RSS

MAKNA PERINGATAN GEMPA JOGYA “SIJUMLUNGA” JAYA, RAHAYU WIDADA MULYA.

28 Mei

Para kadang sutresna, sebagaimana panjenengan makfum bahwa dalam bulan Mei sebagai momentum “peringatan hari kebangkitan nasional” justru telah terjadi “kebangkrutan nasional semakin massif”, seiring diizinkannya mantan bendahara PD, M. Nazaruddin hengkang ke Singapura oleh para elit PD yang berkantor di Gedung Raky…at pada 23 Mei sehari sebelum pencekalan oleh KPK. Anehnya mereka  mengaku tak ada yang tahu  dimana rimbanya sosok powerful tsb. saat para petinggi PD ngabiantara di Istana Cikeyas. Sungguh sempurna “kebohongan” itu.

 

Nah manakala kita jeli dan berkenan mengais – kais suara alam, semiobuwana loka sejatinya 5 tahun silam sudah diperingatkan seiring adanya “Gempa Dahsyat Jogya” pada 27 Mei 2006 yang bertepatan dengan 1(siji) Jumadilawal (jum) tahun (19)39 (lunga) disingkat “SIJUMLUNGA” yang secara filosofis dapat berarti : “Sijumbuhing kawula Gusti wis lunga (menyatunya antara kawula dengan Gustinya telah pergi); antara lahir dengan batin tidak sama ; warangka manjing curiga – curiga manjing warangka tak ada; keselarasan antara makrokosmos dengan mikrokosmos raiblah sudah; in sensi abstracto – in sensu strict pun hilang. Pendek kata kejujuran adalah merupakan barang langka karena bangsa ini telah menjadi bangsa yang munafik, sebagai bangsa pembohong!  Oleh karnanya suara alampun semakin lengkap dengan muncratnya pasir panas LAPINDO pada 29 Mei 2006 yang memiliki makna filosofis : “Laku lampah bangsa & Negara Proklamasi Kesatuan Republik Indonesia ini telah penuh dengan lumpur dosa”.

 

Peristiwa waktu itu sugguh bag kiamat tiba, masyarakat bagai gabah den interi, lari salang tunjang, suara rintihan pating gluruh, yang dari utara ari keselatan takut gunung Merapi bledos sebaliknya yang di selatan lari ke utara takut disapu tsunami. Harta benda tak lagi dipedulikannya karena nyawa lebih penting.

 

Prahara alam gempa bumi Saptu Wage jam 0555 tsb. telah memakan korban jiwa di DIJ : 5.048 meninggal dunia dan 27.838 luka – luka dan di Jawa Tengah : 1.175 meninggal dunia dan 18.210 luka – luka. Sumber : Balitbang Kompas

 

Penyaji khusus menyajikan buku dengan judul ‘MISTERI SIJUMLUNGA” yang copynya kami sampaikan ke  salah seorang anggota DPRD DIJ namun apakah masuk tong sampah sudah bukan domain penyaji lagi.

 

A. ALAM SAJA MEMPERINGATI KEJADIAN TSB.

 

Misteri ini bisa jadi belum pula disadari bahwa nampaknya alam pun memiliki kemauan yang sama dengan manusia. Hal ini dapat direnungkan dengan adanya fenomena aneh seperti antara lain

  • Saat Setahun peringatan gempa Jogya dalam tarikh Saka Jawa yakni 1 Jumadilawal 1940 yang bertepatan dengan 18 Mei 2007, hari Jumat Pon terjadilah stunami/gelombang besar yang terjadi di sepanjang pantai Selatan dari NAD hingga NTB. Anehnya tanpa ada suatu penyebab & peralatan pemberitahuan dini yang telah terpasang sama sekali tidak berbunyi. Konon ketinggian gelombang di Parang Tristis mecapai 15 meter.
  • Saat peringatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara nasional, 27 Mei 2007, gempa kembali terjadi & anehnya terjadi saat Ketua Umum PP Muhammadiyah,  sedang membacakan pidatonya.
  • Pada 27 Mei 2007, seiring peringatan tragedi gempa Jogya, Gunung Merapi kembali mengeluarkan suara gemuruh, anehnya tidak diikuti letusan dan aliran lava dari puncak Merapi. Dan sehari sebelumnya, “pada 26 Mei 2007 pagi di ruang tunggu Bandara Halim Perdana Kusuma terjadilah peristiwa anti klimak dimana SBY dengan Amin Rais mengakhiri konfliknya dengan saling maaf – memaafkan, sebelum SBY mengadakan lawatannya ke Malaysia. Dalam pertemuan selama 12 menit tersebut, SBY juga menjelaskan bahwa kasus dana non budgeter DKP dan isu dana asing dalam Pemilihan Presiden, merupakan ranah hukum”. (Posmo, Edisi 422, 6 Juni 2007. hal.12). Yang hingga kini tak ada justrungannya!

B. KEMBALILAH PADA TRADISI – ADAT ISTIADAT KUHUR BANGSA

 

Adanya hajat alam memperingati gempa tsb. dengan tsunaminya maka berbagai teori merebak dari pemanasan global, swell (gelombang besar yang melemah), gelombang Kevin, penumpukan angin, satu garis lurus antara bumi – bulan dan matahari serta gravitasi bulan bahkan ada yang menyimpulkan adanya gabungan dari berbagai teori. Dalam analisis Inter Governmental Pannel on Climate (IPCC) meramalkan pada tahun 2030, akan terjadi kenaikan permukaan air laut setinggi 28CM dibandingkan permukaan saat ini dan pada 2066 air laut akan naik 3 M. Bisa dibayangkan bila dengan adanya peristiwa tsunami di NAD telah menenggelamkan 3 pulau yakni Pulau Gosong Sinjai, Pulau Karang Lenon Kecil dan Karang Lenon Besar di kawasan kabupaten Singkil. Dan sejak tahun 2005 jumlah pulau yang hilang seluruhnya telah mencapai 24 pulau disamping akibat tsunami juga karena penambangan liar dan abrasi. Belum lagi hilang karena alasan politis & keteledoran seperti Timor – Timur, Sipadan dan Ligitan. Pemanasan global terjadi akibat efek gas – gas rumah kaca utamanya karbon dioksida di atmosfir bumi. Hal ini menyebabkan naiknya suhu bumi dan mengakibatkan perubahan iklim. Apa yang akan terjadi nanti ? Tenggelamkah Nusantara ini ? Tentu tergantung pada sikap mental bangsa ini, masa bodohkah ? atau ada upaya bersama memakmurkan bumi dan seisinya ? Atau justru aji mumpung ?Hanya Tuhan Seru Sekalianlah Yang Tahu.

 

Keadaan carut marut di Nusantara ini secara mitologi sebenarnya  telah termuat dalam berbagai jangka baik Jangka Jayabaya, Jangka Sabdo Palon Noyo Genggong maupun dalam kitab Weda Nata Piningit serta Weda Tama Piningit dan lain sebagainya. Adanya mitos “Natanagara” (leadership Nusantara) ternyata banyak pula dikaitkan dengan  Satria Nusantara diantaranya disebutkan bahwa sosok :

  • Presiden I, Ir. Dr. Soekarno, disebut sebagai “Satria Kinunjara Murwa Kuncara”.
  • Presiden II, HM. Soeharto, disebut sebagai “Satria Mukti Wibawa Kesampar – Kesandung”.
  • Presiden III, Prof. Dr. Ir. BJ. Habibie, disebut sebagai “Satria Jinumput Sumela Atur” (yang merupakan Pemimpin sinela, seselan, antara).
  • Presiden IV, KH. Dr. Abdulrrahman Wahid (Gus Dur), disebut sebagai Satria  Wuta   Tapa Ngrame Ngideri Jagad (masih seselan).
  • Presiden V, Ibu Megawati Soekarnoputri, disebut sebagai ‘Satria  Piningit Hamung Tuwuh” sebagai putri Proklamator, Presiden I, Ega hanyalah tumbuh menggantikannya. (masih seselan).
  • Presiden VI, Susilo Bambang Yudhoyono, disebut sebagi “Satria  Boyong Pambukaning Gapura”.
  • Presiden y.a.d. “Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu”. ?

Memang dalam masyarakat terdapat mitos tentang “NOTONOGOTO” (Soekarno, Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono)  sementara Jangka jayabaya menyatakan bahwa  Presiden III, IV dan V, tersebut hanyalah seselan (pengantara) saja. Dan banyak pihak setelah Presiden VI, jatuh “GARA” dimaknai dengan “Gara – Gara. Dalam literatur Hindu memang saat ini sedang dalam zaman Kali Yuga yakni zaman kegelapan atau zaman besi., atau Kala Bendu. Bahkan dalam Al – Qor’an surat 44 “Ad – Dhukaan” artinya kabut, yang menyiratkan jumlah parpol dalam Pemilu 2009 yang terdiri dari 44 parpolnas dan parlok NAD.

Dengan memuncaknya kebohongan publik maka akan menimbulkan destrust dan apatisme masyarakat yang akan memuncak menjadi anarkisme – gara – gara sindhung riwut yang naga – naganya hanya menunggu waktu saja bila Pemerintah kalah berpacu untuk menegakkan keadilan – hukum serta menghilangkan kemiskinan dan kebodohan bangsa.

 

Tentang fenomena alam., kita seyogyanya tidaklah harus merasa takut, bukankah dalam awal tulisan ini TUHAN Berkehendak “agar kita kembali kepada – NYA” ? Yang terpenting bagaimana kita harus menyikapi semua ini ?. Salah satu watak dan ciri bangsa ini antara lain memiliki pedoman : “Memayu hayuning (barjaning) bawana” . Inilah mestinya yang harus dihidup – hidupkan kembali. Bagaimana kita harus menempatkan bumi – ibu pertiwi yang menyusui seluruh mahkluk hidup sehingga masyarakat Jawa   memberikan penghormatan dengan menyebutnya “Ibu Bumi(Ibu Pertiwi) dan Langit atau Angkasa sebagai “Bapa Kuasa” (Bapa Angkasa) atau keduanya menjadi simbol “tanah air”  yang dilambangkan pula dengan bendera “Merah Putih” yang juga merupakan simbul persatuan embrio antara benih dari Sang Bapak dengan  Sang Ibu (darah putih dengan darah merah). Juga di dalam diri setiap manusia dikarunia darah merah dan darah putih. Dan Merah Putihpun kini telah diketemukan berbentuk padi yang sedang dikembang biakkan di  Prambanan, Yogyakarta.

 

Bumi dan Langit adalah sama – sama mahkluk Tuhan Seru Sekalian Alam, maka sepantasnyalah kita hormati tidak diperlakukan semena – mena tanpa adab. Bumi adalah begitu tawaduk – rendah hati, yang mencukupi seluruh kebutuhan hidup kita dari pangan, sandang dan papan. Bumi yang kita kencingi – kita kotori dan kita jadikan peristirahatan terakhir, akan tetapi sadar atau tidak kita melupakan jasanya. Sedangkan Angkasa yang memberi kita hidup karena merupakan sumber O2, Oksigen yang kita hirup tiap detik. Maka tidak ada seorangpun yang bisa hidup dengan tanpa bernafas/menghirup udara selama satu jam saja. Maka tidaklah berlebihan leluhur menamakannya “Bapa Kuasa” (bukan Bapa Maha Kuasa). Itulah cerminan budi pekerti luhur dari kearifan budaya lokal sedangkan bangsa Barat hanya mengenal adanya “Father land” saja.

Jadi Lambang warna Bendera Merah Putih yang sejak Kerajaan Majapahit dengan “GULA KLAPANYA”  merupakan lambang kehidupan itu sendiri.  Dari sumber hidup dan yang menghidupi (tanah dan air), Unsur terciptanya/terjadinya umat manusia (sel darah merah dan darah putih dari  biyung (ibu) dan bapa (ayah), padi yang dimakanpun ada yang merah ada yang putih bahkan kini dalam satu butiran padi dengan kedua warna tersebut, juga dalam diri manusia sendiri terdapat darah merah  dan darah putih (Laukosit) serta dalam akhir hayatpun ada yang dikafani (kain putih) dan ada yang dikremasi – dibakar (merah).

Sedang unsur terjadinya manusia secara keseluruhan – integralistik disamping warna merah dan putih juga adanya unsur kuning dan hitam yang akhirnya menjadi hijau atau pancawarna. Yang kemudian dikenal adanya keblat empat lima pancer itu.  Bila dijabarkan menjadi demikian khomplek karena disamping arah mata angin,  penuh dengan lambang – lambang.

 

Maka barang siapa menafikannya tentulah secara spiritual termasuk orang yang tak beradab – mengingkari  asal – usul  dirinya. Maka ajaran kearifan budaya lokal tentang “Sangkan Paraning Dumadi” yang diimplementasikan ke dalam dua kunci yakni “ELING”  dan “Waspada”, adalah suatu  jalan untuk  selalu merasa  terhadiri oleh Kemaha Kuasaan Tuhan Seru Sekalian Alam. Dan doa orang – orang Jawa tempo dulu cukup singkat dengan kata “Permohonannya semua BERES” (every thing ‘ done properly).

 

C. HIKMAH SI – JUM – LUNGA & LAPINDO SERTA BERBAGAI BENCANA ALAM MAUPUN NON ALAM UNTUK TEGAKNYA NEGARA PROKLAMASI.

 

Bangsa ini hendaknya bersyukur atas karunia Tuhan Seru Sekalian dengan di anugerahi – NYA : Semangat dan jiwa pergerakan bangsa sejak Budi Utomo, Sumpah Pemuda, PANCASILA , Negara Proklamasi dan UUD 1945 serta Dekkrit Presiden 5 Juli 1959”. Karena hanya Indonesialah satu – satunya Negara yang merupakan “The right Self of determination” dan satu – satunya Negara di dunia yang mendasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa dengan PANCASILANYA.

Karena sehebat – hebatnya Jawaharlal Nehru, dia menjadi PM India berkat pemerintahan Inggris, betapa hebatnya Lee Kwan Yew, yang menjadikannya PM Singapura, adalah Inggris. Sungguhpun betapa jeleknya kita, bangsa Indonesia sendiri yang memilih Bung Karno – Bung Hatta sebagai Presiden R. I. Bukan diangkat oleh Ratu Wilhelmina atau oleh siapapun.

 

Tidakkah kita sadar bahwa Negara Proklamasi itu telah menjadi ketetapan Tuhan Yang Maha Esa ? Marilah kita renungkan bersama dengan hati jernih, niat suci dan menerima dengan ihklas semua karunia – NYA itu. Dimana untuk mrncari hikmahnya dan meningkatkan rasa syukur terhadap anugerah – NYA, maka telisik dengan cara nomerologis nampaknya dapat membantunya. Sungguhpun demikian sah – sah saja bagi yang berpendapat itu hasil orang kurang pekerjaan dan digothak – gathukake mathuk (dihubung – hubungkan nyambung) dan hanyalah secara kebetulan belaka. Namun inilah faktanya :

  • Secara geografis NKRI terletak pada 60 LU – 110 LS dan 960 BT – 1410 BT. Secara numorologis itu menyiratkan angka Proklamasi! 6 + 11 = 17. 141 – 96 = 45 dan 45 adalah 1/8 keliling bumi. Maka telah menyiratkan angka : 17. 8. 45.
  • Lebih jauh angka – angka tersebut, bila diolah secara numerologis akan mengandung pesan adanya berbagai kunci yakni : 17.8.1945 = 1 dan 1945 = juga 1. maka :
  1. 1.      Sebagai Kunci “Penghambaan kepada Sang Khaliq” : {[17 X 8 X 1} + [ 17 + 8 + 1]}  =  162 ref. QS : Al – An aam ayat 162 yang menyatakan : “Sesungguhnya shalatku, amal ibadahku, hidup dan matiku untuk Tuhan Seru Sekalian Alam”.
  2. 2.      Sebagai Kunci “Kerukunan Antar Umat Berketuhanan” : {17 X 8 X 1}  =  136 ref. QS : Al – Baqarah ayat 136 : “Kami hanya beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Iskhak, Yakub dan anak cucunya. Begitu pula kepada apa yang diturunkan kepada Musa, Isa dan kepada apa yang diturunkan kepada seluruh para nabi dari TUHANnya. Tidak kami beda – bedakan yang satu dengan yang lain antara mereka. Dan kami hanya berserah diri kepada – NYA”.

Maka amatlah tepat amanat Bung Karno saat mendeklarasikan Pancasila, 1 Juni 1945 : “Hendaknya Negara Indonesia ialah Negara yang tiap – tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya  dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber – Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada ‘egoisme – agama’. Dan hendaknya Negara Indonesia satu negara yang ber – Tuhan”.!

Memang dalam QS : Al – Imraan ayat 185 dinyatakan : “Barang siapa mencari agama lain selain Islam tidak akan diterima padanya dan di akherat nanti termasuk kaum yang merugi”. Seyogyanya diingat bahwa pengertian “Islam” berasal dari kata “asalama” (menyerah) dan kata “salima” (selamat). Islam berarti tunduk kepada Allah SWT dan berserah diri serta menyerahkan segala urusan kepada – NYA, yakni menegakkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya atas dasar prinsip “taat dan patuh”. Maka dilambangkan pada gerakan ta’biratul ikhram dalam gerakan shalat.

(Angkat tangan!).

  1. Sebagai Kunci “Memperoleh Kebahagiaan Hidup Yang Hakiki”, : Bulu sayap Burung garuda yang 17 itu dibuat bujur sangkar dan ditengahnya ditempatkan simbul Bintang maka = {[17 X 4] + 1}  =  69 ref QS : Al – Ankabuut ayat 69 : “Orang yang berjihat di pihak Kami maka akan Kami tunjukkan jalan – jalan Kami, jalan – jalan kebahagiaan. Sesungguhnya Allah beserta orang – orang yang berbuat baik”.

 

  1. Sebagai Pencarian hikmah atas ibadah Haji dengan Puasa Ramadhan :  “{17 X 17}  = 289 ternyata merupakan  rentang waktu antara peristiwa Arofah (Idul Adha) sampai dengan peristiwa Madinah (Idul Fitri). Apa makna berhaji dan berpuasa Ramadhan ? Inilah yang harus dikaji dan dihayatinya, agar mendapatkan esensi Haji yang ma’brur, bagai terlahirkan kembali setelah saum Ramadhan sehingga dapat mencapai kefitrian – yang suci! Semestinya mampu membentuk suatu kesalehan sosial, pahlawan – pahlawan kemanusiaan dan kesatuan – persatuan di Negeri yang Berpancasila, negeri yang Ber Ketuhanan Yang Maha Esa!.

Kemudiaan apa kaitannya dengan gempa dahsyat di DIJ dan Jateng.

  • Kejadian gempa hebat DIJ dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006   yang berkekuatan 5.9 SR yang terjadi pada jam 0557 koordinat  episentrum pada 8,007 0  lS dan 110,286 0BT ! (Kompas, 28 Mei 2007) Apa pula maknanya ? Ini hanya dapat dikaji dengan salah satunya dengan numerologis pula yakni sebagai berikut :
  1. 1.      Tanggal : 27052006 = 27 + 5 + 2 + 0 + 0 + 6  = 40 yang menyiratkan Sifat – Sifat Tuhan Yang Maha Esa dimana 20 merupakan sifat yang Wajib sedangkan 20 lainnya merupakan sifat yang Mustahil. Juga melambangkan jumlah huruf Jawa Hanacaraka dan Hanacaraka balik !
  2. 2.      Jam : 0557 = 5 + 5 + 7          =  17 (tanggal Proklamasi)
  3. 3.      Berkekuatan 5.9 SR = 5 X 9 =  45  (tahun Proklamasi).
  4. 8.007 dan 11.286 :
  • 8                        =    8  (bulan Proklamasi)

Juga lambang :  ‘8 (tahun Kebangkitan    Bangsa Indonesia/Nasional.)

  • 8 X 7 – 11          =  45  (tahun Proklamasi  lagi)
  • 286                     =  28   (tanggal dan tahun  Sumpah Pemuda). 28 = 10 Bulannya.

=    6   (Bulan lahirnya PANCASILA).

  • 45 – 28               =   27  (jumlah Propinsi saat   rezim Orba).
  • 28                       = 10 = 1
  • 28 + 6 – 1                        =   33  (jumlah Propinsi saat  Reformasi. 

Sebagai tambahan setelah alat pembertiahuan dini tentang adanya tsunami di NAD pada 4 Juni 2007, menggema yang membuat masyarakat kalang kabut menyelamatkan diri yang ternyata hingga kini tidak diketahui penyebabnya. Kepanikan juga melanda warga Manado, Sulawesi Utara, menyusul isu gempa dan tsunami hari Kamis 7 Juni 2007. Sejumlah orang tua melarang anak – anak mereka bersekolah, sementara pegawai negeri sipil enggan masuk kerja. Kepanikan juga melanda warga pesisir di Nusa Tenggara Timur dan Jawa Barat. Kabar soal gempa dan tsunami tersebut di dapat dari pemberitahuan televisi asing yang kemudian dilansir oleh koran – koran lokal. (Kompas, 7 Juni 2007, hal.23). Kompas menambahkan bahwa : kemarin gempa berkekuatan 3.2 SR terjadi di Jayapura, ibu kota Provinsi Papua, Rabo pukul 20.27WIT. Pusat gempa terletak di koordinat 2057’ Lintang Utara dan 140069’ Bujur Timur.

Apa makna dari angka tersebut bila ditinjau dari numerologis ? lagi – lagi pesan SIJUMLUNGA terulang kembali. Mari kita simak  dan renungkan bersama :

  • Jam                     :  20.27  = 20 Sifat Tuhan. Juga jumlah huruf Jawa. Sementara angka 27 dapat diolah : 2 X 7 = 14 = 5 dapat menyiratkan adanya lambang dari rukum Islam dan kearifan budaya lokal tentang  makna  keblat papat Lima Pancer, juga PANCASILA.
  • Koordinat           :   2 5 7    =  {(2  X 5) + 7}   =  17 (tanggal Proklamasi). Jumlah roka’at dalam sholat wajib. Panjang garis Lintang Utara – Selatan.

14069                 =  {14 – 6}  =  8 (bulan Proklamasi).

=  {(6 X 9) – 9} = 54 – 9 = 45 (tahun proklamasi).

{(6 X 9) + (9 – 4)} = 59 (Tahun Dekrit Presiden sedangkan tangggal dan bulan udah tersirat di atas  5 & 7?

{(1 + 4) X 6 + 9 – 9 + ( 4 -1)}  =  33 (jumlah Propinsi).

                            =    6 (bulan lahirnya    PANCASILA)

                            =    9 (merupakan jumlah     lubang manusia)

 257=  { 2 X 57 } =  114 (jumlah    Surat pada  kitab Al –    Qor’an).

                                    =  {(72) – ( 2 + 5 + 7) – (5)}  = 30 (jumlah Juz    Al –

                                   Qor’an).

       { ( 5 X 7) – 7 }    =   28 (tanggal dan tahun Sumpah Pemuda).

       Sedangkan 28 = 10 bulan Sumpah Pemuda.

                               

Masihkah kita menafikan anugerah yang luar biasa tersebut dan layakkah kita tidak mensyukurinya ? Rasa syukur bukanlah hanya cukup diucapkan melainkan harus tercermin dalam sikap dan perbuatan untuk tidak melupakan sejarah bahwa bangsa ini tidak tiba – tiba ada melainkan dengan perjuangan ektra keras yang terus menerus ribuan tahun lamanya hanya secara nasional dimulai sejak berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 maka wajib hukumnya bagi anak bangsa guna mempertahankan dan menegakkan Negara Proklamasi dengan menjunjung tinggi “Sumpah Pemuda”, dimana ROH KEBANGSAAN itu lahir senantiasa berlaku hidup dengan bernuranikan PANCASILA dengan melaksanakan amanat UUD 1945 sebagaimana Dekrit Presiden Soekarno. Sikap “hubbul waton minal iman” (cinta negara adalah sebagian dari iman), harus dijiwai oleh seluruh warga bangsa, bukannya sebaliknya.

 

Kaum spiritualis berharap akan bijak manakala kita mau beremphati andai saja kita adalah para pejuang dan pahlawan yang telah gugur, bahagiakah kita melihat anak cucu tidak memelihara warisan dan melaksanakan amanatnya ?  Tenang dan relakah ruh kita di alam kuburnya ? Itulah ibaratnya saat ini bagi anak bangsa yang tidak pernah berjuang namun ingin merubah bangunan Negara Proklamasi sesuai dengan keinginan mereka dengan menjadikan Amerika Serikat sebagai kiblat dan atau menjadikan negara dan bangsa ini Arab sentris. Namun bila itu yang terjadi di tengah masyarakat yang hetorogen, yang pluralistik, yang berbhinneka, yang multi kultural  ini.  Maka hepotesis  Ibnu Khaldum (1332 – 1406M) yang menyatakan : “Bahwa bangsa Pecundang gemar meniru bangsa yang lebih kuat, baik dalam slogan, cara berpakaian, cara beragama, gaya hidup serta adat istiadat” mendekati kebenarannya !.

 

Hikmah berbagai peristiwa alam dan non alam seiring dengan berbagai peringatan hari besar Kristiani yang memiliki pesan moral atas cinta kasih – keselamatan – lahir – mati dan kebangkitan. Disamping itu kita diingatkan adanya nubuat pada:

  • Yesaya 5 : 25  “Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap Umat – NYA, diacungkannya Tangan – NYA terhadap mereka dan dipukulnya mereka; gunung – gunung akan gemetar dan mayat – mayat mereka akan seperti kotoran di tengah jalan. Sekalipun semuanya ini terjadi murka – NYA belum surut, dan Tangan – NYA masih teracung”.
  • Yesaya 29 : 14 “Sebab itu, sesungguhnya, AKU akan melakukan pula hal – hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang – orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang – orangnya yang arif akan bersembunyi”.
  • Yesaya 29 : 20 “Sebab orang yang gagah sombong akan berakhir dan orang mencemooh akan habis, dan semua orang yang berniat jahat akan dilenyapkan”.
  • Mazmur 53 : 4 “Mereka semua telah menyimpang, sekaliannya telah bejat, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak”.
  • Mazmur 53 : 5 “Tidak sadarkah orang – orang yang melakukan kejahatan, (mahkluk – mahkluk NYA, SDA ? dll.) seperti memakan roti, dan yang memakan habis umat – KU yang tidak berseru kepada Allah”.

 

Nah apakah berbagai semiobuwana loka itu kita biarkan saja ? atau kita anggap bagai angin lalu? Dan  kita teta bangga dengan dosa – dosa kita ?

 

Akhirnya nyumanggaaken para kadang sutresna saha para maos, maafkan manakala ada kata – kata yang tak berkenan dan salah di mata panjengan sami. Dharma eva hota hanta!

 

27 Mei 2011

Kawula

Youth Empowering Institution/Yayasan Lembaga Budaya Nusantara/Keluarga Besar Perasudaraan Blokosuto

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 28 Mei 2011 in filosofi

 

Tag: , , , ,

2 responses to “MAKNA PERINGATAN GEMPA JOGYA “SIJUMLUNGA” JAYA, RAHAYU WIDADA MULYA.

  1. satria piningit

    13 Januari 2015 at 11:19

    Yesaya 5:25 “Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap Umat – NYA, diacungkannya Tangan Satria Piningit terhadap mereka dan dipukullah mereka; gunung – gunung gemetar dan mayat – mayat mereka akan seperti kotoran di tengah jalan. Sekalipun semua ini terjadi, murka TUHAN belum surut, dan Tangan Satria Piningit masih teracung”.

    Yesaya 29:14 “Sebab itu, sesungguhnya, Satria Piningit-KU melakukan pula hal – hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang – orang yang berhikmat dihilangkan, dan kearifan orang – orang yang arif bersembunyi”.

    Yesaya 29:20 “Sebab orang yang gagah sombong berakhir dan orang mencemooh habis, dan semua orang yang berniat jahat dilenyapkan”.

    Mazmur 53 : 4 “Mereka semua telah simpang jalan, sekalian telah bejat, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak”.

    Suka

     
    • linggawardanasahajakers

      15 Januari 2015 at 13:20

      thx atas nasehat indahnya…
      smoga semua berbahagia

      Suka

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: