RSS

Tiga Maya Guna Beserta Hubungannya dgn Cakra-cakra.

Om gan ganapatya ya namo namah svaha..
Om sada siva purusha prakerti raja..
Om ksama sampurna ya namo nama swaha..

Om swastystu..

Dalam memahami energi serta spirit dalam jiwa manusia, tentu ada beberapa bagian yg menjadi pedoman untuk menganalisa energi itu, sebagai bagian pembelajaran diri. Bagian-bagian itu tentunya sudah dipelajari lintas generasi sebagai suatu kebenaran yg sahaja..

Seperti juga ttg pemahaman akan semesta, bahwa di saat brahman sebagai yang nirguna(tidak terliputi guna) dalam keadaan diam, sunia, hening, tetapi berisikan potensi yg tidak terbatas; maka bahwa ketika IA mncipta dan mengkreasikan dunia sbagai saguna brahman, pada saat itu maya guna akan selalu ikut dan berada di setiap celah letak waktu di kehidupan atau alam setelah kematian mengada. Maya guna itu terdiri dari guna sattwika, rajasika, dan tamasika guna..

Dqlam bhagawadgita dijelaskan pada bab 14 ttg guna2 itu..Seperti yg ada pada sloka xiv-5 bhgdwdgita..

sattwam rajas tama iti gunah, prkrtisambhawah nibhadnanti mahabaho dehe dehinan awyayam.
Artinya : tiga sifati guna, yaitu kebaikan(sattwika), bernafsu (rajas), dan kelembaman (tamas) berasal dari alam prkerti yang membelenggu jasmani, wahai mahabaho (arjuna), sedgkan yg abadi bersemayam dalam badan..

Sloka xiv-9 ..
sattwam sukhe sanjyanti rajah karmani bharata, jnanam awrtya tu tamah pramada sanjyaty uta
Artinya : sifat sattwika kebaikan mengikat orang pada kebahagiaan, sifat rajas dgn kegiatan kerja, wahai bharata, tetapi kebodohan(tamas), menyelubungi kebijaksanaan dan terikat pada kemalasan..,

Sloka xiv-17..
sattwat sanjyate jnanam rajaso lobha ewa ca, pramada-mohau tamaso bhawato jnanam ewa ca
Artinya: dari sifat sattwika timbul pengetahuan dan dari sifat rajas muncul keserakahan(lobha) dan sifat tamasika muncul ketidakpedulian, kesalahan dan juga kebodohan..

Dan dri sloka di atas, sangat menunjukkan sifati dari alam semesta itu yg selalu melingkupi seluruh mahluk dan semesta. Dan pembagian itu bisa dikatakan mutlak kebenaranNya. Ktika tidak percaya atau percaya, maka itu tidak menjadi masalah. Karena illahi tuhan Om ang mang namah, ktika dikatakn tidak ada, dan tidak percaya..Tentu Ia akan selalu ada, walau dalam hampa ketiadaan semesta. Karen hampa itu adalah IA jua..

Berhubungan dengan cakra, maka brdasarkan yoga patanjali, ada 7 cakra utama. Secara berurutan dari atas ke bawah, dan melingkupi sifati kesadaran atau sesuai dgn psikologis masing2. 7 cakra itu adalah sebagai berikut :
image

1. Cakra muladhara yaitu cakra dasar, kundalini yg brada di tulang ekor bawah. Secara umum ini brhubungan dng laku “pembangkitan” energi, di sini adalah letak pertiwi atau bhumi yg mnyimpan potensi yg sunggu besar. Ini jga berhubungan dgn sifat atau rasa “feeling home” yg mnimbulkan knyamanan baik dimana pun berada. Cqkra ini dismbolkan dgn warna merah.

2.cakra svadisthana atau cakra sakral yg berada di kemaluan dan memberikan pemahaman akan seksualitas serta daya tarik juga self confident dri sesiapa yg dianalisa. Elemen yg ada adlah apah atau air. Dan cakra ini dbri simbol warna jingga atau orange..

3. Cakra manipura navel yg berada di pusar, disebut juga solar plexus. Cakra ini menunjukkan emosi dan ambisi dri sesiapa yang dianalisa. Cakra ini simbolkan berwarna kuning dan simbolisme api teja agni. Kelebihan cakra ini atau terlalu aktif akan memperlihatkan ambisi yg meliar tnpa etika..

4.Cakra anahata atau heart cakra, cakra jantung yg berisikan rasa kasih sayang dan cinta kasih pada semesta. Cakra ini disimbolkan dgn warna hijau dan berelemen bayu angin..

5. Cakra visudha yg brwarna biru adalah sbagai akasa atau ruang hampa. Ini melukiskan penggambaran kewibawaan dan sikap kepemimpinan, baik yg arogan atau yg bijaksana. Kesediaan mendengar dan berbicara cukup dan sistematis, adalah bagian dari cakra kerongkongan yg aktif..

6. Cakra ajna yaitu cakra di tengah2 alis sbagai simbol intelegensi, dan kesadaran yg intuitif. Sebagai seorang yg pemikir dan filsuf, maka dipastikan cakra ini aktif dan terbuka. Tidak disimbolkan dgn elemen, namun warna adalah seperti ungu indigo. Cakra ini memiliki kemampuan untuk memahami dan memberik komando kpada cakra lainnya..

7. Cakra mahkota Sahasrara adalah yg menyimpan rahasia dan kedaulatan kosmis semesta..Mahkota adalah sebuah berkat bagi seluruh jiwa sesiapa itu, dan memberikan sebuah kesembuhan atas kesakitan duniawi..Ini merupakan cakra yg identik dngan ilahiah serta suci murni berasal lngsung dgn koneksi semesta..Bagi pnganut spiritualis yg waskita dan sudah memiliki pengalaman, maka ini adlah terbuka dan mempengaruhi lingkungannya.,

Seperti telah disebutkan bahwa maya adalah meliputi seluruhnya tanpa kecuali, jasmani dan juga semesta; maka tentu jiwa juga terliputi dan terbagi bagi menjadi tiga sifati maya itu.. Bagian dari itu scara psikologis, maka sanggup memaknai dari cakra-cakra utama yg ada.. Sattwika Rajasika Tamasika adalah konsep keseimbangan, konsep terlalu aktif dan berlebihan, yg ketiga adalah konsep lembam diam malas tidak aktif.. Ketika menuju keseimbangan yang aktif dan stabil, maka cakra-cakra berada pada kondisi sattwika guna. Tentu berbeda ketika cakra tertentu itu berada pada kondisi tamasik rajasik, namun bahwa seluruhnya ini adalah tidak stagnan dan dinamis. Sesuai dgn kondisi psikologis serta rasa atau juga pengalaman dri sesiapa yg diperlihatkan cakra2 itu..

Kondisi sattwik rajas tamas, atau seimbang-terlalu aktif-dan tidak aktif, dapat terlihat pada kondisi psikologis yg sesuai dgn cakra-cakra sesiapa yg dianalisa. Hal tersebut dapat dilihat pada penjelasan berikut:

SAttwika Guna…
1.Cakra Muladhara…, dalam kondisi terbuka dan seimbang, maka cakra dasar akan menunjukkan kepribadian nyaman, dan “feel likes home”, serta merasa bahwa dunia ini dimana pun berada, sebagai tempat dan rumah sendiri saja, nyaman yg terhindar dari paranoid, anxious, mampu beradaptasi dgn baik..Always feel the earth where ever they are..

2.Cakra sakral svadisthana dalam keadaan seimbang dan terbuka, maka akan memberikan sensasi self confident yang tinggi, menarik dalam berprilaku kpada lain jenis, seimbang dalam memandang lust n love, terlihat inner beauty charming dalam pesona pada lawan jenis dan disegani..

3. Cakra manipura cakra pusar..dalam keadaan seimbang, maka personalitas dri seseorang itu, akan menunjukkan emosi yg stabil, dan juga serta memiliki idealisme tinggi dgn ambisi atau harapan yg sesuai, tidak muluk2.. Manipura menunjuukan kedewasaan seseorang ktika dlam keadaan yg seimbang, seperti seorang pemimpin yg mampu meilah, kapan brsikap tegas, dan bisa memotivasi orang lain dan juga dirinya sndiri..

4.Cakra anahata cakra jantung..artinya ketika seimbang sattwika guna, maka rasa cinta kasih dan sayang kepada sesama adalah yg diprlihatkan sehari hari. Senang mlkukan pertolongan bagi yg memerlukan, bersikap ramah tamah scara tulus, karena itu mrupakan bagian dri diri juga dan personalitasnya.

5.Cakra visuddha cakra di krongkongan, ktika dalam keadaan terbuka dan stabil seimbang, maka seseorang akan memperlihatkan kebijaksanaan dalam berkata-kata, serta kewibawaan, mampu melihat kapan bicara pada waktu yg tepat, dan tempat yg sesuai. Kemampuan itu lah yg juga membuat kewibawaan terlihat dan mengubah dan mngarahkan yg lainnya untuk mlksanakan sesuai kehendaknya yg berwibawa..

6.Cakra Ajna..Mata ketiga..ketika seimbang, maka memperlihatkan kemampuan menggali informasi di intuisi yg selalu berhubungan dngan ksadaran kosmis,. Solusi atas sgala permasalahan, akan disesuaikan dgn keberadaan penyelesaian intuitif kosmis. Mampu berimajinasi kpada sesuatu yg lebih tinggi, tnpa harus lupa akan realita, adalah sbuah kedewasaan dlm mengelola mata ketiga..Spiritualistis yg seimbang dgn realita. Ajna adlah mata batin yg mmbrikan kmampuan berpikir mendalam, filsuf yg analitis..

7.Cakra Sahasrara.. adalah cakra mahkota, yg sangat berhubungan erat dgn energi semesta..Ketika terbuka dan seimbang, maka sangat terkoneksi kpda energi ilahi, mbuat rajin dlam bersujud dan berserah diri, memilki kemurnian jiwa, dan mengabdi kpadaNYa adalah kwjiban dan malah memiliki ksadaran intuitif ttg yg diinginkan semesta, bukan ego diri. Sembari berserah, maka ananda marga adalah memahami ini..jalan kebahagiaan yang hakiki..

Kemudian mari melihat bagaiman cakra2 yg dipngaruhi oleh Maya triguna Rajas Tamasika..
Rajasika Tamasika Guna…

1. Cakra Muladhara yg terliputi rajasika akan cenderung terlalu aktif, shingga tidqk hanya merasa berada di rumah sendiri, tetapi juga arogan dan tidak menghrgai aturan2 di suatu tempat, seperti “preman” yg mrasa seluruhnya hrus sprti maunya dia..Tidak mngindahkan dmana bumi dipijak disitu langit dijunjung..
Ketika tamasik guna melingkupi cakra muladhara, maka ia mrasa tidak nyaman di mana pun serta paranoid berlebihan, ada rasa tidak nyaman ktika dalam wilayah baru atau pun yg skrang. Kurang melibatkan keikutsertaan pertiwi saat bersujud, adalah yg bisa mmbuat cakra dasar muladhara tertutup..

2. Cakra sakral, svadisthana ktika terliputi rajasikam dan terlalu aktif, akan lebih terbelenggu dgn lust (nafsu seks) yg berlebih, shingga tidak bisa menahan diri ktika mlihat lawan jenis, cenderung terlihat bernafsu berlebihan..Surupa timira, gelap krna ktmpanan diri, over self confident.. Kebalikannya ktika cakra ini tidak terbuka dan tidak aktif, maka rasa percaya diri kurang, tidak memiliki rasa tertarik pda lawan jenis, merasa tidak mampu untuk mencari pasangan.

3. Cakra Manipura pusar. Adalah pusat emosi dan ambisi, serta ketenangan juga. Ketika terliputi rajasika dan akan menjadi terlalu aktif, maka seseorang itu terlihat pemarah, dan cepat emosi, egoistis, dan terlihat tidak sabaran.. Ingin selalu cepat, dan kurang sabar..Kemudian dalam posisi tamasikam guna, maka seseorang yg terlihat tanpa tujuan, tnpa harapan, ambisi yg ditekan shingga tidak terlihat sprti seseorang yg punya ketegasan, dan tidak bisa mengambil keputusan scara baik..

4.Cakra anahata jantung..Ketika terlalu aktif dan terliputi Rajasika, maka akan seperti menginginkan kasih sayang berlebih, sensitif, dan mudah jatuh cinta dgn yg lain, bisa cenderung posesif kpda pasangan.. Ktika cakra ini terliputi tamasika guna, maka tidak aktif dan seperti bersifat dingin, cuek, apatis, trhadap sekitar, tidak bisa mengungkapkan rasa kasih syang cinta pda sesama..

5. Cakra visuddha adalah cakra yg menunjukkan kewibawaan dan kepemimpinan, mampu membrikan ktgasan dalam berbicara..Namun ketika cakra ini terlalu aktif dan rajasikam, maka akan terlihat arogan, dan gemar menyalahkan, selain itu pula terlalu bnyak bicara shingga tidak mnyediakan waktu untuk mendengar.. Ketika tidak aktif dan gelap, maka seperti takut berbicara, takut salah, kurang mampu bersosial, pendiam serta cenderung jadi pendengar tidak mampu menimpali prbincangan..

6 dan 7. Cakra Ajna dan Cakra Mahkota yg terliputi rajas tamas, adalah ktika rajasika meliputi, maka terlalu aktif dan meliar shingga intelektualitas yg ada serta spiritualitas terlalu mengawang-awang dan lupa menginjak bumi, merasa paling berpengetahuan, tidak menerima kritik, dan mninggalkan realita yg ada. Atau sering berfantasi dqn daya hayal yg melangit. Harapan lebih tinggi dripada kemampuan yang ada. Bisa mnjadi arogan akan ilmu, guna timira kesombongan krna ilmu itu sendiri.. Ketika tidak aktif atau tamasika guna, maka terlingkupi kebodohan, tidak mau mempelajari ilmu jiwa atau ttg kebertuhanan, larut dalam duniawi dan menyangkal keberadaan ilahiah, tidak mempercayai karma dan mempercayai ilmu semesta, cenderung mudah berbuat kejahatan dan larut dalam budaya hedonis dan materi..

Jadi dgn memahami atau memberi sedikit ruang pada analisa2 itu, maka bisa sedikit memberi gambaran akan kondisi psikologis pribadi. Dan ini bisa menjadi cermin diri, untuk memahami ttg diri serta kepribadian rohani serta jiwa, bahkan jasmani yg sngt berhubungan dgn suksma sarira (bagian2 jiwa). Bagian jiwa itu yg terdiri dri citta buddhi manah ahamkar, sgt mempengruhi pola jasmani atau stula sarira (badan kasar) yg brhubungan dgn kesehatan..

Dalam memahami cakra secara psikologis, maka sbagai jnana pngthuan, mampu memberikan kondisi yg seimbang di setiap pmahaman akan psikis sesiapa itu yg dianalisa..Sebagaimana kmampuan intelegensi dan intelektualitas dri cakra ajna yg memahami kelebihan dan kekurangan diri. Dengan itu bisa dikelola antar cakra untuk mnjadi keseimbangan.. Disamping pula jalan raja marga yg menggunakan sarana meditasi dan semadhi untuk memahami dan memperbaiki cakra cakra tersebut.. Sebuah pribadi yg kuat dan sehat stula suksma sarira, maka tercapai jalan kebahagiaan sbagai jalan ananda..

Karena tentu di dalam jiwa yg sehat, trdapat tubuh yg memiliki kekuatan yg mampu menghadapi segala ujian kehidupan. Dan serta mampu menerima keberkahan sang pencipta dgn kebersyukuran. Juga bisa memberikan hikmah dan panutan kepada seluruh semesta..

Cek juga tentang maya..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2014/06/05/psikologi-tentang-tiga-sifati-kuasa-illah-tri-guna-pada-manusia-sebagai-kekuatan-maya/

Cek juga tentang Atman dan tri guna..

https://linggahindusblog.wordpress.com/2014/02/10/sekilas-tentang-atman-yang-lekat-pada-kemoksaan/

Om shanti rahayu laksana om..
Salam gwar ..
Februari 2015..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Februari 2015 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Atman yang Tidak Terbagi (sebuah analisa)

image

Om parama siva, sada siva, siva narayanam..
Aum ang ung mang namah..
Semoga semua terberkati..
Shanti..

Hindu dengan panca sraddha Nya, yang menjadi keyakikan awal dalam menapaki segala kehidupan yg berbahagia. Tentu ini adalah sebuah pemahaman dan kebersadaran yang tinggi, untuk selalu memercayai rasa-rasa itu.. Brahman sebagai Hyang maha kuasa, karya, Tahu, segalanya..Atman yang sebagai percikan Brahman hyang Agung..Karmapala sebagai automatic controller dalam melaksana di dunia..Samsara sbagai kesatuan hasil dari karma-karma.. Moksah adalah tujuan itu seluruhnya..Maka ini yang membentuk Sraddha dari Sanatana Dharma itu selama semesta ada..

Atman sendiri adalah percikan dari Hyang Semesta itu, Brahman itu, yang menghidupi dan membuat mahluk menjadi bertumbuh. Sebagai daya hidup, sebagai yang membuat mahluk itu tidak menjadi mahluk mati, sebagai baterai untuk sebuah mainan mati, sebagai accu, sebagai daya listrik. Maka Atman adalah yang menjadi dasar listrik (prana) untuk menjadi hidup. Apa itu Atman sebenarNYa? Iya Atman itu adalah sebenar-benarNYA (brahman)..

Dalam pemahaman akan hakikat Atman, maka ada beberapa sifati Atman yang ada..Salah satunya adalah Atman yang tidak terbagi-bagi dan selalu menjadi bagian Brahman, selalu sama, Kekal, tidqk berpindah, tak bergerak, tak berubah..Brahman Atman Aikyam..Hal ini memang perlu dipahami secara mendalam, agar bahwa kesadaran tentang Atman itu sendiri, menjadi semakin mantap dan khusuk pada sebuah perjalanan hidup.. Untuk menuju itu, maka sifati Atman sendiri dapat dilihat pada sloka bhagawadgita ini..

Atman merupakan bagian dari Tuhan / tunggal adanya dengan Tuhan. Seperti halnya Tuhan yang memiliki sifat – sifat khusus, atman juga mempunyai sifat –sifat, seperti yang tertuang dalam Kitab Bhagawad Gita, yakni :

“na jayate mriyate va kadacin
nayam bhutva bhavita van a bhuyah
ajo nitya sasvato yam purano
na hayate hayamane sarire” (Bhagawad Gita II.20)
artinya :
Ia tidak pernah lahir dan juga tidak pernah mati atau setelah ada tak akan berhenti ada. Ia tak dilahirkan, kekal, abadi, sejak dahulu ada; dan Dia tidak mati pada saat badan jasmani ini mati.

“nai nam chindanti sastrani
nai namdahati pawakah
na cai nam kledayanty apo
na sosayati marutah” (Bhagawad Gita II.23)
artinya :
Senjata tak dapat melukai-Nya, dan api tak dapat membakar-Nya, angin tak dapat mengeringkan-Nya dan air tak dapat membasahi-Nya.

“acchedyo yam adahyo yam
akledyo sasya eva ca,
nittyah sarwagatah sthanur
acalo yam sanatanah”(Bhagawad Gita II.24)
artinya :
Sesungguhnya dia tidak dapat dilukai, dibakar dan juga tak dapat dikeringkan dan dibasahi; Dia kekal, meliputi segalanya, tak berubah, tak bergerak, dan abadi selamanya.

“Avyakto yam acityo yam
avikaryo yam ucyate,
tasmad evam viditvainam
nanusocitum arhasi”(Bhagawad Gita II.25
artinya :
Dia tidak dapat diwujudkan dengan kata – kata, tak dapat dipikirkan dan dinyatakan, tak berubah – ubah; karena itu dengan mengetahui sebagaimana halnya, engkau tak perlu berduka.

Berdasarkan uraian sloka – sloka Bhagawad Gita diatas dapat kita simpulkan sifat – sifat atman sebagai berikut :
a) acchedya berarti tak terlukai senjata,
b) adahya berarti tak terbakar oleh api,
c) akledya berarti tak terkeringkan oleh angin,
d) acesya berarti tak terbasahkan oleh air,
e) nitya berarti abadi,
f) sarwagatah berarti ada di mana-mana,
g) sathanu berarti tidak berpindah – pindah,
h) acala berarti tidak bergerak, sanatana berarti selalu sama dan kekal,
i) awyakta berarti tidak dilahirkan,
j) achintya berarti tak terpikirkan,
k) awikara berarti tidak berubah,
l) sanatana berarti selalu sama.

Maka sesuai dengan sifatiNya, Atman disebutkan Sathanu, Acala, Awyakta,Awikara, Sanatana…tidak berpindah, kekal, tidak bergerak, tidak berubah, selalu sama..Dan dgan sebutan ini, maka Atman tentunya berbeda dengan suksma, atau roh..dmana ktika samsara maka mereka akan pindah menuju tubuh baru, atau mencapai surga neraka..Bagaimana pemahaman tentang Atman yg sathanu acala awikara sanatana??

Pada proses pemahaman ini, maka dapat ditelaah melalui atma widya dan juga bahwa mahluk hidup itu terdiri dari 3 lapisan sarira..Maka Atman diselubungi oleh dua lapisan, suksma sarira, stula sarira..Atman sendiri adalah antahkarana ananda sarira, yang berarti badan yg selalu berbahagia, selalu sebagai brahman di dalam suksma dan stula sarira..Suksma sarira sendiri, terdiri dari citta,buddhi,manas, ahamkara..Dan stula sarira yg terdiri darinpanca maha butha yg membentuk dasendriya..

Dalam kehidupan, maka kesadaran manusia itu dipengaruhi oleh lingkungan yg jelasnya adalah tri guna itu sendiri..Prakrerti sattwik rajas tamas, maka itu akan berpengaruh pada ahamkara sebagai ego, dharma adharma yg disaring oleh buddhi, kmudia manas yg berhubungan dngan kehendak prilaku yg dilksanakan oleh dasaindriya.. kemudian semua karma, akan terkumpul dipendam di citta menunggu waktu yg tepat menerima buah karma..

Lalu atman dimana?, maka dalam kondisi apa pun, kesadaran akan atman tetap diam kekal serta tidak berubah, selalu sama sesuai dgn Brahman itu sendiri..Sebagai badan yg berbahagia, sebagai brhman atman aikyam, aham brhman asmi, dan sbagai moksartham jagaditha..Atman hnya sbagai penyaksi saja, atas sukma sarira yg terjebak di stula sarira itu sendiri..Sampai nanti Atman disadari sbagai kesadaran hakiki atas prjalanan suksma itu sendiri..Atman tidak pernah terpisah dari Brahman, namun atman hanya diselubungi itu, suksma sarira dan tri guna prakerti..

Ketika bahwa menyadari manusia berada di dalam atman kekal, maka manusia(dengan kesadaranNya) telah berada di dalam Brahman, di dalam kekekalan semesta. Dan sebenarnya tidak di luarnya, atau brahman tidak berada di luar manusia..Manusia yg berada di dalamNya..

Jadi atman tidak terbagi, dan tentu kekal, kemudian pula acintya..tidak terpikirkan…Karena sabda brhman dan waktu serta jiwa, akan menjadi sumber bahan pemikiran pemahaman yg dalam..Sedalam hati rasa sahaja..

Shanti jihwa rahga samastha..shanti..
Rahayu..
Guswar .. minggu 1 feb 2015..

 
 

Tag: , , , , , ,

Sivaratri..Malam Memahami Dosa, Menganalisa Maya (Tri Guna)

shiva buddha concept

Sivaratri..

Secara umum, maka sivaratri adalah dikenal malam peleburan dosa. Sesuai dengan cerita Lubdaka yang tidak tidur, dan melempar daun Bila, maka malam ini memiliki suatu energi berbeda untuk memahami dan (mungkin) melebur dosa-dosa yang ada.

Sebelum jauh memandang tentang melebur dosa, hendaknya perlu disadari tentang apakah arti dosa itu, darimana sesuatu itu berasal, dan mengapa itu bisa terjadi? Tentunya pemikiran dan konsep dosa sudah banyak dianalisa, namun sesuai dengan tulisan ini, maka perlu dosa dianalisa dengan konsep Maya (Tri Guna)..

Maya (Tri Guna) atau prakerti, adalah sebuah sifati semesta yang hadir bersamaan dengan hadirnya purusha, atau penciptaan dunia ini. Maya hadir saat Nirguna Brahman (Paratman-Parama Siva) memanifestasikan kehendakNYA untuk menhadirkan dunia serta memiliki Sifati, yaitu Saguna Brahman. Saguna Brahman sendiri terdiri dari Cadu Sakti yaitu Prabhu,Wibhu, Jnana, Krya Sakti. Dan dengan kuasaNya itu, maka Purusha mengadopsi dan mengolah Maya menjadi dunia beserta isinya. Maka sumber dari Tiga Sifati Semesta itu adalah berasal dari Brahman saat memiliki sifatiNYA.

Prakerti atau Maya itu sendiri terdiri dari tiga bentuk(kualitas), yaitu Sattwika, Rajasika, Tamasika. Yang berturut-turut adalah Kebijaksanaan, Aktif, dan Pasif dari semesta. Dalam Bhagawadgita disebutkan :

Bhagawadgita III-27..

Prkertih kryamani gunaih karmani sarwasah,

ahankara-wimudhatma kartaham iti manyate

Artinya : Sementara segala kegiatan kerja dilakukan oleh guna (sifat) dari prakerti,

Ia yang dibingungkan oleh rasa keakuannya berpendapat bahwa .”Akulah si pelakunya”.

Kemudian di Bhagawadgita VII-12

ye caiwa sattwika bhawa rajasas tamasas ca ye,

matta eweti tan widdhi na tw aham tesu te mayi

Artinya : Dan sebagaimana pun keadaan mahluk-mahluk itu, apakah mereka itu selaras (sattwik), penuh nafsu (rajas), atau pun malas (tamasa) ketahuilah semua berasal dari AKU, AKU tak disana, tetapi mereka ada pada (KU.

Maka betul sekali ketika dikatakan bahwa tidak ada satu pun mahluk di dunia yang dapat terlepas dari Maya, karena itu berasal dari Prakerti dan pula mempengaruhi purusha itu sendiri. Seperti yang juga dijelaskan pada

Bhagawadgita XIV-5

sattwam rajas tama iti gunah prkrtisambhawah,

nibadhnanti mahabaho dehe dehinam awyayam.

Artinya : Tiga sifat (Guna),Sattwam (kebaikan), rajas (bernafsu), dan tamas (kelembaman) berasal dari alam (prkerti) yang membelenggu badan jasmani, wahai Mahabaho (Arjuna), sedangkan yang abadi bersemayam di badan.

Berdasarkan keseluruhan konsep Tri Guna(Maya), sebagai prakerti yang akan selalu membelenggu jasmani. Membelenggu jasmani dan merupakan suatu kesadaran bahwa manusia atau mahluk hidup, tidak bisa lepas dari tiga sifati semesta itu sendiri. Dalam upanishad sendiri disebutkan bahwa Manusia yang ingin menuju kelepasan, yang notabene adalah tujuan akhir, untuk mendapatkan sebuah pencerahan adalah dengan cara memahami tri guna (maya) itu sendiri.

Dosa atau suatu karma buruk, adalah terjadi karena pengaruh guna rajas atau tamas yang membelenggu. Seperti guna rajas yang cenderung keras aktif penuh hawa nafsu, maka akan membawa karma buruk, karma buruk yang menghasilkan hasil dari karma yang buruk pula. Tamas sendiri yang berarti gelap, adalah guna yang ktika terlalu dihirup, maka akan menghasilkan kesengsaraan belaka. Hal ini adalah mutlak, bahwa ketika suatu prilaku atau pikiran atau perbuatan yang mengarah pada guna-guna itu, maka secara otomatis semesta(yang terdiri dari Maya Prakerti) akan menyimpan itu dan bereaksi atas tri guna yang dilaksanakan.. Kemudian akan memberi pengaruh kembali sesuai guna yang ada/dilaksanakan. Tidak ada yang sanggup sembunyi dari itu..

Karma atau Perbuatan, adalah tentu akan terliputi pula oleh Maya, ktika melaksanakan sesuatu itu, maka Maya akan bereaksi seusai aturan2 semesta itu sendiri. Rekaman-rekaman tentang Hasil Karma, entah buruk atau baik, akan selalu menjadi memori yang tersimpan di Maya semesta..

Ketika masuk dalam konsep Suksma Sarira, maka mencapai kelepasan , (kesadaran Atma-Antahkarana sarira), maka pemahaman akan seluruh pikiran, perkataan, dan prilaku itu akan sangat mempengaruhi jalan kelepasan (pengetahuan ttg Atman Brahman Aikyam) dimana suksma sarira yang terdiri dari Citta Buddhi Manas Ahamkar akan menjadi memori-memori untuk menuju tempat pengadilan (di mana pun itu) di semesta. Bentuk pengadilan di semesta dapat dikatakan sebagai Karmapala, Sancita, Pradabda, Kryamana. Apa yang ditabur, itu yang dituai.

Dalam hal ini, ahamkara (ego) sangat terpengaruhi oleh Maya, ketika tanpa Buddhi yang mengembangkan guna Sattwika, maka Ego akan dipengaruhi guna Rajas dan tamas. Dan Manas atau pikiran atau penguasa Inderawi akan menyesuaikan dengan Tri guna yang tersampaikan itu. Citta itulah mengandung unsur memori apa pun tentang Hasil Karma itu sendiri. Prakerti sangat mempengaruhi suksma sarira, yang menjadi awal terciptanya dosa itu sendiri.

Pemahaman akan Tri Guna sebagai garis besar penentuan karma, adalah dapat dipahami sesuai dengan Wraspatti Tattwa. Di mana manusia itu lahir dari keseimbangan perbuatan Sattwika rajasika Tamasika, dan seperti sloka sarasamuscya yang mennyebutkan :

Sarasamasucaya 2

Manusah sarwabhutesu varttate vai subhasubhe,

asubhesu samavistam subhesvevavakarayet.

Artinya : Diantara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan sebagai manusia sajalah,

yang dapat melaksanakan perbuatan baik dan buruk; leburlah dalam perbuatan baik,

segala perbuatan yang buruk itu, demikianlah gunanya (pahala) jadi manusia.

Dikatakan pula bahwa di saat menjadi manusia, maka ketika melaksakan tri guna, yaitu berturut-turut:

1.Sattwika dominan, maka akan menuju kelepasan.

2.Rajasika dan Sattwika dominan, maka akan mendapat sorga.

3.Rajasika dominan maka akan menuju Neraka.(tanpa Sattwika).

4.Tamasika Rajasika dominan maka akan numitis menjadi hewan dan tumbuhan.

Jadi jelaslah bahwa dosa itu sebenarnya berasal dari karma buruk yang dipengaruhi guna Rajas serta Tamasikam. Seperti pula Sarasamucaya di atas, bahwa melebur karma buruk adalah dengan melaksanakan perbuatan baik. Perbuatan yang Sattwikam adalah perbuatan bajik, bijak dan memberikan pencerahan kepada yang lainnya. Kemudian secara garis besar perbuatan Rajasik adalah perbuatan aktif penuh nafsu jahat dan keras. Namun ketika Sattwika jua memengaruhi, maka Ambisi yang besar dari Rajasikam akan dikendalikan untk melaksanakan dharma itu sendiri. Tentu dalam swadarma sebagai jalan karma marga, bahwa Kama dan Artha yang didasari dharma adalah konsep Sattwik yang mendasari Rajasika Guna. Kemudia tamasikam adalah gelap lembam dan malas, artinya lebih baik aktif dan berambisi, namun dikendalikan sattwika guna. Ketika kegelapan(Tamas) didasari dengan Rajas, maka yang terjadi adalah kekerasan karena hawa nafsu tinggi, dan ego yang melenyapkan kebenaran dharma itu sendiri.. Hakikat manusia tidak disadari pada kondisi seperti itu, maka sepantasnyalah IA sesuai dengan pikirannya yg tidak digunakan (bagai hewan), akan membuat dirinya menjadi hewan itu sendiri..Ini adalah konsep karmapala dosa berdasarkan tri guna (maya)Prakerti..

Disadari juga sebagai kesimpulan, bahwa Karma Buruk tentunya sangat disadari ada. Namun bahwa seluruh perbuatan buruk akan dilebur dengan perbuatan baik. Karma buruk itu sendiri “yang terdaftar” di Maya duniawi, akan pula terkoneksi dengan pola pikiran dan kesadaran dari individu itu sendiri. Tidak ada konsep yang pasti bahwa perbuatan A akan mendapat karma B, namun perbuatan yang Sattwik akan menghasilkan karma baik, bahkan hasil karma itu sendiri, tidak menjadi pikiran, dan diserahkan kepada Hyang Kuasa. Karena ketika guna Sattwik telah mengada dan selalu ada, menjadi keseharian dan bahkan menjadi pola pikir, maka tentunya tidak ada yang perlu dikhawatirkan ke masa yang akan datang. Sembari memberikan energi pada rasa syukur sepanjang masa yang berkenan diberikan..

Om tyambakam ya ja mahe, sugandhim pusthi wardhanam,

uvarikamiva bhandanat, mrityormuksiyas mamrtat..

Om santi santi santi Om..

Salam Guswar

Siwaratri Jan 19 2015..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Januari 2015 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , ,

2014 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Madison Square Garden dapat menyediakan 20.000 tempat duduk untuk sebuah konser. Blog ini telah dilihat sekitar 61.000 kali di 2014. Jika itu adalah konser di Madison Square Garden, dibutuhkan sekitar 3 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Januari 2015 in Tak Berkategori

 

Lima wajah Shiva(tantra) Sebagai Simbolisme Tattwa.

OM asatoma sad gamaya, tamasoma jyotir gamaya,
Mrityorma amrtam gmaya, ksma smpurna ya namo nama swaha..
Prama siwa sadasiwa siwa tattwa..

Siva seperti juga bagian dari tri murti dengan brhma wisnu di murti lainya, yg memiliki fungsi kualitasNYa sebagai pelebur..Shiva sendiri adalah yg melebur segalanya dan termasuk juga dunia kecil kita ini..Di jaman akhir Kali, yg mengisyaratkan awal mulai pralaya..Pralaya yg membawa pada perubahan besar dari kali yuga menuju kertha yuga, atau pralaya maha besar (maha pralaya)..

Dalam konsep shiva sidhanta, maka berturut2 berdasarkan tri guna maya yg diciptakanNYA terdiri dari…

Paramasiva atau nirguna brahman..
Yaitu saat IA belum melingkupi dirinya dengan guna sattwik rajasik tamasik, dimana IA acintya nirwikara, sunyi senyap, diam serta memiliki potensi yang besar dalam kediamannya…ketika disebutkan sebagai paratman, atau tempat berpulangnya atman yg terjebak di badan kasar apa pun sebagai suskma sarira, maka (bhgdgita bab 2) IA kekal, abadi, tidak berawal tidak berakhir, tempat berpulang, tidak berubah, tidak terbasahkan air, tidak terkeringkan angin, tidak terbakarkan api, suci, neti neti..Maka IA adalah yang nirguna brahman parama siva..

SAguna brahman atau sada siva..
Adalah saat IA menghendaki membalut diriNYa serta mencipta maya tri guna, sattwik rajasik tamasik..ketika itu terlaksana maka tercipta semua dan IA memiliki empat shakti, cadu shakti..yaitu
Wibhu sakti..maha mengada,..prabhu sakti..maha Raja,..jnana sakti Maha pengetahuan, krya sakti, maha karya..dan keempat itu adalah yg mnjadikan IA mencipta segalanya serta memelihara dan begitu pula melebur semuanya..maka dengan itu lahir pula purusha prkerti dari ardenareswari.yang mghasilkan dunia beserta isinya, panca maha butha sebagai dasarnya.apah bayu teja pertiwi akasa…

Siva tattwa adlah saat IA dipuja puji sbagai suatu jalan hidup kebenaran..dalam hal ini termasuk di segala penjuru dewata nawa sangha…Beliau berada di tengah dimana di utara adalah wisnu, di selatan adalah brahma, di timur adalah iswara, di barat maha dewa…
Timur laut bersabda sang hyang shyambu, tenggara maheswara, barat laut Sangkara, barat daya Rudra..
Dalam Bhatara Shiva, maka Beliau disebutkan pula memiliki 5 wajah yang juga sebagai sebuah peringatan, aturan laksana, serta juga penghukuman..

Disebutkan pada shivatantris, bahwa shiva memiliki lima wajah, dan kelima-limanya tersebut memiliki berbagai sifati serta kualitas tersendiri..Satu wajah diapit dua wajah di kanan dan dua wajah di kiri…
image

Wajah pertama paling kanan disebut “Dakshineswara”, yang dapat diibaratkan perkataan Beliau, “Dengarkanlah AKU.Ini akan Baik untukmu. Kalian harus berkelakuan dengan cara ini. Ikutilah Aku. Ikutilah jalan ini. Jangan terlibat dalam tindakan yg tidak tepat, tetapi ikutilah jalan moralitas dan kebaikan”..Wajah ini seperti menyiratkan bahwa ini awal peringatan kepada umat, atau sebuah saran untuk mengikuti jalan yg bermoral..

Wajah paling kiri disebut “Vamadeva” sangat berbeda sifati dan bertolak belakang, dikatakan sebagai wajah penghukum, seperti sang ratu adil yamadipati, yg siap menghukum siapa yg salah..Perkataan Beliau ibaratnya, “Engkau anak yg tak berguna, mengapa kau lakukan hal seperti itu?AKu akan menghukummu dngan keras.”…Sebagai penghukum yg memberikan hukuman setimpal dngan perbuatannya..

Wajah yg bersebelahan dengan Dakshineswara disebut sebagai “Ishana”. DIA mengatakan bahwa,”Lihatlah anakku, ikutilah jalan ini. Jika kamu mengikuti jalan yang lain, itu hanya akan membawamu pada penderitaan. Jangan membuat k3salahan seperti itu. Prkerti tidak pernah memaafkanmu. Hasilnya adalah bencana”..Jadi bahwa berangsur pada wajah di paling kanan yg memperingatkan, maka ada saran kedua untuk menuju pada jalan yg paling baik..

Wajah di sebelah vamadewa adalah wajah shiva yg bernama “Kalagni”..Wajah ini dikatakam sebagai peringatan paling akhir dan tegas keras serta bergemuruh.. Ibarat yg disebutkannya sebagai berikut ” Hukuman keras sedang menantimu, tulangmu akan patah bodoh! Perbuatan tak berharga apa yg kamu lakukan?” Disini betul bhwa kamu atau manusia telah melksanan sesuatu yg buruk, dan hndaknya sadar dengan hardikan dri wajah Kalagni ini..

Lalu wajah ditengah adlah yg paling diingini oleh seluruhnya. Wajah lembut yg menjadi buaian bhakta yg paling IA cintai..Wajah itu adalah “Kalyanasundaram”..IA ibaratnya berkata sebagai berikut…”Datanglah duduklah anakku..Duduk di sampingku, semoga engkau baik2 saja”..Seperti seorang ayah yg bijak dan mencintai anak2nya sedemikian rupa..takkan ada godaan dan seperti sirna semua yg terbebankan dalam ujian dunia itu sendiri..

Maka benarlah, petunjuk, saran dan sujud, keberkatan dan kebersujudan, hardikkan dan peringatan, serta yg terakhir kemurkaan dan hukuman…adalah makna berturut-turut dari 5 wajah shiva itu. Tentunya begitu pula seorang ayah yg memberikan kesemuanya sbagai tanda cinta kasih serta kedisiplinan sadhana kepada anaknya yg sadhu serta memaknai dharma secara mendalam…

Santi rahayu jihwani…
Manahing suhci nirmala rahga..
Suksmaning manah…
Om nama sivaya..om..

Sumber utama :tantra jalan pembebasan(shri anandamurti)..
Dan sumber lainnya..

Gwar okt 2014…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Oktober 2014 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , ,

Panentheisme (Di dalam Tuhan) menurut Bhagawadgita

Agama sebagai jalan untuk menuju suatu kesadaran akan kebahagiaan, maka tentu saja dapat dianalisa dengan berbagai pandangan tersendiri. Tidak ada yang mutlak benar dan pasti salah, karena pada dasarnya Tuhan Yang Esa adalah sebagai Acintya, yang tidak akan mampu dipikirkan. Logika, Akal, Pikiran, Rasa, Jiwa, semua tunduk pada sebuah kesadaran, Kesadaran yang hanya akan dicapai oleh sebuah tingkat yang memiliki perbedaan pula. Kesadaran yang membawa pada sebuah kebahagiaan tentunya untuk disebarkan kepada yang lain. Ketika diri sendiri tidak berbahagia dan menyadari akan sebuah kesadaran yang Hakiki, apa yang layak disebarkan??

images (4)

Tuhan dalam hal ini brahman atau dalam sebutan lain di agama apa pun, memiliki beberapa pandangan yang bisa dirasai oleh sadar itu sendiri.

Monotheisme adalah bagaimana IA tuhan adalah satu sahaja,tidak ada yang lainnya, yang maha besar, maha agung, maha kuasa, maha tahu dan sebagaiNYA, dunia diciptakan olehNya, berakhir di dia semata. 

Monisme dan pantheisme adalah konsep dimana seluruhNya adalah Tuhan, artinya dimana-mana IA berada, dimana-mana IA merasuk ke dalam apa pun, dan dengan itu maka tidak ada mungkin suatu kesemena-menaan akan ciptaanNYA, karena itu juga adalah IA semata. Dalam bhgwadgita secara sekilas disebutkan.. “Aku berada di seluruh mahluk sebagai ruh yang Utama, mereka yang sadar akan itu dan mengimani itu, namun tidak merosot ia karena itu, adalah seseorang yang berjalan pada jalan kerohanian.”

Panentheisme adalah konsep dimana IA Tuhan adalah maha Besar, dan manusia, kita berada pada kesadaranNya, bahwa kita berada di dalamNya. Kita hanya bagian kecil dariNYA, kita hanya bagian sangat-sangat kecil dan menjadikan sebagai sebuah atom diantara semestaNYA, kita hanya merupakan bagian dari Wajah,telinga, tubuh, tangan, kaki, jari, atau selnya, dari semesta kita hanya setitik kecil dari lautan samudra kesadaranNYA. Karena itu, sebenarnya kita hidup atau mati hanya berada pada kesadaran kecilNYA, satu kali brahman bangun hidup dan kembali terdiam, adalah satu kali pralaya itu mengada, dan kita hnya bagian dari itu saja. Betapa kecil kita sebenarnya.

Dan namun tentu saja itu adalah bagian kesadaran kita semata, kita lupa dan tidak berbahagia ketika kesadaran tentangNYA tidak didapatkan, kita telah dan selalu akan berada di dalamNYA, Namun karena ketidak sadaran dari ATMAN Brahman Aikyam, maka atman dan citta terbungkus oleh ahamkara (ego) yang menggelapkan manah dan budhhi itu sendiri sebagai bagian saudara dan lapisan atman itu sendiri.

Sebagai ingatan selubung atman adalah berturut-turut Atman, Citta (intuisi memori), Buddhi (akal wiweka), Manah (pikiran penguasa inderawi), Ahamkara atau ego. Maka selubung itu yang tidak menyadarkan manusia untuk mengetahui diri sebagai Hyang Agung itu sendiri. Dalam konsep Buana Agung Buana Alit, maka manusia adalah menyadari akan dirinya sebagai buana alit dan juga bagian dari buana agung itu sendiri. Di mana kedua hal itu tidak dapat terpisahkan..

Maka ketika sebuah kesadaran entitas diri, sebagai yg selalu terhubung pada keilahian dan kebenaran yang berbahagia, maka begitu pula diri akan selalu merasa berada di dalamNYA.. Dalam berbagai kitab hindu, banyak tersirat dari konsep kemahaBesaran hyang kuasa, serta keagunganNYA, yang siap ditemui pada tingkat kesadaran tertinggi serta kebahagiaan yang benar hakiki..

Bhgwadgita IX-6 ..

Yathakasha-sthito nityam watuh sarwatra-go mahan,  tatha sarwani bhutani mat-sthanity upadharaya..

Artinya :seperti udara yang perkasa yg bergerak dimana-mana, senantiasa berada di ruang angkasa(akasa)..ketahuilah bahwa dengan cara yang sama seluruh keberadaan ini berada di dalamKU..

Bhagawadgita IX-7

Sarwa bhutani kaunteya prakerthim yanti mamikam, kaloa ksaye punas tani kalpadau wisrjamy aham..

Artinya : seluruh mahluk, wahai putra kunti , masuk ke dalam sifat alam (prkrt)-Ku, pada setiap akhir siklus(kalpa) oada awal siklus (kalpa)berikutNYA Aku kembalikan lagi mereka itu…

Dalan kedua sloka bhgwdgita diatas, maka dpat disimpulkan bahkan udara berada di dalamNYA tuhan yg maha besar, serta seluruh mahluk terliputi terkuasai oleh alam prkerti hyang Kuasa, walaupun mereka  menyangkalnya, tetap saja mereka berada di dalam sifati prkerti hyang maha besar itu..

Kemudian di bhgwadgita IX-13.,

Mahatmanas tu mam partha daiwim prkertim asritah, bhajanty ananya-manaso jnatwa bhutadim awyayam.,

Artinya : Roh roh agung, wahai partha, yg memiliki sifat2 ilahi(daiwi prkrthim), yang mengetahui AKU sebagai sumber abadi segala mahluk, memujaKu dengan pikiran yang mantap..

Bhwagawadgita, IX-4

Maya tatam idam sarwan jagad awyakta-murtina, Mat-sthani sarwa-bhutani na caham tesw awasthitah..

Artinya ., seluruh alam semesta inu terselimuti olehKU melalui wujudKU, yg tak termanifestasikan..Semua mahluk ada padaKU, tetapi Aku tak ada pada mereka..

Dalam sloka di atas, maka maya prkerti atau sifati ilahi yaitu satwik rajasik tamasik, ada dalam daiwik prkrtim di roh2 agung yg mngerti bahwa IA yang kuasa berada di sifati daiwi yg satwika dan rajasikam,..Kemudian bahwa seluruh mahluk yang berada di dalamNYA, tidak akan bisa lepas dari prkrtiNYA, apakah daiwi prkrthim, atau mohini prkrtim (keakuan palsu) dan keagunganNYA, menyebutkan bhwa IA yang KUAsa, tiada terpengaruh oleh kedua itu, namun kedua itu selalu berada di dalamNYA…

Kemudian apa yg menjadi daiwi prkrtih dan mohini prkrtih yg berada di dalamNYA, dapat disebutkan pada sloka berikut :

Bhgwdgita X-4

Buddhir jnanam assamohah ksama satyam damah samah,sukham duhkham bhwavo, bhayam cabhayam evacha..

Artinya ..pemahaman, pengethuan, bebas dari kebingungan,kesabaran, kebenaran,pengendalian diri dan ketenangan, kesenangan dan dukha,keberadaan, dan ketidak adaan, ketakutan dan keberanian…

Bhgwdgita X-5

Ahimsa samata tuatis tapo danam yaso yasah, bhwanti,bhawa bhutanam, matta eva prthag-widhah..

Artinya,, tanpa kekerasan,keseimbangan pikiran, kepuasan, kesederhanaan, amal sedekah, kemasyuran dan kehinaan, semuanya ini adalah keadaan daru mahluk2 yang hanya berasal dari AKU saja.,,

Dalam sloka kedua diatas, dapat diambil pemahaman bhwa semua sifati dunia ilahi, atau dri sifati mohini berasal dari IA yang Maha KUAsa, dan berada pada prakertiNYA, tentunya kesadaran yg berada di dalamNYA..kemudian bhwa yang mencariNYA dalam kesadaranNYA yg menuju kebahagiaan sejati…walaupun sangkalan dan pengethuan yg mnjauh dariNYA, tetap saja itu berada di dalam IA semata, karena mahkukNYA sesungguhnya hnya dpat memilih, mnjadi yg sadar atau berada di ketidaksadaran…krna semua berada di dalamNYA(panentheism)..semakin menyangkal, maka tidak berguna, krna sudah selalu berada di kesadaranNYA..

Salam gwar  Agust 2014

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Agustus 2014 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , ,

Aktualitas Sila Pertama Pancasila..(membungkam intoleransi)..

Sahadja pancasila jaya negara samastha..amin

20131028-234625.jpg

Seperti diketahui bahwa Pancasila adalah bukan sekedar ideologi tanpa makna..Tapi merupakan kendaraan atau wahana untuk mencapai suatu kedaulatan tertinggi berdasarkan moralitas harkat dan martabat manusia sebagai mahluk Tuhan…

Tuhan menciptakan menusia dengan keniscayaan serta keadaan yang pelangi,yang berbeda yang bermacam – macam warna apa pun itu..Lalu bagaiman itu berjalan dengan seimbang damai dan berkelanjutan sebagai dasar pemahaman spiritualitas yang kuasa, maka itu perlu menjadi sugestifitas kelayakan hidup sebagai manusia yang bertuhan baik secara etika secara filsafati dan keluhuran berkehidupan.

Maka sebuah keberharusan namun menuju kebijaksanaan hati bahwa privasi hubungan antara tuhan dan umatnya adalah keniscayaan dan daulat dari tuhan serta semesta juga. Hal itu sudah terdapat secara sahih fakta dan diamanatkan oleh pancasila sendiri, melalui butir-butirnya. Ini adalah sebuah keharusan ketika malah penjajahan dari ideologi itu sprti sebuah garis kehidupan yang suram pula dan menutup mata hati batin para pemegang jabatan pemerintahan. DOsa-dosa itu masih diingat dan tak akan pernah lenyap. Karena ketika itu tidak menjadi suatu bahasan filsafati dan prilaku yg baik pancasilais, maka mereka adalah sebenarnya benalu penjajah kekuatan bangsa indonesia sendiri..

Untuk penjajah yang menjajah sila pertama adalah ini:

https://linggahindusblog.wordpress.com/2012/09/17/edisi-terjajah-episode-pertama-_-i-m/

 

1.KETUHANAN YANG MAHA ESA

  • Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kepercayaan atas Pancasila dan Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah mutlak. Namun taqwa artinya adalah disesuaikan dengan apa yang dipercayai. Taqwa atas etika atas ritualitas adalah berbeda. Karena Sakralitas dan profanitas dari setiap agama berbeda.DI satu sisi sajadah adalah sakral, di satu sisi dupa adalah baik dibutuhkan , namun ketika sakralitas itu direndahkan dengan mencemooh apa pun sesuai pemahaman dari kitab2, maka kitab adalah sebuah sakarilats di tempat agama A tetapi tidak di agama B. Maka jangan ketika itu berbeda membuat keyakinan menjadi berkurang dan malah lenyap atau menuju ketidak beradaban. Ketika seni dan budaya adalah soal rasa, maka tidak ada lebih bermakna bagi rasa dari seni budaya menuju kepada rasa yang cinta akan tuhan itu sendiri. Bukankah rasa itu lahir dari cinta atas sifat kedamaian akan Tuhan? itu aktualitas makna kebersamaandan memperbesar bangsa secara sekaligus.

  • Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Butir ini adalah yang terpenting, kepercayaan dan taqwa itu sudah seharusnya, namun didasari oleh kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kedua). Maka ketika ini adalah sebuah hambatan akan keberadaban, maka biadab adalah aktualitas manusia penjajah. Mereka tutup mata akan itu, ketika seni sebagai keberadaban dan adil akan kebebasan beritual, tanpa merendahkan sakralitas agama lainnya, maka DURkheim pun mengiyakan surga damai itu sendiri.

  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama anatra pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Maka setelah bisa menjalankan itu, dilanjutkan dengan sikap-sikap toleransi antar pemeluk dan penganut kepercayaan yang berbeda2 tersebut hingga terjalin suatu kerukunan yang menjadi modal untuk membangun sebuah negeri indah yang diimpikan. Pelangi di Indonesia lebih baik dari pada Merah saja atau kuning saja yang bisa bikin eneg serta mual berkepanjangan. Sangat mudah, ketika memberi selamat memberi kebebasan sebagai saudara sebangsa setanah air dengan ilmu filsafati, haqiqat, cinta kasih tuhan, ilmu syariat dan minggu kebaktian dengan waisak, atau tarekat serta japa, dan pula moksah mahrifat, maka ketika itu berkembang dengan sakralitas yg dijaga, apakah manusia indonesia nusantara akan terjadi kekerasan agama??

  • Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
    menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Dan pada suatu kepercayaan serta keyakinan, maka hubungan itu termasuk suatu kebebasan tersendiri dan dilindungi oleh negara. Maka aktualisasi itu adalah privasi, dan apakah itu menjadi kenyataan, maka kebijaksaaan dari yg melakukan ritualitas yg beretika berfilsafati tinggi serta menghormati adalah sebuah sikap mulia yg dibalikkan dengan rasa hormat yg lebih tinggi..

  • Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing masing

Yang ini no need to explain. Fakta yang ada, bahwa kebebasan menjalankan ibadah tidak digubris oleh beberapa pihak. Sekehendaknya diliat, ditelaah, dibijaksanai. Sebuah buku yang berbeda mungkin menambah pengetahuan bagi yang sudah baca buku yang berbeda. Atau buku dengan sampul sama, mungkin pula ada perbedaan. Tapi manusia itu berbeda kodratnya kan.

  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Sikap fundamentalis serta menghanguskan atau menganggap rendah yang lainnya adalah bagian yg dikembalikan dengan sikap yang sama pada akhrinya..Ketika aktualisasi itu sngatlah mudah, memberi selamat saat hari raya, maka mengurangi ego keagamisan yg bengis, menjadi sikap hormat menghormati serta meniadakan kebodohan yang membelenggu dari kualitas manusia yang bertuhan.. Tidak ada tuhan pada manusia yang mengmban misi penghancuran. Secara logis dan mudah adalah, manusia akan mendapat apa yang dia tanam, tidak ada menanam nanas tumbuh rambutan, tidak ada yang menanam benci tumbuh kedamaian kecintaan kesukaan, tidak ada yg menanam dukha lalu mendapatkan cita suka ria, itu tidak logis dalam agama apa pun..Ketika ada yg menghancurkan kedamaian, maka ada beberapa kesimpulan.

1. Apakah mereka menghabiskan WAKTU untuk mmpelajari kedalaman keramahan kedamaian kitab sendiri, atau cuma belajar menebar kebencian, dan prasangka, lalu berharap surga….itu parah dan gila yang telah medogmatis mereka, ajaran agama tidak cukup dipejari dengan satu kali kehidupan dan lalu dengan mudah mendapat surga serta meninggalkan jejak kehancuran di yang ditinggalkan…itu bukan agama…itu setan…

2. Lalu evolusi keagamaan, bukan saja dari ritualitas, tapi dari etika moralitas akhlak (islam) susila (hindu) buddhi(kjawen) manusia nusantara juga, dan ritualitas – syariat (islam), yadnya (hindu) kebaktian (nasrani), serta dari filsafati itu sndiri tattwa (hindu), haqiqat( islam), dan menuju kebersatuan illah dan manusia ..mahrifat(islam) moksartham (hindu) manunggal kawula gusti (kjawen)..Itu adalah evolusi yg saya rasa universal dan spirit..Itu tidak hanya menjadi senjata akan mentalitas moral yg tinggi dan melihat setiap manusia sebagai saudara sedarah seperjuangan..

3. Kemudian dari pihak pemerintah yang cenderung mnjadikan pembiaran karena apa??apa karena takut, atau karena kedangkalan dari pemahaman mereka tentang moral itu sendiri.. FIlsafat moral adalah harus diterapkan dimengerti dari para pemimin jabatan.. Ketika agama sebagai moralitas tertinggi, tentunya adalah kebobrokan mental dan evolusi yang rendah atas pemahaman spirituaitas mereka.. Dan sangat terbukti dari kasus2 korup dari para petinggi agama.. Itu memalukan bangsa, memalukan negara memalukan umat, dan memalukanrakyat dan Tuhan itu sendiri.. Maka Keadilan tuhan bisa jadi mnjadi keadilan rakyat dan bahkan bisa dipaksakan.. Bukankah revolusi sudah sering dan pernah terjadi??namun mental yang direvolusi dengan cermin serta kontemplasi akan membawa kesadaran serta keniscayaan.. TIADA ADA YANG BISA MELAWAN KETETAPAN DAN KEADILAN TUHAN ESA

 

DAn Itu adalah kemutlakan serta keniscayaan indah damai di masa depan, Aktualisasi yang paling hakiki adalah menerapkan hukum pancasila sebagai media kontemplasi dan bercermin UNTUK MENCARI KEBENARAN BERKEBANGSAAN. Lalu ketika itu telah dilaksanakan, maka KETETAPAN TUHAN LAINNYA adalah disesuaikan dengan agama dan keyakinan masing-masing..TUHAN TIDAK PERNAH TIDUR, DAN TUHAN PASTI ADALAH KEADILAN..

Maka selayaknya kedamaian itu hadri, dari “DIRI” yang laksana Illah, dan kemudian menuju KETERWUJUDAN Lingkungan ILLAH di keluarga, masyarakat, dan Bangsa bernegara..

 

SALAM

TAPI “AKU” TAK PERNAH MATI

TAK AKAN BERHENTI

 

“Kami tidak TAKUT”..

gwar juni 2014

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Juni 2014 in filosofi, pancasila

 

Tag: , , , , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.