RSS

Kembali ke Weda

13 Apr

Kembali  ke Weda

 

Weda pada dasarnya memang suatu kitab suci yang telah ada beribu-ribu tahun yang lalu di dunia ini. Bahkan ada yang mengatakan weda setua bumi itu sendiri.  Terkadang bagi yang awam seperti yang diketahui, bahwa perwujudan pelaksanaan tata upacara terutamanya, mungkin dalam hal bebantenan harus bisa difilosofikan, ditattwakan, serta dijelaskan baik secara niskala dan sekala ke hadapan Hyang Kuasa berdasarkan ketiga alam(bhur,bwah,swah). Sungguh pun sampainya hal-hal yang kasat mata yang berlaku dari bebantenan pada tujuannya adalah hal jelas dapat dimengerti oleh mereka yang mengintuisikan mantra dari para sulinggih serta keterlangkupan manusia sebagai umat Hindu yang menuju arti kata damai serta rahayu.

Ketertarikan atas weda memang suatu hal yang sangat pribadi. Dari beberapa banyak buku-buku suci weda yang beredar, masyarakat atau umat sebenarnya dapat memilih bagian yang mana dari weda tersebut yang cocok dengan dirinya sendiri.  Weda –weda yang ada di sekitar pertokoan yang ada mungkin bisa menjadi acuan bagaimana sebuah kesucian weda itu terlaksana dalam kehidupan sehari-hari. Dan ketertarikan akan suatu kitab Sarasamuscaya bias menjadi acuan untuk bagaimana menuju suatu moksartham jagaditha yang beretika dan bersahaja.

Mengapa Sarasamucaya? Pada dasarnya sarasamuscaya adalah kitab yang dirahayukan oleh Bhagawam Wararuci yang merupakan suatu tafsir dari  ketersucian karya parwa Bhagawan Byasa. Terutamanya bahwa sarasamuscaya memiliki sebuah rahasia akan keagungan dharma serta hal tersebut juga berhubungan dengan susila. Jadi dalam hal ini maka sarasamuscaya memiliki makna susila yang tinggi.

Seperti pula terdapat suatu bahasan atas dharma, kama, artha, moksa yang merupakan suatu pedoman yang dipegang sebaik-baiknya oleh umat manusia.  Sebagai suatu contoh bahwa di dunia sekarang, benar-benar telah banyak terlihat sesuatu ketidaksesuaian dalam hal agama terutama susilanya.  Upacara yang ada sekehendaknya dilandasi susila atau sesana yang baik. Bagaimana mengekang suatu pikiran, perbuatan, dan perkataan. Sebagai contoh di dalam

sarasamucya 76

pranatipatam stainyam ca paradaranathapi va, trini papani kayena sarvatah parivarjavet

 yang artinya inilah yang tidak patut dilakukan : membunuh, mencuri, berbuat zina; ketiganya itu jangan hendaknya dilakukan terhadap siapa pun, baik secara berolok-olok, bersenda gurau, baik dalam keadaan dirundung malang, keadaan darurat dalam khayalan sekalipun, hendaknya dihindari saja ketiganya.

Jadi alangkah lebih baiknya jika kembali ke weda bisa dimulai dengan menyesusilakan diri sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari yang disarumkan pada kitab suci sarasamuscaya.  Sarasamuscaya adalah kitab tinggi yang penuh dengan petuah-petuah hidup, yang dapat digunakan manusia yang mampu itu akan memiliki wibawa , serta pengaruh yang besar pula.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 April 2012 in agama, filosofi

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: