RSS

Sivaratri..Malam Memahami Dosa, Menganalisa Maya (Tri Guna)

19 Jan

shiva buddha concept

Sivaratri..

Secara umum, maka sivaratri adalah dikenal malam peleburan dosa. Sesuai dengan cerita Lubdaka yang tidak tidur, dan melempar daun Bila, maka malam ini memiliki suatu energi berbeda untuk memahami dan (mungkin) melebur dosa-dosa yang ada.

Sebelum jauh memandang tentang melebur dosa, hendaknya perlu disadari tentang apakah arti dosa itu, darimana sesuatu itu berasal, dan mengapa itu bisa terjadi? Tentunya pemikiran dan konsep dosa sudah banyak dianalisa, namun sesuai dengan tulisan ini, maka perlu dosa dianalisa dengan konsep Maya (Tri Guna)..

Maya (Tri Guna) atau prakerti, adalah sebuah sifati semesta yang hadir bersamaan dengan hadirnya purusha, atau penciptaan dunia ini. Maya hadir saat Nirguna Brahman (Paratman-Parama Siva) memanifestasikan kehendakNYA untuk menhadirkan dunia serta memiliki Sifati, yaitu Saguna Brahman. Saguna Brahman sendiri terdiri dari Cadu Sakti yaitu Prabhu,Wibhu, Jnana, Krya Sakti. Dan dengan kuasaNya itu, maka Purusha mengadopsi dan mengolah Maya menjadi dunia beserta isinya. Maka sumber dari Tiga Sifati Semesta itu adalah berasal dari Brahman saat memiliki sifatiNYA.

Prakerti atau Maya itu sendiri terdiri dari tiga bentuk(kualitas), yaitu Sattwika, Rajasika, Tamasika. Yang berturut-turut adalah Kebijaksanaan, Aktif, dan Pasif dari semesta. Dalam Bhagawadgita disebutkan :

Bhagawadgita III-27..

Prkertih kryamani gunaih karmani sarwasah,

ahankara-wimudhatma kartaham iti manyate

Artinya : Sementara segala kegiatan kerja dilakukan oleh guna (sifat) dari prakerti,

Ia yang dibingungkan oleh rasa keakuannya berpendapat bahwa .”Akulah si pelakunya”.

Kemudian di Bhagawadgita VII-12

ye caiwa sattwika bhawa rajasas tamasas ca ye,

matta eweti tan widdhi na tw aham tesu te mayi

Artinya : Dan sebagaimana pun keadaan mahluk-mahluk itu, apakah mereka itu selaras (sattwik), penuh nafsu (rajas), atau pun malas (tamasa) ketahuilah semua berasal dari AKU, AKU tak disana, tetapi mereka ada pada (KU.

Maka betul sekali ketika dikatakan bahwa tidak ada satu pun mahluk di dunia yang dapat terlepas dari Maya, karena itu berasal dari Prakerti dan pula mempengaruhi purusha itu sendiri. Seperti yang juga dijelaskan pada

Bhagawadgita XIV-5

sattwam rajas tama iti gunah prkrtisambhawah,

nibadhnanti mahabaho dehe dehinam awyayam.

Artinya : Tiga sifat (Guna),Sattwam (kebaikan), rajas (bernafsu), dan tamas (kelembaman) berasal dari alam (prkerti) yang membelenggu badan jasmani, wahai Mahabaho (Arjuna), sedangkan yang abadi bersemayam di badan.

Berdasarkan keseluruhan konsep Tri Guna(Maya), sebagai prakerti yang akan selalu membelenggu jasmani. Membelenggu jasmani dan merupakan suatu kesadaran bahwa manusia atau mahluk hidup, tidak bisa lepas dari tiga sifati semesta itu sendiri. Dalam upanishad sendiri disebutkan bahwa Manusia yang ingin menuju kelepasan, yang notabene adalah tujuan akhir, untuk mendapatkan sebuah pencerahan adalah dengan cara memahami tri guna (maya) itu sendiri.

Dosa atau suatu karma buruk, adalah terjadi karena pengaruh guna rajas atau tamas yang membelenggu. Seperti guna rajas yang cenderung keras aktif penuh hawa nafsu, maka akan membawa karma buruk, karma buruk yang menghasilkan hasil dari karma yang buruk pula. Tamas sendiri yang berarti gelap, adalah guna yang ktika terlalu dihirup, maka akan menghasilkan kesengsaraan belaka. Hal ini adalah mutlak, bahwa ketika suatu prilaku atau pikiran atau perbuatan yang mengarah pada guna-guna itu, maka secara otomatis semesta(yang terdiri dari Maya Prakerti) akan menyimpan itu dan bereaksi atas tri guna yang dilaksanakan.. Kemudian akan memberi pengaruh kembali sesuai guna yang ada/dilaksanakan. Tidak ada yang sanggup sembunyi dari itu..

Karma atau Perbuatan, adalah tentu akan terliputi pula oleh Maya, ktika melaksanakan sesuatu itu, maka Maya akan bereaksi seusai aturan2 semesta itu sendiri. Rekaman-rekaman tentang Hasil Karma, entah buruk atau baik, akan selalu menjadi memori yang tersimpan di Maya semesta..

Ketika masuk dalam konsep Suksma Sarira, maka mencapai kelepasan , (kesadaran Atma-Antahkarana sarira), maka pemahaman akan seluruh pikiran, perkataan, dan prilaku itu akan sangat mempengaruhi jalan kelepasan (pengetahuan ttg Atman Brahman Aikyam) dimana suksma sarira yang terdiri dari Citta Buddhi Manas Ahamkar akan menjadi memori-memori untuk menuju tempat pengadilan (di mana pun itu) di semesta. Bentuk pengadilan di semesta dapat dikatakan sebagai Karmapala, Sancita, Pradabda, Kryamana. Apa yang ditabur, itu yang dituai.

Dalam hal ini, ahamkara (ego) sangat terpengaruhi oleh Maya, ketika tanpa Buddhi yang mengembangkan guna Sattwika, maka Ego akan dipengaruhi guna Rajas dan tamas. Dan Manas atau pikiran atau penguasa Inderawi akan menyesuaikan dengan Tri guna yang tersampaikan itu. Citta itulah mengandung unsur memori apa pun tentang Hasil Karma itu sendiri. Prakerti sangat mempengaruhi suksma sarira, yang menjadi awal terciptanya dosa itu sendiri.

Pemahaman akan Tri Guna sebagai garis besar penentuan karma, adalah dapat dipahami sesuai dengan Wraspatti Tattwa. Di mana manusia itu lahir dari keseimbangan perbuatan Sattwika rajasika Tamasika, dan seperti sloka sarasamuscya yang mennyebutkan :

Sarasamasucaya 2

Manusah sarwabhutesu varttate vai subhasubhe,

asubhesu samavistam subhesvevavakarayet.

Artinya : Diantara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan sebagai manusia sajalah,

yang dapat melaksanakan perbuatan baik dan buruk; leburlah dalam perbuatan baik,

segala perbuatan yang buruk itu, demikianlah gunanya (pahala) jadi manusia.

Dikatakan pula bahwa di saat menjadi manusia, maka ketika melaksakan tri guna, yaitu berturut-turut:

1.Sattwika dominan, maka akan menuju kelepasan.

2.Rajasika dan Sattwika dominan, maka akan mendapat sorga.

3.Rajasika dominan maka akan menuju Neraka.(tanpa Sattwika).

4.Tamasika Rajasika dominan maka akan numitis menjadi hewan dan tumbuhan.

Jadi jelaslah bahwa dosa itu sebenarnya berasal dari karma buruk yang dipengaruhi guna Rajas serta Tamasikam. Seperti pula Sarasamucaya di atas, bahwa melebur karma buruk adalah dengan melaksanakan perbuatan baik. Perbuatan yang Sattwikam adalah perbuatan bajik, bijak dan memberikan pencerahan kepada yang lainnya. Kemudian secara garis besar perbuatan Rajasik adalah perbuatan aktif penuh nafsu jahat dan keras. Namun ketika Sattwika jua memengaruhi, maka Ambisi yang besar dari Rajasikam akan dikendalikan untk melaksanakan dharma itu sendiri. Tentu dalam swadarma sebagai jalan karma marga, bahwa Kama dan Artha yang didasari dharma adalah konsep Sattwik yang mendasari Rajasika Guna. Kemudia tamasikam adalah gelap lembam dan malas, artinya lebih baik aktif dan berambisi, namun dikendalikan sattwika guna. Ketika kegelapan(Tamas) didasari dengan Rajas, maka yang terjadi adalah kekerasan karena hawa nafsu tinggi, dan ego yang melenyapkan kebenaran dharma itu sendiri.. Hakikat manusia tidak disadari pada kondisi seperti itu, maka sepantasnyalah IA sesuai dengan pikirannya yg tidak digunakan (bagai hewan), akan membuat dirinya menjadi hewan itu sendiri..Ini adalah konsep karmapala dosa berdasarkan tri guna (maya)Prakerti..

Disadari juga sebagai kesimpulan, bahwa Karma Buruk tentunya sangat disadari ada. Namun bahwa seluruh perbuatan buruk akan dilebur dengan perbuatan baik. Karma buruk itu sendiri “yang terdaftar” di Maya duniawi, akan pula terkoneksi dengan pola pikiran dan kesadaran dari individu itu sendiri. Tidak ada konsep yang pasti bahwa perbuatan A akan mendapat karma B, namun perbuatan yang Sattwik akan menghasilkan karma baik, bahkan hasil karma itu sendiri, tidak menjadi pikiran, dan diserahkan kepada Hyang Kuasa. Karena ketika guna Sattwik telah mengada dan selalu ada, menjadi keseharian dan bahkan menjadi pola pikir, maka tentunya tidak ada yang perlu dikhawatirkan ke masa yang akan datang. Sembari memberikan energi pada rasa syukur sepanjang masa yang berkenan diberikan..

Om tyambakam ya ja mahe, sugandhim pusthi wardhanam,

uvarikamiva bhandanat, mrityormuksiyas mamrtat..

Om santi santi santi Om..

Salam Guswar

Siwaratri Jan 19 2015..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Januari 2015 in agama, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: