RSS

Menderita!! Jangan dulu dah..

28 Nov

image

Penggalan kata judul di atas mudah mudahan membuat alis anda terangkat. Judul itu bukan saat depresi dinyatakan, bukan pula sebuah kata motivasi, atau bahkan sebuah pencerahan, apalagi tentang keterikatan materi. Dan jika tidak yakin, boleh saja kata “bukan” diatas dihapus saja.Menderita, siapa sih yg mau memderita. Namun faktanya adalah kita mencari penderitaan itu sendiri. Lho kok bisa?

Namum pada dasarnya, manusia lahir adalah sebuah penderitaan yamg tanpa henti. Lahir dan lahir yang tiada berujung. Tetapi dilain pihak, terdapat sloka sarasamuscaya menyebutkan “bersyukurlah lahir menjadi manusia, karena dengan menjadi manusia, diberikan kesempatan untuk melaksanakan dharma dan melepaskan diri dari kelahiran berulang”. Sedikit banyaknya bahwa manusia telah diberikan idep(pikiran)untuk bisa menjadikan dirinya lebih baik.

Nah sebuah kebersyukuran itu akan mengarah pada apa sih yg membuat manusia ini naik tingkat, dengan kata lain yaitu bahagia. Apakah yang membuat manusia jauh dari kebahagiaan? Dengan kata lain menderita. Sumber pertama suatu ketidakbahagiaan adalah keterikatan. Keterikatan akan materi dan dunia itu sendiri. Semakin terikat (apalagi dasar dharma) akan memberikan asupan energi

Menderita..adalah sebuah kata yang memang akan membelenggu selalu bagi yang hidup, atau telah hidup beberapa kali di sini, reinkarnasi beberapa kali. Disebutkan pula bahwa beruntungnya menjadi manusia karena hanya ia yg mampu berbuat baik untuk meningkatkan hidupnya. NAmun malah disisi lain, lahir menjadi manusia adalah sebuah kesengsaraan, karena akan hidup berisikan suka, duka, lara, pati, sedih, gembira, kehilangan, keterpurukan, dan tentu mngharapkan bahagia(ananda). Sungguh pun bagian hidup dan berakhir dengan siklus kematian. Apa setelah mati akan bahagia terjadi??

Apa sebenarnya yang membuat seseoran menuju ke penderitaan??
》Yang pertama mungkin adalah keterikatan. Sebuah keterikatan akan kedunawian ini. Duniawi yg seperti sesuatu jeratan sampai akhir jaman. Iya jaman, berusaha mengikuti perkembangan jaman yg tiada henti adalah sesuatu yg melelahkan. Seperti pengelompokam carwaka yaitu orang yg melepaskan nafsunya tanpa etika, seperti pula hedonism yang memupuk keinginan tanpa henti akan harta, kekuasaan, dan nafsu wanita. Yang pada akhirnya menderitakan diri sendiri yg menguapkan harga diri, keluarga, dan tenti saja ketidakpuasan tiada henti. Apalagi tidak dibarengi dengan kemampuan serta mendekat pada kehancuran.

》Kedua adalah mungkin ketidakpercayaan atau kekurangyakinan akan karma. Bahwa karma itu adalah suatu bagian kehidupan yang berasal dari keberpikiran, kata, kelakuan yg jauh dari kebenaran. Itu mungkin saja terjadi di suatu masa lalu, dan berpengruh pada masa depan bahkan melampaui kematian. Di saat tiada diri mengenal karma, maka saat itulah mental serta kekuatan untuk menjalani kehidupan yg keras ini sirna. Banyak manusia yg tidak bersedia mnjalani hasil karmanya yg mngkin terlihat kurang adil. Dan itu menambah rasa derita yg jika tidak terkendali akan memgarah pada perbuatan yg jauh dari baik dan benar. Padahal mental yg terasah untuk memasrahkan diri memjalani karma yg ada, akan membuat dan menarik berkat dari semesta. Ketertarikam semesta akan energi kebersahajaan dan pemasrahan diri adalah mempercepat suatu peleburan karma dan memberikan karma baik sebagai hadiah akan mentalitas yg kuat dalam menahan cobaan dan godaan.

》Yang ketiya sepertinya adalah kurangnya manusia (kita) melihat ke dalam diri. Mencari jalan mengenal suatu wahyu kehidupan dalam takdir ilahi pada citta kita. Penyelaman ke dalam lautan nurani, akan mendapatkan diri kita pada jalan sangkan paraning. Kembali ke asalNya. Dengan melihat diri, paling tidak akan memberikan ruang untuk kekal111melepaskan ujian hidup ini. Terkadang saat ini manusia seringnya mendahulukan mengenal orang lauin secra mendalan dan bias. Tentu saja akan sangat buruk jika kita mempelajaro buruknya orang lain, buat apa untuk belajar buruk dan berguru kepada lainnya. Hal itu menambah rasa benci, jengkel, amarah, serta menambah penderitaan saja. Paling parah adalah saat kita menyenanginya, kita menikmatinya, dan kita akkhirnya terbiasa. Kurang puas rasanya kalau tidak memiliki rasa benci, jengkel, iri dsb. Itu kurang baik buat kesehatan, termasuk kebahagian itu sendiri. Atau malah membenci orang yg berbuat baik. Terkadang sya berpikir, kejahatan itu ada karena kesempatan. Nah berapakah kesempatan berbuat baik yg telah anda lewatkan??? Menderitalah pasti bagi yg menciptakan diriya dari tubuh tubuh penderita yg ia injak2. Tidak kekallah sepertinya bahagia itu..

》Disebutkan bahwa dharma adalah yg memberikan sebuah pedang yg sanggup melibas kebodohan, bodoh atau istilahnya “punggung” adalah seseorang yg menolak dharma sbagai jalan kehidupannya. Dharma adalah basic atau pondasi dalam mendapatkan kebahagiaan abadi sampai melewati ranah kehidupan mendatang. Bahkan dikatakan manusia tanpa dharma hanyalah seperti “padi yg tanpa berisi”(srsmuscya). Dengan tanpa dasar itu, bgitu mudahnya manusia melekatkan hidupnya pada ketidak”dharmaan” semakin ia meliputi dirinya tanpa sadar, semakin ia menyemukan dirinya pada “maya”.Pada sumber ketidakbahagiaan itu sendiri. Orang yg memupuk itu hanya akan dekat pada kenikmatan dan lupa terbebas. Seperti borgol yg masuk dari pemuasaan panca indria. Setelah puas, maka meminta lagi tanpa henti sampai ia tak sanggup pada tubuhnya yg telah renta, dan pikirannya tidak ingin iklas pergi dari dunia, shingga kembali lahir.

Baju, sepatu, sandal, celana, rumah,kan tidak terbawa. Namun cinta, kasih sayang, yadnya, punia, ilmu, dan kekayaan dharma akan tetap tinggal dan menjadi bagian yang terkasih, keluarga, anak, istri, handai tolan, masyarakat sbagai bagian doa yg mnghntarkan menuju tempat akhir.

Dan jika pun masih harus lahir kembali, tenang saja. Kebahagiaan dari “diri”anda saat dulu itu pun, masih akan ada dapatkan kembali. Dari anda untuk semua kembali lagi pada anda sebagai bagian semua. Bukankah itu bahagia yg sejati dan abadi??

…Sanatana dharma…

Gwar des 2013

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 November 2013 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: