RSS

Tiga waktu (sandhya tiga) dan Konsep Tri Dosha..

Om swastyastu..
Saraswati pradnya paramita nitya..
Sanatana suhci ganapatya swaha..
Ekam eva adityam brhman..
Bhur bwah swah papa hning nirmala..
Nama siwa namo buddha ya..
Swaha..
image

Konsep kala atau waktu adalah suatu wilayah etheris dan wilayah yg akan selalu beradaptasi dgn ruang2 dunia..Ruang yg mmberikan tmpat etheris akasa yang juga berhadapan dgn kekuasaan Kala maya dimana sudah tergariskan dlam satu hitungan hari wuku bulan sasih dan tarikh tarikh yg berbeda..Sebuah kewaskiitaan sendiri dari para keleluhuran pada keyakinan apa pun itu ktika membicarakan tata wakti dan ruang yg selalu berhubungan signifikan dengan psikologi dan jam tubuh manusia…

Pada bahasa hindu, maka ada konsep dewasa, wuku, hari baik, hari pantanganm astronomi dan sbagainya..Dalam konsepmruang ada tata letak wilayah utara timur hulu, barat selatan hilir serta dewata nawa sangha, atau juga tata letak karang yg di bahasa tao itu mnjadi feng shui..Dan Maya tentu saja mengambil bagian penuh di sini ktika dibahasakan hindu..Untuk Maya dipersilakan melihat link ini…

https://linggahindusblog.wordpress.com/2015/02/15/tiga-maya-guna-beserta-hubungannya-dgn-cakra-cakra/

Mengenai keberadaan waktu dalam hari2 nya, maka terdapat jam tubuh dunia, dimana sngat berhubungan dgn maya di tri dosha ini..Tri dosha tentunya adalah vata, pitta, kapha yg brhubungan dgn maya tri guna..sprti yg dapat dicek pada link berikut..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2015/03/24/maya-yg-memasuki-di-sapta-serta-tri-dosha/

Vata dalam konsepnya etheris dan vayu sngst berperan pada pagi dan sore hari..serta musim2 yg sejuk..pitta berperan pada siang hari kapha pada saat malam yg lembab krna brisikan air dan tanah pertiwi…Ini sngat terlihat pada jam2 tertentu perpindahannya, namun disesuaikan pada wilayah masing-masing..Di suasana yg ekstrim sprti di gurun dan di tmpat bersalju, maka kombinasi waktu vata pitta kappa akan benar berbeda..

Di indonesia sendiri (baca nusantara) maka dlam bahasa Hindu dikatakan ada tiga waktu yg sngat baik untuk mengusahakan keseimbangan tri dosha ini..Seperti juga ttg bahasa jiwa yg mampu memberi “sarapan asupan energi baik” bagi suasana hati dan motivasi diri, yg berhubungan juga dgn cakra2 utama sbagai yg menuju keseimbangan mentalitas..Dengan mengumandangkan rinai ilahi di mantram dan pujam, sbagai sadhana seorang yg mengabil jalan baik menyempurnakan hubungan dgn parahyangan..Maka tiga waktu itu adalah sbuah disiplin yg mgkin akan simpel dan nyaman ktika telah sering dilaksanakan dan mnjadi sadhana spiritual untuk pndasi diri dan jiwa..

Dengan itu maka dibentuklah dikonsepkanlah tiga waktu yg mnjadi waktu vata pitta kapha dan berhubungan jua pada maya tringuna satwik rajas tamas…
Konsep maya yg seimbang di esensi bhagawagita wrspatti tattwa disebutkan:
“Maya adalah bahan membuat semesta AKU mencipta Maya dan semua terlingkupi olehNya, Namun Aku tidak berada di itu dan itu tidak berada di AKu, terkadang satwika akan merajai rajas tamas, trkadang rajas melampaui tamas sattwika, dan juga tamas bisa merajai sattwika rajasika, manusia pun lahir dan bersifat krna keseimbangan maya itu”
1.waktu jam enam pagi sebagai waktu vatta sedang baiknya di semesta, maka berpujam bergayatri bertri sandhya adalah untuk menarik vatta dri semesta serta memengaruhi pondasi mentalitas jihwa itu sendiri..Dan pula menarik positifnya semesta itu sbagai bekal dalam keseharian sattwika guna..

2.waktu jam 12 siang adalah waktu pitta yg senantiasa rajasik dan panas terik, shingga memengaruhi aktivitas agar seimbng kualitasnya..Rajas yg bergejolak akan membuat diri bisa limbung dan ktika tanpa sattwika bersama sama di pagi hari membuat kala waktu yg ada mmbri tekanan mental akan musuh di diri..Dalam hal ini pujam akan menetralisir itu semua dan mmbri keseimbagan yg sahih..Tanpa itu maka emosi mnjadi tinggi, dan perut akan mnjadi cenderung aktif ygnjuga mmbuat emosi dan ambisi meliar serta perlu dijinakkan agar akal masih bisa dipegang secara sehat.. Tentu scara psikis juga sbagai jalan restuNya untuk membiasakan sattwika rajasika beriringan..Waktu trkdanf jdi masqlah dn aktivitas trkadang tidak bisa ditnggalkan, konsep desa kala patra hndaknya dapat berhening dan merapal pujam pada posisi tertentu untuk agar tetap berkonsep sadhana juga…

3.waktu sore jam 6 , maka ini adalah waktu vatta yg beriiringian dng tamasika guna yaitu kappha..setelah waktu ini adalah waktu kappha dimana tubuh telah agak lelah dan kala sudah condong ke arah amlam dan barat..Ini membuat badan malas dan ogah2an serta gegeodaan kala sbagai waktu bermain untuk kala adalah saat kaphha ini mengada dan gelap adalah pasti ttg kappha dosha..Dalam hal ini akan lebih bijak ketika juga merespon itu dnag hening dan mlksanakan pujam..hal ini scra akal sehat adalah untuk tetap bervatta dan sattwika guna sbagai pedoman untuk berisitirahat(tamas) dan atau juga menguasai diri yg menuju aktivitas yg dilaksanakan dgn bermodal tetap sattwika guna dan atau vatta yg mngendalikan kappa agar tidak berlebih dan saling seimbang..(aktivitas pkrjaan malam hari tntu ada)…

Dalam keadaan yg sesuai dgn maya semesta, maka ini hndaknya dijadikan salah satu pedoman pada plaksanaan keseharian..Psikis akan memengaruhi fisik dan mmengaruhi juga kerja hormonal saraf jantung gerak metabolisme tubuh pembelahan sel serta pencegahan atas penyakit2 yang akan muncul..Dalam musim panca roba dimana kombinasi itu sedikit kompleks, maka bisa muncul pnyakit penyakit musiman, entah vatta yg ada pada prntian musim serta gugur dan semi, atau kappa yg ada pada musim dingin ahir musim gugur, atau pitha yg ada pada musim panas gugur kering kemarau…ketidakseimbangan ini bisa diseuaikan dan distabilkan..

Untuk mantram sbagai guna dan pengaruhnya dapat dicek disini..
https://linggahindusblog.wordpress.com/2009/08/26/kegunaan-mantra-atau-japa-dalam-bentuk-psikologi-pemantra/

Om bhur bwah swah tat savitur varenyam..
Bhrgo dewasya dimahi dhyoyonah pracodayat..
Sarva prani hitankarah..
Palayasva sadah sivah..
Tat pramadat ksma svanam..
Kswtyah kayiko waciko manaso dosah..
Shantii shanti shantii rahayu om..

Guswar maret 2015..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Maret 2015 in agama, doa

 

Tag: , , , , , , ,

Maya yg Memasuki di Sapta serta tri Dosha

Om swasti purnam ksma smpurna ..
Ya namo budhaya nama shivaya..
Shanti shanti rahayu..

image

Dalam memahami maya sbagai bahan dasar trbntuknya semesta dan juga badan kasar..Di mana menuju pada prusha sbagai suksma dan atman sbagai daya hidup..Maka sesungguhnya itu merasuk ke mana saja wyapi wyapaka..asta aiswarya isitwa wasitwa prapti laghima mahima prkamya anima ytrakamawasayitwa…

Maya sendiri berhubungan erat dan bermanifestasi sbagai tri dosha yaitu yg memengaruhi stula sarira badan kasar dan juga badan halus suksma linga sarira..Atman yg terjebak tersangkut pada ketidaksadaran nurani dalam mencari keilahian..
Tri dsha sendiri mrupakan bagian dri panca maha butha yg berisikan wujud2 dan bahan semesta dri prakerti..lwuir ipun..
*Vata..yaitu konsep yg berisikan keadaan yg penuh etheris akasa dan angin..Ini biasanya sesuai dgn lingkungan yg sejuk dan nyaman dimana angin sepoi sbagai maujudnya..trmasuk di dalam pnca maha butha di stula sarira badan kasar…angin adlah rongga dan nafas..serta ruang sbagai etherisnya..energi ruang juga dpat dipahami sbagai kekuatan potensi yg bisa mmbri sakit ktika tidak seimbang.
.
*pittha..adalah bagian api teja dan air..dlam hal ini adalah kondisi panas yg mnybabkan keringat berlebih dan juga saat suasana lembab dan panas..ini memengaruhi emosi dri suksma sarira..dan dalam stula sarira ini bisa terlihat di hormon dan cairan2 tubuh ginjal dan yg brhubungan dngn itu…

*Kapha..adlah bagian yg bersifat air dan pertiwi tanah..dlam stula sarira itu bisa mnjadi kelembaman dan sprti daging tulang kulit nyeri serta berada pada tingkat enggan melakukan apa pun..biasanya lingkungan yg dingin dan gelap serta basah namun dingin..

Ini konsep dri tri dosha..dlam maya tri guna..maka sattwika guna brada di wilayah vatta rajasika brada di keaktifan pitta dan kapha adlah tmasika guna…pada lingkungan yg seimbang, maka vatta adalah proses brpikir dan nafas prana yg baik, pitta adlah karma kerja yg sesuai dgn swadarma..serta kapha adlah saat tubuh layak beristrahat..dlam hal prilaku dan  berpikir yg seimbang adalah saat lingkungan vatta tidak memaksa pitta kapha dan sebaliknya..namun ketidakseimbangan bisa diberi pengotrolan dri luar dan atau mengadakan jalan yoga meditasi serta yg terkini adalah asupan vitamin dan obat2an..tentu dgn dosis yg tepat..ktika bicara masalah etheris, maka otu brada di wilayah pnyesuaian tentang cakra2 yg ada..

Sprti tulisan ttg cakra dan maya tri guna..maka tribdosha brada di cakra2 yg ada..kondisi2 terntu dalam bahasa elemen yg melindungi dan ada, berada pada definisi serta bagian elemen yg brada di cakra masing2..

*Elemen kapha berada di bagian..
Muladhara dan svadisthana..maka ktika kapha aktif, ini brhubungan dgn cakra ini..sprti juga ktika tidak seimbang, maka konsepsi penyeimbangan brasal dri area cakra ini…(tentunya disesuaikan dgn cara masing2)…
*elemen pitta berada di bagian svadisthana cakra sex dan juga di bagian manipura yg berelemen api..ketidakseimbangan itu berpengaruh trhadap stula sarira sprti pada darah dan panas tubuh atau hormon cairan yg ada..tentu dlam bahasa kontrolnya masuk pada bagian pngendalian cakra ini..

* elemen vatta adlah brasal dri angin dan ether..yg ktika masuk pada konsep cakra adlah anahata dan visuddha..yg berelemen berturut2 vayu dan akasa..suara dan sabda adalah bgian vatta dimana nafas dan kesehatan kerongkongan tenggorakan dan paru2 adalah terkondisikan ketika vatta ini seimbang..seiring dgn kesegaran saat pagi hari dalam menghirup udara segar dan embunnya..segala yg brhubungan dgn gerakan peristaltik atau pula kesegaran nafas sungguh mnjadi bgian yg terlingkupi vatta…

Di atas kedua itu ada cakra utama ajna dan mahkota..ini cakra yg brhubungan dgn kesadaran dalam suksma sarira dan juga mentalitas dalam memahami kehiduoan agar harmonis..tnpa cakra ini, tidak mgkin manusia memahami jiwa dan juga pngaruh prkerti maya semesta serta untuk mengambil analisa ttg keseimbangan stula suksma dan antahkarana sarira..untuk mncapai wicaksana wisesa, maka ckra ini aktif dan brkmbang..namun tnpa ckra2 5 lainnya..maka berisikan stula sarira yg bermimpi saja dan tidak menginjak bhumi…

Salim sntun guswar..
Maret 2015..
Sumber bacaan
Prana choa kok sui..
Maya tri guna wrspatti tattwa..
Vatta pitta kapha ayurweda..

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 24 Maret 2015 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , ,

Panca tan matra, sebagai inti citta Semesta

Om gan ganapatya ya namo swaha..
Om pasupatya suhci nirmala ring swah bhur bwah lohka..
Om sivam narayanam shantii shanti shanti..

Swastiastu..

image

Dalam dunia disadari sebagai bagian dri semesta atau juga bagian badan tuhan (panentheism)..Dalam tattwa penciptaan, maka bumi terbentuk dari kehendak cadu sakti saguna brhman (prabhu wibhu krya jnana sakti) yg membentuk purusha (inti hidup) serta juga prakerti (bahan kasar hidup)..Dalam hal ini purusha adalah jiwa suksma sarira..dan prakerti adalah badan kasar panca maha butha..

Badan yg ketiga adlah atman atau brhman itu sendiri yg mnjdi inti yg utama..Panca maha butha yg terdiri dari akasa bayu teja apah pertiwi adlah badan kasar manusia tumbuhan hewan dan jga dunia semesta dgn persentase yg berbeda beda..Kemudian suksma sarira adalah badan halus roh jiwa ..yg dibagi mnjadi citta budhi manas ahamkar.tergntung yg mana berkembang scara benar dan baik….

Pada panca maha butha yg membentuk manusia dan juga ditopang oleh suksma sarira serta juga inti hidupnya yaitu atman, maka dunia semesta (baca:bumi ini) memiliki inti atau sebuah rasa di setiap bagian pnca maha butha yg ada..Itu disebut Panca Tan Matra..Panca tan matra ini jua lah yg memberikan sensasi serta daya rasa dri indera indera manusia panca budhindriya itu..Namun hal itu tidak lepas dari kehendak Nya dri Maya triguna sbagai hyang wenang..

Panca tan matra itu sendiri adalah zat inti yg menghidupkan sensasi indriya..Adalah sebagai berikut :
1. Rupa tan matra sbagai inti melihat..
2.Gandha tan matra sbagai inti mencium bau2an..
3.Sabda tan matra inti suara dan jga yg didengar..
4.Sparsa tan matra inti dari sentuhan di kulit..
5. Rasa tan matra di pengecap..
Dalam upanishad sekilas dijelaskan bahwa ..panca tan matra sbagai berikut..
“Inti rupa..maka pejamkanlah mata dalam sinar cahaya mntari..dan pejam sampai inti itu masuk dan menghilang..maka yg tertinggal itu adalah rupa tan matra..”
“Inti sabda..maka heningkan diri dan drngarkan suara yg ada ..tutup telinga dan biarkan senyap..yg tertinggal adalah inti sabda..”
“Inti bau..maka hirup semua dlam prana..dan hembuskan smua itu..maka yg tertinggal itu adalah inti gandha tan matra”..
“Inti rasa..maka kecaplah seluruh rasa..dan kemudian diamkan dan tenangkan..lalu terdiam sampai lenyap..maka yg masih tertinggal adalah rasa tan matra..”.
“Inti sentuhan..maka rasakan angin yg berhembusndi kulit.dan menikmati sensasi itu..kmudian biarkan lenyap..maka yg tertinggal itu inti dari sparsa tan matra”(sesuai yg teringat)..

Ini adlaah yg mnjadi pnghubung antara semesta dan juga indriya2 yg ada..Tentu ini juga tergntung dari inti hikmat inti yg memberi hidup atmaning loka samastha yg dapat di tngkap pnca indriya buddhi.. Karena ini lah seluruh panca maha butha mnjadi dapat dirasakan oleh sensoris tubuh mahluk itu sendiri..Sebuah sensasi berbeda ketika ada yg berkembang dgn cukup tinggi pada mahluk2 yg lebih rendah..Namun dlam hal ini idep manusia yg mmbuat perbedaan signifikan akan rahasia semesta itu sendiri..Ketika dalam keadaan panik dan bencana, tentunya sensasi dri semesta tetap akan dipahami oleh lebih baik dri mahluk yg lain..Kuasa dari brhman yg Hyang wenang…

Ini juga disesuaikan dgn kehendak Hyang dewata terhadap maya guna dri setiap jiwa dan wujud mahluk.. Tentunya ktika hnya rajas tamas yg dibiasakan, maka sensori akan sensitif pada kenikmatan pnca karmendriya atau malah tidak terasakan inti utama kebenaran yg berasal dari hantaran panca tan matra ..materialitas yg membelenggu, smoga di dalam kehidupan keseimbangan san harmoni dgn semesta serta isinya smakin meningkat..

Om Shanti rahayu raharja samastha..
Om..

Salam gwar..
Dri brbagai sumber..
Pngrupukan nyepi mar 2015..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Maret 2015 in filosofi

 

Tag: , , , ,

Suksma Sarira dalam Psikologi Modern

image

Om gan ganapatya ya namo namah swaha..
Pradnya saraswati jnaniskala..
Om sada siwa siva narayanam om nama siwaya..

Dalam memahami Jiwa sebagai bagian mengenal Atma, maka masuk dalam keberpahaman pengetahuan ttg jiwa..Itu dikenal sebagai atma widya..Dan pada pengthuan agama( agama pramana) hindu, maka tubuh terdiri dari tiga sarira besar.Antahkarana Sarira yg dikatakan juga sbagai ananda maya kosa..badan berbahagia. Kemudian ada suksma sarira yaitu badan halus, serta stula sarira badan kasar..Badan kasar ini terdiri dari dasendriya..10 indera yg terbagi menjadi dua yaitu panca buddhindriya serta panca karmendriya..

Suksma sarira sendiri itu adalah bagian badan halus yg disebut juga jiwa atau roh dan dalam agama hindu dibagi menjadi empat bagian, yaitu citta, buddhi, manas, ahamkara . Dari empat itu maka dapat dijelaskan sebagai berikut

1.citta..adalah bagian yg paling dekat dgn atma itu sendiri yg dalam bahasa ilmu dikatakan sebagai intuisi atau juga memori, baik yg dalam memori ttg sancita,pradabda, krymana karma..Dalam kyakinan hindu, maka ini selalu berhubungan dngn konsep semesta ttg samsara dan reinkarnasi2 terdahulu atau sbagai bekal di masa depan..

2.buddhi..adalah bagian kesadaran intelektual yg juga berisikan id prinsip atas kebenaran itu sendiri atau perasaan yg berkembamg sedemikian rupa.Dalam hal ini dikatakan sbagai insting humanis yg membedakan jiwa manusia dri  jiwa yg berada di wujud yg tidak berkembang (binatang dan tumbuhan)..

3.manas.adalah kehendak atau kemauan dari pikiran serta kemampuan untuk survive dari pengaruh lingkungan yg ada, dan atau mengendalikan indera atas gejolak yg ada di semesta itu sendiri..

4.ahamkara adalah ego atau kepribadian diri yg menjadi penerima pengaruh dari semesta, dan kemudian memberikan suatu informasi kepada pikiran tentang bagaimana pengaruh semesta itu dijlankan oleh inderawi tersebut (dasendriya)…

Dari sudut pandang penjelasan atas suksma sarira tersebut, maka dapat ditarik garis benang merah pada kepribadian-kepribadian psikologi modern itu sendiri..
Dalam bahasa freud maka suatu konsep jiwa terdiri dari tiga..yaitu :

ID, EGO, Super EGo

Dalam hal ini ID adalah kepribadian scara naluri insting yg mgkin mengarah pada kemampuan survive, makan, seksualitas, aman nyaman, dan kebutuhan dasar lainnya..dalam hal ini pencapaian bahagia dalam konsep hindu adalah menuju pada jalan ananda kosa, badan bahagia antahkarana sarira…

Kemudian EgO adalah konsep yg dapat dikatakan sebagai kepribadian diri serta kemampuan diri untuk berkoneksi dgn dunia luar itu sendiri, Ego ada kesadaran ttg bagaimana menerima refleksi dari lingkungan serta sbagai bahan informasi untuk inderawi, yg sesuai dgan ID yg ada dgn keseimbangan Super Ego..Akan selalu ada suatu proses menuju keseimbangan antara ID dan super Ego, hal ini yg membuat suatu kesadaran akan sisi humanis berkembang menuju super Ego. Kesadaran Buddhi yg berkembang sesuai dgn Kerjasama Ahamkara dan Manas untuk menaungi Citta sbagai bekal memori samsara dan sbagai persimpangan antara takdir dan juga ID Super Ego..

Super Ego dikatakan adalah suatu Ego yg sempurna yg menuju pada pemahaman akan ajaran  Moralitas dan Keadilan. Sebuah kesempurnaan sbagai manusia yg mengetahui rahasia semesta untuk menuju insan yg sempurna..Dalam hal ini sangat sejalan dgn konsep maya triguna purusha…satwika rajas tamasik yg sesuai jam waktu jaman, lingkungan..Manusia yg bahagia adalah yg mengenal dan memahami widyaning atman kaniskalan..yg menuju kebahagiaam sempurna..Hal ini disesuaikan dgn jaman yg ada, seperti buddha gautama dgn pencerahan dari dalam bahwa materi bisa tidak membuat bahagia sama sekali, atau khrisna yg melumpuhkan kelicikan dan adharma, samawi seperti musa yg menyelamatkan yahudi, yesus messiah yg menjelaskan mukjizat dan cinta kasih, muhammad yg menjelaskan waktu dan ibadat tauhid, lao tzu yg memahami mistimisme yin yang, konfutzius yg menjelaskan moralitas dan ketatanegaraan..Dan yg lain seperti di nusantara yg plural yg tentunya mempengarui kepribadian dari SuperEgo itu sndiri..Namun ktika universalitas Yang Mutlak mengada, maka itu kmbali menjadi super ego yg nyata…
PAda suksma sarira, maka Super Ego adalah konsep sebuah keberadaan kemanunggalan antara Atman dan suksma..Atau sbagai kesatuan antara Jiwatman dgn brhman, Jiwa dngan supraEgo dan alam materi..
Maka pngthuan ttg Jiwa adalah bagian yg memahami sebuah tujuan kebahagiaan itu sendiri..

Lebih dekat lagi bisa dilihat pada konsep carl jung yg membagi konsep jiwa sebagai berikut:
INTUISI, PERASAAN, PIKIRAN, PENGINDERAAN..
1. Intuitif cenderung dapat dikatakan sebagai citta yg memberikan kesadaran yg serta juga berasal dari naluri yg humanis(positivitas).. Dalam bahasa samsara, maka ini berhubungan dgn bekal karma masa lalu sancita karmapala, atau ujian2 hidup yg harus dilalui..Dari kedekatan atas “kebahagiaan hakiki ananda” maka citta lah yg paling berperan..Introvert pribadi yg penyendiri, kontemplatif, meditate, adalah yg terlihat pada kepribadian yg dominan dri intuitive personality…

2. Perasaan adalah dekat dgn konsep Buddhi atau kesadaran..Hal ini berhubungan dgn Rasa atau ktika menuju pada pembelajaran kesadaran, maka itu dikatakan “olah rasa”..Bahasa Rasa bahasa keindahan, kebaikan, dan juga sebaliknya bahasa kesedihan keresahan, tetapi itu juga jalan bahasa kebahagiaan..Tentunya dalam konsep ananda marga, maka itu adalah jalan menuju antahkarana sarira..badan yg bahagia scara kekal..Kepribadian ini terletak pada seseorang yg sensitif dan perasa yg juga memberikan ruang dengar pada perasaan sekitar juga..

3.Pikiran adalah bagian dari jiwa yg untuk mengolah informasi yg didapat dari lingkungan serta merajai indera-indera yg ada..Logika juga berada pada wilayah ini..Pada bahasa atma widya, maka pikiran adalah disebut sebagai manas..Manas ini juga menguasai indriya2 yg ada, berkehendak dan berkemauan atas pngaruh dari lingkunga luar itu sendiri..Dalam hindu bisa disebut maya semesta..Indriya indriya itu adalah panca buddhindriya dan karmendriya yg secara ringkas trdiri dari panca idnriya yg umum ditambah dgn mulut (bicara) tangan kaki kemaluan dan anus..

4. Pengindraan bisa dikatakan dekat dgn ahamkara..yaitu bagian yg paling luar untuk yg menangkap respon dri lingkungam atau semesta itu sendiri…ini tercakup pada bgaimana panca indriya mengirimkan sensasi2nya kepada pikiran dan diolah dgn rasa yg ada berdasarkan intuitif juga..Seluruh itu benar merupakan suatu kesatuan dan saling mempengaruhi…

Lingkungan semesta itu sendiri, berdasarkan konsep dri hindu dikatakan terbagi menjadi Maya triguna..sattwika rajasika tamasika guna..untuk lebih jelasnya ttg Maya, bisa diclick link berikut…
https://linggahindusblog.wordpress.com/2014/06/05/psikologi-tentang-tiga-sifati-kuasa-illah-tri-guna-pada-manusia-sebagai-kekuatan-maya/

Shanti rahayu om..
Guswar ..mar 2015..
Dri berbagai sumber..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Maret 2015 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , ,

Tiga Maya Guna Beserta Hubungannya dgn Cakra-cakra.

Om gan ganapatya ya namo namah svaha..
Om sada siva purusha prakerti raja..
Om ksama sampurna ya namo nama swaha..

Om swastystu..

Dalam memahami energi serta spirit dalam jiwa manusia, tentu ada beberapa bagian yg menjadi pedoman untuk menganalisa energi itu, sebagai bagian pembelajaran diri. Bagian-bagian itu tentunya sudah dipelajari lintas generasi sebagai suatu kebenaran yg sahaja..

Seperti juga ttg pemahaman akan semesta, bahwa di saat brahman sebagai yang nirguna(tidak terliputi guna) dalam keadaan diam, sunia, hening, tetapi berisikan potensi yg tidak terbatas; maka bahwa ketika IA mncipta dan mengkreasikan dunia sbagai saguna brahman, pada saat itu maya guna akan selalu ikut dan berada di setiap celah letak waktu di kehidupan atau alam setelah kematian mengada. Maya guna itu terdiri dari guna sattwika, rajasika, dan tamasika guna..

Dqlam bhagawadgita dijelaskan pada bab 14 ttg guna2 itu..Seperti yg ada pada sloka xiv-5 bhgdwdgita..

sattwam rajas tama iti gunah, prkrtisambhawah nibhadnanti mahabaho dehe dehinan awyayam.
Artinya : tiga sifati guna, yaitu kebaikan(sattwika), bernafsu (rajas), dan kelembaman (tamas) berasal dari alam prkerti yang membelenggu jasmani, wahai mahabaho (arjuna), sedgkan yg abadi bersemayam dalam badan..

Sloka xiv-9 ..
sattwam sukhe sanjyanti rajah karmani bharata, jnanam awrtya tu tamah pramada sanjyaty uta
Artinya : sifat sattwika kebaikan mengikat orang pada kebahagiaan, sifat rajas dgn kegiatan kerja, wahai bharata, tetapi kebodohan(tamas), menyelubungi kebijaksanaan dan terikat pada kemalasan..,

Sloka xiv-17..
sattwat sanjyate jnanam rajaso lobha ewa ca, pramada-mohau tamaso bhawato jnanam ewa ca
Artinya: dari sifat sattwika timbul pengetahuan dan dari sifat rajas muncul keserakahan(lobha) dan sifat tamasika muncul ketidakpedulian, kesalahan dan juga kebodohan..

Dan dri sloka di atas, sangat menunjukkan sifati dari alam semesta itu yg selalu melingkupi seluruh mahluk dan semesta. Dan pembagian itu bisa dikatakan mutlak kebenaranNya. Ktika tidak percaya atau percaya, maka itu tidak menjadi masalah. Karena illahi tuhan Om ang mang namah, ktika dikatakn tidak ada, dan tidak percaya..Tentu Ia akan selalu ada, walau dalam hampa ketiadaan semesta. Karen hampa itu adalah IA jua..

Berhubungan dengan cakra, maka brdasarkan yoga patanjali, ada 7 cakra utama. Secara berurutan dari atas ke bawah, dan melingkupi sifati kesadaran atau sesuai dgn psikologis masing2. 7 cakra itu adalah sebagai berikut :
image

1. Cakra muladhara yaitu cakra dasar, kundalini yg brada di tulang ekor bawah. Secara umum ini brhubungan dng laku “pembangkitan” energi, di sini adalah letak pertiwi atau bhumi yg mnyimpan potensi yg sunggu besar. Ini jga berhubungan dgn sifat atau rasa “feeling home” yg mnimbulkan knyamanan baik dimana pun berada. Cqkra ini dismbolkan dgn warna merah.

2.cakra svadisthana atau cakra sakral yg berada di kemaluan dan memberikan pemahaman akan seksualitas serta daya tarik juga self confident dri sesiapa yg dianalisa. Elemen yg ada adlah apah atau air. Dan cakra ini dbri simbol warna jingga atau orange..

3. Cakra manipura navel yg berada di pusar, disebut juga solar plexus. Cakra ini menunjukkan emosi dan ambisi dri sesiapa yang dianalisa. Cakra ini simbolkan berwarna kuning dan simbolisme api teja agni. Kelebihan cakra ini atau terlalu aktif akan memperlihatkan ambisi yg meliar tnpa etika..

4.Cakra anahata atau heart cakra, cakra jantung yg berisikan rasa kasih sayang dan cinta kasih pada semesta. Cakra ini disimbolkan dgn warna hijau dan berelemen bayu angin..

5. Cakra visudha yg brwarna biru adalah sbagai akasa atau ruang hampa. Ini melukiskan penggambaran kewibawaan dan sikap kepemimpinan, baik yg arogan atau yg bijaksana. Kesediaan mendengar dan berbicara cukup dan sistematis, adalah bagian dari cakra kerongkongan yg aktif..

6. Cakra ajna yaitu cakra di tengah2 alis sbagai simbol intelegensi, dan kesadaran yg intuitif. Sebagai seorang yg pemikir dan filsuf, maka dipastikan cakra ini aktif dan terbuka. Tidak disimbolkan dgn elemen, namun warna adalah seperti ungu indigo. Cakra ini memiliki kemampuan untuk memahami dan memberik komando kpada cakra lainnya..

7. Cakra mahkota Sahasrara adalah yg menyimpan rahasia dan kedaulatan kosmis semesta..Mahkota adalah sebuah berkat bagi seluruh jiwa sesiapa itu, dan memberikan sebuah kesembuhan atas kesakitan duniawi..Ini merupakan cakra yg identik dngan ilahiah serta suci murni berasal lngsung dgn koneksi semesta..Bagi pnganut spiritualis yg waskita dan sudah memiliki pengalaman, maka ini adlah terbuka dan mempengaruhi lingkungannya.,

Seperti telah disebutkan bahwa maya adalah meliputi seluruhnya tanpa kecuali, jasmani dan juga semesta; maka tentu jiwa juga terliputi dan terbagi bagi menjadi tiga sifati maya itu.. Bagian dari itu scara psikologis, maka sanggup memaknai dari cakra-cakra utama yg ada.. Sattwika Rajasika Tamasika adalah konsep keseimbangan, konsep terlalu aktif dan berlebihan, yg ketiga adalah konsep lembam diam malas tidak aktif.. Ketika menuju keseimbangan yang aktif dan stabil, maka cakra-cakra berada pada kondisi sattwika guna. Tentu berbeda ketika cakra tertentu itu berada pada kondisi tamasik rajasik, namun bahwa seluruhnya ini adalah tidak stagnan dan dinamis. Sesuai dgn kondisi psikologis serta rasa atau juga pengalaman dri sesiapa yg diperlihatkan cakra2 itu..

Kondisi sattwik rajas tamas, atau seimbang-terlalu aktif-dan tidak aktif, dapat terlihat pada kondisi psikologis yg sesuai dgn cakra-cakra sesiapa yg dianalisa. Hal tersebut dapat dilihat pada penjelasan berikut:

SAttwika Guna…
1.Cakra Muladhara…, dalam kondisi terbuka dan seimbang, maka cakra dasar akan menunjukkan kepribadian nyaman, dan “feel likes home”, serta merasa bahwa dunia ini dimana pun berada, sebagai tempat dan rumah sendiri saja, nyaman yg terhindar dari paranoid, anxious, mampu beradaptasi dgn baik..Always feel the earth where ever they are..

2.Cakra sakral svadisthana dalam keadaan seimbang dan terbuka, maka akan memberikan sensasi self confident yang tinggi, menarik dalam berprilaku kpada lain jenis, seimbang dalam memandang lust n love, terlihat inner beauty charming dalam pesona pada lawan jenis dan disegani..

3. Cakra manipura cakra pusar..dalam keadaan seimbang, maka personalitas dri seseorang itu, akan menunjukkan emosi yg stabil, dan juga serta memiliki idealisme tinggi dgn ambisi atau harapan yg sesuai, tidak muluk2.. Manipura menunjuukan kedewasaan seseorang ktika dlam keadaan yg seimbang, seperti seorang pemimpin yg mampu meilah, kapan brsikap tegas, dan bisa memotivasi orang lain dan juga dirinya sndiri..

4.Cakra anahata cakra jantung..artinya ketika seimbang sattwika guna, maka rasa cinta kasih dan sayang kepada sesama adalah yg diprlihatkan sehari hari. Senang mlkukan pertolongan bagi yg memerlukan, bersikap ramah tamah scara tulus, karena itu mrupakan bagian dri diri juga dan personalitasnya.

5.Cakra visuddha cakra di krongkongan, ktika dalam keadaan terbuka dan stabil seimbang, maka seseorang akan memperlihatkan kebijaksanaan dalam berkata-kata, serta kewibawaan, mampu melihat kapan bicara pada waktu yg tepat, dan tempat yg sesuai. Kemampuan itu lah yg juga membuat kewibawaan terlihat dan mengubah dan mngarahkan yg lainnya untuk mlksanakan sesuai kehendaknya yg berwibawa..

6.Cakra Ajna..Mata ketiga..ketika seimbang, maka memperlihatkan kemampuan menggali informasi di intuisi yg selalu berhubungan dngan ksadaran kosmis,. Solusi atas sgala permasalahan, akan disesuaikan dgn keberadaan penyelesaian intuitif kosmis. Mampu berimajinasi kpada sesuatu yg lebih tinggi, tnpa harus lupa akan realita, adalah sbuah kedewasaan dlm mengelola mata ketiga..Spiritualistis yg seimbang dgn realita. Ajna adlah mata batin yg mmbrikan kmampuan berpikir mendalam, filsuf yg analitis..

7.Cakra Sahasrara.. adalah cakra mahkota, yg sangat berhubungan erat dgn energi semesta..Ketika terbuka dan seimbang, maka sangat terkoneksi kpda energi ilahi, mbuat rajin dlam bersujud dan berserah diri, memilki kemurnian jiwa, dan mengabdi kpadaNYa adalah kwjiban dan malah memiliki ksadaran intuitif ttg yg diinginkan semesta, bukan ego diri. Sembari berserah, maka ananda marga adalah memahami ini..jalan kebahagiaan yang hakiki..

Kemudian mari melihat bagaiman cakra2 yg dipngaruhi oleh Maya triguna Rajas Tamasika..
Rajasika Tamasika Guna…

1. Cakra Muladhara yg terliputi rajasika akan cenderung terlalu aktif, shingga tidqk hanya merasa berada di rumah sendiri, tetapi juga arogan dan tidak menghrgai aturan2 di suatu tempat, seperti “preman” yg mrasa seluruhnya hrus sprti maunya dia..Tidak mngindahkan dmana bumi dipijak disitu langit dijunjung..
Ketika tamasik guna melingkupi cakra muladhara, maka ia mrasa tidak nyaman di mana pun serta paranoid berlebihan, ada rasa tidak nyaman ktika dalam wilayah baru atau pun yg skrang. Kurang melibatkan keikutsertaan pertiwi saat bersujud, adalah yg bisa mmbuat cakra dasar muladhara tertutup..

2. Cakra sakral, svadisthana ktika terliputi rajasikam dan terlalu aktif, akan lebih terbelenggu dgn lust (nafsu seks) yg berlebih, shingga tidak bisa menahan diri ktika mlihat lawan jenis, cenderung terlihat bernafsu berlebihan..Surupa timira, gelap krna ktmpanan diri, over self confident.. Kebalikannya ktika cakra ini tidak terbuka dan tidak aktif, maka rasa percaya diri kurang, tidak memiliki rasa tertarik pda lawan jenis, merasa tidak mampu untuk mencari pasangan.

3. Cakra Manipura pusar. Adalah pusat emosi dan ambisi, serta ketenangan juga. Ketika terliputi rajasika dan akan menjadi terlalu aktif, maka seseorang itu terlihat pemarah, dan cepat emosi, egoistis, dan terlihat tidak sabaran.. Ingin selalu cepat, dan kurang sabar..Kemudian dalam posisi tamasikam guna, maka seseorang yg terlihat tanpa tujuan, tnpa harapan, ambisi yg ditekan shingga tidak terlihat sprti seseorang yg punya ketegasan, dan tidak bisa mengambil keputusan scara baik..

4.Cakra anahata jantung..Ketika terlalu aktif dan terliputi Rajasika, maka akan seperti menginginkan kasih sayang berlebih, sensitif, dan mudah jatuh cinta dgn yg lain, bisa cenderung posesif kpda pasangan.. Ktika cakra ini terliputi tamasika guna, maka tidak aktif dan seperti bersifat dingin, cuek, apatis, trhadap sekitar, tidak bisa mengungkapkan rasa kasih syang cinta pda sesama..

5. Cakra visuddha adalah cakra yg menunjukkan kewibawaan dan kepemimpinan, mampu membrikan ktgasan dalam berbicara..Namun ketika cakra ini terlalu aktif dan rajasikam, maka akan terlihat arogan, dan gemar menyalahkan, selain itu pula terlalu bnyak bicara shingga tidak mnyediakan waktu untuk mendengar.. Ketika tidak aktif dan gelap, maka seperti takut berbicara, takut salah, kurang mampu bersosial, pendiam serta cenderung jadi pendengar tidak mampu menimpali prbincangan..

6 dan 7. Cakra Ajna dan Cakra Mahkota yg terliputi rajas tamas, adalah ktika rajasika meliputi, maka terlalu aktif dan meliar shingga intelektualitas yg ada serta spiritualitas terlalu mengawang-awang dan lupa menginjak bumi, merasa paling berpengetahuan, tidak menerima kritik, dan mninggalkan realita yg ada. Atau sering berfantasi dqn daya hayal yg melangit. Harapan lebih tinggi dripada kemampuan yang ada. Bisa mnjadi arogan akan ilmu, guna timira kesombongan krna ilmu itu sendiri.. Ketika tidak aktif atau tamasika guna, maka terlingkupi kebodohan, tidak mau mempelajari ilmu jiwa atau ttg kebertuhanan, larut dalam duniawi dan menyangkal keberadaan ilahiah, tidak mempercayai karma dan mempercayai ilmu semesta, cenderung mudah berbuat kejahatan dan larut dalam budaya hedonis dan materi..

Jadi dgn memahami atau memberi sedikit ruang pada analisa2 itu, maka bisa sedikit memberi gambaran akan kondisi psikologis pribadi. Dan ini bisa menjadi cermin diri, untuk memahami ttg diri serta kepribadian rohani serta jiwa, bahkan jasmani yg sngt berhubungan dgn suksma sarira (bagian2 jiwa). Bagian jiwa itu yg terdiri dri citta buddhi manah ahamkar, sgt mempengruhi pola jasmani atau stula sarira (badan kasar) yg brhubungan dgn kesehatan..

Dalam memahami cakra secara psikologis, maka sbagai jnana pngthuan, mampu memberikan kondisi yg seimbang di setiap pmahaman akan psikis sesiapa itu yg dianalisa..Sebagaimana kmampuan intelegensi dan intelektualitas dri cakra ajna yg memahami kelebihan dan kekurangan diri. Dengan itu bisa dikelola antar cakra untuk mnjadi keseimbangan.. Disamping pula jalan raja marga yg menggunakan sarana meditasi dan semadhi untuk memahami dan memperbaiki cakra cakra tersebut.. Sebuah pribadi yg kuat dan sehat stula suksma sarira, maka tercapai jalan kebahagiaan sbagai jalan ananda..

Karena tentu di dalam jiwa yg sehat, trdapat tubuh yg memiliki kekuatan yg mampu menghadapi segala ujian kehidupan. Dan serta mampu menerima keberkahan sang pencipta dgn kebersyukuran. Juga bisa memberikan hikmah dan panutan kepada seluruh semesta..

Cek juga tentang maya..
https://linggahindusblog.wordpress.com/2014/06/05/psikologi-tentang-tiga-sifati-kuasa-illah-tri-guna-pada-manusia-sebagai-kekuatan-maya/

Cek juga tentang Atman dan tri guna..
https://linggahindusblog.wordpress.com/2014/02/10/sekilas-tentang-atman-yang-lekat-pada-kemoksaan/

Om shanti rahayu laksana om..
Salam gwar ..
Februari 2015..

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 15 Februari 2015 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Atman yang Tidak Terbagi (sebuah analisa)

image

Om parama siva, sada siva, siva narayanam..
Aum ang ung mang namah..
Semoga semua terberkati..
Shanti..

Hindu dengan panca sraddha Nya, yang menjadi keyakikan awal dalam menapaki segala kehidupan yg berbahagia. Tentu ini adalah sebuah pemahaman dan kebersadaran yang tinggi, untuk selalu memercayai rasa-rasa itu.. Brahman sebagai Hyang maha kuasa, karya, Tahu, segalanya..Atman yang sebagai percikan Brahman hyang Agung..Karmapala sebagai automatic controller dalam melaksana di dunia..Samsara sbagai kesatuan hasil dari karma-karma.. Moksah adalah tujuan itu seluruhnya..Maka ini yang membentuk Sraddha dari Sanatana Dharma itu selama semesta ada..

Atman sendiri adalah percikan dari Hyang Semesta itu, Brahman itu, yang menghidupi dan membuat mahluk menjadi bertumbuh. Sebagai daya hidup, sebagai yang membuat mahluk itu tidak menjadi mahluk mati, sebagai baterai untuk sebuah mainan mati, sebagai accu, sebagai daya listrik. Maka Atman adalah yang menjadi dasar listrik (prana) untuk menjadi hidup. Apa itu Atman sebenarNYa? Iya Atman itu adalah sebenar-benarNYA (brahman)..

Dalam pemahaman akan hakikat Atman, maka ada beberapa sifati Atman yang ada..Salah satunya adalah Atman yang tidak terbagi-bagi dan selalu menjadi bagian Brahman, selalu sama, Kekal, tidqk berpindah, tak bergerak, tak berubah..Brahman Atman Aikyam..Hal ini memang perlu dipahami secara mendalam, agar bahwa kesadaran tentang Atman itu sendiri, menjadi semakin mantap dan khusuk pada sebuah perjalanan hidup.. Untuk menuju itu, maka sifati Atman sendiri dapat dilihat pada sloka bhagawadgita ini..

Atman merupakan bagian dari Tuhan / tunggal adanya dengan Tuhan. Seperti halnya Tuhan yang memiliki sifat – sifat khusus, atman juga mempunyai sifat –sifat, seperti yang tertuang dalam Kitab Bhagawad Gita, yakni :

“na jayate mriyate va kadacin
nayam bhutva bhavita van a bhuyah
ajo nitya sasvato yam purano
na hayate hayamane sarire” (Bhagawad Gita II.20)
artinya :
Ia tidak pernah lahir dan juga tidak pernah mati atau setelah ada tak akan berhenti ada. Ia tak dilahirkan, kekal, abadi, sejak dahulu ada; dan Dia tidak mati pada saat badan jasmani ini mati.

“nai nam chindanti sastrani
nai namdahati pawakah
na cai nam kledayanty apo
na sosayati marutah” (Bhagawad Gita II.23)
artinya :
Senjata tak dapat melukai-Nya, dan api tak dapat membakar-Nya, angin tak dapat mengeringkan-Nya dan air tak dapat membasahi-Nya.

“acchedyo yam adahyo yam
akledyo sasya eva ca,
nittyah sarwagatah sthanur
acalo yam sanatanah”(Bhagawad Gita II.24)
artinya :
Sesungguhnya dia tidak dapat dilukai, dibakar dan juga tak dapat dikeringkan dan dibasahi; Dia kekal, meliputi segalanya, tak berubah, tak bergerak, dan abadi selamanya.

“Avyakto yam acityo yam
avikaryo yam ucyate,
tasmad evam viditvainam
nanusocitum arhasi”(Bhagawad Gita II.25
artinya :
Dia tidak dapat diwujudkan dengan kata – kata, tak dapat dipikirkan dan dinyatakan, tak berubah – ubah; karena itu dengan mengetahui sebagaimana halnya, engkau tak perlu berduka.

Berdasarkan uraian sloka – sloka Bhagawad Gita diatas dapat kita simpulkan sifat – sifat atman sebagai berikut :
a) acchedya berarti tak terlukai senjata,
b) adahya berarti tak terbakar oleh api,
c) akledya berarti tak terkeringkan oleh angin,
d) acesya berarti tak terbasahkan oleh air,
e) nitya berarti abadi,
f) sarwagatah berarti ada di mana-mana,
g) sathanu berarti tidak berpindah – pindah,
h) acala berarti tidak bergerak, sanatana berarti selalu sama dan kekal,
i) awyakta berarti tidak dilahirkan,
j) achintya berarti tak terpikirkan,
k) awikara berarti tidak berubah,
l) sanatana berarti selalu sama.

Maka sesuai dengan sifatiNya, Atman disebutkan Sathanu, Acala, Awyakta,Awikara, Sanatana…tidak berpindah, kekal, tidak bergerak, tidak berubah, selalu sama..Dan dgan sebutan ini, maka Atman tentunya berbeda dengan suksma, atau roh..dmana ktika samsara maka mereka akan pindah menuju tubuh baru, atau mencapai surga neraka..Bagaimana pemahaman tentang Atman yg sathanu acala awikara sanatana??

Pada proses pemahaman ini, maka dapat ditelaah melalui atma widya dan juga bahwa mahluk hidup itu terdiri dari 3 lapisan sarira..Maka Atman diselubungi oleh dua lapisan, suksma sarira, stula sarira..Atman sendiri adalah antahkarana ananda sarira, yang berarti badan yg selalu berbahagia, selalu sebagai brahman di dalam suksma dan stula sarira..Suksma sarira sendiri, terdiri dari citta,buddhi,manas, ahamkara..Dan stula sarira yg terdiri darinpanca maha butha yg membentuk dasendriya..

Dalam kehidupan, maka kesadaran manusia itu dipengaruhi oleh lingkungan yg jelasnya adalah tri guna itu sendiri..Prakrerti sattwik rajas tamas, maka itu akan berpengaruh pada ahamkara sebagai ego, dharma adharma yg disaring oleh buddhi, kmudia manas yg berhubungan dngan kehendak prilaku yg dilksanakan oleh dasaindriya.. kemudian semua karma, akan terkumpul dipendam di citta menunggu waktu yg tepat menerima buah karma..

Lalu atman dimana?, maka dalam kondisi apa pun, kesadaran akan atman tetap diam kekal serta tidak berubah, selalu sama sesuai dgn Brahman itu sendiri..Sebagai badan yg berbahagia, sebagai brhman atman aikyam, aham brhman asmi, dan sbagai moksartham jagaditha..Atman hnya sbagai penyaksi saja, atas sukma sarira yg terjebak di stula sarira itu sendiri..Sampai nanti Atman disadari sbagai kesadaran hakiki atas prjalanan suksma itu sendiri..Atman tidak pernah terpisah dari Brahman, namun atman hanya diselubungi itu, suksma sarira dan tri guna prakerti..

Ketika bahwa menyadari manusia berada di dalam atman kekal, maka manusia(dengan kesadaranNya) telah berada di dalam Brahman, di dalam kekekalan semesta. Dan sebenarnya tidak di luarnya, atau brahman tidak berada di luar manusia..Manusia yg berada di dalamNya..

Jadi atman tidak terbagi, dan tentu kekal, kemudian pula acintya..tidak terpikirkan…Karena sabda brhman dan waktu serta jiwa, akan menjadi sumber bahan pemikiran pemahaman yg dalam..Sedalam hati rasa sahaja..

Shanti jihwa rahga samastha..shanti..
Rahayu..
Guswar .. minggu 1 feb 2015..

 
 

Tag: , , , , , ,

Sivaratri..Malam Memahami Dosa, Menganalisa Maya (Tri Guna)

shiva buddha concept

Sivaratri..

Secara umum, maka sivaratri adalah dikenal malam peleburan dosa. Sesuai dengan cerita Lubdaka yang tidak tidur, dan melempar daun Bila, maka malam ini memiliki suatu energi berbeda untuk memahami dan (mungkin) melebur dosa-dosa yang ada.

Sebelum jauh memandang tentang melebur dosa, hendaknya perlu disadari tentang apakah arti dosa itu, darimana sesuatu itu berasal, dan mengapa itu bisa terjadi? Tentunya pemikiran dan konsep dosa sudah banyak dianalisa, namun sesuai dengan tulisan ini, maka perlu dosa dianalisa dengan konsep Maya (Tri Guna)..

Maya (Tri Guna) atau prakerti, adalah sebuah sifati semesta yang hadir bersamaan dengan hadirnya purusha, atau penciptaan dunia ini. Maya hadir saat Nirguna Brahman (Paratman-Parama Siva) memanifestasikan kehendakNYA untuk menhadirkan dunia serta memiliki Sifati, yaitu Saguna Brahman. Saguna Brahman sendiri terdiri dari Cadu Sakti yaitu Prabhu,Wibhu, Jnana, Krya Sakti. Dan dengan kuasaNya itu, maka Purusha mengadopsi dan mengolah Maya menjadi dunia beserta isinya. Maka sumber dari Tiga Sifati Semesta itu adalah berasal dari Brahman saat memiliki sifatiNYA.

Prakerti atau Maya itu sendiri terdiri dari tiga bentuk(kualitas), yaitu Sattwika, Rajasika, Tamasika. Yang berturut-turut adalah Kebijaksanaan, Aktif, dan Pasif dari semesta. Dalam Bhagawadgita disebutkan :

Bhagawadgita III-27..

Prkertih kryamani gunaih karmani sarwasah,

ahankara-wimudhatma kartaham iti manyate

Artinya : Sementara segala kegiatan kerja dilakukan oleh guna (sifat) dari prakerti,

Ia yang dibingungkan oleh rasa keakuannya berpendapat bahwa .”Akulah si pelakunya”.

Kemudian di Bhagawadgita VII-12

ye caiwa sattwika bhawa rajasas tamasas ca ye,

matta eweti tan widdhi na tw aham tesu te mayi

Artinya : Dan sebagaimana pun keadaan mahluk-mahluk itu, apakah mereka itu selaras (sattwik), penuh nafsu (rajas), atau pun malas (tamasa) ketahuilah semua berasal dari AKU, AKU tak disana, tetapi mereka ada pada (KU.

