RSS

Arsip Tag: panca maha butha

Panca tan matra, sebagai inti citta Semesta

Om gan ganapatya ya namo swaha..
Om pasupatya suhci nirmala ring swah bhur bwah lohka..
Om sivam narayanam shantii shanti shanti..

Swastiastu..

image

Dalam dunia disadari sebagai bagian dri semesta atau juga bagian badan tuhan (panentheism)..Dalam tattwa penciptaan, maka bumi terbentuk dari kehendak cadu sakti saguna brhman (prabhu wibhu krya jnana sakti) yg membentuk purusha (inti hidup) serta juga prakerti (bahan kasar hidup)..Dalam hal ini purusha adalah jiwa suksma sarira..dan prakerti adalah badan kasar panca maha butha..

Badan yg ketiga adlah atman atau brhman itu sendiri yg mnjdi inti yg utama..Panca maha butha yg terdiri dari akasa bayu teja apah pertiwi adlah badan kasar manusia tumbuhan hewan dan jga dunia semesta dgn persentase yg berbeda beda..Kemudian suksma sarira adalah badan halus roh jiwa ..yg dibagi mnjadi citta budhi manas ahamkar.tergntung yg mana berkembang scara benar dan baik….

Pada panca maha butha yg membentuk manusia dan juga ditopang oleh suksma sarira serta juga inti hidupnya yaitu atman, maka dunia semesta (baca:bumi ini) memiliki inti atau sebuah rasa di setiap bagian pnca maha butha yg ada..Itu disebut Panca Tan Matra..Panca tan matra ini jua lah yg memberikan sensasi serta daya rasa dri indera indera manusia panca budhindriya itu..Namun hal itu tidak lepas dari kehendak Nya dri Maya triguna sbagai hyang wenang..

Panca tan matra itu sendiri adalah zat inti yg menghidupkan sensasi indriya..Adalah sebagai berikut :
1. Rupa tan matra sbagai inti melihat..
2.Gandha tan matra sbagai inti mencium bau2an..
3.Sabda tan matra inti suara dan jga yg didengar..
4.Sparsa tan matra inti dari sentuhan di kulit..
5. Rasa tan matra di pengecap..
Dalam upanishad sekilas dijelaskan bahwa ..panca tan matra sbagai berikut..
“Inti rupa..maka pejamkanlah mata dalam sinar cahaya mntari..dan pejam sampai inti itu masuk dan menghilang..maka yg tertinggal itu adalah rupa tan matra..”
“Inti sabda..maka heningkan diri dan drngarkan suara yg ada ..tutup telinga dan biarkan senyap..yg tertinggal adalah inti sabda..”
“Inti bau..maka hirup semua dlam prana..dan hembuskan smua itu..maka yg tertinggal itu adalah inti gandha tan matra”..
“Inti rasa..maka kecaplah seluruh rasa..dan kemudian diamkan dan tenangkan..lalu terdiam sampai lenyap..maka yg masih tertinggal adalah rasa tan matra..”.
“Inti sentuhan..maka rasakan angin yg berhembusndi kulit.dan menikmati sensasi itu..kmudian biarkan lenyap..maka yg tertinggal itu inti dari sparsa tan matra”(sesuai yg teringat)..

Ini adlaah yg mnjadi pnghubung antara semesta dan juga indriya2 yg ada..Tentu ini juga tergntung dari inti hikmat inti yg memberi hidup atmaning loka samastha yg dapat di tngkap pnca indriya buddhi.. Karena ini lah seluruh panca maha butha mnjadi dapat dirasakan oleh sensoris tubuh mahluk itu sendiri..Sebuah sensasi berbeda ketika ada yg berkembang dgn cukup tinggi pada mahluk2 yg lebih rendah..Namun dlam hal ini idep manusia yg mmbuat perbedaan signifikan akan rahasia semesta itu sendiri..Ketika dalam keadaan panik dan bencana, tentunya sensasi dri semesta tetap akan dipahami oleh lebih baik dri mahluk yg lain..Kuasa dari brhman yg Hyang wenang…

Ini juga disesuaikan dgn kehendak Hyang dewata terhadap maya guna dri setiap jiwa dan wujud mahluk.. Tentunya ktika hnya rajas tamas yg dibiasakan, maka sensori akan sensitif pada kenikmatan pnca karmendriya atau malah tidak terasakan inti utama kebenaran yg berasal dari hantaran panca tan matra ..materialitas yg membelenggu, smoga di dalam kehidupan keseimbangan san harmoni dgn semesta serta isinya smakin meningkat..

Om Shanti rahayu raharja samastha..
Om..

Salam gwar..
Dri brbagai sumber..
Pngrupukan nyepi mar 2015..

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Maret 2015 in filosofi

 

Tag: , , , ,

Kembali Menuju “Aku”..sebuah perjalanan(kah)?

Buddhi

Sangkan Paraning Dumadi

Perjalanan menuju kata “Aku”. Terkadang bisa dianggap sebagai sesuatu yang abstrak,seabstrak jiwa yang melayang-layang mencari tempat akhirnya. Seperti sebuah pemahaman atau ilmu “Sangkan Paraning Dumadi”. Bagaimana mengenal diri,bagaimana mengenal “Aku” dan kembali menuju pulang. Ataukah menemukan jalan itu dulu, lalu berjalan menuju rumahNya.

Hanya sebuah filosofi saja, namun seperti melihat pemahaman psikologi barat dari Freud,bahwa manusia memiliki ID,memiliki Ego,memiliki SUper ego. Namun jika ditelaah maka itu adalah jalan keluar dari rumah itu sendiri. Mengapa?Apakah ID sebagai sesuatu “AKU”, sebagai kembali ke fitrahnya sebagai manusia?(islam), atau mungkin sebagai awal keluar dari sarang sendiri yang sebenarnya nyaman dan damai menuju dunia dan kemelekatannya.

ID adalah seperti freud itu dikatakan sebagai nafsu kebinatangan, nafsu atau insting yang membuat manusia memiliki sifat kebinatangan. Tidak semua buruk semisalnya seperti insting untuk membela diri, insting untuk tetap hidup, serta mungkin insting untuk membela yang ia miliki (anak, keluarga, rumah,dsb). Dan dengan itu lalu manusa memiliki EGO, ego yang menjadikan Ia itu memiliki kepribadian, keinginan, serta ambisi termasuk sifat-sifatnya bagaimana memandang dunia atau lingkungan yaitu terbentuk dari sekumpulan ego dan membentuk super ego. Manusia didesak dan menyediakan dirinya beradaptasi dengan super ego tersebut. Dapat dikatakan manusia menjadi bagian dunia dan bahkan dipaksakan untuk menerima dunia, lalu apakah itu hendaknya manusia memanusiakan dirinya?

Lalu memetik dari wraspatti tattwa yang telah terangkum di blog ini, maka bahwa manusia itu terciptakan dari panca maha butha dan dari dalam adalah memiliki citta (intuisi), memiliki manas, buddhi, ahamkara (ego), lalu panca tan matra, panca buddhindriya, serta kemudian panca karmendriya. dua yang terakhir adalah termasuk indrea manusia untuk merasakan dan mengecap dunia. Ke dalam lagi adalah ahamkara atau ego serta buddhi. dimana ahamkara adalah sifat ke “Aku”an manusia identitas manusia, yang mencerminkan dia bahwa ia manusia, buddhi sebagai akal untuk mengenal buruk dan baik. serta manas untuk berpikir lalu citta adalah cikal bakal atau mungkin alam bawah sadar manusia, alam yang terhubung dengan kekuatan semesta, bagian manusia yang memiliki memori-memori tersendiri akan fitrah akan bagaimana sejogjanya manusia sebagai mahluk tuhan.

Manusia dengan seringnya menyangkal kebenaran dari semesta, dari dunia dari apa itu keterjadian dunia. Sehingga menemukan sebuah jalan yang “benar” menjadi sangat bias dan apakah itu benar atau salah akan menjadi memori pada cittanya. Citta dapat pula dikatakan sebagai simbolisme atma yang terhubung dengan Para atma di semesta ini. Bahkan merupakan suatu ananda (sebuah kebahagiaan)sebuah jalan  sebuah ananda marga itu sendiri.Pertanyaannya mengapa bisa bahagia?Padahal dunia pun (bukan semesta) memberikan kebahagiaan tersendiri, memberikan kenikmatan, dan kepuasan. Namun apakah itu jalan pulang????iya memang, jika kemelekatan itu pada (maya) selalu mengada. Begitu susah terkadang dalam melepaskan kemelekatan, melepaskan keinginan, melepaskan ambisi, dan nafsu. Namun manusia dikatakan hidup karena ada itu semua. Kematian manusia telah menjadi ada jika kehampaan dan ketidakmelekatan itu terjadi. Apakah itu “ananda”?

Kemelekatan akan selalu ada dan menjadikan manusia itu menjejak di dunia. Namun ketidakmelekatan bisa membawa kepada sebuah ananda pada pemahaman baru akan penjejakan akan dunia itu sendiri.Maksudnya adalah menjadi manusia yang tidak melekat namun menjadi lepas akan itu sendiri. Kemelekatan akan citta bisa menjadi jawaban tersendiri akan penguasaan ahamkara, manas, dan meningkatkan buddhi indriya. Dan yang terakhir adalah melepas itu semua.

Yaps melepas itu semua pada bahwa ketidak “aku”an itu sendiri. Ketidaktahuan akan siapa “aku” itu. Menuju suatu kehampaan dan ketidakhampaan itu sendiri. Dimana buddhi berproses, buddhi berevolusi menjadi jenjang-jenjang yang tidak terbayangkan dan ananda itulah yang membuat segalanya sempurna. Kembali ke ciita, kembali ke asal, dan pada dasarnya “Aku” bukan siapa-siapa.

gwar mei 2013

sedikit bacaan:

wraspati tattwa

Sigmund freud

“Bukan siapa-siapa” A.Brahm

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2013 in agama, doa, filosofi

 

Tag: , , , , , , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.