahwa kebaikan (dharma),harta, dan mimpinya (kama) akan lenyap.

Maka dengan berbagai saran serta peringatan atau pula sebuah hukum karma yang tercantum pada Sarasamuscya, maka dapat diselaraskan pada semangat moralitas dari Adam SMith tersebut yang tercantum pada awal tulisan ini.

Lalu dalam Sarasamuscaya juga terdapat bagaimana hendaknya Artha itu digunakan dalam menjalani sebuah lakon kehidupan.

Sarasamuscaya 262

Nuhan kramanyan pinatelu, ikang sabhaga, sadhana rikasiddhaning dharma, ikang kaping rwaning bhaga sadhanari kasiddhaning artha ika, wrddhyakena muwah, mangkanakramanya pinatiga, denika sang mahyun, manggihakenang hayu.

Demikian duduknya makan dibagi tiga (hasil usaha itu), satu bagian guna mencapai dharma, bagian yang kedua adalah untuk memenuhi kama, dan yang ketiga diuntukkan bagi melakukan kegiatan usaha di dalam bidang arhtha, ekonomi,agar berkembang kembali, demikian duduknya, maka dibagi tiga, oleh karena yang ingin beroleh kebahagiaan.

Seindah artinya bahwa melakukan dharma, keberhakan mendapatkan kama, serta melakukan kegiatan ekonomi adalah tiga hal yang disarankan dari sarasamucaya.

 

Daftar pustaka

Kadjeng I Nyoman, 1997, Sarasamuscaya dengan teks bahsa Sansekerta dan Jawa Kuno, Paramita.

Mark SKousen,2009, Sang Maestro “Teori-teori ekonomi modern”;Sejarah pemikiran sosial.

http://linggahindusblog.wordpress.com/2012/01/29/mengendalikan-sad-ripu-dengan-sarasamuscaya/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Februari 2013 in agama, budaya, ekonomi

 

Tag: , , , , , , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.