Maka betul sekali ketika dikatakan bahwa tidak ada satu pun mahluk di dunia yang dapat terlepas dari Maya, karena itu berasal dari Prakerti dan pula mempengaruhi purusha itu sendiri. Seperti yang juga dijelaskan pada

Bhagawadgita XIV-5

sattwam rajas tama iti gunah prkrtisambhawah,

nibadhnanti mahabaho dehe dehinam awyayam.

Artinya : Tiga sifat (Guna),Sattwam (kebaikan), rajas (bernafsu), dan tamas (kelembaman) berasal dari alam (prkerti) yang membelenggu badan jasmani, wahai Mahabaho (Arjuna), sedangkan yang abadi bersemayam di badan.

Berdasarkan keseluruhan konsep Tri Guna(Maya), sebagai prakerti yang akan selalu membelenggu jasmani. Membelenggu jasmani dan merupakan suatu kesadaran bahwa manusia atau mahluk hidup, tidak bisa lepas dari tiga sifati semesta itu sendiri. Dalam upanishad sendiri disebutkan bahwa Manusia yang ingin menuju kelepasan, yang notabene adalah tujuan akhir, untuk mendapatkan sebuah pencerahan adalah dengan cara memahami tri guna (maya) itu sendiri.

Dosa atau suatu karma buruk, adalah terjadi karena pengaruh guna rajas atau tamas yang membelenggu. Seperti guna rajas yang cenderung keras aktif penuh hawa nafsu, maka akan membawa karma buruk, karma buruk yang menghasilkan hasil dari karma yang buruk pula. Tamas sendiri yang berarti gelap, adalah guna yang ktika terlalu dihirup, maka akan menghasilkan kesengsaraan belaka. Hal ini adalah mutlak, bahwa ketika suatu prilaku atau pikiran atau perbuatan yang mengarah pada guna-guna itu, maka secara otomatis semesta(yang terdiri dari Maya Prakerti) akan menyimpan itu dan bereaksi atas tri guna yang dilaksanakan.. Kemudian akan memberi pengaruh kembali sesuai guna yang ada/dilaksanakan. Tidak ada yang sanggup sembunyi dari itu..

Karma atau Perbuatan, adalah tentu akan terliputi pula oleh Maya, ktika melaksanakan sesuatu itu, maka Maya akan bereaksi seusai aturan2 semesta itu sendiri. Rekaman-rekaman tentang Hasil Karma, entah buruk atau baik, akan selalu menjadi memori yang tersimpan di Maya semesta..

Ketika masuk dalam konsep Suksma Sarira, maka mencapai kelepasan , (kesadaran Atma-Antahkarana sarira), maka pemahaman akan seluruh pikiran, perkataan, dan prilaku itu akan sangat mempengaruhi jalan kelepasan (pengetahuan ttg Atman Brahman Aikyam) dimana suksma sarira yang terdiri dari Citta Buddhi Manas Ahamkar akan menjadi memori-memori untuk menuju tempat pengadilan (di mana pun itu) di semesta. Bentuk pengadilan di semesta dapat dikatakan sebagai Karmapala, Sancita, Pradabda, Kryamana. Apa yang ditabur, itu yang dituai.

Dalam hal ini, ahamkara (ego) sangat terpengaruhi oleh Maya, ketika tanpa Buddhi yang mengembangkan guna Sattwika, maka Ego akan dipengaruhi guna Rajas dan tamas. Dan Manas atau pikiran atau penguasa Inderawi akan menyesuaikan dengan Tri guna yang tersampaikan itu. Citta itulah mengandung unsur memori apa pun tentang Hasil Karma itu sendiri. Prakerti sangat mempengaruhi suksma sarira, yang menjadi awal terciptanya dosa itu sendiri.

Pemahaman akan Tri Guna sebagai garis besar penentuan karma, adalah dapat dipahami sesuai dengan Wraspatti Tattwa. Di mana manusia itu lahir dari keseimbangan perbuatan Sattwika rajasika Tamasika, dan seperti sloka sarasamuscya yang mennyebutkan :

Sarasamasucaya 2

Manusah sarwabhutesu varttate vai subhasubhe,

asubhesu samavistam subhesvevavakarayet.

Artinya : Diantara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan sebagai manusia sajalah,

yang dapat melaksanakan perbuatan baik dan buruk; leburlah dalam perbuatan baik,

segala perbuatan yang buruk itu, demikianlah gunanya (pahala) jadi manusia.

Dikatakan pula bahwa di saat menjadi manusia, maka ketika melaksakan tri guna, yaitu berturut-turut:

1.Sattwika dominan, maka akan menuju kelepasan.

2.Rajasika dan Sattwika dominan, maka akan mendapat sorga.

3.Rajasika dominan maka akan menuju Neraka.(tanpa Sattwika).

4.Tamasika Rajasika dominan maka akan numitis menjadi hewan dan tumbuhan.

Jadi jelaslah bahwa dosa itu sebenarnya berasal dari karma buruk yang dipengaruhi guna Rajas serta Tamasikam. Seperti pula Sarasamucaya di atas, bahwa melebur karma buruk adalah dengan melaksanakan perbuatan baik. Perbuatan yang Sattwikam adalah perbuatan bajik, bijak dan memberikan pencerahan kepada yang lainnya. Kemudian secara garis besar perbuatan Rajasik adalah perbuatan aktif penuh nafsu jahat dan keras. Namun ketika Sattwika jua memengaruhi, maka Ambisi yang besar dari Rajasikam akan dikendalikan untk melaksanakan dharma itu sendiri. Tentu dalam swadarma sebagai jalan karma marga, bahwa Kama dan Artha yang didasari dharma adalah konsep Sattwik yang mendasari Rajasika Guna. Kemudia tamasikam adalah gelap lembam dan malas, artinya lebih baik aktif dan berambisi, namun dikendalikan sattwika guna. Ketika kegelapan(Tamas) didasari dengan Rajas, maka yang terjadi adalah kekerasan karena hawa nafsu tinggi, dan ego yang melenyapkan kebenaran dharma itu sendiri.. Hakikat manusia tidak disadari pada kondisi seperti itu, maka sepantasnyalah IA sesuai dengan pikirannya yg tidak digunakan (bagai hewan), akan membuat dirinya menjadi hewan itu sendiri..Ini adalah konsep karmapala dosa berdasarkan tri guna (maya)Prakerti..

Disadari juga sebagai kesimpulan, bahwa Karma Buruk tentunya sangat disadari ada. Namun bahwa seluruh perbuatan buruk akan dilebur dengan perbuatan baik. Karma buruk itu sendiri “yang terdaftar” di Maya duniawi, akan pula terkoneksi dengan pola pikiran dan kesadaran dari individu itu sendiri. Tidak ada konsep yang pasti bahwa perbuatan A akan mendapat karma B, namun perbuatan yang Sattwik akan menghasilkan karma baik, bahkan hasil karma itu sendiri, tidak menjadi pikiran, dan diserahkan kepada Hyang Kuasa. Karena ketika guna Sattwik telah mengada dan selalu ada, menjadi keseharian dan bahkan menjadi pola pikir, maka tentunya tidak ada yang perlu dikhawatirkan ke masa yang akan datang. Sembari memberikan energi pada rasa syukur sepanjang masa yang berkenan diberikan..

Om tyambakam ya ja mahe, sugandhim pusthi wardhanam,

uvarikamiva bhandanat, mrityormuksiyas mamrtat..

Om santi santi santi Om..

Salam Guswar

Siwaratri Jan 19 2015..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Januari 2015 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.